
Satu minggu berlalu.
Rayna dan Kevano tengah bersiap menuju kantor Raka. Hari ini rencananya Rayna akan melihat ruang kerja Raka. Sebelumnya, Raka sudah memberikan gambaran konsepnya secara lisan. Namun, Rayna harus melihat secara langsung keadaan di ruangan itu agar dia dapat membuat gambaran secara tulisan.
Kevano sengaja mengantar Rayna karena sekalian dengan Kevano yang akan pergi ke lokasi kerjanya.
Sesampainya di depan Kantor Raka, Kevano mendaratkan ciuman di pipi Rayna sebelum Rayna keluar dari mobil.
"Hati-hati, ya," ucap Kevano begitu Rayna sudah keluar dari mobil.
Rayna tersenyum dan masuk ke Kantor Raka. Dia menghampiri resepsionis dan menanyakan ruangan Raka. Tak lama, datanglah sekretaris Raka dan mengantar Rayna menuju ruangan Raka.
Sesampainya di ruangan itu, Rayna langsung disambut hangat oleh Raka.
Rayna langsung melihat sekitar ruangan itu, ruangan yang cukup luas. Raka meminta Rayna duduk di sofa tamu, dan Raka duduk di samping Rayna.
"Kamu langsung dari Depok ke sini?" tanya Raka.
"Nggak, aku dari apartemen yang di Jakarta," ucap Rayna.
"Oh baguslah. Aku pikir dari Depok, jauh banget kan. Lumayan," ucap Raka tersenyum.
"Jadi, kita akan mulai dari mana?" tanya Rayna.
"Ya, sesuai yang aku jelaskan waktu itu, aku ingin ruanganku nggak terlalu mencolok kayak sekarang. Aku pengen ruangan ini terkesan elegan tetapi tetap ada nuansa kelasiknya," ucap Raka.
"Hm ..." Rayna mengangguk dan beranjak dari duduknya. Dia melihat dinding-dinding ruangan itu. Dia sudah terbayang, apa saja yang dia butuhkan, dan berapa banyak barang-barang yang di perlukan dalam mendesign ruangan itu. Dia mengeluarkan ponselnya dan memotret ruangan Raka dari segala sudut.
"Rayn! Aku lupa nanya ini," ucap Raka menghampiri Rayna.
"Apa itu?" tanya Rayna sambil masih mengambil beberapa gambar.
"Sebenarnya kamu keberatan nggak, sih, nerima kerjaan ini?" tanya Raka.
Rayna melihat Raka dan tersenyum.
"Nggak," ucap Rayna.
"Aku takut, kamu sebenernya keberatan dan nerima tawaran ini karena kamu nggak enak sama aku," ucap Raka.
Rayna menghela napas.
"Nggak, kok. Ya, awalnya ragu, tapi Kevano dukung aku. Selama aku bisa handle semuanya dengan baik, dia oke sih," ucap Rayna.
"Kamunya gimana?" tanya Raka.
"Ya, oke. Karena itu mau ambil tawaran kamu. Lagian, ini bagus juga buat mengasah bakat aku," ucap Rayna.
Raka tersenyum. Dia merasa lega jika Rayna menerima tawarannya dengan senang hati.
"Jadi, selama pengerjaan ini, kamu nggak akan bisa pakai ruangan ini dulu, gimana?" tanya Rayna.
"It's okay. No problem. Aku tahu itu, makanya aku udah siapkan ruangan sementara," ucap Raka.
"Iya. Dan kapan aku boleh mulai kerjain semuanya?" tanya Rayna.
__ADS_1
"Sebisa kamu aja, kapan kamu siapnya?" tanya Rayna.
"Sebentar, aku butuh asisten. Aku nggak akan bisa kerjain ini sendiri," ucap Rayna.
"Sekretarisku bisa bantu. Kamu tinggal bilang ke dia, apa aja yang dibutuhkan. Dia akan siapkan," ucap Raka.
"Oke. Apa aku boleh bicara sama dia sekarang? Aku akan diskusikan apa aja yang aku butuhkan. Besok mungkin, aku akan mulai kerjakan semuanya," ucap Rayna.
"Tentu aja. Sebentar, ya."
Raka pergi menuju mejanya dan menghubungi sekretarisnya. Dia meminta sekretarisnya untuk datang ke ruangannya.
Begitu sekretarisnya masuk, mereka duduk bertiga. Rayna menjelaskan apa saja yang dia butuhkan, dan sekretaris Raka mencatatnya. Rayna meminta skretaris Raka menyiapkannya hari itu juga. Karena waktu masih belum terlalu siang, sehingga masih banyak waktu untuk menyiapkannya.
Sekretaris Raka keluar begitu selesai mencatat segala yang Rayna butuhkan. Cukup lama mereka berdiskusi hingga waktu menunjukan jam makan siang. Riko mengajak Rayna makan siang terlebih dahulu, mereka pergi ke salah satu restoran yang berada tak jauh dari Kantor. Hanya sepuluh menit menggunakan mobil Raka, karena Rayna juga tak membawa mobil hari itu.
Ditengah kegiatan makan siang, Raka terus memperhatikan Rayna. Saat sekolah, Rayna memang cantik, tetapi begitu menikah Rayna menjadi lebih cantik. Rayna begitu menjaga penampilannya.
"Rayn!"
"Ya," sahut Rayna.
"Usia kehamilan kamu udah berapa bulan?" tanya Raka.
"Lima bulan," ucap Rayna.
"Oh, ya? Cepat, ya," ucap Raka.
"Ya, empat bulan sepuluh hari lagi aku melahirkan," ucap Rayna.
Riko tersenyum dan mengangguk.
"Semoga," ucap Rayna tersenyum.
Mereka melanjutkan makan siang.
Begitu selesai, mereka keluar dari restoran. Rayna akan memesan taksi, tetapi Raka menghentikannya.
"Aku akan antar kamu pulang," ucap Raka.
"Lho, nggak usah. Kamu harus balik ke Kantor. Aku takut ngerepotin," ucap Rayna.
"Nggak, dong. Aku nawarin, artinya aku senggang. Balik ke Kantor bisa abis antar kamu pulang," ucap Raka.
"Gimana, ya? Aku takut ngerepotin aja, sih," ucap Rayna.
"Nggak, Rayn. Ayo, masuk ke mobil. Aku antar pulang, masa aku tega biarin ibu hamil pulang sendirian. Bisa marah nanti suami kamu," ucap Raka terkekeh.
Rayna tersenyum dan masuk ke mobil Raka. Sebelumnya, Raka juga membantu membukakan pintu mobil untuk Rayna. Setelah Rayna masuk, Raka menyusul masuk.
"Ka, anterin aku ke rumah Mama mertuaku, ya. Kamu keberatan nggak?" tanya Rayna.
"Nggak, dong. Aku antar ke sana," ucap Raka.
"Iya,"
__ADS_1
Mereka pergi menuju rumah orangtua Kevano.
Sesampainya di depan rumah Kevano.
Rayna keluar dari mobil, lalu Raka membuka kaca mobil dan tersenyum melihat Rayna.
"Aku balik, ya," ucap Raka.
"Iya. Thanks, ya," ucap Rayna dan melambaikan tangannya. Rayna baru masuk ke halaman rumah, begitu mobil Raka pergi.
Dari kejauhan, tepatnya dari teras rumah sang mama mertua memperhatikan Rayna.
Tumben sekali menantunya itu datang.
"Ma," sapa Rayna.
"Hai, Rayn. Sama siapa ke sini?" tanya mama mertua.
"Sendiri, Ma. Kevano kerja," ucap Rayna.
Mama mertua Rayna mengangguk. Rayna bicara seperti itu membuatnya berpikir bahwa Rayna diantar oleh taksi tadi.
Rayna dan mama mertuanya masuk ke rumah. Rumah tampak sepi hari itu.
"Papa di mana?" tanya Rayna.
"Papa ke Kantor, Ralisya ke Kampus, belum pulang," ucap mama mertua.
Rayna mengangguk.
"Udah makan belum? Mama masak," ucap mama mertua.
"Udah, Ma," ucap Rayna.
Rayna menjadi sedikit menyesal sudah datang ke sana. Rumah itu sepi dan tak ada Ralisya. Dia berpikir Ralisya ada di rumah, sehingga dia ada teman untuk bicara. Hanya bersama mama mertuanya, membuat Rayna bingung mau membicarakan soal apa.
"Ma, aku ke kamar Kevano, ya," ucap Rayna.
"Mau ke kamar Kevano? Tapi, kamar itu udah lama nggak ditempatin. Dari semenjak Kevano lulus sekolah dia udah nggak pake lagi," ucap mama mertua.
"Nggak, apa-apa. Sekalian aku nunggu Ralisya pulang," ucap Rayna.
"Ya udah sana. Di lantai atas, paling ujung," ucap mama mertua.
Rayna pergi menuju kamar Kevano. Benar saja kamar itu berada di paling ujung. Ada beberapa kamar yang dia lewati, kenapa juga Kevano memilih kamar paling ujung? Pikirnya.
Rayna membuka pintu kamar Kevano, kamar itu gelap. Gordennya tertutup.
Rayna menyeret gorden dan masuklah penerangan dari luar jendela.
Kamar itu bercat abu-abu tua, khas pria sekali. Rayna heran, tak ada apapun yang berkaitan dengan pekerjaannya di sana. Tak seperti di apartemen Kevano dan di rumahnya di Depok yang terdapat alat-alat musik. Di sana tak terlihat satupun alat musik.
Rayna mendekati lemari Kevano, di sana tampak baju-baju Kevano tersimpan rapi. Pandangan Rayna tak sengaja melihat pada selembar kertas putih yang terselip di bawah tumpukan baju Kevano.
Rayna iseng mengambilnya, ternyata itu adalah selembar foto.
__ADS_1
Rayna memperhatikan foto lama itu, tetapi masih jelas terlihat. Karena memang di masa kelahirnnya jaman pun sudah canggih.
Rayna terkejut melihat foto seorang anak perempuan. Anak perempuan itu tengah duduk bermain di tepi pantai dengan di sampingnya ada bangunan istana pasir. Anak kecil itu hanya memakai bikini yang memang dikhusukan untuk anak-anak. Rayna menelan air liurnya, dia benar-benar terkejut melihatnya. Kenapa juga ada foto anak kecil perempuan itu di lemari Kevano? Pikir Rayna.