
Setelah Dania mengetahui Rayna hamil, Dania memilih tinggal di sana selama Kevano belum pulang dari luar kota. Kasihan pikirnya, Rayna pasti akan membutuhkan teman.
Sesampainya di rumah.
Rayna masuk ke kamarnya dan beristirahat. Dia menghubungi Dosennya lantaran tak bisa masuk kuliah hari ini. Seharusnya, hari ini Rayna masuk kuliah dan menyerahkan tugasnya tetapi Rayna meminta waktu besok untuk menyerahkan tugasnya. Beruntunglah Dosennya mengerti karena tahu Rayna sedang tak enak badan.
Ya, Rayna tak memberitahu Dosen bahwa dirinya tengah hamil. Biarkan saja pikirnya, pada akhirnya juga perutnya akan membesar dan semua Dosennya akan tahu dirinya hamil, begitupun dengan teman-teman kampusnya.
"Mommy akan menginap," ucap Dania saat memasuki kamar Rayna.
"Wah, senangnya ade," ucap Rayna tersenyum.
"Sampai saat Kevano pulang, Mommy pun akan pulang. Mommy akan suruh Papa datang ke sini. Kita nostalgia, kumpul keluarga," ucap Dania.
"Iya, Moms." Rayna tertidur setelah Dania keluar dari kamarnya. Tubuhnya masih terasa lemas, dan kepalanya masih sedikit pusing.
Sedangkan Dania membantu bibi memasak. Dania membuatkan Rayna sup ikan, dan memasak sayuran hijau. Rayna tengah hamil dan harus makan makanan yang bergizi.
Di sisi lain.
Di luar kota Kevano mencoba menghubungi nomor Rayna. Namun, nomor Rayna tak aktif. Kevano tengah menunggu acara manggungnya di mulai. Sisa beberapa menit lagi dia akan mulai manggung.
Di tengah menunggu acaranya mulai, Kevano mengalihkan pandangannya ke arah pintu ketika pintu ruang gantinya terbuka. Masuklah seorang wanita cantik, bertubuh tinggi bak model. Ah ya, dia memang seorang model.
Dialah Selly, wanita yang pernah memiliki hubungan terlarang dengan Kevano.
Kevano menghela napas panjang.
"Sial!" batin Kevano.
Selly masuk dengan langkah berlenggok nan anggun. Tentu saja langkah saat menjadi seorang model pun dia lakukan. Selly membuka kacamata style yang menutupi matanya, dan tersenyum melihat Kevano.
"Hai," sapa Selly.
Kevano hanya tersenyum. Dia sungguh tak ingin melihat wanita itu. Meski dulu pernah menjalin hubungan dengan Selly, tetapi Kevano tak pernah tahu jika ternyata Selly adalah istri simpanan dari seorang pejabat kaya raya. Jika saja dia tahu sejak awal, dia tak akan sudi menjalin hubungan dengan Selly. Dirinya bahkan sempat digosipkan oleh media karena scandal-nya bersama Selly.
"Kita ketemu lagi, gimana kabarmu?" tanya Selly.
"Baik, sangat baik," ucap Kevano tersenyum palsu.
"Baguslah. Udah lama, ya, kita nggak ketemu. Kamu semakin berisi," ucap Selly memperhatikan tubuh Kevano yang menurutnya tambah berisi saja.
"Oh, ya. Tentu aja sih, karena aku bahagia dengan kehidupan pernikahanku sekarang. Gimana nggak? Aku punya istri yang cantik, dan baik hati," ucap Kevano tersenyum bangga.
"Tentu aja istrimu cantik, kalau nggak, mana mungkin kamu mau sama dia," ucap Selly tersenyum.
__ADS_1
Menurut Selly, semua pria memang menyukai wanita-wanita cantik.
"Kamu benar, tetapi dibalik itu. Hatinya jauh lebih cantik," ucap Kevano tersenyum.
Selly hanya tersenyum. Kevano begitu membanggakan istrinya.
Tak lama terdengar dering telepon. Ada telepon masuk ke ponsel Kevano. Dia pun menjawab telepon itu.
"Hallo, Sayang. Hm ... Aku baik, iya aku merindukanmu juga," ucap Kevano tersenyum.
"Ha? Apa maksudmu memanggilku sayang? Apa kamu berubah haluan menjadi penyuka sesama jenis?" ucap seseorang dari dalam telepon yang ternyata adalah seorang pria.
Selly tampak diam mendengarkan Kevano berbicara. Kevano menutup ponselnya dengan telapak tangannya dan melihat Selly.
"Maaf, Istriku menelpon. Aku akan bicara dengannya," ucap Kevano dan keluar dari ruang ganti.
Selly hanya diam saja memperhatikan Kevano hingga benar-benar tak terlihat.
"Biasa aja, sih. Nggak usah menghindar kayak gitu. Akupun biasa aja," ucap Selly tersenyum. Selly melangkahkan kaki menuju cermin dan melihat dirinya sendiri. Lagi-lagi dia tersenyum.
Kevano benar-benar lucu, jangan sampai Kevano berpikir dirinya akan kembali mendekati Kevano. Selly bahkan tak pernah memikirkan hal itu, jika saja dia memiliki pemikiran seperti itu, tentu dia takan memilih suaminya. Sudah pasti dia akan memilih meninggalkan suaminya dan mempertahankan Kevano. Nyatanya, Kevano bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan suaminya yang memiliki kekayaan luar biasa. Kehidupan Selly terbiasa mewah, dia mementingkan kehidupan sosialitanya.
Dan Selly sebetulnya tahu yang menelpon Kevano bukanlah istrinya, Selly sedikit mendengar suara dari dalam telepon itu adalah suara seorang pria.
***
"Udahlah, berenti mengumpat. Panas kupingku," ucap Kevano kesal. Menejernya terus saja nyerocos tak jelas. Kevano bahkan tak mendengarkan dengan jelas.
"Ya apa maksudmu memanggilku Sayang?" tanya sang menejer.
"Bukan ke kamu, pede banget. Aku pria normal, sial!" umpat Kevano yang mulai kesal juga.
"Ah baguslah kalau gitu. Ya udah, acara udah mau dimulai. Kesini sekarang!" ucap sang menejer.
Kevano memutuskan telepon itu dan pergi menghampiri menejernya.
Keesokan harinya.
Pagi ini Rayna mulai merasakan mengidam. Dia mulai merasakan morning sickness yang biasa terjadi pada ibu hamil. Ingin rasanya muntah, mengeluarkan apa yang ada di perutnya, tetapi dia tak dapat mengeluarkan apapun. Hanya terasa begitu mual.
Sedangkan di meja makan sudah ada Randy dan Dania. Randy datang semalam begitu Dania memintanya untuk datang. Sudah jelas Randy adalah suami yang tak bisa menolak permintaan istrinya.
Dengan wajah memerah menahan mual di perutnya, Rayna turun menuju meja makan, dia akan pergi ke kampus hari ini.
"Pagi, Sayang," ucap Randy.
__ADS_1
Rayna tersenyum dan mengecup pipi Randy sekilas. Randy tersenyum melihat Rayna. Namun, tunggu! Ada yang tak beres dengan putrinya itu, pikir Randy.
"Apa ade flu? atau habis menangis? Kenapa wajah ade merah banget?" tanya Randy heran.
"Nggak, Pa. Ade baik-baik aja," ucap Rayna.
"Apa mual lagi?" tanya Dania.
Rayna pun mengangguk.
"Ada apa? Ade sakit?" tanya Randy cemas.
Rayna dan Dania tersenyum.
"Oh ayolah, kalian kenapa sebenernya?" tanya Randy saat melihat kedua wanita dihadapannya senyum-senyum tak jelas.
"Coba tebak, ade kenapa?" tanya Dania.
"Asam lambung? Makanya mual," ucap Randy.
"No," jawab Dania menggengkan kepalnya.
"Lalu?" Randy tampak bingung.
Sesaat kemudian dia melihat Rayna dan terpikir sesuatu.
"Apa ade hamil?" tanya Randy penasaran.
"Kenapa Papa bisa ngira ade hamil?" tanya Rayna mencoba mempermainkan Randy.
"Karena, saat Mommy hamil Kakak pertama ade juga, dia mual seperti ini. Benarkah begitu?" ucap Randy penasaran.
Rayna tersenyum dan mengangguk.
Tanpa sadar Randy menggeser kursinya dan menarik Rayna ke pelukannya. Tarikan yang cukup kuat sehingga membuat Rayna terkejut. Randy begitu antusias dan memeluk Rayna dengan gemas membuat Rayna merasa sesak.
"Sayang! jangan peluk ade terlalu erat. Ade bisa sesak napas. Ingat lho, di dalam perut ade ada cucu kita, kamu nggak boleh kasar-kasar," ucap Dania mengingatkan Randy.
"I'm sorry, Baby. I'm very happy, you know?" ucap Randy sambil melepaskan pelukannya terhadap Rayna.
"Yeah, i know. But not so thight!" ucap Dania kesal.
Rayna terkekeh melihat sang mommy cemberut. Di tambah sang papa seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan.
"Udah-udah, ade nggak apa-apa, kok," ucap Rayna tersenyum.
__ADS_1
"Ah, aku mimpi apa, ya? Sebentar lagi aku jadi Opa muda," ucap Randy tertawa.
Rasanya belum lama dia menikah dengan Dania, mempunya anak dan merawat anak-anaknya. Kini, dia akan menjadi seorang kakek.