Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 22


__ADS_3

Di tempat lain, tepatnya di acara ulang tahun Ralisya.


Raydan masih asyik mengobrol dengan Ralisya dan teman-teman sekelasnya, dia benar-benar lupa bahwa saat ini Rayna sudah tak berada di acara tersebut.


"Ray," Gerry menepuk bahu Raydan, membuat Raydan sampai melihat ke arahnya.


"Eh, Ger, dimana Rayna?" tanya Raydan sambil melihat sekeliling mencari Rayna.


"Ha, Rayna nggak sama kamu, Ray?" tanya Gerry.


"Nggak, lah. Rayna, kan, sama kamu." ucap Raydan.


"Lah, aku pikir sama kamu. Tadi, aku tinggal ke toilet, pas aku balik, aku nggak bisa nemuin Rayna." ucap Gerry.


"Apa? Kamu serius?" tanya Raydan memastikan.


"Serius, Ray, aku nggak bisa nemuin Rayna." ucap Gerry.


"Kenapa, Ray?" tanya Seshi.


"Gerry nggak bisa nemuin Rayna," Raydan mulai gelisah mendengarkan adiknya tak ada di acara tersebut.


Belum sempat Seshi mengatakan sesuatu, Raydan sudah lebih dulu meninggalkan teman-temannya, bahkan Raydan tak lagi peduli pada Ralisya yang tengah menatapnya dengan tatapan bingung, entah apa yang ada di pikiran Ralisya tentang Raydan yang terlihat begitu panik saat Rayna menghilang.


Raydan mencari Rayna di area tersebut, dan benar tak ada Rayna di sana.


Jantung Raydan berdegup kencang, dia mengusap wajah kasar.


"Kamu dimana, De?" gumam Raydan.


Raydan benar-benar panik saat ini, dia cemas karena tak bisa melihat Rayna.


"Aarrgghhh ,,, bodoh. Bisa-bisanya kamu mengabaikan Rayna," Raydan mengacak rambut frustasi.


Dia merogoh saku celananya dan akan menghubungi nomor Rayna, namun belum sempat dia memanggil nomor Rayna sudah ada panggilan masuk dari papanya, dengan ragu dia menjawab telpon itu.


"Pulang sekarang," Tanpa basa basi Randy meminta Raydan untuk kembali ke rumah.


"Tapi, Pa," Raydan menelan air liurnya, jika dia pulang tanpa Rayna sudah dapat di pastikan papanya itu akan marah padanya.


"Ade ada di rumah." ucap Randy yang seolah mengerti putranya itu tengah merasa kebingungan.


"Apa? Papa serius?" tanya Raydan.


"Ya, cepat pulang, sudah malam." ucap Randy.


"Oke, Pa, Abang pulang." Raydan menutup telponnya dan tersenyum lega.


"Ray, mau kemana?" tanya Gerry.


"Aku mau pulang, Rayna sudah ada di rumah." ucap Raydan.


"Syukurlah kalau Rayna sudah pulang." ucap Gerry.

__ADS_1


Raydan mengangguk, dia pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah.


Dengan langkah cepat Raydan masuk ke dalam rumah, dia ingin segera melihat Rayna.


"Ade dimana, Bi?" tanya Raydan dengan bingung saat tak melihat Rayna di kamarnya.


"Non Rayna ada di ruang kerja Bapak, Den." ucap Bibi.


Raydan mengangguk dan pergi ke ruang kerja Randy.


"De," Raydan memasuki ruangan sang Papa dan terlihat tak hanya ada sang Papa dan Rayna, melainkan sang Mommy pun ada di sana.


"Kalian semua di sini," Raydan mendekati Rayna dan memeluk Rayna.


"Maafin Abang, De, kamu jadi pulang sendiri." ucap Raydan.


Rayna pun mengangguk.


"Sudah puas bersenang-senang?" Randy menatap Raydan dengan tatapan datar.


Dania mendekati Randy dan mengusap lengan Randy, dia tahu suaminya itu sedang menahan amarahnya.


"Maaf, Pa." ucap Raydan sambil menundukkan kepalanya.


"Mommy keluar dulu, Papa mau bicara dengan Abang dan Ade." ucap Randy.


Randy hanya diam dan tak menjawab ucapan Dania.


Dania menghela napas perlahan dan keluar dari ruang kerja Randy.


"Kenapa kalian jadi seperti ini?" tanya Randy dengan tanpa basa-basi.


"Kenapa semenjak kalian pindah ke sini, kalian menjadi sering membuat masalah?" Randy mengepalkan tangannya, sebisa mungkin dia mencoba menahan amarahnya terhadap Raydan dan Rayna.


Dia melihat wajah murung Rayna dan teringat apa yang Kevano lakukan saat di taman tadi, inilah yang dia takutkan.


Selama ini dia berusaha menjaga Rayna dengan baik agar Rayna tak pernah mengalami apa yang di alami wanita yang pernah dekat dengan Randy dulu. Randy tak ingin putrinya di permainkan dan di manfaatkan oleh pria kurang ajar, sungguh dia tak akan pernah bisa menerima semua itu.


"Ade, jujur sama Papa, ada hubungan apa antara Ade dengan pria itu?" tanya Randy sambil masih memasang wajah datarnya.


"Pria?" Raydan mengerutkan dahinya, dia merasa bingung dengan ucapan Randy.


"Kamu nggak akan tahu Adik kamu di bawa pergi oleh pria lain, kamu tahu kenapa? Karena kamu asik sendiri dan melupakan Adik mu." ucap Randy dengan nada mulai kesal, Randy bahkan tak memanggil Raydan dengan panggilan abang seperti biasanya.


"Maaf, Pa, Abang salah." ucap Raydan sambil menundukkan kepalanya.


"Kemarin, saat Adik kamu di Bandara dan menghilang, kamu meminta maaf dan akhirnya kejadian hari ini terjadi. Setelah ini, apa kamu masih akan mengabaikan Adik kamu, dan membuat masalah lagi, ha?"


Dengan cepat Raydan menggelengkan kepalanya.


"Adik kamu itu perempuan, banyak di luar sana pria kurang ajar yang bisa saja memanfaatkan Adik kamu, kamu sebagai Kakak laki-lakinya seharusnya ikut menjaga Adik kamu dari pria-pria kurang ajar itu." ucap Randy.

__ADS_1


"Iya, Pa, Abang janji akan selalu menjaga Ade." ucap Raydan.


"Dan, Ade," kini Randy melihat ke arah Rayna yang masih diam menundukkan kepalanya.


"Sudah Papa bilang, jangan dekat dengan pria manapun sebelum selesai sekolah, apalagi sampai sejauh tadi. Kamu masih kecil dan masih belum boleh menjalin hubungan dengan pria, tugas kamu belajar, bukan pacaran." ucap Randy.


"Ade nggak pacaran, Pa. Kejadian tadi hanya salah paham." ucap Rayna.


"Apapun itu, Papa nggak mau melihat kejadian ini sampai terulang lagi. Kalian bebas melakukan apapun selama itu masih dalam batas kewajaran. Tapi, jika sudah di luar batas itu, kalian pernah melihat bagaimana Papa marah, bukan?" ucap Randy.


Raydan dan Rayna menelan air liurnya, baru kali ini Randy memarahi mereka.


"Selama ini Papa nggak pernah marah pada kalian, karena kalian tak pernah melakukan kesalahan. Tapi, jika sudah melewati batasan, tentu Papa tidak akan segan memarahi kalian. Kalian sudah besar, kalian harus mengerti, bahwa orang tua akan selalu mencemaskan keadaan anak-anaknya. Begitupun Mommy dan Papa, kami tidak pernah memarahi kalian apalagi sampai membentak kalian, karena kami menyayangi kalian. Tapi, bukan berarti kalian bebas melakukan hal di luar batas." ucap Randy.


Raydan dan Rayna pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Mereka tak dapat mengatakan apapun, apalagi Raydan yang memang merasa bersalah atas terjadinya kejadian malam ini.


"Papa nggak mau kejadian ini sampai terulang lagi, sekarang pergi ke kamar kalian, istirahat." ucap Randy dan akan meninggalkan ruang kerjanya.


"Pa," panggil Rayna.


Randy menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Rayna.


"Ada apa?" tanya Randy.


"Maafin Ade," ucap Rayna dengan bibir yang bergetar dan tanpa di sadari dia pun menangis.


Randy menghela napas perlahan, dia tahu anak perempuannya itu memang sensitif.


"Kemari lah," Randy merentangkan tangannya.


Rayna mengangguk dan memeluk Randy.


"Papa nggak marah, Papa hanya nggak mau Ade kenapa-kenapa. Ade tahu, kan, Papa dan Mommy sayang sekali sama Ade dan Abang, kalian segalanya bagi kami." ucap Randy sambil mengusap punggung Rayna.


Dia begitu menyayangi Raydan dan Rayna, kedua anaknya itu adalah segalanya untuk Randy. Tentu saja, Randy tak ingin terjadi masalah apapun pada kedua anaknya itu.


Rayna mengangguk dan menghapus air matanya.


"Maafin Ade sudah buat Papa dan Mommy khawatir." ucap Rayna.


Randy mengangguk dan melihat ke arah Raydan.


"Kemari lah." ucap Randy.


Raydan mengangguk dan memeluk Randy.


"Abang janji akan selalu melindungi Ade, Abang nggak akan ninggalin Ade lagi." ucap Raydan dengan yakin.


Randy tersenyum tipis dan mengangguk.


Dia bahagia karena memiliki anak-anak yang saling menyayangi satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2