
Sore hari, Rayna tengah bersiap untuk pulang Kantor. Dia tak hentinya menyunggingkan senyuman. Ah, rasanya seperti saat pertama kali jatuh cinta. Jantungnya tak dapat terkontrol.
Raka masuk ke ruangan Rayna.
"Mau pulang bersama? Kamu bawa mobil?" tanya Raka.
"Nggak. Aku mau pergi ke salon dulu," ucap Rayna tersenyum.
"Salon? Sendiri?" tanya Raka.
Rayna mengangguk. Dia sudah selesai bersiap untuk pulang.
"Aku duluan nggak apa-apa kan, ya?" ucap Rayna.
"Iya, duluan aja. Atau kita bareng aja ke bawah," ucap Raka.
Rayna mengangguk dan dia pergi bersama Raka menuju lantai bawah Kantor tersebut.
"Eh, emang mobil kamu di mana? Kok, nggak ke basemant?" tanya Rayna.
"Itu!" Raka menunjuk ke arah mobilnya yang sudah berada di valey.
Rayna tersenyum. Dia pergi menuju taksi yang sudah dia pesan sebelumnya. Taksi itu melaju menuju sebuah salon di salah satu Mall.
Masih ada waktu hingga jam makan malam, dia akan merias wajahnya sedikit, juga rambutnya. Dia juga akan membeli sebuah gaun di Mall.
****
Sesampainya di Mall, Rayna membeli gaun terlebih dahulu. Tak sulit mencari gaun yang bisa dipakai wanita hamil, dia langsung mendapatkannya begitu memasuki sebuah departemen store.
Selesai membayar gaun tersebut, Rayna pergi membeli sepatu wedges berhak tak terlalu tinggi. Setidaknya, gaun itu tak terlalu membuatnya kesulitan berjalan.
Selesai membeli sepatu, Rayna pergi menuju salon. Dia meminta rambutnya dibersihkan terlebih dahulu.
Selesai merias wajah dan merapikan rambutnya, Rayna meminta izin untuk mengganti pakaiannya. Dia menghirup aroma tubuhnya. Tak terlalu aneh karena dia berada di dalam ruangan ber-ac seharian ini. Dia menyemprotkan body cologne di tubuhnya. Setelah itu, dia membayar tagihan salon dan pergi keluar dari Mall. Di sana sudah ada taksi yang menunggu.
Begitu memasuki taksi, Kevano menghubunginya. Rayna pun menjawab telepon itu.
'Aku di depan Kantor Raka, apa kamu masih di dalam Kantor?' tanya Kevano.
'Ha? Aku udah di jalan, mau ke restoran tempat kita ketemu,' ucap Rayna.
Sejak awal, Kevano tak mengatakan akan menjemputnya, karena itu Rayna memilih pergi dengan taksi dan tak menunggu Kevano menjemputnya.
__ADS_1
'Ya ampun. Ya udah, hati-hati, ya. Aku jalan ke sana sekarang,' ucap Kevano.
Panggilan itu berakhir.
Beberapa waktu di perjalanan, Rayna lagi-lagi terjebak macet. Ya, tentu saja dia selalu berada di waktu di mana ketika semua pekerja pulang Kantor.
Rayna melihat jam di ponselnya, beberapa menit lagi sudah akan memasuki jam tujuh malam.
"Masih lama nggak, ya, Pak?" tanya Rayna.
"Lumayan, Mbak," ucap sang supir.
"Ya ampun! Bisa telat ini," ucap Rayna.
Rayna tak ingin Kevano menunggunya. Dia ingin segera sampai, bahkan jika perlu dia yang sampai duluan ke tempat di mana dirinya akan bertemu Kevano.
****
Pukul 19.35 Wib Rayna sampai di restoran. Dia sudah sangat terlambat. Bagaimana pun, makan malam seharunya tak di lakukan di jam lewat dari jam tujuh.
Rayna turun dari taksi, dengan terburu-buru dia melangkahkan kakinya. Tiba-tiba saja langkah Rayna terhenti saat ada yang menahan tangannya. Rayna melihat orang itu.
"Mau ke mana?" tanya Kevano.
Ya, orang itu adalah Kevano. Ternyata, Kevano pun terjebak macet di jalanan. Karena itu dia baru sampai juga di restoran.
"Iya. Kamu ngapain buru-buru gitu jalannya? Lupa, ya, kalau di dalam sana ada bayi?" Kevano mengarahkan pandangannya ke perut Rayna sambil melepaskan tangan Rayna.
"Aku pikir, kamu udah sampe duluan. Karena itu aku nggak mau kamu nunggu lama," ucap Rayna.
Kevano tersenyum dan kembali menggenggam tangan Rayna. Tanpa mengatakan apapun, Kevano menuntun Rayna masuk ke restoran. Rayna pun tak menolak dan mengikuti Kevano.
Kevano dan Rayna sampai di salah satu meja. Kevano menarik kursi dan meminta Rayna untuk duduk. Rayna pun duduk, dengan di susul oleh Kevano yang juga berhadapan dengan Rayna.
Rayna sedikit gugup, dia langsung membuka buku menu yang sudah ada di meja. Kevano terus saja memperhatikan Rayna. Dia tersenyum melihat Rayna tampak lebih cantik dari biasanya. Rayna memang sudah cantik, dan malam itu tampak lebih cantik.
Kevano melihat belahan dada gaun yang Rayna pakai, sedikit terlihat belahan dada Rayna. Dada Rayna memang lebih besar dari sebelumnya. Itu karena perubahan hormon kehamilannya.
"Kamu mau pesan a--" Rayna terkejut karena Kevano ternyata tengah melihat ke arahnya, bahkan Kevano melihat ke arah dadanya.
Rayna melihat dadanya, dia mengikuti arah padang Kevano. Sontak Rayna menutup belahan dadanya dengan telapak tangannya.
"Kamu ngapain? Kok, liatin dada aku terus?" tanya Rayna.
__ADS_1
"Ya, keliatan. Ngapain, sih, pakai baju kayak gitu? Itu dada bukan untuk konsumsi publik, ya. Cuman aku yang boleh liat," ucap Kevano mencoba menasehati Rayna.
"Emang gaunnya begini. Lagian, ini cuman sedikit aja, kok," ucap Rayna. Rayna menarik belahan dada gaun itu agar lebih naik dan tak memperlihatkan lagi belahan dadanya.
"Kamu tahu, biar pun sedikit, tetapi kita nggak pernah tahu mata jelalatan orang lain yang lihat, bisa aja mereka mikir yang nggak-nggak," ucap Kevano.
Rayna menghela napas. Kenapa, sih, masalah gaun saja harus di permasalahkan? Lagi pula, gaun itu hanya sedikit menunjukan belahan dadanya. Dan memang modelnya seperti itu. Dia juga sudah memperbaiki posisi belahan dada gaun tersebut, pikirnya.
"Aku nggak masalah, kamu pakai baju gitu. Mau nggak pakai pun nggak masalah. Asalkan di dalam rumah. Nggak di luar kayak gini," ucap Kevano.
Rayna terdiam.
"Aku tadi dari Kantor Raka, langsung pergi ke departemen store. Aku beli gaun ini, sama--" Rayna menyentuh kakinya. Dia melepaskan kaitan wedges yang dia pakai, kemudian menunjukkannya pada Kevano. Kevano tampak bingung melihatnya. Kenapa juga istrinya sampai membuka wedges-nya? Pikirnya.
"Terus?"
"Hm ... Kamu nggak mau puji aku? Aku cantik apa nggak malam ini? Sebelum ke sini, aku sengaja siapin semua ini. Supaya kamu nggak malu dinner sama aku," ucap Rayna.
Plak!
Rayna melempar wedgesnya ke lantai, dan kembali memakainya. Kesal sekali rasanya, Kevano tak memuji usahanya.
Kevano tersenyum. Dia mengerti maksud Rayna. Rayna memberitahunya bahwa pulang dari Kantor tadi, Rayna langsung pergi membeli gaun dan juga sepatu itu. Rayna bahkan sampai pergi ke salon. Dan Kevano mengerti, bahwa Rayna ingin dirinya tahu, bahwa Rayna mempersiapkan dirinya untuk makan malam bersamanya malam ini.
Kevano memegang tangan Rayna. Menatap Rayna dengan lekat. Rayna merasa canggung ditatap seperti itu. Kevano tak menjawab pertanyaannya membuatnya semakin salah tingkah.
"Em ... Itu--" Jantung Rayna berdegup kencang.
"Itu apa?" tanya Kevano.
"I-itu ... Aku--"
Rayna kembali terdiam.
"A-aku mau jawab kata rindu kamu di surat itu," ucap Rayna.
"Oh, ya? Apa coba jawabannya? Awas aja kalau jawabannya mengecewakan. Aku nunggunya sampe dua hari," ucap Kevano.
"Em ..." Kevano dapat merasakan tangan Rayna berkeringat. Dia yakin Rayna tengah gugup saat ini.
"You said you missed me. And I miss you too," ucap Rayna.
Kevano tersenyum dan bangun dari duduknya sambil terus memegang tangan Rayna.
__ADS_1
"Mau ke mana?" tanya Rayna mendongakan kepalanya melihat Kevano.
"Pulang aja, yuk. Kita terusin di apartemen," ucap Kevano tersenyum penuh arti.