Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 132


__ADS_3

Kevano menitipkan semua belanjaannya pada penjaga departemen store tersebut dan bergegas membawa Rayna menuju klinik yang masih berada di dalam Mall. Kevano sampai terburu-buru menggendong Rayna hingga ke klinik.


Sesampainya di klinik, Kevano merebahkan tubuh Rayna di atas brankar. Dia benar-benar cemas, takut sesuatu terjadi pada bayinya.


"Kenapa ini?" tanya Dokter.


"Perut Istri Saya sepertinya bermasalah, Dok," ucap Kevano cemas.


Rayna hanya diam, dia ingin mengatakan sesuatu tetapi mulutnya terasa terkunci. Dia jadi tak dapat mengatakan apapun pada Kevano.


Dokter segera memeriksa perut Rayna.


"Bagian mana yang sakit?" tanya Dokter.


"Bukan sakit, Dok," ucap Rayna. Kevano dan Dokter bingung mendengar jawaban Rayna.


"Jadi? Apa yang Ibu rasakan sebelumnya?" tanya Dokter.


"Geli, Dok. Sepertinya, sesuatu bergerak di dalam perut Saya. Itu bayi Saya nggak apa-apa, kan, ya?" tanya Rayna cemas.


Dokter kembali memegang perut Rayna.


"Menurut hitungan, sudah masuk bulan ke berapa kehamilannya?" tanya Dokter.


"Lima bulan, Dok," ucap Rayna dan Kevano bersamaan.


Dokter pun tersenyum.


"Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kalian menikah? Apa ini anak pertama?" tanya Dokter.


"Kami menikah sudah lima bulan, Dok. Tapi, kami menikah sebelum Istri Saya mengandung. Dan Dokter pasti paham, kan, hitungan kehamilan bagaimana? Jadi, kami menikah dulu, baru Istri Saya hamil," ucap Kevano mencoba menjelaskan.


Dokter itu lagi-lagi tersenyum. Sepertinya Kevano takut jika Dokter berpikir mereka menikah setelah Rayna hamil. Nyatanya, tak perlu dijelaskan pun Dokter sudah paham. Bahwa kehamilan memang dihitung dari sejak si ibu berhenti menstruasi.


Terkadang, bagi yang tak paham hitungan kehamilan, akan menimbulkan ke salah pahaman. bagi pasangan pria. Namun, dalam dunia medis, perhitungan masa kehamilan, memang dihitung ketika pasangan wanitanya selesai datang bulan.


"Itu wajar. Di kehamilan pertama, biasanya bayi mulai menunjukan reaksi semacam pergerakan di perut mulai usia 18-20 minggu masa kehamilan. Nah, ini Ibu sudah masuk lima bulan kehamilan, artinya itu pergerakan pertama si bayi," ucap Dokter.


Kevano dan Rayna saling tatap.


"Aku nggak bilang sakit, kan, tadi? Aku baru mau bilang perutku geli, kamu malah langsung gendong aku ke klinik," ucap Rayna.


"Tapi tadi, kok, muka kamu kayak khawatir gitu? Aku jadi ikutan khawatir, takutnya ada apa-apa," ucap Kevano.

__ADS_1


"Iya, aku syok karena aku pertama kalinya ngerasain gerakan di perutku," ucap Rayna.


Kevano menghela napas. Syukurlah bayinya baik-baik saja. Dia sudah khawatir terjadi sesuatu pada bayinya. Apalagi dia tahu kakak Rayna dan Raydan meninggal ketika masih di dalam perut Dania. Dia menjadi parno sendiri. Takut kejadian itu akan terjadi juga pada bayinya.


"Itu wajar. Artinya, si bayi sehat. Dan nanti, menginjak usia tujuh hingga delapan bulan, bayi akan lebih aktif lagi. Dia akan sering bergerak. Mendekati masa persalinan, pergerakan bayi biasanya akan berkurang, itu karena terbatasnya ruang di dalam rahim Ibu. Dan itu wajar, karena bayi sudah mulai besar dan mendekati masa kelahirannya," ucap Dokter.


Kevano dan Rayna hanya diam, mendengarkan penjelasan Dokter dengan seksama.


Selesai diperiksa, Dokter memberikan vitamin untuk Rayna. Setelah itu, Rayna dan Kevano pergi dari klinik.


"Lain kali, jelasin dulu baru pasang muka cemas," ucap Kevano.


"Itukan repleks. Aku nggak sadar," ucap Rayna.


"Ya udah, syukurlah dia nggak apa-apa." Kevano mengusap perut Rayna.


"Nanti, di rumah aku mau rasain dong gerakan dia," ucap Kevano.


"Ya, nanti kalau gerak lagi. Kalau nggak gerak, masa mau dipaksa. Dia juga pasti capek gerak terus, ada saatnya dia tidur," ucap Rayna tersenyum.


Kevano tersenyum dan merangkul Rayna. Mereka kembali ke departemen store tadi untuk mengambil belanjaan Rayna. Sebetulnya, belanjaan itu belum dibayarnya. Hanya saja, sudah terlanjur di masukan ke dalam tas belanjaan, jadi Kevano pun membayarnya.


Setelah itu, mereka kembali ke rumah.


Dua hari yang lalu, Rayna sudah memberikan keputusan untuk tawaran mendesign ruang Kantor orang yang Dosen bilang mengenal Rayna. Rayna akan mengambil tawaran tersebut. Namun, Rayna meminta bertemu orang itu terlebih dahulu sebelum mulai bekerja. Dia penasaran, siapa sebenarnya orang itu?


Dan hari ini, Rayna akan bertemu orang yang Dosen maksud di salah satu Kafe di dekat Kampus. Sebelumnya, Dosen sudah memberikan nomor Rayna pada orang itu, begitupun sebaliknya.


Rayna sudah berada di tempat janjian, dia menunggu orang itu datang. Orang itu berasal dari Jakarta, jadi jalanan mungkin cukup padat karena itu terlambat sampai ke Kafe. Rayna pun memaklumi hal itu, Jakarta memang sudah tak asing dengan kemacetan.


Lima belas menit menunggu, seorang pria menghampiri meja Rayna.


"Maaf, aku terlambat," ucap pria tersebut.


Rayna melihat orang itu dan mengerutkan dahinya. Dia seperti mengenal orang itu. Tapi di mana dia pernah bertemu orang itu? Pikirnya.


Rayna mencoba mengingat pria itu, ketika pria itu mulai duduk di hadapannya Rayna semakin melihat jelas wajahnya. Pria itu tampan, saat berdiri tadi tubuhnya tinggi dan tegap.


Pria itu tersenyum melihat Rayna seperti kebingungan.


"Astaga! Raka? Kamu Raka?" tanya Rayna.


"Ha-ha-ha ... Berapa lama kita nggak ketemu? Rasanya belum lama, tapi kamu udah lupa wajahku," ucap Raka tertawa.

__ADS_1


Rayna tersenyum. Merasa tak percaya melihat pria di hadapannya. Raka memakai stelan kemeja semi formal, menggunakan celana jeans. Benarkah dia seorang Direktur? Pikir Rayna.


"Bukan gitu. Terakhir kita ketemu waktu perpisahan sekolah, tentu aja kamu jadi berbeda. Dulu, aku lebih sering lihat kamu pakai seragam," ucap Rayna terkekeh.


"Tapi wajahnya tetap sama," ucap Raka tersenyum.


Rayna tersenyum dan menanyakan kenapa Raka meminta dirinya untuk mendesign interior ruang kerjanya. Kenapa tak memakai jasa profesional?


"Kenapa, ya? Entahlah, mungkin udah saatnya kita ketemu lagi, ha-ha-ha ..." Raka kembali tertawa.


Raka memang tampak berbeda. Dia jadi lebih banyak bicara. Padahal, saat sekolah dulu, mereka tak sering bicara. Hanya bicara untuk hal-hal penting saja tentang urusan sekolah.


"Tapi, dari mana kamu tau aku ambil jurusan design? tanya Rayna.


"Aku dengar kabar itu, sejak awal. Sejak kita lulus, aku dengar kabar kamu masuk Universitas itu ngambil jurusan design interior. Sebetulnya, aku ingat kamu waktu aku udah ada niat rubah ruang kantorku. Pengen lebih dibuat senyaman aku aja," ucap Raka .


Rayna mengangguk mengerti.


"Jadi, apa kamu Direktur yang Dosen maksud itu?" tanya Rayna.


Raka tersenyum sambil mengangguk.


"Ya, Papa mengangkatku sebagai Direktur utama di perusahaannya," ucap Raka.


"Are you sure? Wow!" Rayna tampak terkejut.


Usia Raka dan dirinya tak jauh berbeda. Mereka lahir di tahun yang sama dan hanya beda bulan saja. Raka masihlah sangat muda. Sungguh membuat Rayna tak percaya.


"Hebat, ya. Pasti bukan hanya karena kamu anaknya Om Riko, pasti karena kamu juga ada skill menjadi Direktur," ucap Rayna terkekeh.


"Ha-ha-ha ... Kayaknya, emang itu yang Papa lihat dari aku," ucap Raka.


"Aku kagum, kamu hebat mau menanggung tanggung jawab sebesar itu," ucap Rayna.


"Waktu masih Sekolah, Papa menuntutku untuk pelajari tentang perusahaannya. Karena itu, sedikit banyaknya aku tau. Karena itu juga, aku ambil Sekolah bisnis," ucap Raka.


"Terus, kuliah kamu gimana? Kamu masih kuliah dong pastinya? Sama kayak aku, lho," ucap Rayna bingung.


Menjadi Direktur, tentunya lebih sibuk dari pada kuliah. Apa mungkin Raka mengabaikan kuliahnya?


"Aku kuliah selesai kerja," ucap Raka terkekeh.


Rayna mengangguk dan tersenyum. Mereka lanjut membicarakan pekerjaan yang akan Rayna mulai untuk pertama kalinya. Rayna hanya berharap, hasilnya takan membuat Raka kecewa. Bagaimana pun Raka sudah mempercayainya.

__ADS_1


__ADS_2