Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 114


__ADS_3

Selesai mengantar Raydan ke Bandara, Rayna pamit pulang. Tak pulang ke apartemen Kevano, melainkan Rayna pulang ke Depok membawa mobil Kevano. Besok dia akan mulai masuk kuliah, karena itu akan tidur di Depok.


Sesampainya di Depok.


Rayna menyapa bibi sebentar dan masuk ke kamarnya. Dia merebahkan tubuhnya, membayangkan akan tinggal di mana kelak? Kevano bekerja di Jakarta, sedangkan dirinya kuliah di Depok. Tak mungkin dia akan tinggal sendiri di Depok.


Rayna mengambil ponselnya dan melihat ada pesan masuk dari Kevano. Pesan itu masuk satu jam yang lalu.


Rayna menghubungi Kevano, dan tak ada jawaban dari Kevano. Sepertinya Kevano tengah sibuk. Karena lelah, Rayna pun tertidur.


Tiga hari berlalu ...


Kini Rayna sudah berada di kampus. Beberapa teman yang mengenalnya sekali lagi mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Kevano. Begitupun Dosen yang pernah menuduhnya atas kepemilikan alat tes kehamilan saat itu. Dia bahkan lagi-lagi meminta maaf. Namun, Rayna sudah tak memikirkan hal itu, dia pun sudah memaafkan orang-orang yang memfitnahnya. Nama baiknya pun sudah kembali bersih.


Rayna dan Alika pergi menuju sebuah kantin, akan menikmati makan siang di sana. Kebetulan saat itu mata kuliah sudah selesai. Rencananya, selesai makan siang, Rayna akan langsung pulang ke apartemen Kevano. Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu Kevano, dia merindukan Kevano.


"Rayn, mau ikut ke toko buku? Aku mau cari buku," ucap Alika.


"Hm ... Maaf, Al. Kayaknya, aku mau langsung pulang. Hari ini Kevano pulang, aku harus bersiap," ucap Rayna tersenyum.


"Hm ... Jadi, sekarang ada alasan untuk pulang cepat," ucap Alika terkekeh.


"Ah, sejak kapan aku pulang telat?" ucap Rayna.


Alika tersenyum dan tak lama makan siang pun datang.


"Ngomong-ngomong, bagaimana menikah? Apa menyenangkan?" tanya Alika penasaran. Rasanya lucu sekali, dijaman sekarang masih ada yang menikah muda.


"Ya ... Gitu deh. Namanya baru menikah, jadi masih menyenangkan," ucap Rayna tersenyum.


"Semoga ke depannya selalu menyenangkan. Btw, apa ada rencana menunda momongan?" tanya Alika.


"Kita belum bicara soal itu," ucap Rayna.


"Nanti aku coba bicarakan sama Kevano," lanjut Rayna.


Alika mengangguk dan tak lama masuklah sebuah panggilan ke ponsel Rayna. Rayna tersenyum melihat kontak Kevano. Dia pun langsung menjawabnya.


'Sayang, aku di kampusmu,' ucap Kevano.


'Ha ... Aku di kantin, tunggu aku,' ucap Rayna dan mematikan telepon itu.


Rayna pamit pada Alika dan bergegas menghampiri Kevano, dia bahkan belum sempat memakan makan siangnya.


Rayna berjalan cepat, sedikit berlari menuju parkiran. Dia mencari Kevano, dan terlihat Kevano tengah duduk di dekat pohon besar. Kevano terlihat tampan sekali, kacamata hitam yang menutupi mata indahnya membuat penampilannya semakin menarik. Rayna pun bergegas menghampiri Kevano.


"Maaf, lama ya?"


Kevano melihat Rayna dan tersenyum. Dia beranjak dari duduknya dan memeluk Rayna.


"Jangan di sini," ucap Rayna mencoba menghindar dari Kevano.


"Kenapa? Kamu nggak kangen aku?" ucap Kevano.


"Aku malu, banyak orang," ucap Rayna.

__ADS_1


"Ya ampun, mereka juga tau aku suami kamu," ucap Kevano menggelengkan kepalanya.


Mereka masuk ke mobil, Rayna akan memakai seatbelt nya tetapi dengan cepat Kevano menarik Rayna dan memeluknya. Rayna pun terkekeh, dia membalas pelukan Kevano.


"Kangan banget aku tuh, kerja pun jadi pengen cepet pulang, pengen cepet ketemu kamu," ucap Kevano.


"Aku juga kangen. Kamu baru nyampe?" ucap Rayna.


Kevano melepaskan pelukannya dan mengecup dahi dan kedua pipi Rayna dengan gemas. Terakhir dia mengecup bibir Rayna sekilas.


"Iya, dari Bandara aku langsung ke sini. Koperku dibawa menejerku. Aku suruh antar ke apartemen," ucap Kevano.


"Apa kamu udah makan siang?" tanya Kevano.


"Belum, aku udah pesan tadi. Tapi aku tinggal," ucap Rayna.


"Loh ... Kenapa?"


"Kamu telepon, ya udah aku langsung pergi dari kantin," ucap Rayna.


"Ya ampun, kita makan dulu, ya," ucap Kevano sambil mengusap kepala Rayna.


Rayna mengangguk dan memakai seatbelt-nya, mereka pun pergi menuju salah satu restoran.


Sesampainya di restoran.


Kevano menuntun Rayna memasuki restoran, belum sampai di meja, Kevano di hadang oleh salah seorang gadis yang meminta berfoto dengannya.


"Mau selfie atau gimana?" tanya Kevano pada gadis itu.


"Mbak, tolong fotoin aku sama Kak Kevano, ya. Nggak apa-apa, kan?" gadis itu menyodorkan ponselnya.


"Oh, boleh," ucap Rayna dan mengambil gambar gadis itu bersama Kevano. Gadis itu memeluk pinggang Kevano karena tubuhnya tak cukup tinggi ketika berdiri di dekat Kevano. Rayna pun hanya diam, tak protes. Namun, tak ada yang tahu hatinya tak suka melihatnya. Meski Kevano tak membalas memeluk gadis itu, tapi gadis itu memeluk Kevano.


"Makasih, Kak. Bahagia selalu kalian," ucap gadis itu ketika selesai berfoto dengan Kevano. Rayna tersenyum dan pergi menuju salah satu meja. Dia duduk terlebih dulu. Kevano menghampiri Rayna dan menatap Rayna dengan seksama.


"Kenapa?" Rayna mengerutkan dahinya, bingung melihat tatapan Kevano.


"Kamu marah?" tanya Kevano.


"Marah buat apa?" tanya Rayna.


"Itu, aku foto sama cewek tadi," ucap Kevano.


"Nggak, emang kamu kenal dia?" tanya Rayna.


"Ya nggaklah," ucap Kevano.


"Ya udah, aku biasa aja," ucap Rayna memasang ekpresi datar.


"Hm ... Aku tau muka kamu kalau lagi ngambek," ucap Kevano.


"Emang gimana?" tanya Rayna.


"Makin cantik gitu kalau lagi cemburu. Gemes pengen cium," ucap Kevano.

__ADS_1


"Isshh ..." Rayna memukul tangan Kevano tetapi Kevano langsung menahannya dan menggenggam tangan Rayna.


"I love you," ucap Kevano tersenyum.


"Hm ..."


"Kok nggak bales?" ucap Kevano.


"Iya, i love you too," ucap Rayna.


"Ah nggak asik, kayak kepaksa gitu balesnya," ucap Kevano mencoba memasang ekspresi kesal.


"Aku nggak kepaksa, kok," ucap Rayna mencoba merayu Kevano.


"Masa?"


"Iya, beneran. Aku nggak bohong," ucap Rayna mencoba meyakinkan.


Kevano menghela napas dan menatap Rayna, mendekatkan wajahnya ke arah Rayna.


"Udah selesai belum?" tanya Kevano pelan.


"Apanya?" tanya Rayna tampak bingung.


"Datang bulannya," ucap Kevano tersenyum dan kembali menggenggam tangan Rayna. Diusapnya lembut punggung tangan Rayna.


"Belum, aku biasanya seminggu," ucap Rayna.


Kevano mencoba mengingat hari pertama Rayna datang bulan.


"Ah masih lama banget," kesal Kevano.


Rayna terkekeh dan memukul punggung tangan Kevano.


"Mau makan nggak, sih? Kenapa jadi bahas gituan, deh?" ucap Rayna.


"Jadi dong, makan kamu," ucap Kevano terkekeh.


Rayna pun ikut terkekeh. Mereka memesan makanan dan setelah itu menikmatinya.


Selesai makan siang, Rayna dan Kevano pergi ke kediaman Rayna. Hari pun menjelang sore dan Kevano merasa lelah karena perjalanan dari luar kota.


Sesampainya di halaman rumah Rayna.


Kevano melihat rumah yang ada di samping rumah Rayna, di mana di sana terlihat seorang pria dewasa tengah merapikan tanaman-tanaman di halaman rumah tersebut. Ya, rumah itu adalah yang menjadi tempat tinggal Guriko sebelumnya.


"Si Guriko tinggal di situ lagi?" tanya Kevano begitu turun dari mobil.


"Aku nggak tahu. Kayaknya, itu pengurus rumahnya aja yang nempatin," ucap Rayna.


"Oh ..."


Kevano dan Rayna memasuki rumah, dan menyapa bibi. Setelah itu mereka pergi ke kamar.


Begitu memasuki kamar, baru dua langkah Rayna memasuki kamarnya, Kevano langsung menarik tubuh Rayna. Membuat Rayna terkejut dan hampir saja terjatuh.

__ADS_1


__ADS_2