Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 106 (Warning! Harap bijak memilih bacaan)


__ADS_3

Rayna terkekeh geli mendengar ucapan Kevano. Tentu saja dia mengerti maksud Kevano.


"Kakiku!" pekik Rayna saat kakinya tiba-tiba saja tertindih oleh Kevano. Sontak Kevano terperanjat dan duduk di tempat tidur.


Kevano mengangkat gaun Rayna dan melihat tanda merah yang cukup kontras di kulit putihnya.


"Sakit, ya?" ucap Kevano.


Rayna mengangguk dan merubah posisinya menjadi duduk.


"Sakit banget," ucap Rayna memelas.


"Maaf, ya. Mau aku apakan? Kompres mau?" ucap Kevano. Rayna menggelengkan kepalanya.


"Aku mau mandi. Mungkin, setelah mandi aku akan lebih baik," ucap Rayna.


"Oke, aku bantu kamu ke kamar mandi," ucap Kevano dan akan mengangkat tubuh Rayna.


"Aku sendiri aja," ucap Rayna.


"Kenapa?" tanya Kevano bingung.


"Aku masih bisa jalan," ucap Kevano.


"Tapi, kaki kamu sakit. Kalau makin sakit gimana? Mending aku gendong aja. Biar sekalian aku mandiin," ucap Kevano dan tanpa menunggu jawab Rayna dia pun langsung mengangkat tubuh Rayna. Tak ada penolakan dari Rayna, lagipula sejak awal menjadi pasangan halal, Kevano belum pernah melihat tubuh polosnya. Mungkin, sudah saatnya Kevano melihatnya.


Begitu sampai di kamar mandi, Kevano menyalakan shower air hangat. Dia sengaja tak mengisi air di dalam bathup karena ingin Rayna taj berlama-lama mandi sehingga dapat segera beristirahat.


Rayna terdiam melihat Kevano membuka hampir seluruh pakaiannya dan yang tersisa hanya celana pendeknya. Sadar diperhatikan Rayna, Kevano pun menghela napas.


"Kok diam aja? Kenapa nggak buka baju?" tanya Kevano bingung.


"Ha?" Rayna terlihat canggung. Rasanya masih malu memperlihatkan tubuhnya di depan Kevano.


"Oh, ya ampun.Maaf, karena aku nggak peka," ucap Kevano tersenyum dan berdiri dibelakang Rayna.


Kevano terlihat kebingungan mencari sesuatu.


"Kamu cari apa?" tanya Rayna.

__ADS_1


"Ini gaun nggak ada resleting-nya, ya? Kok aku nggak nemu," ucap Kevano.


Rayna tersenyum dan mengangkat sedikit tangan kanannya. Dia mencoba membuka sendiri resleting gaunnya tetapi dengan sedikit kesulitan.


"Oh, ada di samping. Aku pikir, gaunmu otomatis bisa melorot sendiri," ucap Kevano tersenyum.


"Hah! Yang benar aja. Gimana bisa gaun itu masuk ke badan aku kalau nggak bisa dibuka?" ucap Rayna.


"Akan selalu ada jalan untuk masuk, meski sekecil apapun jalannya," ucap Kevano tersenyum penuh arti.


Cup ...


Kevano mengecup bahu Rayna. Rayna menghela napas. Jantungnya berdegup kencang merasakan kecupan Kevano yang terasa lembut. Hawa tubuhnya bahkan sudah terasa berbeda.


"Aku beruntung," ucap Kevano sambil membuka resleting gaun Rayna.


"Aku bisa menikahi wanita secantik kamu," ucap Kevano pelan sambil menyentuh lembut tubuh samping Rayna yang terlihat karena resleting itu sudah terbuka setengahnya menggunakan jari telunjuknya. Tubuh bagian atas Rayna ternyata polos, tak ada kain dalaman penutup dada karena memang gaun tersebut sudah memiliki penopang dada yang agar pemakainya merasa nyaman meski tanpa menggunakan dalaman. Kevano semakin memperlambat menurunkan resleting gaun itu, sehingga perlahan mulai terlihat dada samping Rayna. Dia pun menyentuhnya benda kenyal itu dari samping. Membuat pemiliknya memejamkan mata merasakan gelenyar tak biasa. Suhu tubuhnya memingkat.


Rayna menahan gaun itu agar tak terjatuh dengan tangan kirinya dan melihat Kevano. Kevano pun merasa kebingungan.


"Ada apa?" tanya Kevano semakin bingung saat melihat Rayna menyentuh dahi dan leher Rayna bergantian.


"Kayaknya, aku demam," ucap Rayna.


"Nggak, kok. Kamu nggak demam," ucap Kevano.


"Tapi, aku kepanasan," ucap Rayna bingung.


Kevano tersenyum dan menyentuh wajah Rayna dengan kedua tangannya.


"Kita mandi dulu," ucap Kevano dan melangkah menuju shower kemudian berdiri tepat di bawah guyuran shower. Dia membasahi tubuhnya sambil tersenyum membayangkan ucapan Rayna tadi. Sepertinya, buka demam melainkan suhu tubuh Rayna naik karena merespon sentuhannya. Tentu saja Kevano senang bukan main.


Rayna pun membuka gaunnya dan mengambil handuk menutupi tubuhnya.


Kevano melihat Rayna dan menghela napas.


"Gimana bisa mandi, kalau kamu pakai handuk? Handuk dipakai setelah mandi, Sayang," ucap Kevano dan menarik handuk tersebut hingga terlepas. Rayna terkejut bukan main, sontak dia menutupi bagian tubuh sensitifnya.


"Jangan ditutupi, aku suamimu. Aku berhak melihatnya," ucap Kevano menyingkirkan tangan Rayna. Terlihat tubuh Rayna yang masih tertutup kain yang menutupi bagian paling sensitifnya.

__ADS_1


"Jangan sekarang, aku malu," ucap Rayna.


"Kenapa malu?" ucap Kevano sambil menarik tangan Rayna dan memeluk pinggang Rayna sehingga tubuh keduanya merapat saling bersentuhan.


"Apa kaki kamu masih sakit?" tanya Kevano.


"Hmm ..." sahut Rayna.


"Masih sakit apa nggak?" tanya Kevano penasaran.


"Masih, sedikit," ucap Rayna.


Rayna terkejut saat Kevano tiba-tiba saja berlutut dan menyentuh kakinya.


"Kamu mau apa?" tanya Rayna bingung. Tentu saja Rayna merasa malu melihat kelakukan Kevano.


"Cuman mau periksa kaki kamu," ucap Kevano.


Kevano memijat lembut kaki Rayna, membuat Rayna semakin tak nyaman dengan posisi saat ini. Bayangkan saja, siapa yang tak akan merasa canggung ketika wajah si pria tepat berada ditubuh sensitifnya. Meski Kevano menundukan kepalanya, tetap saja Rayna merasa tak nyaman.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Kevano bingung saat tubuh Rayna bergetar.


"Itu, posisi kita bikin aku ga nyaman," ucap Rayna.


Kevano merasa gemas mendengar jawaban Rayna. Dia pun bangun dan menggendong tubuh Rayna. Rayna pun memberontak tetapi Kevano langsung merapatkan punggung Rayna menuju dinding kamar mandi sehingga Rayna kesulitan untuk melepaskan diri.


"Please, jangan malu-malu di depan aku. Aku akan lebih senang kalau kamu nggak tahu malu di depan aku," ucap Kevano.


"Yang benar aja. Kalau aku--" ucapan Rayna terhenti saat Kevano mencium bibirnya. Seolah Kevano tahu jawaban Rayna dan dia tak ingin mendengarnya.


"Aku mencintaimu," lirih Kevano dan kembali mencium bibir Rayna. Tak ada penolakan dari Rayna. Rayna pun memeluk Kevano dan membalas ciuman itu. Rasanya lebih baik dari sebelumnya.


Cukup lama mereka berciuman, dan Kevano melepaskan ciumannya saat melihat Rayna gelagapan. Wajar saja Rayna akan kehabisan napasnya, mengingat mereka berciuman di bawah guyuran shower.


"Engap," ucap Rayna sambil mengatur napasnya. Kevano tersenyum dan menurunkan Rayna.


Kevano menahan kedua tangan Rayna ke dinding menggunakan kedua tangannya, membuat benda kenyal milik Rayna terpampang jelas di hadapannya.


"Kecil, tapi aku suka," ucap Kevano tersenyum saat melihat benda kenyal yang terlihat mungil itu dan langsung mencium benda kenyal itu. Rayna pun benar-benar terkejut. Namun, dia tak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan saja perlakukan Kevano.

__ADS_1


Rayna bahkan mulai menikmati setiap kecupan yang Kevano daratkan di dadanya. Rayna menggigit bibirnya saat merasakan hisapan kuat di dadanya. Dia melihat Kevano yang masih asik bermain di sana.


Rayna membulatkan matanya saat merasakan sesuatu yang aneh. Terasa ada sesuatu yang dia sangat jelas tahu apa yang terjadi pada dirinya. Rayna pun mendorong kepala Kevano cukup kuat sehingga Kevano hampir saja terjengkang.


__ADS_2