Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 76


__ADS_3

Keesokan harinya.


Rayna membuka matanya kala merasakan sesuatu menyentuh dahinya. Dia mengerjapkan matanya sejenak dan terlihat Stefie tengah menatapnya.


"Jam berapa ini, Kak?" tanya Rayna sambil melihat ke arah jendela dan tampak cahaya matahari cukup terang.


"Apa Ade sakit?" tanya Stefie.


"Nggak, Kak." Rayna mendudukkan dirinya dengan bersandar di kepala tempar tidur sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Badan Ade panas, Ade demam," ucap Stefie.


"Kepala Ade agak sakit," ucap Rayna.


Stefie keluar dari kamar Rayna dan mengambilkan obat demam untuk Rayna. Setelah mengambil obat demam, Stefie pun kembali ke kamar Rayna sambil membawa makanan.


"Hari ini, Ade di rumah aja. Jangan ke kampus dulu," ucap Stefie.


"Tapi, Kak--" Rayna tak melanjutkan ucapannya kala Stefie lebih dulu memotong ucapannya.

__ADS_1


"Atau, Ade mau Kakak kasih tahu Papa?" tanya Stefie.


"No, please," ucap Rayna. Rayna tak ingin orang tuanya cemas jika tahu dia sedang demam. Apalagi Randy dan Dania selalu berlebihan jika menyangkut soal anak-anaknya.


"Oke. Kalau gitu, makan dulu. Setelah itu, minum obatnya," ucap Stefie dan menyendokan makanan. Dia menyuapi Rayna. Rayna pun melahapnya. Setelah beberapa suap, Rayna memilih menghentikan makannya. Mulutnya sedang tak enak menyantap makanan, terasa pahit.


"Mau sesuatu?" tanya Stefie. Rayna menggelengkan kepalanya.


"Ya udah, istirahatlah. Jangan berbaring, Ade baru selesai makan," ucap Stefie. Rayna mengangguk dan hanya bersandar di tempat tidur.


Ia mengambil ponselnya begitu Stefie keluar dari kamarnya. Banyak sekali panggilan masuk dari Kevano. Pria itu masih saja menghubunginya meski setelah apa yang terjadi semalam. Rayna teringat kembali saat Mita menyiramnya karena melihatnya berciuman dengan Kevano.


Entah apa yang membuatnya tak bisa menolak ciuman dari Kevano tadi malam, dia pun tak mengerti. Dia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Di saat jauh dari Kevano, dia terkadang teringat pada Kevano. Namun, ketika dia sudah bertemu dengan Kevano, selalu saja ada masalah yang terjadi, dan membuatnya justru menjadi sedih kembali.


Rayna menggelengkan kepalanya. Dia mencoba menepis pemikirannya tentang Kevano. Dia sungguh kesal jika ingat Kevano.


Rayna teringat pada Raydan. Dia membuka ponselnya apakah ada pesan balasan dari pesan email yang dia kirimkan semalam. Tak lama kemudian, dia mengerucutkan bibirnya.


Abang, kok, nggak balas pesan Ade, sih, gumam Rayna. Tak ada pesan balasan dari Raydan. Namun, dia mengerti. Raydan pasti sibuk dengan sekolahnya.

__ADS_1


Rayna teringat pada Randy dan Dania. Biasanya, saat sedang sakit seperti ini Randy dan Dania ada menemaninya. Saat mereka masih tinggal di Australia dulu, ketika Rayna sakit Randy dan Dania akan menemaninya hingga menjadi lebih baik. Randy dan Dania akan meninggalkan semua pekerjaannya jika dia sakit. Begitupun jika Raydan sakit.


Berbeda dengan saat ini, tak ada keluarganya yang menemaninya. Dia merasa kesepian berada jauh dari keluarganya. Meski kini Rayna pun sudah mulai terbiasa, tetapi dia tetap saja merindukan kebersamaan bersama keluarganya.


Semakin beranjak dewasa, pikiranmu pun akan bertambah dewasa. Kamu akan semakin mengerti. Bahwa, tak selamanya orang-orang yang kita sayangi akan ada untuk kita. Karena itu, penting untuk berdiri sendiri tanpa bergantung pada siapapun.


Rayna melihat ada panggilan masuk dari Dania. Dia melihat waktu, dan mengerutkan dahinya. Dia bahkan sampai tak menyadari tadi malam ada panggilan masuk dari Dania. Rayna pun menghubungi nomor Dania, dan tak ada jawaban. Bahkan hingga nada panggilan telepon berakhir, Dania masih tetap tak menjawab teleponnya.


Mommy kemana? Apa Mommy pergi, dan nggak bawa hp-nya? gumam Rayna.


Rayna teringat pada Randy, dia pun menghubungi nomor Randy.


Halo, Dek. Rayna tersenyum saat Randy menjawab teleponnya. Rayna membuka mulutnya dan akan mengatakan sesuatu. Namun dia mengurungkan niatnya saat Randy kembali berbicara.


Ade, Papa sedang meeting dengan client. Kita bicara nanti, ya. Saat Papa sudah selesai meeting, ucap Randy.


Hm ... Oke, Pa. Ade--


Rayna menghela napas saat Randy langsung mematikan teleponnya bahkan ketika dia belum menyelesaikan ucapannya. Dia mengerti papanya itu sangat sibuk, dia pun tak ingin terlalu memikirkannya.

__ADS_1


Ade kangen Papa, Mommy, sama Abang, batin Rayna dan menyimpan ponselnya. Dia merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya. Setelah meminum obat demam tadi, Rayna menjadi mengantuk.


__ADS_2