Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 100


__ADS_3

Hallo teman-teman semua. Apa kabarnya teman-teman semua? Semoga dalam keadaan sehat semua ya. Mohon maaf Author baru update lagi karena kesibukan beberapa hari kemarin yang membuat Author jadi libur update. In Syaa Allah, semoga kedepannya Author bisa update rutin🥰


Happy reading semuanya🥰♥️


******


Raydan menoleh ke arah pintu dan terlihat Ralisya tengah memasuki kamar. Raydan tak sadar bahwa kamar yang dia masuki adalah kamar hotel Ralisya.


'Babe, where are you?' ucap Clarie saat tak melihat wajah Raydan karena Raydan repleks menyembunyikan ponselnya.


"Siapa?" tanya Ralisya bingung saat mendengar suara dari dalam telepon milik Raydan. Sontak Raydan pun terkejut dan segera mematikan video call tersebut. Raydan bergegas menghampiri Ralisya dan memeluk Ralisya.


"Bukan siapa-siapa," ucap Raydan sambil mengusap lembut punggung Ralisya.


Tanpa Ralisya tahu, Raydan mematikan ponselnya agar Clarie tak bisa menghubunginya lagi. Setidaknya, jika Clarie tak menghubunginya Ralisya tak akan curiga.


"Kayaknya, itu suara perempuan," ucap Ralisya.


Raydan melepaskan pelukannya dan memegang wajah kedua pipi Ralisya. Raydan pun tersenyum.


"Ya, dia temanku di Jerman. Teman kampusku. Kami nggak ada hubungan apapun, kok," ucap Raydan.


Ralisya tersenyum tipis. Entah mengapa hatinya seolah ragu untuk mempercayai ucapan Raydan.


"Kamu nggak percaya? Ya udah, kita telepon aja dia, biar kamu tahu siapa dia," ucap Raydan mengambil ponselnya tetapi Ralisya menahan tangan Raydan.


"Aku percaya, kok," ucap Ralisya tersenyum. Raydan pun tersenyum. Jantungnya sudah berdegup tak karuan, jika saja Ralisya meminta Raydan untuk benar-benar menghubungi Clarie kembali maka terbongkarlah sudah rahasianya.


Raydan mendekatkan wajahnya ke wajah Ralisya dan mencium bibir Ralisya. Dia mengecupnya berkali-kali membuat Ralisya terdiam. Antara syok tetapi tak mampu berbuat apapun karena untuk pertama kalinya Ralisya dikecup oleh seorang pria. Biasanya Kevano lah yang menciumnya tetapi hanya sebatas ciuman sayang seorang kakak di pipi dan dahinya.


Tak mendapatkan penolakan dari Ralisya, Raydan pun memberanikan diri mencium lebih dalam bibir Ralisya. Mencecap manisnya bibir yang untuk pertama kalinya di sentuh pria itu. Raydan mengusap lembut punggung Ralisya dan terus naik ke pundaknya membuat Ralisya merasakan sensasi aneh untuk pertama kalinya. Bulu kuduknya meremang, dia merinding tetapi tak mampu menahan tangan Raydan.


Raydan terus memperdalam ciumannya, dan terus mendorong Ralisya hingga terjatuh ke atas tempat tidur. Ralisya syok dan mencoba menahan dada Raydan. Namun Raydan terus saja melanjutkan kegiatannya dan tak mempedulikan penolakan Ralisya. Tangan Raydan mulai tak bisa diam, dan menggerayangi perut Ralisya. Ralisya semakin syok saat ciuman Raydan beralih ke lehernya dan terasa seperti ada sebuah gigitan di lehernya, bahkan Ralisya semakin syok saat Raydan memasukan tangannya ke kebaya yang Ralisya kenakan hingga perutnya tersentuh langsung oleh tangan Raydan. Ralisya pun mendorong dengan cukup keras dada Raydan dan Raydan pun menghentikan ciumannya.


"Cukup!" ucap Ralisya disela mengatur napasnya yang hampir habis karena ciuman cukup panasnya bersama Raydan.

__ADS_1


Raydan bangkit dan mengusap wajahnya.


"Maaf," ucap Raydan dan berlalu meninggalkan Ralisya.


Di luar kamar, lagi-lagi Raydan mengusap wajahnya.


Sial! umpat Raydan. Entah mengapa Raydan tak dapat mengontrol dirinya sendiri. Dia merasakan gairahnya memuncak saat mencium Ralisya tadi. Bahkan miliknya terasa menegang akibat gairahnya. Jika saja Ralisya tak coba menghentikannya, dia pasti sudah bertindak lebih jauh.


Raydan pergi menuju kamar hotelnya sendiri dan membasuh wajahnya. Dia menatap dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya dia mencium Ralisya, dan rasanya berbeda. Raydan bahkan yakin bahwa itu adalah ciuman pertama bagi Ralisya.


Selesai membasuh wajah dan mengeringkannya, Raydan merapikan jasnya dan kembali ke Ballroom.


Sedangkan di kamar Ralisya, Ralisya masih mengatur napasnya. Ada rasa tak percaya bahwa dia telah memberikan ciumannya pada Raydan. Cinta pertama sekaligus kekasih pertamanya.


Ralisya kembali ke Ballroom saat detak jantungnya terasa lebih baik. Dia memasuki Ballroom dan tersenyum menghampiri Rayna, Kevano, Randy dan Dania yang ternyata tengah duduk bersama. Tak hanya itu, di sana juga ada Raydan yang ikut berkumpul dan membuat Ralisya merasa canggung. Sementara Raydan tampak terlihat santai tetapi sesaat kemudia dia terkejut saat melihat tanda merah di leher Ralisya. Dia teringat saat tadi menggigit leher Ralisya dan meyakini bahwa itu adalah tanda merah yang disebabkan dari gigitannya.


Raydan menarik tangan Ralisya dan membuat semua orang yang ada di sana terlihat bingung.


"Hei! Kamu ceroboh banget, sih, Cupie!" ucap Raydan.


Raydan yang menyadari ekspresi bingung Ralisya pun membawa Ralisya menuju toilet perempuan dan Raydan ikut masuk ke toilet wanita tersebut tanpa sadar.


"Itu tanda yang aku buat tadi, kamu tutupi, gih!" ucap Raydan.


"Hah? Tanda apa? Ini sebelumnya nggak ada," ucap Ralisya bingung.


"Kamu ingat, saat kita ciuman tadi? Aku gigit leher kamu, kan? Kamu pasti ngerasain itu. Nah, itu bekas gigitannya, dan bahaya kalau sampai ketahuan sama orang lain," ucap Raydan.


Ralisya terkejut mendengar ucapan Raydan.


"Aku harus tutupi pakai apa?" tanya Ralisya bingung.


"Wanita biasanya punya bedak, tutupi aja pakai bedak," ucap Raydan.


Ralisya mengambil bedaknya yang ada di dalam tas. Raydan membulatkan matanya dan mengambil bedak tersebut.

__ADS_1


"Ini bedak kamu?" tanya Raydan terkejut saat melihat bedak yang dia ketahui adalah bedak yang biasa dipakai bayi. Ralisya pun mengangguk.


Raydan terkekeh dan mengusap wajahnya.


Yang benar aja. Apa aku pacaran sama bayi? gumam Raydan.


Ralisya merebut bedaknya saat mendengar gumaman Raydan.


"Kulitku sensitif, nggak bisa pakai yang aneh-aneh," ucap Ralisya sambil mengerucutkan bibirnya.


"Oke-oke. Jadi, aku nggak perlu beliin kamu skincare yang mahal," ucap Raydan terkekeh.


Ralisya pun tersenyum dan memakaikan bedak itu di lehernya.


Raydan memeriksa leher Ralisya kembali dan ternyata masih terlihat bekas merah itu. Membuat Raydan panik.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Ralisya bingung.


"Jangan sampai orangtua kita lihat tanda itu," ucap Raydan. Ralisya pun menjadi ikut panik.


"Hei! Ngapain kalian?" teriak seorang perempuan yang baru saja masuk ke toilet.


Raydan terkejut dan memberikan isyarat dengan telunjuknya agar wanita itu diam.


Wanita itu melihat Ralisya dan Raydan penuh selidik, sesaat kemudian dia melihat ke arah leher Ralisya dan tersenyum.


"Pakai ini untuk menutupi bekas gigitan pacarmu!" wanita itu memberikan foundation miliknya agar Ralisya menutupi bekas merah itu. Ralisya sontak menutupi lehernya dan wanita itu mencuci tangannya di closet. Selesai mencuci tangan, wanita itu akan keluar dari toilet tetapi untuk sesaat dia berbalik dan melihat ke arah Ralisya dan Raydan.


"Simpan saja itu untuk kalian. Untuk menutupi bekas-bekas lainnya," ucap wanita itu sambil tersenyum remeh dan berlalu meninggalkan Raydan juga Ralisya.


Mendengar ucapan wanita itu, Raydan mengusap wajahnya sementara Ralisya merasakan ada yang tak biasa di hatinya. Dia merasa direndahkan oleh wanita itu. Dia mungkin bersalah atas apa yang dia lakukan bersama Raydan. Namun, ini adalah pertama kalinya ada pria yang menyentuhnya hingga sejauh itu.


"Cupie! Kamu kenapa?" tanya Raydan saat Ralisya diam saja.


Ralisya memundurkan langkahnya, memberikan jarak antara dirinya dengan Raydan.

__ADS_1


"Tolong! Aku mau sendiri!" ucap Ralisya dan pergi meninggalkan Raydan yang tampak bingung.


__ADS_2