Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 52


__ADS_3

Rayna terus memaksa Guriko agar ikut dengannya. Sementara Guriko terlihat semakin kesulitan menahan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.


Bruk.


Guriko menarik paksa tangannya yang ada digenggaman tangan Rayna sehingga Rayna yang tak siap pun kehilangan keseimbangan dan tak sengaja menabrak tubuh Guriko.


"Kamu apa-apaan, sih? Kenapa tangan aku ditarik kayak, gitu?" tanya Rayna dengan bingung.


"Kamu yang apa-apaan? Kamu enggak lihat, aku masih pakai handuk, begini?" Guriko menatap bingung Rayna. Dia tak habis pikir karena Rayna tak menyadari keadaannya saat ini.


Rayna mengerutkan dahinya, dia melepaskan dirinya dari pelukan Guriko.


"Oh, ya ampun ..!" Rayna memekik saat melihat penampilan Guriko yang hanya memakai handuk yang menutupi bagian tubuh bawahnya saja.


"Sudah sadar sekarang? Ekspresi mu terlalu berlebihan," ucap Guriko.


"Kamu, kok, telanjang?" Rayna menutupi matanya dengan kedua telapak tangannya.


"Aku, kan, habis mandi. Kamu yang enggak sopan. Main masuk ke kamar orang," ucap Guriko.


"Harusnya kamu bilang, jangan diam saja. Dasar, mesum ..!" Kesal Rayna.


"Apa kamu bilang? Seenaknya mengatai orang mesum. Jangan-jangan, kamu sengaja menarik ku. Kamu sudah tahu, kan, kalau aku telanjang?" tanya Guriko.


"Ya ampun, jangan mimpi ..!" kesal Rayna.


"Sudahlah, ada apa kamu, ke sini?" tanya Guriko.


"Apa kamu enggak mau pakai baju dulu? Atau kamu sengaja mau menunjukkan tubuh kerempeng mu, itu?"" tanya Rayna.


Guriko melihat ke arah tubuhnya sendiri, dia pun mengerutkan dahinya.


"Kerempengan pacar kamu, kali," ucap Guriko.


"Pacar?" Rayna menatap Guriko dengan bingung.


"Ya, pacarmu. Pria yang, tadi, pacar kamu, kan?" tanya Guriko.


"Bukan," ucap Rayna.


"Jadi, siapa kamu?" tanya Guriko penasaran.


"Sudahlah, pakai baju dulu, sana. Memalukan," kesal Rayna.


Guriko menghela napas dan kembali ke kamar. Dia memakai pakaiannya terlebih dahulu dan kembali menemui Rayna.


"Ada apa?" tanya Guriko.


"Tolong aku," ucap Rayna.


"Tolong apa?" tanya Guriko dengan bingung.


"Dia pingsan, aku harus membawanya ke Rumah Sakit," ucap Rayna.


"Dia siapa?" tanya Guriko.


"Dia, masa kamu enggak tahu, sih? Ya ampun, jadi pria, kok, enggak peka banget," ucap Rayna.

__ADS_1


Guriko menatap Rayna dengan tatapan tajam, bisa-bisanya Rayna mengatainya. Lagi pula, dia tak mungkin tahu orang yang Rayna maksud, Rayna bahkan tak bicara dengan jelas.


"Aku enggak mau bantu kamu, kamu saja ngomong enggak jelas," ucap Guriko.


Rayna menghela napas agak kasar.


"Dia, pria yang, tadi, itu, temanku. Dia pingsan. Aku enggak kuat angkat tubuhnya. Jadi, tolong bantu aku," ucap Rayna sambil memasang wajah memelas.


"Ya ampun, apa-apaan dia? Kenapa imut sekali?" batin Guriko.


"Baiklah. Tapi, apa yang aku dapat, kalau aku membantumu?" tanya Guriko.


"Aku akan mengembalikan stik drum mu," ucap Rayna.


"Oke, ya sudah, ayo." Guriko dan Rayna pergi menuju kediaman Rayna.


Sesampainya di kediaman Rayna, Rayna dan Guriko dibuat bingung saat melihat seseorang yang tengah duduk di sofa.


Ya, Kevano sudah siuman. Dia tak lagi pingsan.


Rayna segera menghampiri Kevano untuk memastikan keadaan Kevano baik-baik saja.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Rayna dengan nada cemas.


Kevano melihat ke arah Guriko yang tengah melihatnya.


"Siapa dia?" tanya Kevano.


"Tetanggaku. Aku cemas saat kamu pingsan, tadi. Karena, itu, aku meminta bantuannya untuk membawamu ke Rumah Sakit. Syukurlah, kamu sudah siuman," ucap Rayna.


"Apa-apaan ini? Apa dia sengaja membawaku ke sini? Apa dia hanya ingin mempermainkan ku? Kenapa aku harus menonton drama sepasang kekasih, ini?" batin Guriko dengan kesal.


"Sepertinya, aku enggak dibutuhkan, di sini. Aku pulang saja," ucap Guriko dan akan keluar dari rumah Rayna.


"Tunggu dulu ..!" Rayna memanggil Guriko, membuat Guriko menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Rayna.


"Ada apa lagi?" tanya Guriko.


"Tunggu, di sini. Aku akan mengambil stik drum mu," ucap Rayna.


Guriko pun mengangguk.


Rayna berlari menuju kamarnya, dan mengambil stik drum milik Guriko yang tertinggal di rumahnya.


"Ini." Rayan memberikan stik drum itu pada Guriko, dan Guriko mengambilnya tanpa mengatakan apapun. Dia langsung pergi dari kediaman Rayna.


Rayna terus memperhatikan Guriko yang perlahan mulai hilang dari pandangannya.


"Aku haus," ucap Kevano yang sontak membuyarkan lamunan Rayna.


"Aku akan ambilkan air minum," ucap Rayna.


"Enggak usah, Non. Biar Bibi saja," ucap Bibi.


Rayna pun mengangguk.


"Oh, ya, Bi ..!" panggil Kevano.

__ADS_1


"Jangan air keran, atau aku akan pingsan seperti, tadi," ucap Kevano.


Sambil melihat ke arah Rayna, seolah dia tengah menyindir Rayna.


Rayna menundukkan kepalanya. Dia merasa bersalah karena sudah mengerjai Kevano.


"Maaf," lirih Rayna.


Kevano tersenyum dan bangun dari duduknya, dia menghampiri Rayna dan menggenggam tangan Rayna.


Tak ada penolakan dari Rayna, Rayna hanya diam, membiarkan Kevano menggenggam tangannya dengan erat seolah takut genggaman itu akan terlepas.


"Aku menyukai tingkah gila mu," ucap Kevano.


Rayna melihat ke arah Stefie yang terus melihat ke arahnya dan Kevano.


Seolah mengerti, Stefie pun mengangguk dan tersenyum. Dia meninggalkan Rayna bersama Kevano, memberikan waktu pasangan muda itu untuk saling bicara.


"Aku kesal," ucap Rayna.


"Aku tahu," ucap Kevano.


Rayna mengerutkan dahinya, dan menatap Kevano dengan bingung.


"Aku tahu, kamu kesal karena perlakuanku selama ini. Tapi, aku sadar akan satu hal," ucap Kevano.


"Apa?" tanya Rayna.


"Aku jatuh cinta padamu, Rayna. Aku enggak bisa bohongi perasaan aku. Aku benar-benar sayang sama kamu," ucap Kevano dengan ekspresi meyakinkan.


Jantung Rayna berdegup kencang, tangannya berkeringat dingin mendengar pernyataan cinta dari Kevano.


"Hei, rileks saja. Apa, ini, pertama kalinya, untukmu?" tanya Kevano mencoba membuat Rayna tenang.


Rayna mengangguk pelan, membuat Kevano tersenyum tipis. Ada rasa bahagia melihat anggukan Rayna, yang artinya dia pria beruntung karena Rayna tak pernah dekat dengan pria manapun sebelumnya.


"Aku beruntung," ucap Kevano.


Lagi-lagi Rayna kebingungan mendengar ucapan Kevano.


"Kamu tahu, kenapa?" tanya Kevano.


Rayna pun menggeleng.


"Karena, aku pria pertama untukmu," ucap Kevano.


Rayna tersenyum tipis. Entah mengapa, dia tak memiliki rasa takut saat berhadapan dengan Kevano. Berbeda dengan saat pertama kali dia bertemu Kevano, dia bahkan membenci Kevano saat itu.


"Eheumm ... Ini, Non. Minumnya," ucap bibi sambil meletakkan minum di atas meja ruang tamu.


"Makasih, Bi," ucap Rayna, dan bibi pun meninggalkan ruang tamu.


Meninggalkan Rayna dan Kevano yang tanpa keduanya sadari masih saling menggeggam tangan keduanya.


"Aku mencintaimu, Rayna," ucap Kevano yang lagi-lagi mencoba meyakinkan Rayna.


Rayna terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Untuk pertama kalinya ada pria yang menyatakan cinta padanya.

__ADS_1


__ADS_2