
Rayna kembali duduk di tepi tempat tidur. Kepalanya benar-benar terasa berat. Apa dia salah makan? Pikirnya.
"Selamat pagi, Sayang! Mommy datang. Mommy antar ke kampus, ya," ucap Dania yang tiba-tiba masuk ke kamar.
Entah sejak kapan Dania ada di Depok. Waktu bahkan masih sepagi itu.
"Are you okay, Baby?" tanya Dania yang menyadari Rayna tak baik-baik saja.
"Moms, kapan datang?" tanya Rayna.
"Baru aja. Ade kenapa? Apa ade sakit?" Dania menyentuh dahi Rayna. Terasa sedikit demam.
"Oh my God. Ade demam, ya." Dania menjadi panik.
"Ade pusing, Moms," ucap Rayna.
"Untung Mommy datang. Ade di rumah hanya sendiri di temani Bibi, kasian sekali anak Mommy." Dania bergegas mencari termometer, dan setelah mendapatkannya kemudian memeriksa suhu tubuh Rayna. Rayna memang demam.
"Istirahat Sayang, Mommy siapkan sarapan dan ade minum obat, ya," ucap Dania.
Rayna mengangguk.
Dania mengambil sarapan di meja makan yang sudah disiapkan bibi, dia pun membawanya ke kamar dan menyuapi Rayna makan.
Selesai sarapan, Dania meminta Rayna meminum obatnya. Rayna pun meminumnya dan duduk beristirahat kembali.
"Mommy simpan piring kotor dulu, ade istirahat, ya," ucap Dania dan keluar dari kamar membawa piring kotor bekas Rayna sarapan.
Sesaat kemudian Rayna berlari menuju kamar mandi saat merasakan perutnya mual. Obat yang diminumnya dimuntahkan, dan tak hanya itu. Makanan tadi pun keluar lagi dia muntahkan.
"Ya ampun," Rayna memegangi kepalanya. Benar-benar terasa berat. Kali ini dia tak sanggup menopang tubuhnya sendiri dan terduduk lemas di kamar mandi.
Beberapa saat kemudian terdengar suara Dania memanggilnya, Dania membuka pintu kamar mandi dan terkejut melihat Rayna sudah terduduk lemas di lantai kamar mandi dengan posisi tubuhnya bersandar di dinding.
"Ade kenapa?" tanya Dania histeris. Rayna benar-benar terlihat pucat. Dania melihat muntahan Rayna di washtafel yang belum sempat disiramnya. Dia pun menyiramnya dan meminta tolong bibi membantunya membawa Rayna menuju mobil. Dania akan membawa Rayna ke Rumah Sakit.
__ADS_1
Sesampainya di Rumah Sakit.
Rayna dibawa ke ruang UGD. Di sana dia diperiksa oleh Dokter.
"Sarapan apa pagi ini?" tanya Dokter.
"Dia sarapan roti isi, Dok. Karena tubuhnya demam, Saya memberinya obat demam," ucap Dania.
Dokter mengangguk dan memeriksa detak jantung Rayna. Detak jantung yang tak beraturan dan berdetak lebih cepat. Setelah itu, Dokter memegang pergelangan tangan Rayna. Mengecek denyut nadinya. Ada yang tak biasa dan Dokter pun tersenyum. Dokter beralih memerika perut bawah Rayna dan tersenyum kembali.
Dokter mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya.
"Sebelumnya, apa sudah periksa dengan alat tes kehamilan?" tanya Dokter.
"Ha? Apa Saya hamil, Dok?" tanya Rayna.
"Saya belum dapat memastikan, untuk jelasnya. Dites dulu ya. Ini, silahkan ke toilet dan cobalah alat ini," ucap Dokter sambil memberikan alat tes kehamilan.
Rayna mengambilnya dengan ragu.
"Ayo, Dek. Dicek!" ucap Dania antusias. Ah senangnya hatinya jika Rayna benar-benar hamil.
Dua menit Rayna menunggu dan keluar dari toilet. Dia memberikan alat bergaris tanda merah satu itu kepada Dokter.
"Kita tunggu sebentar lagi, ya," ucap Dokter.
Mereka menunggu beberapa saat, dan perlahan mulai muncul garis merah kedua. Berawal warna merah yang samar hingga akhirnya terlihat cukup jelas.
"Lihat, anak Ibu bukannya sakit. Melainkan tengah mengandung," ucap Dokter tersenyum.
"Oh ya Tuhan!" Dania memeluk Rayna. Menciumi wajah Rayna. Sungguh bahagia dia akan memiliki cucu. Akan hadir seorang bayi di tengah keluarga kecil Rayna.
"Benarkah, Dok? Tapi, Saya tidak merasakan apapun. Saya memang pusing, dan itu hanya terjadi tadi pagi. Sebelumnya, Saya tidak merasakan apapun," ucap Rayna tak percaya.
"Untuk lebih jelasnya, kita USG saja. Mari ikut Saya, dan berbaringlah!"
__ADS_1
Rayna mengikuti Dokter dan berbaring di atas brankar. Dokter mulai mengoleskan gel terlebih dahulu dan memasang alat USG di perut Rayna. Dokter menggerakan alat itu di atas perut Rayna, mencari letak janin yang dia yakini masih berukuran sangat kecil.
Beberapa saat mencari, Dokter menemukanya dan menunjukan janin amat kecil itu kepada Rayna dan Dania.
"Selamat, ya. Di sini menunjukan ada sebuah janin. Anda hamil," ucap Dokter.
Rayna terdiam, dia masih tak percaya akan menjadi seorang Ibu di usia semuda itu. Lalu, bagaimana dengan kuliahnya? Bagaimana dia akan menjalani hari-harinya? Membawa perut besar saat kuliah? Oh Tuhan, Rayna tak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.
"Ade, selamat ya. Mommy bahagia sekali," ucap Dania memeluk Rayna.
"Iya, Moms," Rayna pun kembali terdiam.
Mereka pamit dari rumah sakit setelah mengambil beberapa vitamin ibu hamil. Tak lupa hasil USG dan alat test kehamilan yang bertanda garis dua itupun dibawanya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Rayna hanya terdiam. Dia larut dalam pikirannya.
Bagaimana mungkin dia akan menjadi seorang ibu di usia muda? Apa dia bisa merawat seorang bayi? pikirnya.
"Are you okay?" Dania membuyarkan lamunan Rayna.
"Moms, apa merawat bayi itu sulit?" tanya Rayna.
"Hm ..."
Dania hanya berdehem dan mengelus rambut Rayna.
"Ade mau tahu, apa menyenangkan mempunyai seorang bayi?" tanya Rayna.
"Tentu saja. Sangat menyenangkan. Kehidupan rumah tangga menjadi lebih menyenangkan. Rumah terasa ramai. Apalagi ketika melihat buah hati kita tumbuh sehat, pintar, dan menggemaskan. Hilang sudah rasa lelah," ucap Dania tersenyum.
"Apalagi, saat ade dan abang kecil dulu. Kalian begitu menggemaskan. Kalian anak-anak bayi yang tak pernah rewel. Kalian bayi-bayi pengertian sekali pokoknya," ucap Dania sambil mengingat saat Rayna dan Raydan bayi dulu.
Dania sengaja tak memberitahu Rayna bagaimana sulitnya merawat seorang bayi. Dania mengerti Rayna masih belum sepenuhnya menerima kehamilannya.
Dania sendiri mengalami betapa repotnya saat itu mengurus dua bayi sekaligus dengan sendirian. Meski pernah memakai jasa baby sitter, tetap saja pada akhirnya Dania mengurusnya sendiri. Banyak hal yang harus dikesampingkan Dania. Yaitu, kesenangan-kesenangannya harus dikesampingkan demi sang buah hati. Waktu istirahatnya bahkan terganggu. Namun, tetap saja menyenangkan jika melihat anak-anak tertawa lepas.
__ADS_1
Setiap Ibu tentu tak ingin melewatkan perkembangan buah hatinya, karena momen itu takan pernah kembali.
Dania pun bahkan rela menghentikan kuliahnya untuk cukup lama. Itu semua dia lakukan demi keluarganya. Nyatanya memang benar, momen perkembangan anak takan pernah terulang, tetapi Ilmu bisa dicari kapan saja dan tak ada batasan usia untuk itu. Buktinya, memilih berhenti kuliah demi fokus mengurus anak-anaknya dan keluarganya, adalah pilihan yang tepat. Anak-anaknya menjadi tak merasa kekurangan kasih sayang Dania dan Randy. Dan Dania bisa mencapai kesuksesan setelah itu.