
Beberapa hari kemudian.
Siang hari, Randy, Dania, dan Rayna kini sudah berada di rumah baru yang Randy beli di daerah Depok.
Rumah itulah yang nantinya akan menjadi tempat tinggal Rayna selama Rayna kuliah di Universitas Indonesia.
"Ade suka rumahnya?" tanya Randy.
Rayna mengangguk dan tersenyum.
"Apa Ade boleh mendesign rumah ini sesuai keinginan Ade?" tanya Rayna.
"Lakukanlah, buatlah rumah ini seperti yang Ade inginkan," ucap Randy.
Rayna mengangguk senang. Dia memang senang dengan design, karena itu dia memilih kuliah Tehnik dengan mengambil jurusan Design Interior. Berbeda dengan Raydan yang memilih Tehnik Mesin.
Randy dan Dania memang tak pernah mengekang keinginan anak-anaknya dalam hal pendidikan, mereka membebaskan anak-anaknya untuk memilih apa yang mereka sukai. Namun jika tentang hal buruk yang menimpa anak-anaknya, tentu Randy dan Dania tak akan tinggal diam. Mereka akan over protektif.
Rayna mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, rumah dengan design minimalis berlantai dua yang berada di sebuah komplek perumahan yang tak jauh dari Universitas Indonesia itu memang cukup hanya untuk ditinggali oleh tiga orang.
Ya, sesuai yang sudah dibicarakan sebelumnya, Randy mempekerjakan seorang supir wanita dan juga seorang asisten rumah tangga untuk Rayna. Tentu saja Randy ingin Rayna tak terlalu merasa kesepian karena harus tinggal tanpa dirinya dan Dania.
"Stefie ..!" Randy memanggil supir supir yang akan mengantar jemput Rayna kuliah.
Tak hanya menjadi supir, Randy juga meminta Stefie untuk selalu melaporkan segala kegiatan Rayna padanya.
"Iya, Pak," sahut Stefie.
"Istirahat saja. Nanti malam, kami akan pergi keluar untuk makan malam," ucap Randy.
Stefie mengangguk dan pergi ke kamarnya.
"Ade juga istirahat, ya," ucap Randy.
"Ya sudah, Ade mau ke kamar dulu."
Rayna pun pergi ke kamarnya. Dan tinggal lah Randy dan Dania yang kini berada di ruang tamu.
Randy melihat Dania yang terlihat diam saja sejak tadi, dia merasa bingung dengan istrinya itu.
"Kenapa? Kamu baik-baik saja?" tanya Randy.
"Aku akan kesepian, karena tidak ada Ade di rumah," ucap Dania.
Randy tersenyum dan merangkul bahu Dania.
__ADS_1
"Kamu yang menginginkan semua ini. Jadi, kamu harus konsisten. Ade di sini juga untuk belajar," ucap Randy.
Dania tersenyum dan mengangguk.
Sebetulnya dia sedih karena harus jauh dari Rayna. Namun dia juga ingin melihat Rayna menjadi anak yang mendiri seperti dirinya. Dia ingin Rayna terbiasa berdiri sendiri tanpa harus mengekor di belakang orangtuanya, karena kelak pun Rayna harus memikirkan hidupnya sendiri.
"Sebaiknya, kita juga istirahat," ucap Randy.
Dania mengangguk dan mengikuti Randy menuju kamar. Mereka pun memilih untuk istirahat.
Perjalanan dari kediamannya menujuĀ rumah baru Rayna memanglah cukup melelahkan.
*******
Di kamarnya, Rayna tengah merapikan barang-barangnya. Dia memang anak yang kritis dan tak suka ruangan yang berantakan. Tak memikirkan lelahnya, dia pun langsung sibuk merapikan kamar barunya. Kamar yang akan menjadi tempatnya memulai kehidupan barunya sebagai anak yang mandiri tanpa orangtua. Kamar yang akan menjadi tempatnya melepas lelah dari kegiatannya, sudah dipastikan dia akan menjadi anak yang sibuk setelah masuk kuliah nanti.
Selesai merapikan barang-barangnya, dia pun merebahkan tubuhnya. Dia memilih tidur sebentar.
*******
Sore hari.
Randy, Dania dan Rayna sudah bersiap. Mereka akan pergi makan malam di luar. Bisa dibilang ini adalah makan malam terakhir sebelum nantinya mereka tak bisa lagi sering-sering makan malam bersama. Karena itu, Randy pun memilih menghabiskan malam mereka untuk pergi keluar.
Mereka pun pergi menuju salah satu Mall yang ada di daerah Margonda.
"Terserah saja, Pa. Yang terpenting, adalah makan bersama kalian. Ade akan makan apapun," ucap Rayna sambil tersenyum.
Dania tersenyum mendengar ucapan Rayna. Namun tak ada yang tahu hatinya merasa sedih mendengarnya.
Dia merasakan berat harus berpisah dengan putrinya, dan dia mengerti itulah yang dulu Mama Rania rasakan saat dia harus keluar dari rumah dan memilih tinggal mandiri bersama Randy.
Mereka pun sampai di salah satu restauran dan memulai acara makan malam.
Bugh ..!
Di tengah berlangsungnya makan malam, Randy, Dania dan Rayna dikejutkan dengan suara pukulan cukup keras.
Mereka mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah dua orang pria yang tengah baku hantam.
Tak hanya mereka yang perhatiannya teralihkan, bahkan beberapa pengunjung di sana juga melihat ke arah sepasang kekasih tersebut.
"Brengsek ..!"
Seorang pria tampan seperti keturunan Jepang terlihat begitu emosi dan membabi buta memukuli wajah pria yang ada dibawah kendalinya.
__ADS_1
"Cukup ..! Hentikan ini ..! Kamu membuat malu, semua orang memperhatikan kita," seorang wanita cantik terlihat tengah mencoba memisahkan dua orang pria yang tengah bertengkar itu.
"Aku? Kamu bilang aku membuat malu? Cih, kamu yang memalukan, Dasar ******," geram pria itu.
"Apa kamu bilang? Aku ******? Dasar brengsek ..!"
Plak ..!
Wanita itu menampar wajah pria di hadapannya, terlihat pria itu memegangi pipinya yang terasa ngilu akibat tamparan yang cukup keras.
"Sialan ..! Kita putus ..!" Bentak pria itu.
Brak ..!
Pria itu menendang kursi di hadapannya dan pergi dari restauran tersebut. Sebelum benar-benar keluar dari restauran, pria itu melihat sekilas ke arah Rayna yang tengah melihatnya.
Pria itu pun keluar dari restauran tanpa mempedulikan mantan kekasihnya yang terus saja memanggilnya.
"Anak muda jaman sekarang, tak tahu tempat," gumam Randy.
"Sama sepertimu, dulu. Kamu juga begitu," ucap Dania sambil tersenyum.
Randy pun tersenyum dan melanjutkan makan malamnya.
Selesai makan malam, mereka pun kembali ke rumah dan beristirahat.
*******
Keesokan harinya.
Randy dan Dania pamit pulang dari kediaman Rayna. Sebetulnya mereka ingin tinggal lebih lama, namun Randy tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Bayangkan saja saat ini dia harus mengurus dua perusahaan sekaligus. Selain perusahaan F&B nya, dia juga harus mengurus perusahaan keluarganya. Dia tidak mungkin membiarkan sang mama mengurus perusahaannya sendiri mengingat sang mama sudah tak muda lagi dan sudah gampang lelah tentunya.
"Jaga diri baik-baik, selalu mengabari Papa dan Mommy," ucap Randy sambil memeluk Rayna.
Meski berat, tetapi dia terlihat tak menunjukkan nya di depan Rayna. Dia tak ingin Rayna bersedih karena harus berpisah dengannya.
"Ade akan rindu Papa dan Mommy," ucap Randy begitu dia gantian memeluk Dania.
Cukup lama Dania memeluk Rayna, seolah dia tak akan lagi bertemu Rayna.
"Begitupun kami, kami akan sangat merindukan gadis kecil kami, ini," ucap Dania.
Rayna tersenyum dan mengangguk. Orangtuanya itu memang selalu menganggapnya gadis kecil, meski begitu Rayna pun tak keberatan.
"Mbak Stef, Bi Ida, tolong jaga Ade, ya. Kabari saya jika ada apa-apa," ucap Dania sambil melihat ke arah Stefie bergantian dengan Bi Ida, asisten rumah tangga yang akan bekerja di rumah Rayna.
__ADS_1
Stefie dan Bi Ida pun mengangguk juga tersenyum. Sudah pasti mereka akan berusaha menjaga Rayna sebaik mungkin.
Randy dan Dania masuk ke dalam mobil dan pergi dari rumah Rayna.