
Sesampainya di Mall.
Dania dan Rayna tengah asyik memilih beberapa bahan makanan. Dari jarak yang tak terlalu jauh, tepatnya dibagian tempat daging terlihat seorang pria yang Rayna kenal.
Ya ampun, kenapa dia ada di mana-mana? gumam Rayna. Ya, siapa lagi jika bukan tetangganya, Guriko. Guriko terlihat tengah fokus memilih daging.
"Apa lagi, ya, De? Mommy bingung mau masak apa," ucap Dania. Rayna hanya diam dan masih memperhatikan Guriko yang terlihat tengah kebingungan. Kayak bisa masak aja, gumam Rayna. "Ade bilang apa?" tanya Dania yang samar-samar mendengar gumaman Rayna. "Ha? Nggak, Moms. Mommy udah selesai pilihnya?" tanya Rayna. Dania menggeleng dan mengalihkan pandangannya ke tempat daging-daging tersimpan. Rayna menahan tangan Dania begitu menyadari Dania akan menuju tempat tersebut.
"Kenapa, De?" tanya Dania bingung. "Mommy mau kemana?" tanya Rayna. "Mommy mau ambil daging," ucap Dania. "Emang harus daging, ya, Moms?" tanya Rayna sambil melihat ke arah Guriko. "Iya, dong. Masa nggak ada dagingnya," ucap Dania sambil berlalu menuju tempat tersebut.
Dengan malas Rayna mengikuti Dania, dia malas harus bertemu dengan Guriko, apalagi jika ingat tadi pagi saat Guriko memarahinya.
"Auw ..." Rayna meringis saat trolli yang Guriko dorong tak sengaja menabraknya. "Eh, sorry-sorry. Aku nggak sengaja," ucap Guriko. Rayna menatap Guriko dengan tajam, sementara Guriko justru terlihat terkejut melihat keberadaan Rayna. "Wow ... Coba lihat yang tadi pagi ngatain aku penguntit, sekarang siapa penguntit yang sebenarnya? Oh, atau mau gantiin ponsel aku yang kamu jual, ya?" ucap Guriko. "Apaan, sih? Siapa juga yang ngikutin kamu?" ucap Rayna kesal.
__ADS_1
"Siapa, De?" tanya Dania sambil melihat Rayna dan Guriko bergantian. "Bukan siapa-siapa, Moms," ucap Rayna.
Guriko tersenyum dan mengangguk-kan kepalanya melihat Dania. "Mama kamu?" tanya Guriko pada Rayna. "Siapa, ya?" ucap Rayna pura-pura tak mengenal Guriko. Guriko dan Dania mengerutkan dahinya, keduanya merasa bingung mendengar pertanyaan Rayna. "Hai, Tan. Aku temannya Rayna, satu Kampus dengan Rayna," ucap Guriko sambil mengulurkan tangannya pada Dania. Dania menyambut tangan Guriko. "Saya Mommy-nya Rayna. Ade, kok, tadi bilangnya nggak kenal?" ucap Dania. "Udah, yuk, Moms. Nanti kita telat masaknya," ucap Rayna mencoba mengalihkan perhatian Dania. "Oke-oke." Dania dan Rayna pun pergi menuju kasir dan membayar belanjaan mereka. Setelah selesai, mereka kembali ke rumah.
******
Sesampainya di rumah.
Dania langsung sibuk memasak dengan ditemani oleh bibi. Dia tak mengizinkan Rayna membantunya, sehingga Rayna pun memilih menemani Randy duduk di ruang tamu.
"Ade lihat Mommy?" tanya Randy tanpa mengalihkan pandangannya dari Dania. "Iya, Pa," jawab Rayna. "Mommy dulunya nggak bisa masak, masak nasi goreng aja asin waktu Papa sama Mommy masih jadi pengantin baru, tapi lihat sekarang, dia kayak Chef profesional," ucap Randy sambil terkekeh. "Masa, sih, Pa? Mommy ikut sekolah masak, ya? Soalnya, kan, masakan Mommy enak-enak," ucap Rayna. "Nggak, semuanya karena terbiasa. Mommy terbiasa masak, dia mau belajar, sampe akhirnya kayak sekarang," ucap Randy. "Aku pengen kayak Mommy, Mommy idola aku banget pokoknya," ucap Rayna tersenyum antusias.
Mungkin kebanyakan anak gadis seusianya akan mengagumi aktris-aktris terkenal yang memiliki wajah cantik dan juga prestasi yang mengagumkan. Namun tidak dengan Rayna, Rayna begitu kagum pada Dania, Selain cantik, dan pintar, Dania adalah sosok ibu yang lembut, penuh kasih sayang, tetapi tetap tegas saat-saat tertentu. Rayna bahkan tak menyangka saat pernah suatu ketika melihat Randy yang tengah marah justru luluh di depan Dania. Sudah tak heran lagi, Randy memang lemah di depan Dania. Meski begitu, bukan berarti dia bukan sosok ayah yang tegas. Randy bahkan terlalu tegas, hingga terkadang membuat anak-anaknya merasa masih di perlakukan selayaknya anak kecil.
__ADS_1
"Ade memang mirip seperti Mommy saat muda," ucap Randy. Rayna pun tersenyum dan ikut memperhatikan sang Mommy. Ayah dan anak itupun sama-sama memperhatikan wanita mengagumkan yang ada di hadapan mereka dengan senyum bahagia, mereka bahagia memiliki wanita seperti Dania di tengah-tengah keluarga mereka.
******
Waktu pun berlalu, sudah waktunya makan malam. Dania sudah selesai menyiapkan makanan yang dia masak sore tadi. Randy dan Rayna pun sudah selesai bersiap. Meski hanya makan malam di rumah, tetapi mereka terlihat seperti akan makan malam di restauran mewah. Segala keperluan yang diperlukan untuk menghubungi Raydan pun sudah selesai disiapkan. Bagi Dania, Randy, dan Rayna, ini adalah makan malam pertama mereka bersama Raydan meski bukan untuk Raydan, karena perbedaan waktu antara Indonesia-Jerman, sehingga bagi Raydan ini adalah makan siang menjelang sorenya. Namun bukan waktu yang terpenting, Raydan pun tentu bahagia bisa makan bersama keluarganya meski tetap terpisah oleh jarak dan waktu.
Dania meneteskan air matanya begitu video call itu tersambung dan terlihat wajah Raydan tengah tersenyum manis di layar laptop yang terletak di atas meja makan. Dia begitu merindukan anak laki-lakinya itu.
"Kok, Mommy nangis?" tanya Raydan bingung saat melihat Dania tengah menangis. Tangis Dania bahkan pecah begitu mendengar suara Raydan. Rayna yang melihat Dania menangis pun justru menjadi ikut menangis. Sedangkan Randy hanya tersenyum melihat dua orang wanita yang dia sayangi menangis, dia tahu betul itu tangis haru karena kerinduan kedua wanita itu terhadap Raydan sedikit terobat saat bisa bicara dengan Raydan.
"Ya Tuhan, kalian kenapa jadi nangis? Udah, dong, jangan sedih. Abang aja senyum, loh, ini. Mommy nanti cantiknya hilang kalau nangis, terus Papa malah nyari cewek lagi, karena Mommy nggak cantik lagi," ucap Raydan mencoba meredakan tangisan Dania. Dania mengusap pipinya dan menatap Randy dengan tatapan tajam. "Kok, lihatin Aku-nya kayak gitu, yang?" tanya Randy bingung. "Coba aja cari cewek lagi, kalau emang kamu nggak punya malu," ucap Dania. "Loh, itukan Abang yang ngomong. Bukan Aku," ucap Randy. Entah mengapa dia jadi merasa terpojokan, Ditambah melihat tatapan Dania yang menyeramkan. Rayna dan Raydan hanya terseyum melihat tingkah kedua orangtua-nya itu.
"Ade juga, cengeng banget, sih, nangis sampe make-up nya luntur gitu," ucap Raydan. Rayna membulatkan matanya dan mengusap pipinya. "Ade nggak pakai make-up, kok. Ade cuman pakai bedak bayi aja. Iya, kan, Moms?" tanya Rayna sambil melihat Dania. Dania pun tersenyum. "Abang masih aja nakal, senang banget jahilin Ade-nya," ucap Dania. Raydan pun tersenyum. Usahanya membuat kedua wanita yang dia sayangi itu ternyata berhasil, dan dia bisa melihat senyum keduanya lagi. Setelah cukup puas berbincang, mereka pun memulai acara makan malam.
__ADS_1
Ting tong ...
Dania, Randy, dan Rayna saling melihat satu sama lain ketika terdengar suara bel rumah. Mereka merasa bingung, entah siapa yang datang bertamu dan mengganggu acara makan malam keluarga mereka.