Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 102


__ADS_3

Kevano mengusap kepalanya karena sedikit pusing akibat dorongan tangan Rayna. Sementara Rayna langsung menutupi dadanya yang sempat Kevano buka tadi. Dia benar-benar malu mendengar ucapan Kevano.


"Sakit, duh," keluh Kevano.


"Abisnya ngeselin. Kalau nggak suka yang mungil, ya udah," ucap Rayna.


Kevano tersenyum dan menghempaskan wajahnya di leher Rayna.


"Aku suka, kok. Malah kalau kegedean, aku seram lihatnya," ucap Kevano.


Rayna terkekeh. Yang benar saja seram. Memangnya hantu?


Kevano mengangkat wajahnya dan menatap Rayna yang juga menatapnya.


"Aku jadi mau," ucap Kevano. Wajah Kevano memerah. Bukan malu, melainkan gairahnya meningkat.


"Mau apa?" tanya Rayna bingung.


"Hm ... Mau itu," ucap Kevano.


"Mau apa?" tanya Rayna bingung. Dia tak mengerti maksud Kevano.


"Mau masukin kamu," ucap Kevano frustrasi dan kembali memeluk Rayna. Meletakan kepalanya kembali di leher Rayna.


"Hah? Gimana caranya?" tanya Rayna semakin dibuat bingung.


"Ya gitu, masa nggak tahu, sih," ucap Kevano semakin frustrasi. Dia tak ingin menjelaskan secara detail, bisa semakin gila membayangkannya.


Rayna pun menggelengkan kepalanya. Membuat Kevano semakin frustrasi.


"Aku mau mandi aja, deh," ucap Kevano dan turun dari tempat tidur. Kevano pun bergegas menuju kamar mandi. Sedangkan Rayna terdiam memikirkan apa yang sebenarnya Kevano mau.


Tak lama Rayna pun turun dari tempat tidur dan mengeringkan rambutnya yang masih basah. Setelah kering dia keluar dari kamar. Dia menuruni anak tangga dan terlihat Randy juga Dania tengah duduk menikmati sarapan di pinggir kolam renang.


"Pagi, Pa, Moms," sapa Rayna.


"Pagi, Sayang," ucap Randy dan Dania bersamaan.


"Di mana Kevano?" tanya Dania.


"Lagi mandi. Di mana Abang?" tanya Rayna. Tak terlihat Raydan ikut sarapan bersama.


"Kayaknya masih di kamarnya," ucap Dania. Rayna mengangguk dan pamit menuju kamar Raydan.


Sesampainya di kamar Raydan, ternyata kamar itu tak dikunci. Rayna pun masuk dan melihat Raydan masih tidur pulas dengan tubuhnya yang terbalut selimut.


Pandangan Rayna tak sengaja mengarah pada ponsel Raydan yang ada di samping Raydan. Rayna pun iseng mengambil ponselnya dan mengetik sebuah password.


Eh, belum diganti kuncinya, gumam Rayna.


Rayna mengetahui kunci ponsel Raydan yang memang mudah diingat, yang mana adalah tanggal lahirnya yang juga sama dengan tanggal lahir Rayna. Tentu saja karena mereka saudara kembar.


Rayna menyeringai, pikiran jahil terlintas di kepalanya. Dia mengecek ponsel Raydan dan tak ada yang mencurigakan. Semuanya tampak biasa saja. Namun, sesaat kemudian pandangan Rayna tertuju pada salah satu pesan yang yang sudah dibuka sebelumnya. Pesan dari Clarie. Rayna pun membuka pesan itu.


Rayna terkejut membaca isi pesan dalam bahasa asing tersebut. Di mana terlihat mesra sekali. Merasa cukup melihat pesan tersebut, Rayna pun mencari pesan dari Ralisya. Setahu Rayna, Ralisya lah kekasih Raydan. Namun, tak terlihat pesan masuk yang tersimpan di kotak masuk pesan. Nampaknya, Raydan tak meninggalkan jejak obrolannya bersama Ralisya. Rayna hanya melihat di panggilan ada laporan tak terjawab dari Ralisya. Itupun sudah cukup lama. Sedangkan ada beberapa panggilan masuk dari Clarie.


Siapa Clarie sebenarnya? gumam Rayna.


Dia penasaran dengan wanita cantik itu. Ya, Rayna akui wanita itu memang cantik. Namun, yang dia tahu Raydan tak pernah tertarik dengan wanita berwajah bule.

__ADS_1


Rayna membuka galeri foto Raydan, dan dia lebih terkejut lagi. Banyak sekali foto-foto Raydan bersama Clarie. Seketika Rayna pun mengerti, bahwa ada sesuatu yang spesial antara Raydan dan wanita bernama Clarie itu.


Rasa penasarannya tak sampai disitu, Rayna pun mencoba mencari foto Ralisya, dan lagi-lagi tak menemukan apapun tentang Ralisya.


"Ngapain, Dek?"


Rayna terkejut saat mendengar suara serak bangun tidur Raydan. Entah sejak kapan Raydan bangun dari tidurnya.


Rayna tersenyum canggung dan repleks meletakan ponsel Raydan di atas tempat tidur.


"Nggak ngapa-ngapain. Mau bangunin Abang aja," ucap Rayna.


"Masa? Terus ponsel Abang, kok, ada di Ade?" tanya Raydan penuh selidik.


"Hm ... Cuman ngecek kunci ponsel Abang. Eh, ternyata belum diganti," ucap Rayna tersenyum.


Raydan membuka ponselnya dan menggelengkan kepalanya.


"Iya, sekarang belum. Habis ini Abang ganti," ucap Raydan. Raydan bangun dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Loh, kenapa?" tanya Rayna bingung.


"Ade pikir, Abang nggak tau. Dari tadi Ade ngecekin ponsel Abang," ucap Raydan.


"Hah! Nggak, kok," ucap Rayna berkilah.


Raydan menunjukan ponselnya. Di mana di sana masih terlihat jejak Rayna yang telah membuka-buka isi ponselnya. Bahkan Raydan ingat saat terakhir kali dia menutup ponselnya dan tak meninggalkan jejak apapun.


Rayna tersenyum dan duduk di samping Raydan.


"Ketahuan, deh," ucap Rayna.


"Nakal," ucap Raydan.


Rayna mengerucutkan bibirnya. Sesaat kemudian dia teringat pada Clarie.


"Oh, ya. Siapa Clarie?" tanya Rayna penasaran.


"Teman," jawab Raydan santai.


"Masa?" ucap Rayna tak percaya.


"Ya udah kalau nggak percaya," ucap Raydan malas.


"Terus, Ralisya? tanya Rayna.


"Apanya?" tanya Raydan bingung.


"Ralisya siapanya Abang?" tanya Rayna.


"Teman," jawab Raydan lagi-lagi dengan santai.


"Nggak mungkin. Kalian kayaknya pacaran," ucap Rayna.


"Udah tahu nanya," ucap Raydan. Raydan mematikan ponselnya dan menghempaskan tubuhnya hingga tengkurap.


"Kenapa, sih? Jutek banget," kesal Rayna sambil menarik selimut Raydan. Pasalnya, Raydan tak pernah sesingkat itu menjawab pertanyaannya.


Raydan melihat ke arah Rayna dan menghela napas.

__ADS_1


"Nggak boleh ada rahasia, kan, diantara kita?" ucap Rayna.


Raydan kembali duduk dan memegang bahu Rayna. Menatap Rayna dengan serius.


"Kalau masih nggak boleh ada rahasia, berarti Abang boleh lihat, ya, malam pertamanya Ade sama si Kevano," ucap Raydan.


Rayna membulatkan matanya dan memukul dada Raydan.


"Apaan, sih? Mana bisa kayak gitu? Meski kita Kakak Adek, tetap aja itu masalah pribadi. Nggak boleh ada yang tahu," ucap Rayna kesal.


Raydan terkekeh dan mengusap wajahnya. Adiknya itu menganggap candaannya serius.


"Bercanda kali," ucap Raydan.


Rayna masih saja memasang wajah cemberut, membuat Raydan merasa gemas sekaligus tak tega.


"Maaf, ya. Abang lagi males aja bahas cewek," ucap Raydan.


Rayna melihat Raydan yang mulai berbaring kembali. Raydan menatap langit-langit kamar.


"Tapi, Dek. Kenapa, ya, rasanya beda?" ucap Raydan.


"Maksudnya, apa yang beda?" tanya Rayna bingung.


"Ya, beda aja. Dulu, Abang penasaran banget sama Ralisya. Dia anaknya galak gitu kan, Abang bahkan ingat dia pernah nonjok Abang pas minta kenalan," ucap Raydan.


"Terus kenapa? Apa, sih, yang beda?" tanya Rayna semakin penasaran.


"Beda aja. Rasa dulu saat masih pendekatan, dengan sekarang saat udah terikat status," ucap Raydan.


"Ya apa bedanya? Ade nggak ngerti," ucap Rayna.


Raydan menghela napas. Adiknya itu benar-benar lambat sekali memahami maksudnya.


"Kalau Abang tanya, gimana perasaan Ade sama Kevano waktu dulu sebelum menikah, dan sekarang setelah menikah?" tanya Raydan.


Rayna terdiam sesaat.


"Dulu benci sama dia, benci banget malah. Tapi, sekarang nggak. Ade cinta sama Kevano," ucap Rayna tersenyum.


Raydan menjebikan bibirnya dan mengangguk.


"Ya gitu, itu yang Abang rasain," ucap Raydan.


"Emangnya, Abang dulu benci sama Ralisya?" tanya Rayna.


Raydan menggelengkan kepalanya.


"Maksudnya, kebalikan dari apa yang Ade rasain," ucap Raydan.


Rayna terdiam, dia mencoba mencerna maksud ucapan Raydan.


Rayna menatap tajam Raydan seolah memberikan isyarat jangan sampai abangnya itu bermain-main.


"Apa karena Clarie?" tanya Rayna.


"Entah," ucap Raydan.


Raydan dan Rayna tampak menoleh ke arah pintu saat terdengar suara pintu terbuka. Keduanya sontak terkejut melihat seseorang yang tengah berdiri di pintu.

__ADS_1


__ADS_2