
Cukup lama Rayna tertidur, efek dari obat demam yang dia minum membuat demamnya menjadi menurun dan kepalanya merasa lebih baik.
Rayna mengambil ponselnya dan melihat jam. Dilihat-nya sudah pukul sebelas siang. Dia bangun dari tidurnya dan pergi menuju kamar mandi. Selesai dari kamar mandi, dia keluar dari kamar dan tak melihat siapapun. Rumahnya terlihat sepi.
Dia turun menuju dapur, perutnya terasa lapar. Dia pun mencari sesuatu yang bisa dimakan dan tak menemukan makanan apapun. Dia pergi menuju ruang tamu, mencoba mencari Stefie dan bibi. Namun lagi-lagi dia tak menemukan siapapun.
Pada kemana, sih? gumam Rayna.
Perutnya benar-benar terasa perih. Tadi pagi dia hanya makan sedikit karena mulutnya terasa tak enak memakan sesuatu. Itupun dia paksakan karena akan minum obat.
Rayna mengerutkan dahinya saat mendengar suara motor. Rasa ingin tahunya membuatnya mencoba melihat dari balik jendela. Rayna menghela napas saat melihat Kevano yang tengah membuka helm-nya. Terlihat setelah itu Kevano turun dari motornya dan menekan bel rumah Rayna.
Apa-apaan, sih? Dia benar-benar keras kepala. Rayna geram, Kevano benar-benar tak ingin menjauhinya. Bahkan Kevano mengingkari janjinya sendiri karena sebelumnya pernah mengatakan tak akan mengganggunya lagi. Namun, nyatanya Kevano justru masih saja mengganggunya.
__ADS_1
Rayna menghela napas dan pergi menuju dapur. Dia mengambil segelas air minum dan pergi membuka pintu rumahnya saat Kevano terus saja menekan bel rumahnya. Dia benar-benar merasa risi. Sakit kepalanya baru saja membaik, tetapi mulai terasa lagi karena terus mendengar suara bel karena ulah Kevano. Rayna bergegas menghampiri Kevano.
Byur ....
Kevano terkejut saat Rayna menyiramnya dengan segelas air minum yang Rayna bawa. Kevano berpikir, Rayna akan membukakan pintu pagar rumahnya.
"Kenapa Aku disiram?" tanya Kevano merasa bingung. Kevano bahkan baru saja sampai di depan rumah Rayna dan tak membuat ulah apapun, tetapi Rayna justru menyambutnya dengan siraman air.
"Kenapa? Kamu nggak suka? Kalau nggak suka, silahkan pergi dari sini! Tuan rumah di rumah ini, lagi nggak terima tamu!" tegas Rayna dan berbalik meninggalkan Kevano.
Rayna membulatkan matanya dan berlari menuju pintu rumahnya. Dia berpikir Kevano akan berbuat jahat padanya mengingat di rumahnya sedang tak ada siapapun selain dirinya.
Rayna terkejut dan mencoba memberontak saat Kevano memegang tangannya dan menarik tubuhnya ke pelukan Kevano.
__ADS_1
"Tolong, jangan menghindar! Tolong maafin Aku. Maaf untuk kejadian semalam," ucap Kevano.
Rayna yang tengah mencoba memberontak pun menjadi diam mendengar ucapan Kevano. Merasa tak ada penolakan lagi dari Rayna, Kevano melepaskan pelukannya. Kevano menatap Rayna dan memegang bahu Rayna.
"Tolong, Rayn. Aku tahu, selama ini Aku udah banyak bikin kesalahan. Aku sering nyakitin Kamu. Tapi, tolong percaya sama Aku! Aku nggak pernah ada niat kayak gitu. Aku sayang sama Kamu," ucap Kevano.
Kevano terus meminta maaf dan meyakinkan Rayna agar percaya pada semua ucapannya, agar Rayna percaya bahwa perasaannya tak pernah main-main. Dia menyayangi Rayna, bahkan mungkin lebih dari sekedar sayang. Kevano sadar betul perasaannya sudah terlalu jauh terhadap Rayna. Sampai saat ini dia hanya tak mengerti, bagaimana caranya mengambil hati Rayna dan membuat Rayna mau memaafkan semua kesalahannya. Cara apapun sudah dia coba lakukan agar bisa mengambil Rayna. Namun sialnya, dia tak pernah berhasil. Rayna benar-benar tak mudah dia dapatkan.
Mata Rayna memerah. Bukan rasa bahagia yang dia rasakan saat lagi-lagi mendengar ucapan cinta dari Kevano. Rayna justru merasa sedih. Dia sendiri tak mengerti tentang perasaannya terhadap Kevano. Ada sesuatu yang sulit dia jelaskan tentang perasaannya saat melihat Kevano bersama Mita semalam.
"Aku mungkin nggak ngerti cinta seperti apa. Tapi, yang Aku lihat dari orangtua ku, mereka selalu menjaga perasaan satu sama lain, mereka nggak pernah saling nyakitin. Papa ku cinta sama Mommy, dia nggak pernah nyakitin Mommy dan nggak akan pernah tega nyakitin Mommy Aku," ucap Rayna.
"Apalagi sampai bikin nangis! Nggak akan mungkin!" tegas Rayna dan pergi meninggalkan Kevano. Untuk sesaat Kevano terdiam. Namun sesaat kemudian dia membuka suara dan membuat Rayna menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Kamu benar. Seseorang yang tulus mencintai pasangannya, nggak akan mungkin tega menyakiti perasaan pasangannya. Kamu bilang, Kamu nggak ngerti cinta seperti apa? Rasa sakit terkadang terjadi karena sebuah kesalahan yang tak sengaja dilakukan. Aku mungkin bersalah di masa lalu, pertemuan kita bahkan mungkin tak semanis pertemuan Mommy dan Papa Kamu. Tapi, perlu kamu tahu, Rayn. Cinta tak selalu tentang yang manis. Terkadang, dalam mencintai, akan selalu terselip rasa sakit. Jika tak begitu, bagaimana bisa kita mengerti artinya bahagia? Seperti hidup, tak selalu kebahagiaan yang kita rasakan. Begitupun cinta," ucap Kevano dan pergi meninggalkan Rayna.
Rayna tak berbalik, dia enggan melihat Kevano dalam keadaannya seperti itu.