
Halo semua. Apa kabarnya teman-teman semua? Semoga selalu dalam keadaan sehat wal'afiat ya. Author balik lagi nih😂 Semoga kalian masih tetap suka sama cerita yang Author suguhkan ya. Mohon maaf karena hampir seminggu ya ga update😊🤗
Oke guys, happy reading🤗
*****
Rayna dan Kevano terdiam setelah mendengar sindirian dari Randy.
"Biasakan jangan bicara saat sedang makan," ucap Randy dan meninggalkan meja makan.
"Saya permisi dulu," ucap papa Kevano dan juga meninggalkan meja makan. Kini hanya tersisa para wanita dan Kevano saja di meja makan itu.
"Oh ya, Sya. Bagaimana kuliahmu?" tanya Dania.
"Em ... Baik-baik aja, Tan," jawab Ralisya.
"Kalau boleh tahu, ambil jurusan apa?" tanya Dania.
"Kedokteran, Tan. Dulu tuh, sebetulnya Kak Kevano yang punya minat kuliah di kedokteran, aku malah pengen jadi entertaint," ucap Ralisya.
"Oh ya. Benar Kev?" tanya Dania.
Kevano tersenyum dan mengangguk.
"Iya, Moms," ucap Kevano.
"Terus, kenapa sekarang jadi terbalik?" tanya Dania bingung.
"Em ... Karena ada hal lain, Moms," ucap Kevano.
Dania mengangguk. Dia pun tak bertanya lebih jauh perihal alasan Kevano tak mewujudkan minatnya.
"Kalau Ralisya, kenapa?" tanya Dania.
"Minatku hilang saat melihat Kak Kevano di gosipkan sana sini," ucap Ralisya terkekeh melihat Kevano.
"Ya itu hal biasa, saat dirimu ada di atas, akan selalu ada yang mencoba menjatuhkan," ucap Kevano.
Dania tersenyum tipis. Dia jadi teringat masalah Kevano dan Rayna dulu. Tetapi untungnya Dania sudah bisa memaafkan Kevano. Itupun karena dia tak ingin egois menahan kebahagiaan Rayna.
"Ya sudah, lanjut sarapan," ucap Dania.
__ADS_1
Mereka semua pun melanjutkan sarapan.
Selesai sarapan, Kevano meninggalkan meja makan terlebih dahulu dan menghampiri Randy yang ternyata tengah duduk santai sambil berbincang bersama sang besan yang tak lain adalah papa Kevano. Keduanya tampak sesekali tersenyum meski Kevano sendiri tak tahu mereka tengah membahas hal apa.
"Eh, Kev!" papa Kevano memanggil Kevano dan dibalas senyuman oleh Kevano. Kevano pun duduk bergabung bersama Randy dan sang papa.
"Dia adalah anak laki-laki Saya satu-satunya yang bertanggung jawab terhadap keluarga," ucap papa Kevano sambil menepuk bahu Kevano.
Randy tersenyum disela sesapan kopi latte kesukaannya.
Semoga saja, batin Randy.
Ya, setiap orangtua akan selalu membanggakan anaknya.
"Kelak, dia yang akan menggantikan Saya di perusahaan," ucap papa Kevano.
"Perlu diasah terlebih dahulu agar memiliki skill untuk terjun ke dunia bisnis," ucap Randy.
"Oh, jangan salah. Dia dulu pernah bekerja di perusahaan Saya. Ya, meskipun hanya menjadi cleaning service, setidaknya dia menunjukan rasa tanggung jawabnya," ucap papa Kevano.
Kevano terkejut mendengar pengakuan sang papa. Yang benar saja papanya itu justru membongkar masa-masa sulitnya.
"Ya, itu karena kenakalan remajanya," ucap papa Kevano dan tertawa.
Randy pun tersenyum. Masa sekolah memang masa sedang nakal-nakalnya. Bahkan dirinya pun demikian. Randy kembali tersenyum ketika mengingat masa-masa SMA-nya dulu. Sungguh mengerikan dan membuatnya hanya dapat menggelengkan kepala saja.
Namun, Randy tak mengerti mengapa papa Kevano sampai membuat Kevano bekerja sebagai cleaning service di perusahaannya sendiri?
Dulu sekali, semasa Kevano masih duduk di bangku sekolah SMA. Dirinya pernah terlibat perkelahian karena seorang wanita. Pernah suatu ketika, ada seorang wanita yang berstatus sebagai kekasihnya justru memiliki hubungan dengan sahabatnya sendiri. Menyakitkan bukan? Siapa yang tak akan marah jika sahabat sekaligus kekasih yang disayanginya justru mengkhianati? Kecewa sudah pasti.
Masa remaja, dimana seseorang masih sulit mengendalikan emosinya begitupun dengan Kevano. Dia bahkan menghajar habis-habisan sahabatnya. Menumpahkan segala kekecewaannya dengan memukuli sahabatnya hingga berakhir di Rumah Sakit. Setelah kejadian itupun, dirinya diskors oleh pihak sekolah. Dan selama skors itulah dirinya mendapatkan hukuman dari sang papa dengan menyuruhnya membersihkan seluruh ruangan kantor setiap harinya. Ya, bukankah itu sama saja seperti pekerjaan cleaning service. Meski begitu, Kevano yang merasa berbuat salah pun karena telah mempermalukan keluarganya, bahkan juga telah mempermalukan dirinya sendiri akhirnya menerima hukuman itu. Meski begitu, dia tetap mendapatkan haknya yaitu menerima upah dari hasil kerjanya.
Setiap kejadian akan selalu memiliki hikmah, dia pun belajar dari kesalahannya. Pernah merasakan sulitnya bekerja sebagai cleaning service membuatnya memutuskan hidup mandiri sejak lulus SMA. Dia memilih tinggal di apartemen. Apartemen itupun adalah hasil jerih payahnya, di mana dia beli dari hasil panggung ke panggung dia bernyanyi.
"Masih nakalkah sekarang?" tanya Randy sambil melihat ke arah Kevano.
"Nggak, Pa. Aku tobat," ucap Kevano sambil mengusap tengkuknya.
Ha-ha-ha ... Papa Kevano tertawa melihat ekspresi canggung Kevano.
"Dia anak yang bertanggung jawab, bahkan ketika dia melakukan kesalahan, dia menerima hukumannya," ucap papa Kevano.
__ADS_1
"Pria sejati memang harus begitu, harus berani mengakui kesalahan. Lain halnya ketika tak berbuat tapi dituduh berbuat, maka dia harus memperjuangkan haknya sebagai seseorang yang tak bersalah. Bertanggung jawab dalam hidup itu adalah yang utama. Berpikir sebelum melangkah, itu penting, agar tak timbul masalah di masa depan," ucap Randy.
"Anda benar, Besan," ucap papa Kevano.
"H**mmm ... Saya lebih suka dipanggil Randy atau Bro," ucap Randy.
"Bro?" sahut papa Kevano dan Kevano bersamaan.
Randy terkekeh melihat ayah dan anak itu begitu kompak.
"Ya, terdengar lebih santai. Terlebih lagi, jika besan itu, sepertinya terdengar tua, ya. Sedangkan Saya masih muda, ha-ha-ha ..." Randy pun tertawa dan diikuti tawa juga oleh papa Kevano dan Kevano.
"Anda benar, Bro. Yang jelas, Saya pun menolak tua," ucap papa Kevano.
Randy terkekeh.
Kenapa malah terdengar aneh saat papanya Kevano yang manggil Bro? batin Randy.
Entah mengapa rasanya beda ketika temannya yang memanggilnya dengan sebutan "Bro". Jika temannya yang memanggilnya dengan sebutan itu, justru terdengar lebih santai. Randy pun tak ingin ambil pusing, sepertinya juga butuh terbiasa bagi papa Kevano untuk memanggil dirinya dengan sebutan "Bro".
Waktupun berlalu.
Beberapa menit lagi acara resepsi pernikahan Rayna dan Kevano akan dilangsungkan. Rayna yang akhirnya memutuskan memakai gaun pernikahan Dania dulu pun tampak cantik memakai gaun pernikahan berwarna putih tulang itu. Gaun itu masih tampak indah meski sudah berusia lebih dari 20 tahun. Tentu saja Dania merawatnya dengan amat baik. Suatu hal yang tak pernah Dania bayangkan sebelumnya, bahwa gaun itu akan dipakai oleh putrinya sendiri. Bukan karena tak mampu membuat gaun pernikahan yang baru, melainkan atas permintaan Rayna sendiri lah yang akhirnya menginginkan memakai gaun pernikahan Dania dulu.
Sementara untuk pakaian Kevano sendiri, tetap membuat yang baru. Pasalnya, Randy mengklaim, baju itu hanya boleh dipakai oleh dirinya, dan hanya miliknya. Entahlah, mungkin lain halnya jika Raydan yang menginginkannya kelak saat menikah, Randy pun mungkin akan memberikannya. Semua orang tahu Randy begitu menyayangi anak-anaknya. Apapun akan dia lakukan demi kebahagiaan anak-anaknya.
*****
Kevano berjalan perlahan menggandeng Rayna yang tengah memegang buket bunga melewati white karpet menuju pelaminan. Semua tamu tampak ramai dan riuh melihat pasangan pengantin itu.
Lihatlah, Ade mirip sekali denganmu. Cantik sekali ya Tuhan, dia benar-benar mirip denganmu, ucap Randy pelan tetapi terdengar begitu antusias. Dania pun tersenyum dan melihat Randy.
"Lebih cantik siapa? Aku atau Ade?" tanya Dania.
"Hm ... Pilihan yang sulit," ucap Randy sambil memasang wajah dilema terlebih diapun sambil menutupi wajahnya.
Dania pun terkekeh, ekspresi Randy benar-benar menggelikan. Terlihat sekali Randy tengah berakting.
"Om, Tan!"
Randy dan Dania mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara yang mereka dengar seolah memanggil mereka. Benar saja, terlihat seseorang tengah tersenyum dan sudah berada dihadapan mereka.
__ADS_1