
Keesokan harinya.
Rayna dan Randy tengah menikmati sarapan bersama, sementara Stefie yang baru saja selesai memanaskan mobil mulai memasuki rumah dan menghampiri bibi di dapur.
"Kalian nggak sarapan?" tanya Randy pada Stefie dan bibi. "Kami nanti saja, Pak," jawab bibi. "Kenapa? Kemarilah, kita sarapan bersama!" ajak Randy. Stefie dan bibi saling tatap dan tersenyum, mereka pun ikut sarapan bersama Randy dan Rayna.
"Oh, ya, Stef. Ponsel kamu, kok bisa ketinggalan di kamar Rayna?" tanya Randy di tengah kegiatan sarapannya.
"Uhuk-uhuk ..." Rayna yang tengah menikmati sarapannya pun menjadi tersedak mendengar ucapan Randy.
"Pelan-pelan, De. Minum dulu," ucap Randy, dan diangguki oleh Rayna, kemudian meminum air yang diberikan oleh Randy.
Stefie terus memperhatikan Rayna yang terlihat canggung, dia pun tersenyum dan melihat Randy. "Semalam, Saya terlalu ceroboh, Pak. Maafkan Saya," ucap Stefie.
"Loh, kenapa harus minta maaf? Santai saja, lah. Hanya saja, takutnya ada telepon penting, kan," ucap Randy.
"Iya, Pak. Lain kali, Saya akan lebih berhati-hati," ucap Stefie. "It's okay," balas Randy, dan mereka pun kembali melanjutkan sarapan. Rayna hanya terdiam tak percaya mendengar jawaban Stefie, Stefie seolah mengerti kegelisahannya.
"Selamat pagi kesayangan Mommy!" Semua orang yang ada di meja makan sontak melihat ke arah datangnya suara, terlihat Dania ada di hadapan mereka sambil menyunggingkan senyum lebarnya.
"Moms!" panggil Rayna setengah memekik dan bergegas menghampiri Dania, Mereka pun saling memeluk satu sama lain, menyalurkan segala kerinduan akibat tak bertemu selama beberapa waktu. Dania memang masih belum terbiasa jauh dari anak-anaknya, meski dulu dia sempat bekerja menjadi brand ambassador di salah satu perusahaan produk kecantikan, tetapi dia tetap mengutamakan kepentingan keluarganya.
"Ade kangen banget sama Mommy," ucap Rayna. "Mommy juga kangen banget sama Ade," ucap Dania dan mencium dahi Rayna.
"Ehem ... Sepertinya ada yang terlupakan, di sini," sindir Randy sambil melihat sekilas ke arah Dania. Dania pun tersenyum dan menghampiri Randy.
__ADS_1
"Aku juga kangen sama kamu, Yang," ucap Dania dan mencium pipi Randy. Randy pun tersenyum dan menarik Dania ke pangkuannya. "Ihh, Yang. Malu, dong, banyak orang, di sini," ucap Dania pelan. "Oh, iya, ya. Kalau begitu, nanti malam saja kita berduaannya," bisik Randy. Keduanya pun terkekeh geli, mereka tak menyadari semua yang ada di meja makan tengah memperhatikan mereka.
"Ehem ... Ade mau ke kampus dulu," ucap Rayna tersenyum dan mengambil tasnya.
"Wait, Sayang. Mommy yang akan antar," ucap Dania. 'What? Mommy serius?" ucap Rayna terkejut.
'Iya, dong," balas Dania. "Aku aja yang antar, Yang. Kamu pasti capek, kan?" ucap Randy. "Nggak, kok. Aku cuman duduk di mobil, mana capek, sih?" ucap Dania.
"Oke-oke, aku ikut jangan?" tanya Randy. "Jangan, ya. Kamu nggak boleh ikut. Aku sama Ade aja, biarkan kami para perempuan menikmati quality time singkat ini," ucap Dania. Randy terkekeh sambil mengusap wajahnya. "Iya, iya. Kalian para wanita memang luar biasa," ucap Randy. Dania dan Rayna pun ikut terkekeh, kemudian pergi menuju kampus.
******
Di perjalanan menuju Kampus.
"Syukurlah, Mommy kangen sama Abang, De. Padahal belum lama Abang ninggalin kita," ucap Dania. "Ade juga, Moms. Ayo, Moms, Dinner bareng Abang," ucap Rayna. "Loh, gimana caranya?" tanya Dania bingung. "Kita video call Abang, dan kita dinner sama-sama. Kan, udah lama kita nggak dinner bareng, Moms," ucap Rayna memelas. Dania tersenyum dan mengangguk.
"Kalau begitu, setelah Ade selesai kuliah, kita ke Mall, beli gaun, dan belanja bahan masakan," ucap Dania. "Hah? Apa harus beli gaun juga, Moms?" tanya Rayna bingung. "Iya, dong. Ini, kan, dinner pertama keluarga kita, setelah kita saling jauh, Sayang. Ini spesial," ucap Dania tersenyum manis. "Emm ... Oke-oke. Ade ikut Mommy aja," ucap Rayna. Dania pun tersenyum dan mengangguk, dia begitu antusias untuk dinner mereka nanti malam.
******
Waktu pun berlalu, Dania memarkirkan mobilnya di depan kampus Rayna. "See you baby," ucap Dania dan mencium pelipis Rayna. "See you too, Moms," balas Rayna dan turun dari mobil. Rayna berjalan menuju kelasnya, tanpa dia sadari ada seseorang yang mengikutinya. Rayna menghentikan langkahnya, dan orang itu tak sengaja menabraknya dari belakang.
"Auw ... Apa, sih?" kesal Rayna yang hampir saja tersungkur karena tak siap. Untung saja orang itu dengan sigap menahan tubuh Rayna sehingga tak sempat tersungkur.
"Sorry. Salah sendiri, main berhenti aja, kasih tahu dulu, kek, kalau mau berhenti," ucap orang itu. Rayna melepaskan paksa tangan orang itu yang masih saja memegang bahunya, dia berbalik dan melihat orang itu.
__ADS_1
"Ya ampun," Rayna menghela napas, dan menggelengkan kepalanya saat melihat orang yang kini ada di hadapannya
"Apa kamu penguntit? Kenapa kamu ada di mana-mana?" kesal Rayna. Dia tak habis pikir karena harus melihat orang itu di mana dia berada, orang yang tak lain dan tak bukan adalah Guriko, si pria tampan berdarah Indonesia-Jepang. "Loh, Aku, kan, kuliah di sini juga, jelas aja Aku ada di sini," ucap Guriko. Rayna memutar bola matanya, dan melangkah meninggalkan Guriko, tetapi Guriko terus mengikutinya.
"Ada apa lagi, sih?" tanya Rayna saat sadar Guriko masih saja mengikutinya. "Aku mau mengambil milikku," ucap Guriko sambil menyodorkian tangannya. Rayna mengerutkan dahinya melihat telapak tangan Guriko. "Apa?" tanya Rayna bingung. "Apa? Apa-apanya maksudmu?" tanya Guriko dengan bingung. Rayna semakin tak mengerti apa maksud dari ucapan Guriko. "Apa, sih? Nggak jelas," kesal Rayna dan kembali meninggalakan Guriko. Namun lagi-lagi Guriko mengikuti Rayna dan membuat Rayna semakin dibuat kesal.
"Kamu mau apa, sih, sebenarnya? Kenapa terus mengikuti aku?" kesal Rayna. Guriko menghela napas panjang. "Astaga! Benar-benar, ini, perempuan," gumam Guriko. "Mana ponselku?" tanya Guriko. "Rayna membulatkan matanya dean melemparkan tas nya ke dada Guriko, membuat Guriko meringis kesakitan. "Lain kali, to the poin aja. Jangan berbelit-belit. Bisa nggak, sih, jadi orang itu, belajar buat nggak buang-buang waktu orang lain? Ngeselin!" kesal Rayna kemudian mengerucutkan bibirnya.
Guriko tersenyum dan menyodorkan tangannya ke hadapan Rayna. "Nggak ada," ucap Rayna. "What? Maksud kamu nggak ada?" tanya Guriko terkejut. "Udah dijual," jawab Rayna sembarang. "Hah? Apa maksud kamu, ha? Kamu jual ke mana? Astaga! di ponsel itu semuanya tersimpan, dan kamu berani-beraninya jual ponsel aku? Kamu pikir, kamu siapa. ha? Lancang banget kamu jadi orang!" ucap Guriko setengah membentak.
Rayna menelan air liurnya, dia tak menyangka Guriko akan semarah itu. Niatnya untuk mengerjai Guriko justru membuat Guriko memarahinya. "Bisa nggak, sih, biasa aja. Nggak perlu marah-marah kayak gitu. Dan, itu, salah kamu sendiri. Kamu udah buat aku jantungan semalam," ucap Rayna kesal. "Apanya yang biasa aja? Apa kamu bakalan diem aja saat sesuatu milik kamu hilang?" kesal Guriko. "Ih, apa, sih? Nggak usah, ya, bentak-bentak aku! Kamu pikir kamu siapa? Dasar cowok nggak jelas!" kesal Rayna. Guriko menajamkan tatapannya, tetapi Rayna justru meninggalkan Guriko, dan membuat Guriko semakin dibuat kesal.
"Ah ... Sial! Kelihatannya aja lugu, ternyata tahu uang. Tapi, kenapa harus ponsel gue yang dijual? Semua kerjaan gue ada di dalam sana. Dia benar-benar keterlaluan," kesal Guriko dan pergi menuju kelasnya. Dia benar-benar kesal pada Rayna.
Sedangkan dikelasnya, Rayna baru saja mendudukkan dirinya. Dia teringat kembali akan kemarahan Guriko. Dia tak terima Guriko memarahinya, meski sebetulnya dia pun bersalah karena mempermainkan Guriko, karena sudah membohongi Guriko. Hanya saja, niatnya untuk menjahili Guriko juustru membuatnya terkena semprotan kemarahan Guriko.
******
Waktupun berlalu, jam kuliah sudah selesai. Dania dan Rayna sudah berada di perjalanan menuju salah satu Mall. Rencananya, mereka akan membeli segala keperluan yang dibutuhkan untuk acara makan malam nanti.
"Mommy udah kasih tahu Abang?" tanya Rayna. "Belum, Abang nggak bisa di hubungi dari tadi. Mommy agak cemas, De," ucap Dania. "Mungkin, Abang lagi sibuk, Moms," ucap Rayna mencoba menenangkan sang mommy. Dania pun tersenyum dan mengangguk. Sebisa mungkin dia menyembunyikan kecemasannya di depan Rayna, bagaimana pun, dia tak ingin Rayna melihat dirinya tak baik-baik saja. Ibu mana yang hatinya tak akan cemas saat tahu anak kesayangannya tak bisa dihubungi. Meski begitu banyak kemungkinan positif, tetapi tetap saja terselip kecemasan dalam hati dan pikirannya. Apalagi Dania tak pernah berada jauh dari anak-anaknya sebelumnya.
*****
Hai-hai, kesayangan Author 😍 Lama, ya, Author tidak menyapa kalian. Semoga kalian semua sehat selalu dan slalu bahagia. Author mau ucapkan terimakasih pada teman-teman semua, karena masih setia menunggu dan mengikuti kelanjutan dari novel Istri Jelekku Season 2 ini. Mohon maaf, ya, karena novel ini sempat hiatus cukup lama. Insyaa Allah, dan doakan Author agar bisa update setiap hari seperti sebelumnya. Jangan lupa juga, ya, berikan like, komen, dan poin kalian 🥰😍 Itu semua menjadi penyemangat Author untuk berkarya. I love you all 🥰🥰🤗🤗
__ADS_1