Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 44


__ADS_3

Pagi hari.


Rayna keluar dari kamarnya, dia melihat bibi yang tengah menyiapkan sarapan.


"Di mana Kak Stefie, Bi?" tanya Rayna.


"Ada di depan, Non. Sepertinya, sedang memanaskan mobil," ucap bibi.


Rayna mengangguk dan memilih sarapan terlebih dahulu.


"Maaf, De." Stefie tiba-tiba saja menghampiri Rayna.


"Iya, Kak. Ada apa?" tanya Rayna.


"Mobilnya mogok, De," ucap Stefie.


"Apa? Kok, bisa, Kak?" Rayna terlihat bingung, yang dia tahu kemarin mobilnya masih lah baik-baik saja.


"Iya, Ade naik taksi dulu, enggak apa-apa, kan? Saya akan hubungi bengkel terlebih dahulu. Takutnya, Ade kelamaan nunggu," ucap Stefie.


"Apa Kakak enggak ngerti tentang mesin mobil?" tanya Rayna.


Yang Rayna tahu, Stefie adalah supir yang berpengalaman. Pengalaman kerjanya bahkan sudah banyak.


"Sudah saya coba, tetapi ada yang mengharuskan dibawa ke bengkel," ucap Stefie.


Rayna terdiam sejenak, dia pun terpaksa mengiyakan. Dia tak mungkin menunggu sampai mobilnya betul kembali. Dia bisa terlambat datang ke kampus.


Selesai sarapan, Rayna pun memesan taksi online.


Cukup lama dia menunggu, hingga akhirnya sang supir menghubungi Rayna dan mengatakan bahwa dia tak bisa menjemput Rayna karena mobilnya pun mogok di tengah jalan.


"Apa ini hari mogok? Kenapa mobil-mobil pada mogok? Benar-benar menyebalkan," gerutu Rayna.


Dia pun keluar dari rumah, dia tak sengaja melihat Guriko yang baru saja menutup pintu pagar rumahnya.


Rayna menatap Guriko tak suka, dia masih teringat kejadian semalam, saat Guriko melemparkan stik drum ke kepalanya.


"Mau ke kampus?" tanya Guriko.


"Menurutmu?" Jawab Rayna dengan ketus.


"Apa sarapanmu pagi ini, menunya tawon?" tanya Guriko.


"Maksudnya?" Rayna terlihat kebingungan mendengar pertanyaan Guriko.


"Ya, galak sekali. Ini, bahkan masih pagi," ucap Guriko sambil tersenyum tipis.


Rayna memutar bola matanya, dia sudah dibuat kesal karena taksi yang dia pesan justru batal menjemputnya. Sekarang dia justru harus berhadapan dengan Guriko, pria menyebalkan yang sudah membuat kepalanya menjadi pusing semalaman.


"Pria aneh," ucap Rayna dan bergegas meninggalkan Rayna.


"Naiklah." Guriko memberikan helm pada Rayna.


"Apa?" tanya Rayna dengan bingung.


"Kamu mau terlambat? Ayolah, berangkat bersamaku saja. Gratis, kok," ucap Guriko.


"Memangnya siapa yang mau bayar? Aku bahkan enggak mau naik motor denganmu," ucap Rayna.

__ADS_1


"Astaga, perempuan ini benar-benar," gumam Guriko.


"Benar-benar apa?" tanya Rayna sambil menatap Guriko dengan tatapan tajam.


"Benar-benar cantik," ucap Guriko sambil tersenyum sok manis.


Rayna membulatkan matanya, wajahnya terasa panas mendengar pujian dari Guriko. Selama ini tak ada pria yang memujinya cantik selain Guriko.


Guriko terkekeh melihat pipi Rayna yang memerah. Rayna terlihat menjadi canggung.


"Apanya yang lucu?" tanya Rayna dengan bingung.


"Aku bisa jamin, akulah pria pertama yang bilang kamu cantik," ucap Guriko dengan yakin.


Lagi-lagi Rayna memutar bola matanya, dia benar-benar jengah dengan Guriko.


Guriko menahan tangan Rayna saat Rayna akan pergi meninggalkannya.


"Apa lagi?" tanya Rayna.


"Ini jam sibuk, percuma kamu menunggu taksi," ucap Guriko.


Rayna melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu. Tapi, aku akan membayar mu. Aku enggak suka gratisan," ucap Rayna.


Guriko menghela napas.


"Kembalikan saja stik drum ku, itu sudah cukup," ucap Guriko.


"Baiklah." Rayna mengambil helm yang masih ada di tangan Guriko.


Dia pun langsung memakainya.


"Pegang pundak ku, dan naiklah," ucap Guriko. Dengan Ragu Rayna memegang pundak Guriko dan naik ke motor.


Guriko pun langsung melajukan motornya menuju kampus.


Di perjalanan menuju kampus, Rayna dibuat tak nyaman karena Guriko membawa motornya terlalu cepat.


Bugh !


Rayna memukul punggung Guriko.


Dugh !


"Auuwww ..." Rayna meringis saat helmnya terbentur dengan helm Guriko, karena Guriko tiba-tiba saja menghentikan motornya.


"Apa-apaan, sih? Kenapa mengerem mendadak?" tanya Rayna dengan kesal.


"Kamu yang apa-apaan, Apa maksudmu memukulku?" tanya Guriko dengan bingung sambil melihat Rayna dari kaca spion.


Dia terkejut saat Rayna memukul punggungnya, sehingga dia tak sengaja menghentikan motornya dengan tiba-tiba.


"Kamu membawa motormu seperti sedang balapan, aku masih ingin hidup," ucap Rayna dengan kesal.


"Ayolah, aku enggak biasa membawa motor seperti siput. Lagi pula, kita sudah akan terlambat," ucap Guriko.


"Ya sudah, kalau begitu, aku akan turun di sini saja. Aku takut berakhir di Rumah Sakit jika melanjutkan perjalanan denganmu," ucap Rayna.

__ADS_1


"Turunlah, dan kamu akan benar-benar terlambat," ucap Guriko.


Rayna mendengus kesal dan tak jadi turun dari motor Guriko.


"Pegangan saja, aku bukan tukang ojek," ucap Guriko.


"Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan," ucap Rayna dengan kesal.


"Ya sudah, terserah kamu saja," ucap Guriko dengan santai.


Dia pun kembali melajukan motornya.


Guriko terkejut saat tiba-tiba ada sebuah mobil yang keluar dari sebuah pertigaan, dia pun langsung menghentikan motornya dengan mendadak.


"Woi ..! Sialan ..!" umpat Guriko dengan kesal. Namun mobil itu justru terus melaju tanpa mendengarkan teriakan kesal dari Guriko.


"Sial, dada aku engap sekali," gerutu Guriko.


Guriko tak menyadari saat ini Rayna tengah memeluknya dengan erat. Rayna lagi-lagi dibuat terkejut saat Guriko menghentikan motornya dengan tiba-tiba.


Guriko tak sengaja melihat ke arah tangan Rayna yang tengah memeluknya, dia pun tersenyum.


"Katanya enggak mau meluk, sekarang malah meluk," sindir Guriko.


Rayna pun segera melepaskan pelukannya, dia terlihat malu sekali pada Guriko.


Guriko pun terkekeh dan kembali melajukan motornya menuju kampus.


******


Sesampainya di kampus, Rayna langsung turun dari motor Guriko dan memberikan helmnya. Dia pun bergegas menuju kelasnya.


"Dasar, tidak tahu berterimakasih. Main pergi saja," ucap Guriko sambil melihat ke arah Rayna yang mulai menjauh.


Selesai memarkirkan motornya, dia pun menuju kelasnya.


******


Di kelas, Rayna terlihat fokus mendengarkan penjelasan Dosen. Dia memang akan berkonsentrasi waktu belajar, dia bisa dibilang anak yang profesional. Dia tak pernah mencampur adukkan masalah pribadi dengan sekolahnya. Dia akan tetap fokus belajar meski sedang ada masalah sekali pun.


Puk.


Rayna tersentak saat ada yang melemparkan gumpalan kertas ke arahnya, dia melihat ke sekeliling dan matanya tertuju pada gadis cupu yang memakai kacamata tebal sama seperti dirinya. Hanya saja, gadis itu mengepang dua rambutnya. Gadis itu duduk di sebelah Rayna.


Rayna membuka gumpalan kertas tersebut.


"Aku Alika, salam kenal."


Rayna mengerutkan dahinya, dan melihat ke arah Alika.


"Aku Rayna," ucap Rayna sambil tersenyum.


Alika pun tersenyum dan mengangguk.


Selesai kelas, Alika pun memanggil Rayna.


"Ya, kenapa Alika?" tanya Rayna.


"Mau ke kantin bersamaku?" tanya Alika.

__ADS_1


"Boleh, aku bereskan ini dulu," ucap Rayna sambil membereskan buku-bukunya.


Rayna dan Alika pun pergi ke kantin bersama.


__ADS_2