
Rayna melihat paper bag itu dengan seksama. Kemudian beralih melihat Ralisya yang tengah tersenyum.
"Ada apa? Apa kalian ada masalah?" tanya Rayna.
"Masalah dalam suatu hubungan itu biasa bukan?" ucap Ralisya.
"Tapi, kenapa kamu nggak mau nemuin Abang sendiri? Apa sebesar itu masalah kalian?" tanya Rayna heran.
"Yang jelas, aku mau Raydan punya sesuatu dari aku. Aku nggak bisa nemuin dia secara langsung, Rayn. Tolong mengerti posisi aku, aku minta tolong kamu kasihkan paper bag ini ke dia, ya," ucap Ralisya.
"Hm ... Aku harap, apapun masalah kamu sama Abang, semoga nggak mengganggu hubungan baik kita, Sya." Rayna memegang tangan Ralisya. Mencoba memberikan kekuatan untuk Ralisya.
Rayna memikirkan satu hal, Ralisya tahu Raydan sudah mengkhianatinya. Namun, Rayna tak ingin membahasnya, Ralisya pasti akan sedih. Lagi pula, Rayna pun tak punya hak untuk ikut campur di dalam urusan orang lain.
"Nggak akan, aku nggak berpikir sedangkal itu," ucap Ralisya.
Rayna tersenyum dan memeluk Ralisya.
"Hei ... Aku baik-baik aja, kenapa terkesan aku ini menyedihkan sekali," ucap Ralisya terkekeh.
Rayna melepaskan pelukannya dan melihat Ralisya.
"Kamu baik, aku sayang kamu," ucap Rayna.
Ralisya tersenyum dan pamit dari apartemen. Dia pun meninggalkan apartemen.
Rayna kembali ke kamarnya. Dia bersiap untuk pergi ke rumah orangtuanya.
Selesai bersiap, Rayna mengambil kunci mobil dan bergegas pergi menuju basemant. Dia melajukan mobilnya menuju kediaman orangtuanya.
*****
Beberapa waktu berlalu, Rayna memasuki halaman rumah orangtuanya. Rumah di mana dia dan Raydan tinggal saat batita dulu. Rumah yang Randy beli untuk Dania dulu. Rumah itu masih tampak indah dan terawat.
Rayna memarkirkan mobilnya, dia pun keluar dari mobil dan masuk ke rumah.
"Pagi, Non," sapa bibi.
"Pagi, Mommy sama Papa udah pulang, Bi?" tanya Rayna.
"Sudah semalam," ucap bibi.
"Mereka sekarang di mana?" tanya Rayna.
"Sepertinya masih di kamar, Non," ucap bibi
Rayna mengangguk dan pergi menuju kamar orangtuanya di lantai atas.
Rayna mengetuk pintu kamar dan terdengar sahutan dari dalam. Dia pun masuk ke kamar.
"Oh hai, Sayang. Baru datangkah?" tanya Dania.
"Ya, Moms. Di mana Papa?" tanya Rayna sambil memeluk Dania dan saling bercipika-cipiki.
"Ada di kamar mandi," ucap Dania.
Tak lama Randy keluar dari kamar mandi, Rayna menghampiri Randy. Tak luput sebuah ciuman Rayna daratkan di pipi Randy. Membuat Randy tersenyum dan mengusap kepala Rayna.
"Kapan datang?" tanya Randy.
"Baru aja, kalian pulang semalam?" tanya Rayna.
"Ya, Abang kan pulang ke Jerman hari ini. Papa dan Mommy akan mengantarnya ke Bandara. Ade mau ikut?" tanya Randy.
__ADS_1
"Iya, ade ikut. Lagipula, Ade di rumah nggak ngapa-ngapain," ucap Rayna.
"Kemana Kevano?" tanya Randy dan Dania bersamaan.
"Dia ada kerjaan di luar. Akan pulang tiga hari kemudian," ucap Rayna.
"Kasihan sekali anak Mommy sendirian. Kalau gitu, nginep di sini aja. Mommy temenin," ucap Dania merangkul Rayna.
Dania tahu betul rasanya di tinggal bekerja oleh suami untuk waktu beberapa hari, terasa sepi dan membosankan.
"Pengennya gitu, sayangnya ade mau pulang ke Depok aja. Besok, ade udah masuk kuliah, Moms," ucap Rayna.
"Yah ... Ya udah, deh." Dania tampak menyayangkan. Padahal dia sudah berharap Rayna akan tinggal di rumahnya selama Kevano pergi bekerja.
"Jadi, kalian akan tinggal di Depok?" tanya Randy.
"Bolehkah?" tanya Rayna.
"Pertanyaan macam apa itu, Dek?" tanya Randy heran.
"Itukan rumah Papa, sekarang aku udah nikah. Katanya, kalau anak perempuan sudah menikah, dia harus tinggal di rumah suaminya," ucap Rayna.
"Ya ada yang begitu, tapi rumah itu milik ade, Papa beli untuk ade, atas nama ade," ucap Randy.
"Hah? Sungguh?" Rayna tampak terkejut. Dia baru tahu jika rumah itu atas nama dirinya.
"Apa Papa terlihat bercanda?" tanya Randy sambil terkekeh.
"Bukan gitu, Papa nggak pernah bilang," ucap Rayna.
"Ini sudah bilang," ucap Randy terkekeh. Dania pun ikut terkekeh.
"Papa memang gitu, penuh kejutan. Mommy aja baru tau," ucap Dania tersenyum.
"Mommy nggak marah?" tanya Rayna.
Randy terkekeh dan melihat Rayna.
"Mommy itu posesif, mana bisa papa belikan rumah untuk wanita lain, digorok yang ada," ucap Randy bergidik ngeri.
"Apa itu digorok?" tanya Rayna heran.
Randy mengisyaratkan pinggir telapak tangannya yang dia tempelkan, kemudian dia membuat gerakan seolah sesuatu tengah memotong lehernya.
"Astaga! Ha-ha-ha ... Rayna tertawa melihatnya. Ada-ada saja pikirnya.
"Ade nemuin Abang dulu," ucap Rayna.
Randy dan Dania pun mempersilahkan.
*****
Rayna pergi menuju kamar Raydan, di sana terlihat Raydan tengah bersiap-siap. Rayna melihat sekeliling kamar. Kamar yang tak lama ditinggali itu kini harus kembali kosong.
"Bang!" panggil Rayna.
"Hai, Dek. Abang pikir, ade nggak akan datang," ucap Raydan tersenyum.
"Mana mungkin, Abang kan mau balik ke Jerman, masa Ade nggak datang," ucap Rayna.
"Ade kan baru menikah, Abang pikir akan sibuk mengurus suami Ade," ucap Raydan.
"Kevano kerja. Oh ya, ada salam dari Kevano untuk Abang," ucap Rayna.
__ADS_1
"Salam cintakah?" tanya Raydan.
"Ish ... Dia pria yang normal, mana mungkin mencintai pria," ucap Rayna.
Raydan pun terkekeh dan melemparkan sesuatu ke arah Rayna.
"Bantuin beresin, dong! Biar cepat," ucap Raydan.
"Astaga! Ngapain pake dilempar segala sih, tinggal bilang aja," kesal Rayna.
Raydan tersenyum menghampiri Rayna. Dia memegang gemas pipi Rayna.
"Ngomong-ngomong, ada titipan dari Ralisya," ucap Rayna.
"Benarkah? Apa itu?" tanya Raydan penasaran.
Rayna memberikan paper bag yang Ralisya berikan tadi pagi pada Raydan. Raydan pun mengambilnya dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Kok nggak dilihat?" tanya Rayna.
"Nanti, kan, bisa. Lagi pula, Abang sibuk," ucap Raydan tampak dingin.
Rayna menghela napas dan kembali mengemasi barang-barang Raydan. Selesai mengemas, Raydan mandi terlebih dahulu dan bersiap. Pesawatnya terbang tiga jam lagi. Jadi masih ada waktu.
Rayna mengambil ponselnya, dan mengirimkan pesan pada Ralisya, memberitahu Ralisya bahwa dia sudah memberikan titipan Ralisya pada Raydan. Tak lama ada balasan terimakasih dari Ralisya, Rayna pun kembali menutup ponselnya.
Waktupun berlalu, dua jam lagi pesawat Raydan terbang.
Semua tampak bersiap menuju Bandara. Tak lupa Raydan memasukan paper bag yang Ralisya berikan ke dalam kopernya.
Sementara Randy mengemudikan mobilnya sendiri. Mereka terlihat bahagia sekali bisa pergi bersama. Sudah lama tidak pergi bersama seperti itu. Meski kebahagiaan itu hanya sesaat karena setelahnya semua akan sibuk dengan dunianya masing-masing. Raydan kembali ke Jerman, Rayna sudah menikah dan bukanlah tanggung jawab Dania dan Randy lagi. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, bayi kembar itu kini sudah punya dunianya masing-masing.
*****
Sesampainya di Bandara.
Randy, Dania, dan Rayna menemani Raydan terlebih dahulu hingga naik pesawat. Mereka saling bercanda, menghilangkan rasa sedih karena harus kembali berpisah dengan Raydan.
"Jaga diri baik-baik, Bang. Mommy nggak mau Abang aneh-aneh di sana. Jaga nama baik Abang dan keluarga," ucap Dania.
"Iya, Moms. Abang akan selalu ingat pesan Mommy," ucap Raydan.
"Belajar yang sungguh-sungguh, jangan memikirkan apapun selain kuliah Abang. Kelak, Abang sendiri yang akan memetik hasilnya. Menghibur diri boleh, karena otak manusia ada lelahnya dan terkadang butuh hiburan. Namun, jangan melampaui batasan," ucap Randy.
Raydan pun mengangguk dan tersenyum.
Tak terasa sudah saatnya Raydan masuk ke pesawat, dia memeluk Dania dengan erat. Mommy terbaiknya itu akan dia tinggalkan untuk waktu cukup lama, tentu dia akan merindukan sang Mommy. Dania mencium dahi, kedua pipi Raydan, dan kembali memeluk Raydan. Berat sekali rasanya melepaskan Raydan untuk pergi jauh darinya. Namun, dia pun tak bisa egois, itu semua demi masa depan Raydan.
Raydan beralih memeluk Randy, Randy pun memeluk erat tubuh Raydan. Sang papa mungkin terlihat tak banyak bicara, tetapi dalam hatinya pun tak kalah berat melepaskan Raydan pergi. Hanya saja, dia tak begitu menunjukannya.
Selesai saling memeluk, Raydan memeluk Rayna. Mencium kedua pipi Rayna dengan gemas. Dia akan sangat merindukan adik kesayangannya itu.
"Jaga diri baik-baik. Segera berikan abang keponakan yang lucu," ucap Raydan terkekeh.
Mata Rayna memerah, dia menangis melihat Raydan.
"Udah ah, jangan nangis. Abang aja biasa aja. Kalian jaga diri baik-baik, ya. Abang akan kabari kalau udah sampe di Jerman," ucap Raydan kemudian meninggalkan Randy, Dania, dan Rayna.
Randy merangkul Dania dan Rayna. Mommy dan anak itu terlihat tampak sedih. Randy pun mengajaknya untuk pulang.
*****
Di dalam pesawat.
__ADS_1
Raydan sudah duduk di kursinya, kemudian dia teringat sesuatu yang Ralisya berikan yang sebelumnya sudah diambil dari dalam kopernya. Raydan membukanya. Terlihat sebuah kotak dan sebuah kunci, Raydan pun membuka gembok kotak tersebut.
Ada sebuah kartu ucapan di dalamnya, buku bergambar hati tertancap sebuah panah itu dibukanya oleh Raydan.