
Rayna terdiam mendengar permintaan maaf dari Randy.
Randy memeluk Rayna dan mencium puncuk kepala Rayna. Anak gadisnya itu sudah semakin besar dan Randy semakin takut.
Ya, Randy sadar semakin Rayna tumbuh, maka kemungkinan hilangnya banyak waktu antara dirinya dan Rayna semakin besar. Kinipun dia harus rela tinggal jauh dari Rayna. Namun, ada yang lebih menakutkan lagi bagi Randy sebagai seorang ayah, yaitu ketika Rayna mencintai pria lain dan memberikan segalanya untuk pria itu.
Dia teringat bagaimana dulu Dania begitu membela dirinya dan berani melawan papa mertuanya demi cinta Dania yang begitu besar terhadap dirinya. Dia tak ingin hal itu terjadi pada dirinya, dia tak ingin Rayna membenci dirinya dan menjauhi dirinya jika sampai merasakan apa yang Dania rasakan.
"Maafkan Papa sudah meragukanmu, Papa hanya ingin yang terbaik untukmu," ucap Randy.
Rayna tercengang mendengar ucapan Randy. Dia melepaskan diri dari pelukan Randy dan menatap Randy.
"Apa itu artinya, Papa percaya kalau aku nggak hamil?" tanya Rayna.
Randy tersenyum dan kembali memeluk Rayna. Dia mengusap lembut kepala Rayna dan tak hentinya menciumi kepala Rayna.
"Tentu saja Papa percaya, Papa tahu Ade tidak seperti itu," ucap Randy.
Rayna tersenyum dan mengeratkan pelukannya. Dia bahagia mendengar orang yang begitu dia khawatirkan tak akan mempercayainya, justru nyatanya mempercayainya.
"Thank you, Pa. Youre the best Papa," ucap Rayna.
Randy terkekeh, anak gadisnya itu benar-benar membuatnya menahan tawa.
"Satu lagi!" ucap Randy sontak membuat Rayna mengerutkan dahinya.
"Apa?" tanya Rayna.
"Papa ada kabar baik untuk Ade. Pelaku kejahatan itu sudah ditangkap polisi," ucap Randy.
Rayna pun terkejut.
"Siapa dia, Pa?" tanya Rayna penasaran.
"Teman satu kampus Ade," ucap Randy.
"Alika?" tanya Rayna semakin terkejut. Dia berpikir Alika, teman sekelasnya itu yang memfitnahnya.
"Bukan, kalau tidak salah namanya Byanka," ucap Randy.
Rayna mengerutkan dahinya merasa heran. Rasanya dia tak pernah mengganggu Byanka, lalu kenapa Byanka justru mengganggunya, bahkan sampai tega memfitnahnya?
"Dia cemburu Ade dekat dengan kekasihnya," ucap Randy.
"Guriko!" Rayna tak habis pikir, karena Byanka bisa tega berbuat seperti itu hanya karena cemburu melihat kedekatannya dengan Guriko. Padahal Byanka sendiri tahu, Rayna tak memiliki hubungan apapun selain hanya sebatas teman.
"Apa dia anak tetangga sebelah itu?" tanya Randy.
Rayna pun mengangguk.
__ADS_1
"Iya, Pa," jawab Rayna.
Randy mengangguk dan Rayna terdiam sejenak. Entah apa yang Rayna pikirkan saat ini.
"Oh, ya. Nanti malam, akan ada teman Papa datang berkunjung. Papa mengundang dia makan malam di rumah bersama kita," ucap Randy.
"Teman Papa yang mana?" tanya Rayna.
"Om Reksi, nanti Ade bisa ngobrol langsung dengannya," ucap Randy.
Rayna mengangguk dan pamit ke kamarnya. Sementara Randy menjawab telepon masuk yang ternyata dari nomor baru, yang tak lain ternyata Dosen yang sempat menuduh Rayna. Dia meminta maaf pada Randy atas kesalahpahaman yang terjadi. Randy pun meminta agar masalah itu tetap menjadi rahasia dan jangan sampai tersebar pada mahasiswa ataupun mahasiswi lain. Cukup pihak dalam yang tahu masalah itu. Mengenai Byanka, sudah pasti Byanka akan dikeluarkan dari kampus. Perbuatan Byanka tak bisa dimaafkan.
Beruntunglah Byanka. Karena fitnah itu tak sampai tersebar pada yang lain, meski dia mengaku pada Guriko tahu masalah kehamilan Rayna dari teman-teman sekampusnya.
Lalu, mengenai hasil positif dari testpack yang Rayna gunakan sendiri, mengapa bisa memunculkan tanda garis dua yang artinya adalah positif? Kejadian sebenarnya adalah, karena kecerobohan tak mengecek terlebih dahulu, testpack itu nyatanya kadaluarsa. Sungguh, skenario sang pencipta, terkadang membuat tak habis pikir, tetapi tentu tak akan ada masalah yang tak memiliki makna.
Flashback hari itu, hari di mana Rayna dituduh mengandung karena bukti testpack yang ada di dalam almamternya.
Byanka dan temannya lah yang memasukan benda pipih tersebut ke dalam almamater Rayna. Secerdik mungkin dia mencoba menghilangkan segala bukti. Salah satunya memanipulasi rekaman cctv dengan memakai jasa Reksi.
Ya, Reksi adalah rekan Randy. Mereka sudah berteman sejak lama. Reksi salah satu pekerja yang profesional dan jujur, hanya saja saat itu Byanka mengatakan ingin membuat surprise untuk temannya yang tengah ulang tahun. Tentu Reksi pun berhati-hati menerima setiap pekerjaan, sayangnya Byanka dan Reksi sudah saling kenal sebelumnya karena Reksi pun mengenal orangtua Byanka.
Reksi mengambil pekerjaan itu dengan jaminan yang Byanka berikan, bahwa tak akan terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Sayangnya, Byanka berbohong dan Randy memberitahunya tepat pada waktunya. Reksi syok saat melihat Rayna dijebak oleh Byanka dengan bantuan dirinya. Dia pun bertindak cepat saat Randy mengatakan masalah yang tengah dihadapi oleh Rayna.
Secara hukum, Reksi terlibat. Namun, Randy tak menyeretnya ke jalur hukum karena sejak awal Reksi tak tahu masalah tersebut. Randy yakin betul, jika saja sejak awal Reksi mengetahui rencana busuk Byanka, Reksi pun tak akan mau membantu Byanka. Reksi tak akan mau melakukan kejahatan.
Randy keluar dari kamar dan menghampiri Dania yang tengah berada di dapur.
"Yang! Kita akan kedatangan Reksi, aku mengundangnya makan malam," ucap Randy.
Dania terkejut mendengar ucapan Randy.
"Kamu benar-benar keterlaluan, di saat masalah menimpa anak kamu, kamu malah mau ngundang teman kamu!" kesal Dania.
Randy menghela napas, dia lupa Dania belum mengetahui kabar baik tentang Rayna. Randy pun tak ingin memberitahukan sekarang, biar saja dia akan menunggu hingga waktu makan malam tiba, dan dia akan menjelaskan segalanya pada Dania. Untuk saat ini, dia cukup lega karena Rayna sudah tahu bahwa keadaan sudah baik-baik saja.
"Ya, mau gimana lagi? Aku terlanjur undang dia," ucap Randy santai.
Dania yang tengah membantu bibi menyiapkan bahan masakan untuk makan malam pun menjadi geram dan melemparkan sayuran yang ada di tangannya ke atas meja. Dia menghela napas kasar dan menatap Randy dengan tajam.
"Kalau gitu, kamu aja yang masak!" tegas Dania.
Randy mengerutkan dahinya, Dania benar-benar terlihat marah.
"Ya udah, kalau kamu nggak mau masak. Aku minta tolong Bibi aja," ucap Randy sambil tersenyum melihat bibi. Bibi pun tersenyum dan mengangguk. Tentu saja pekerjaan di rumah itu sudah menjadi tanggung jawab bibi.
"Jangan coba-coba bantu Bapak masak, ya, Bi!" tegas Dania.
Bibi pun terdiam, dia menjadi pusing melihat sepasang majikannya itu bertengkar seperti anak kecil.
__ADS_1
Randy pun menjadi kesal sendiri. Istrinya benar-benar menyeramkan saat sedang marah. Sedangkan dia tak bisa berbuat apa-apa. Dia mengerti kesalahannya tetap membiarkan kesalahpahaman itu bersarang di kepala Dania. Randy menghela napas perlahan, mencoba meredakan amarahnya yang jika tersinggung sedikit lagi bisa meledak.
"Beli aja, aku punya uang, kok," ucap Randy dan meninggalkan Dania yang memasang ekspresi kesal sambil menggerutu tak jelas. Entah apa yang Dania katakan, Randy bahkan tak mendengarnya karena buru-buru pergi. Dia tak ingin terus berdebat dengan Dania.
Waktupun berlalu, jam makan malam tiba.
Tepat pukul 18.30 Wib Reksi sampai di rumah Randy. Dengan menahan kesal Dania mencoba menyambut Reksi karena dia pun mengenal Reksi. Hanya saling sapa sebentar dan mereka pun menuju meja makan. Sesekali Dania menyunggingkan senyum palsu, hanya sekedar menutupi kekesalannya pada Randy.
"Bagaimana keadaan Ade?" tanya Reksi pada Rayna.
Rayna pun tersenyum ramah.
"Baik, Om. Terimakasih udah bantu selesaikan masalah Ade," ucap Rayna.
"Om tidak akan tahu apapun, jika bukan Papa yang memberitahu Om. Sungguh, Ade beruntung sekali memiliki Papa yang cepat sekali bertindak demi menyelesaikan masalah," ucap Reksi.
Dania mengerutkan dahinya sambil menatap satu persatu ketiga orang yang kini ada di dekatnya.
Randy pun hanya tersenyum. Sejujurnya, ada rasa bangga mendengar pujian dari Reksi. Namun, dia melakukan semua itu karena putrinya, bukanlah karena ingin dipuji.
"Kalian ngomongin apaan, sih?" tanya Dania bingung.
"Loh, kamu nggak tahu, Dania? Masalah Rayna kan sudah selesai, pelaku yang memfitnah Rayna sudah ditangkap Polisi, dan itu berkat Randy," ucap Reksi bingung. Bagaimana mungkin Randy tak memberitahukan kabar itu pada Dania? Pikir Reksi.
Dania mengepalkan tangannya, dia pun semakin kesal saat melihat Randy terkekeh menatapnya.
"Aku mau bilang tadi siang, kamunya udah jadi macan duluan. Aku jadi takut," ucap Randy sambil terkekeh.
Ya Tuhan, kau berikan Suami macam apa padaku? Dia malah membuat Istrinya menderita memikirkan hal yang sebetulnya baik-baik saja, gumam Dania.
Randy semakin terkekeh mendengar gumaman Dania yang masih terdengar di telinganya.
"Maaf, Yang. Jangan marah lagi. Semuanya udah baik-baik aja," ucap Randy.
Dania pun menghela napas lega. Jujur saja dia lega sekaligus kesal pada Randy. Dia akan menunggu hingga Reksi pergi, dan tinggal dirinya saja bersama Randy, maka dia akan memberikan pelajaran pada Randy.
Kruyuk.
Semua orang terkejut saat mendengar suara perut keroncongan. Mereka semua saling menyelidik satu sama lain, seolah tengah mencari sang pelaku.
Reksi pun terkekeh dan memegang perutnya.
"Perutku, maaf keburu laper dengar kalian debat," ucap Reksi.
Randy dan Dania terkejut. Bisa-bisanya mereka melupakan acara inti dan justru sibuk berdebat.
Dania pun membantu mengambilkan makanan. Setelah selesai, dia kembali duduk dan akan memulai makan malam.
Ting tong!
__ADS_1