
"Teman-teman Ade, sepertinya, anak baik-baik. Pergaulannya, pun, sepertinya, baik-baik saja," ucap Stefie.
"Siapa dia? Apa wanita? Atau pria?" tanya Randy.
"Wanita dan Pria, sepertinya, begitu," ucap Stefie.
Randy mengerutkan dahinya mendengar kata pria, Rayna bahkan tak pernah mengatakan memiliki teman pria.
"Benarkah? Siapa dia? Apa dia satu Kampus dengan Ade?" tanya Randy.
"Iya, rumahnya, juga, di sebelah," ucap Stefie.
"Apa?" Randy terlihat syok mendengar jawaban Stefie.
"Betul, Pak. Teman pria Ade tinggal di sebelah, masih tetangga. Dia pernah membantu Ade, pada saat Ade mengalami kecelakaan," ucap Stefie.
Brak.
Karena syok, Randy pun tak sengaja menggebrak meja. Dia sungguh syok mendengar kabar Rayna pernah mengalami kecelakaan.
Stefie yang mendengar gebrakan meja pun, membulatkan matanya. Dia melupakan sesuatu, dia lupa pesan Rayna yang memintanya untuk tidak memberitahukan pada Randy soal kecelakaannya waktu itu.
"Maaf, Pak, saya--"
"Untuk apa saya mempekerjakan kamu? Kamu bahkan tidak memberitahu saya keadaan Ade, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Ade?" Randy menatap Stefie dengan tatapan tajam.
Bagi Randy, Rayna tak boleh lecet sedikitpun, Rayna adalah kesayangannya, separuh jiwanya. Dia bahkan selalu berusaha melindungi Rayna, tetapi di saat Rayna tengah mengalami musibah, Randy bahkan tak diberitahu.
"Maafkan saya, Pak. Saat, itu, Ade tidak ingin Bapak khawatir," ucap Stefie.
"Apapun alasannya, saya mempekerjakan kamu untuk memberikan informasi tentang anak saya. Kamu harus memberitahu apapun yang Ade lakukan, apapun yang terjadi pada Ade. Bukannya malah diam saja ..!" tegas Randy.
Stefie hanya bisa diam mendengar kemarahan majikannya itu. Dia pun bingung harus menjawab apa? Majikannya itu bahkan tak peduli dengan alasan yang dia berikan.
"Siapa nama pria, itu?" tanya Randy.
"Guriko, Pak," jawab Stefie.
"Guriko?" Randy mengerutkan dahinya, namanya seperti bukan orang Indonesia.
"Apa dia keturunan Jepang?" tanya Randy.
"Sepertinya, begitu, Pak," ucap Stefie.
"Sebelah mana, rumahnya?" tanya Randy.
__ADS_1
"Ini, Pak. Di samping kanan," ucap Stefie.
Randy mengangguk dan meninggalkan Stefie juga bibi. Dia pergi ke kamar Rayna, terlihat di atas tempat tidurnya, Rayna tengah membaca sebuah buku.
"Ehheumm ..." Randy memasuki kamar Rayna, membuat Rayna menoleh ke arahnya.
"Papa? Kenapa, Pa?" tanya Rayna.
Randy tak menjawab pertanyaan Rayna, dia lebih mendekat ke arah Rayna dan melihat ke arah di mana di sana masih terdapat bekas luka saat Rayna mengalami kecelakaan beberapa waktu lalu.
"Apa di antara kita harus ada rahasia?" tanya Randy.
"Maksudnya?" Rayna menatap Randy dengan tatapan bingung. Dia bingung mendengar pertanyaan Randy.
"Kenapa tidak bilang Papa, kalau Ade mengalami kecelakaan?" tanya Randy.
"Kata siapa?" tanya Rayna.
"Kata Stefie," ucap Randy.
Rayna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Ade enggak mau Papa khawatir," ucap Rayna.
"Bagaimana kalau sesuatu menyeramkan terjadi? Bukannya, Papa mendoakan yang tidak baik. Tetapi, bukankah Papa akan semakin cemas? Jangan seperti, ini, lagi. Papa tidak mau di antara kita ada rahasia," ucap Randy.
"Maaf, Pa," ucap Rayna.
"Jangan diulangi," ucap Randy.
"Iya, Ade janji," ucap Rayna.
Randy tersenyum dan mengecup dahi Rayna, Rayna adalah anak perempuan satu-satunya yang dia miliki, dan dia sangat menyayangi Rayna.
"Ya sudah, lanjutkan bacanya. Papa keluar dulu," ucap Randy.
Rayna mengangguk, dan Randy pun keluar dari kamar Rayna.
Randy pergi keluar rumah, dia mencoba melihat ke arah rumah yang Stefie katakan tadi, di mana Guriko tinggal di dalamnya.
Rumah itu tampak sepi, bahkan tak terlihat berpenghuni.
"Apa benar, ini, rumahnya?" gumam Randy.
Pandangan Randy tak sengaja melihat ke arah sebuah mobil sedan yang berhenti di depan rumah Guriko.
__ADS_1
Terlihat seorang wanita muda cantik berwajah blasteran turun dari mobil dan memasuki pintu pagar rumah Guriko. Wanita itu tampak santai memasuki, seolah itu adalah rumahnya sendiri.
"Apa, itu, Kakaknya?" gumam Randy.
Tak lama terlihat Guriko keluar dari dari rumah. Wanita itupun langsung memeluk Guriko.
"Jadi, itu, kekasihnya?" gumam Randy.
"Ade harus hati-hati, sepertinya pria itu bukan pria sembarangan. Jangan sampai seperti anak kurang ajar, itu," batin Randy sambil terbayang wajah Kevano yang menurutnya sangat menyebalkan.
Randy pun kembali memasuki rumah.
*******
Sore hari.
Di kamar tamu, Randy tengah bersiap. Malam ini dia akan bertemu dengan klien dari perusahaan sang papa. Semenjak sang papa meninggal, Randy memang mengambil alih tanggung jawab untuk mengurus perusahaan sang papa, karena dialah satu-satunya ahli waris dari segala aset milik perusahaan sang papa.
"Papa mau jalan, sekarang?" tanya Rayna yang baru saja memasuki kamar. Terlihat Randy sudah rapi dengan stelan formalnya.
"Iya, apa Ade mau ikut? Sekalian kita kencan di luar," ucap Randy.
"Kencan? Kenapa seperti sepasang kekasih?" Rayna terlihat kebingungan mendengar ucapan Randy. Pasalnya, mengajak kencan seharusnya kepada pasangan.
Randy tersenyum melihat ekspresi kebingungan Rayna. Anaknya itu benar-benar sangat polos. Mengajak kencan tak harus pada kekasih, bahkan bersama seorang anak gadisnya pun sang papa bisa mengajak berkencan.
"Iya, kita kencan di luar. Mumpung Mommy tidak, di sini," ucap Randy.
Rayna berpikir sejenak, sebetulnya dia merasa bosan karena terus berada di rumah. Tetapi, Randy pun akan pergi untuk urusan pekerjaan.
"Apa Ade enggak akan ganggu? Papa, kan, mau ketemu klien," ucap Rayna.
"Tentu saja tidak, mana ada anak yang mengganggu Papanya. Bersiaplah, Papa tunggu," ucap Randy.
Rayna tersenyum dan pergi ke kamarnya untuk bersiap.
Selesai bersiap, ayah dan anak itu pun pergi menuju lokasi di mana Randy akan bertemu dengan kliennya.
******
Sesampainya di salah satu Restauran, Randy menggandeng Rayna memasuki Restauran, menghampiri seseorang yang sudah berada lebih dulu di meja yang sebelumnya sudah di reservasi.
"Maaf, apa anda menunggu lama?" tanya Randy.
Orang itu bangun dari duduknya dan menatap Randy.
__ADS_1
Randy menelan air liurnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kaku saat melihat seseorang yang kini ada di hadapannya. Seseorang yang bahkan masih dia ingat jelas wajahnya.
Sementara Rayna hanya melihat dengan ekspresi bingung ketika sang papa dan orang itu saling menatap.