
"Jangan marah, dong! Masa gitu aja marah!" teriak Rayna. Namun, tetap tak ada sahutan dari Kevano.
Seketika perasaan Rayna menjadi tak karuan. Bagaimana mungkin di malam pertama setelah resepsi pernikahan dirinya dan Kevano harus bertengkar karena masalah yang memang sudah sewajarnya biasa dialami para wanita.
Rayna memilih memakai pakaiannya terlebih dahulu. Entah nantinya dengan cara apa dia harus meminta maaf pada Kevano. Dirinya bahkan tak melakukan kesalahan apapun.
Selang beberapa menit, Kevano keluar dari kamar mandi menggunakan bathroobs dan menuju lemari. Dia mengambil pakaian santai dan begitu selesai, dirinya mengambil ponselnya. Rayna yang merasa diabaikan pun menjadi semakin tak enak hati. Rayna mengambil ponselnya, kemudian mengetik sebuah pesan pada Kevano.
'Maaf'☹️ tulis Rayna.
Kevano mengerutkan dahinya tetapi tak melihat Rayna saat menerima pesan tersebut. Kevano pun mengabaikan pesan tersebut dan memilih menyimpan ponselnya. Dia pergi menuju tempat tidur, merebahkan tubuhnya di sebalah kiri tempat tidur dengan posisi tangan kiri tertindihh kepalanya, sedangkan tangan kanannya dibukanya. Rayna yang terdiam pun seolah mengerti maksud Kevano. Dirinya naik ke atas tempat tidur dan meletakan kepalanya di atas tangan Kevano. Kevano pun merangkul Rayna.
"Kamu nggak marah?" tanya Rayna.
"Nggak," ucap Kevano singkat.
"Kok dari tadi diemin aku. Aku panggil-panggil di kamar mandi, kamunya tetep diem," ucap Rayna.
"Aku sakit perut. Lagi fokus tadi, mana bisa nyahut panggilan kamu, nanti kamu malah nyangka aku lagi aneh-aneh kalau aku nyahut," ucap Kevano tersenyum.
"Ya ampun!" Rayna tak habis pikir, nyatanya Kevano justru buang air besar. Karena itu dia tak merespon panggilannya.
Kevano terkekeh dan mengusap kepala Rayna.
"Terus, kenapa kamu diemin pesan aku?" tanya Rayna.
"Ya ngapain juga kirim-kiriman pesan? Ada orangnya, kok. Mending ngomong langsung," ucap Kevano.
"Aku nggak akan pernah marah. Apapun masalahnya, aku nggak mau bikin kamu sedih lagi," Lanjut Kevano.
Rayna mengangguk dan membalas pelukan Kevano. Beruntunglah Kevano tak marah padanya,
"Aku ada kerjaan ke luar kota dua hari lagi," ucap Kevano.
"Hah? Jadi, kita pulang besok?" tanya Rayna.
Kevano mengangguk.
"Iya. Maaf, ya. Pekerjaan aku memang seperti itu. Agenda ini udah dibuat sebelum kita merencanakan pernikahan. Kamu tahu sendiri, pernikahan kita bisa dibilang mendadak. Sebulan mempersiapkan segalanya, beruntungnya semua berjalan lancar," ucap Kevano.
Rayna mengangguk. Sebetulnya dia ingin ikut menemani Kevano bekerja. Namun, diapun memiliki tanggung jawab pada kuliahnya. Dia pun tak bisa berlama-lama cuti dari kuliah. Bahkan sebelumnya, dirinya sudah terlalu banyak tak masuk kuliah karena masalah yang Byanka lakukan.
"Aku udah siapkan tiket pesawat sebelumnya, penerbangan kita besok siang jam setengah dua belas," ucap Kevano.
"Ya udah, tidur yuk!" ucap Rayna sambil mengganti lampu kamar menjadi lampu tidur.
Kevano menarik selimut dan menutupi tubuh dirinya juga Rayna. Keduanya pun tertidur.
__ADS_1
*****
Keesokan harinya.
Semua keluarga tengah melakukan sarapan bersama. Namun, tidak dengan Rayna yang sibuk memasukan barang-barang dirinya ke koper dengan dibantu pula oleh Kevano.
Rayna dan Kevano menghentikan aktivitasnya ketika terdengar suara ketukan pintu kamar. Kevano pun membuka pintu kamar dan terlihat Ralisya.
"Kak! Kalian nggak sarapan?" tanya Ralisya sambil melangkah masuk ke dalam kamar.
"Loh! Kalian lagi packing. Apa kalian mau pulang hari ini?" tanya Ralisya.
"Iya, pesawat kami jam setengah dua belas siang ini. Perjalanan, kan, cukup jauh. Belum lagi, kami harus menyebrang pulau dulu untuk menuju ke Bandara," ucap Kevano.
"Kenapa?" tanya Ralisya bingung. Ralisya pikir, keduanya akan tinggal lebih lama untuk honeymoon terlebih dulu.
"Oh, aku lupa. Raynanya lagi datang bulan, ya. Jadi, percuman honeymoon sekarang," ucap Ralisya sambil terkekeh.
"Eh, bukan! Kevano ada kerjaan dua hari lagi. Karena itu kita mau pulang sekarang," ucap Rayna mencoba menyangkal ucapan Ralisya.
Ralisya kembali terkekeh dan melangkah menuju keluar. "Aku becanda, kok. Ya udah aku antar aja sarapan kalian ke sini," ucap Ralisya.
"Baik amat," ucap Kevano.
"Udah dari dulu," ucap Ralisya tersenyum dan pergi dari kamar.
"Akupun beruntung punya Istri sebaik kamu," ucap Kevano.
Rayna tersenyum dan kembali melanjutkan mengemasi barang-barang.
Di sisi lain.
Ralisya akan menuruni anak tangga, tetapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara Raydan dari dalam kamarnya yang tak tertutup rapat. Rasa penasaran Ralisya mendorongnya untuk mencuri dengar apa yang Raydan ucapkan.
Ralisya perlahan melihat ke dalam kamar Raydan. Di sana Raydan pun terlihat tengah berkemas. Namun, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dari dalam ponsel Raydan. Rupanya, Raydan tengah berbicara melalui videocall dengan seorang wanita.
Babe, when are you coming back to Germany? I miss you so much. ucap wanita tersebut.
The day after tomorrow, I'll be back in Germany. I miss you too, Babe. ucap Raydan.
Jantung Ralisya berdetak kencang. Dadanya terasa sesak mendengar kata rindu yang wanita itu ucapkan, dan yang lebih menyakitkan lagi Raydan pun membalas kata rindu itu. Ralisya yakin betul, wanita itu adalah wanita yang dekat dengan Raydan di Jerman. Namun, yang lebih membuat Ralisya sesak, Raydan akan kembali ke Jerman dua hari kemudian. Itu artinya, dirinya tak akan melihat Raydan lagi untuk waktu yang entah sampai kapan. Keduanya bahkan sudah tak memiliki hubungan apapun. Namun, Ralisya tak memungkiri perasaannya terhadap Raydan. Dirinya masih menyayangi Raydan, bagaimana pun Raydan adalah cinta pertamanya.
Air mata Ralisya akan terjatuh, sebisa mungkin dia menahan air mata itu agar tak menetes dengan segera mengusap kedua matanya. Ralisya pun bergegas pergi dengan memendam kekecewaan. Dia pikir, Raydan mendekatinya karena memang memiliki perasaan yang sama, ternyata Ralisya salah berpikir. Raydan hanya mempermainkan perasaannya saja.
'Bodoh!' kesal Ralisya. Ralisya pun meminta seorang pengurus Villa untuk mengantarkan sarapan ke kamar Rayna dan Kevano. Dirinya tak tahan jika harus melewati kamar Raydan kembali. Setegar-tegarnya dirinya, tetap saja hatinya rapuh. Dia tetap seorang wanita, memiliki hati yang jika tersakiti dapat membuatnya merasakan sakit dan kecewa.
******
__ADS_1
Sudah sejak pagi Kevano dan Rayna tak keluar dari kamar. Semua keluarga pun tak mengganggu karena sebelumnya Ralisya mengatakan perihal akan pulangnya Rayna dan Kevano. Semua anggota keluarga pun sibuk mengemasi barang masing-masing. Ada yang akan pulang hari ini, juga ada yang besok. Tergantung penerbangan masing-masing.
kini waktu sudah menunjukan pukul sepuluh waktu setempat. Kevano dan Rayna menyeret koper masing-masing menuju keluar kamar. Terlihat Raydan pun menyeret kopernya menuju keluar kamar.
"Loh, Bang! Mau kemana?" tanya Rayna.
"Kalian mau kemana?" tanya Raydan balik.
"Pulang," ucap Rayna.
"Sama, pesawat kalian jam berapa?" tanya Raydan.
"Jam setengah dua belas," ucap Kevano.
"Lah, sama. Ya udah, bareng aja," ucap Raydan. Ketiga orang itupun turun bersama dengan membawa koper masing-masing.
Di lantai bawah, juga terlihat Ralisya tengah menyeret kopernya. Sudah sejak semalam Ralisya memang mengatakan perihal kepulangannya hari ini.
"Sya, mau pulang juga?" tanya Rayna.
"Iya, aku udah bilang, kan, dari semalam," ucap Ralisya.
"Pesawat kamu jam berapa?" tanya Kevano.
"Setengah dua belas," ucap Ralisya.
Kevano terkekeh. Rupanya keempat orang itu memiliki jadwal penerbangan yang sama. Dengan begitu, artinya mereka akan kembali bersama-sama.
Di saat semua orang merasa terkekeh karena kebetulan tersebut, Raydan pun hanya diam tanpa ekspresi. Dirinya bahkan sama sekali tak melihat ke arah Rayna. Dirinya justru sibuk mendengarkan musik dengan headset yang terpasang di telinganya.
Sadar akan adanya sesuatu yang tak beres dengan Ralisya dan Raydan, Kevano pun memilih mengajak Rayna untuk pamit terlebih dahulu kepada keluarga yang lain. Bukannya tak peduli pada adiknya itu, tetapi Kevano yakin apapun masalah Rayna, Rayna akan dapat menyelesaikannya. Keculai, jika sesuatu yang fatal sudah terjadi pada adiknyq itu, tentu Kevano tak akan bisa tinggal diam. Bagaimana pun Ralisya adalah adik kesayangannya.
*****
Kevano, Rayna, Ralisya dan juga Raydan kini sudah sampai Bandara, setelah sebelumnya menyebrang pulau dan melakukan perjalanan darat menuju Bandara.
Mereka pun pergi menuju pesawat begitu terdengar pemberitahuan. Masih ada waktu sebelum akhirnya pesawat terbang.
Kevano tak hentinya menggenggam tangan Rayna. Keduanya pun tentu duduk bersama. Kevano pun melakukan candaan kecil untuk Rayna, sesekali bahkan mencubit gemas pipi Rayna, membuat Rayna terkekeh geli.
Sedangkan di kursi lain, Ralisya tengah merasakan kecanggungan yang amat luar biasa karena nyatanya harus duduk bersampingan dengan Raydan. Ralisya tampak gelisah, meski akhirnya dia mencoba bersikap setenang mungkin dan tak ingin terlalu menunjukan kegelisahannya. Di saat dirinya begitu gelisah, Raydan bahkan terlihat begitu santai. Seolah dirinya tak pernah mengenal Ralisya.
Ralisya yang salah tingkah pun, tak sengaja menjatuhkan sesuatu tepat di dekat kaki Raydan. Ralisya menunduk ingin mengambil barangnya tersebut. Menyadari hal itu, Raydan pun bergegas ikut menduduk berniat ingin membantu Ralisya. Rasanya tak nyaman ketika ada seorang wanita yang menunduk di kakinya.
Dugh!
"Ouh shit!" umpat Raydan saat tanpa sengaja kepala Ralisya dan dagu Raydan pun saling beradu cukup keras.
__ADS_1