Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 110


__ADS_3

Kevano tersenyum dan memanggil wanita itu. Wanita berusia hampir kepala empat itu pun tersenyum menghampiri Kevano dan Rayna.


"Ini Bi Asih yang selama ini membantuku membersihkan apartemen ini. Kalian kenalan dulu dong," ucap Kevano.


Rayna tersenyum dan menyodorkan tangannya. Merekapun saling memperkenalkan diri. Bi Asih begitu sopan, bahkan tubuhnya sedikit membungkuk menyapa Rayna.


"Tolong buat Istri Saya senyaman mungkin, ya, Bi. Temani dia saat Saya bekerja. Jangan sampai dia kesepian karena tidak ada teman," ucap Kevano.


"Iya, Mas Kevano," ucap bi Asih.


"Ya udah, kami ke kamar dulu," ucap Kevano.


"Silakan, Bibi juga mau lanjut masak. Mohon maaf, karena Mas dan Mbak Rayna datang ke apartemen ini, masakannya belum selesai semua," ucap bi Asih.


"Iya nggak apa-apa, kami istirahat dulu," ucap Kevano dan mengajak Rayna ke kamar.


Kevano dan Rayna memasuki kamar, Rayna melihat sekeliling kamar. Kamar di mana dirinya pernah berada di sana saat tak sadarkan diri. Rayna baru menyadari, kamar itu terlihat rapi dengan banyak sekali poster musisi-musisi dunia. Rupanya Kevano menyukai musisi-musisi dari berbagai dunia. Tak hanya itu, di kamar itupun ada beberapa koleksi gitar yang tergantung rapi di dinding. Jelas sekali aroma musisi tercium sangat kuat, mengingat Kevano memanglah seorang musisi.


"Maaf, kamar ini sebelumnya hanya menjadi kamarku. Karena itu aku design sesuka hatiku. Kalau kamu nggak suka, kamu bisa design sesuka hati kamu. Buat senyaman mungkin, nanti aku siapin segala keperluannya," ucap Kevano.


"Hm ... Bolehkah?" tanya Rayna.


"Tentu aja boleh, kamu nyonya-nya sekarang," ucap Kevano tersenyum.


Rayna tersenyum mendengar kata nyonya, dia tak menyangka akan menjadi nyonya Kevano di usia semuda itu.


Tak lama bi Asih masuk membawakan dua gelas minuman, dia meletakannya di meja dekat sofa kecil dan kembali keluar. Kevano memberikan segelas minuman itu pada Rayna dan menyuruh Rayna untuk istirahat.


"Aku mau telepon menejerku sebentar," ucap Kevano kemudian keluar dari kamar. Dia pergi menuju studio mini di mana di sana menjadi tempat latihannya, tempatnya berekspresi menciptakan lagu-lagu.


Sedangkan Rayna justru tak bisa beristirahat. Dia memasukkan pakaian Kevano ke dalam lemari. Terlihat di sana pakaian Kevano pun begitu tertata rapi, terlihat sekali Kevano orang yang apik. Selesai menyimpan pakaian, dirinya terlihat bingung menyimpan pakaiannya, lemari Kevano tak memiliki ruang lagi. Semuanya tempat telah terisi penuh. Rayna pun membiarkan saja pakaiannya di dalam koper. Karena tak tahu lagi akan melakukan apa, dia pun keluar dari kamar dan menghampiri bi Asih yang tengah membersihkan dapur. Sepertinya dia sudha selesai memasak.


"Mbak butuh sesuatu?" tanya bi Asih.


"Nggak, Bi. Bibi udah selesai masak?" tanya Rayna


"Sudah, mau Saya siapkan makanan? Mbak lapar?" tanya bi Asih.


"Nggak, Bi. Saya nggak tau mau ngapain," ucap Rayna.


"Istirahat saja, Mbak. Perjalanan pasti sangat jauh, Mbak pasti lelah," ucap bi Asih.


"Iya. Ngomong-ngomong, di mana bibi liat Kevano?" tanya Rayna.


"Mas Kevano? Mungkin di ruang musiknya, Mbak," ucap bi Asih.

__ADS_1


"Di sebelah mana itu?" tanya Rayna. Maklum saja Rayna belum mengenal setiap sudut ruangan di apartemen Kevano.


Bi Asih mengantarkan Rayna menuju pintu studio mini Kevano, setelah itu dia pun meninggalkan Rayna, membiarkan Rayna masuk sendiri.


Rayna membuka sedikit pintu dan mengintip ke dalam studio mini tersebut, di sana Rayna melihat Kevano tengah berkutat dengan gitar miliknya.


"Ehem ..." dehem Rayna sambil memasuki studio mini itu. Rayna melihat satu persatu alat musik di ruangan itu, lengkap sekali. Bahkan juga ada piano di sana. Kevano menyadari kedatangan Rayna, dia melihat Rayna dan tersenyum.


"Kok nggak istirahat?" ucap Kevano.


Rayna menggeleng dan menghampiri Kevano. "Kamu lagi apa?" tanya Rayna.


"Besok kan aku ada kerjaan, jadi aku lagi ngecek gitar. Biar oke aja," ucap Kevano.


"Ngomong-ngomong, berapa hari kamu kerja ke luar kota?" tanya Rayna.


"Dua hari, paling lama tiga hari," ucap Kevano.


"Maaf, ya. Kita masih pengantin baru, tapi aku udah harus ninggalin kamu kerja," ucap Kevano.


"Nggak apa-apa, kok. Aku ngerti," ucap Rayna.


"Kalau waktunya tepat, aku manggung dan kamu nggak kuliah, aku pasti ajakin kamu," ucap Kevano.


Rayna mengangguk. Selesai mengecek gitarnya, Kevano dan Rayna kembali ke kamar.


Rayna terdiam dan berbalik melihat Kevano.


"Bibi udah selesai masak, mau makan?" ucap Rayna.


"Mau dong, asik banget deh, sekarang makan ada yang nemenin," ucap Kevano tersenyum.


Kevano menuntun Rayna menuju meja makan, dia menunggu bibi menyiapkan makana. Rayna pun mencoba membantu. Kevano hanya tersenyum, dia pun membiarkan Rayna membantu bibi, Kevano tahu Rayna perlu terbiasa menjadi seorang istri. Lagipula, menyiapkan makanan bukanlah hal yang terlalu berat, Kevano pun tak kan membiarkan Rayna melakukan pekerjaan yang berat, Kevano sendiri tahu bahwa Rayna tak terbiasa melakukan pekerjaan berat.


Selesai menyiapkan makanan, Kevano menyodorkan piringnya dan diambil oleh Rayna. Rayna pun mengisi piring itu dengan nasi dan lauk lainnya.


"Ini makanan kesukaan aku semua, pasti bibi bingung mau masakin masakan kesukaan kamu, tapi nggak tau," ucap Kevano.


"Nggak apa-apa, kok. Aku makan apa aja," ucap Rayna tersenyum.


"Hm ... Makan aku mau nggak?" tanya Kevano.


"Ha? Emangnya aku kanibal!" ucap Rayna terkejut. Suaminya itu ada-ada saja pikirnya.


"Makan akunya, ya di atas tempat tidur, dong. Abis itu gantian, kamu yang aku makan," ucap Kevano.

__ADS_1


Keduanya terkekeh, Kevano terkejut saat tiba-tiba Rayna memasukan udang goreng ke dalam mulutnya.


"Makan dulu," ucap Rayna sambil terkekeh melihat Kevano yang awalnya terkejut pun langsung mengunyah udang itu.


"Enak, ya, disuapin Istri. Lagi dong, Sayang!" ucap Kevano sambil membuka mulutnya meminta Rayna menyuapinya. Rayna terkekeh dan kembali menyuapi Kevano.


"Sumpah, sih. Ini makanan enaknya mengalahkan makanan restoran bintang lima," ucap Kevano antusias.


"Emang masakan bi Asih, seenak itu, ya?" tanya Rayna dan mencoba masakan bi Asih. Memang terasa lezat dilidah, pantas saja Kevano begitu memujinya.


"Ya, makanan ini pada dasarnya udah enak. Tapi, ditambah ditemenin kamu, bahkan disuapin kamu, makanan ini lezatnya berkali-kali lipat," ucap Kevano tersenyum.


"Apa, sih? Ada-ada aja," ucap Rayna terkekeh.


"Memang benar, kok. Kamu itu bagaikan bumbu pelengkap yang istimewa, melengkapi dan melezatkan," ucap Kevano.


"Garnishkah? Atau penyedap?" tanya Rayna.


"Ya keduanya boleh, tapi yang terpenting adalah--"


"Apa" tanya Rayna saat Kevano tak melanjutkan ucapannya.


"Kamu adalah belahan jiawaku," ucap Kevano tersenyum manis.


"Ya ampun, gini ya rasanya nikah sama pencipta lagu. Digombalin," ucap Rayna.


"Kamu tahu, kenapa lirik lagu bisa tercipta?" tanya Kevano.


"Kenapa?" tanya Rayna balik.


"Karena penciptanya ingin mengekspresikan perasaannya melalui lagu, mungkin nggak semua tentang perasaan si penciptanya. Tetapi sebagian, mewakili perasaan seseorang," ucap Kevano.


"Jadi, semua yang kamu cipatin juga mewakili perasaan kamu?" tanya Rayna.


"Sebagian iya, selain itu, aku ambil dari kisah seseorang, yang kemudian aku ceritakan melalui lagu," ucap Kevano.


"Hm ..." Rayna terdiam setelah itu. Dia tak mengerti mau mengatakan apa lagi.


"A ..." Kevano menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Rayna. Sudah sejak tadi Kevano disuapi oleh Rayna, tetapi Rayna belum makan. Rayna menyambut suapan Kevano, diapun memakannya.


Selesai makan malam, Rayna beranjak dari duduknya, dia akan merapikan piring kotor ke dalam washtafel.


"Hei! Kamu kenapa? Apa kamu terluka?" Kevano tiba-tiba saja histeris menghampiri Rayna.


Prank!

__ADS_1


Rayna pun terkejut saat Kevano membalikan tubuhnya dan piring di tangannya pun terjatuh ke lantai.


__ADS_2