Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 120


__ADS_3

Rayna menelan air liurnya. Tak ada candaan di mata Kevano. Kevano benar-benar tampak serius mengatakan semuanya. Dia baru tahu, ternyata Kevano bisa seserius itu. Bahkan selama menikah, Kevano selalu menjahilinya dan bercanda.


Rayna mendekati Kevano dan menyandarkan kepalanya di dada Kevano.


"Aku sayang kamu," ucap Rayna.


Kevano tersenyum dan mengangkat tubuh Rayna. Rayna pun tersenyum. Sudah dapat ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Kevano membaringkan Rayna di atas tempat tidur dan tersenyum penuh arti melihat Rayna.


"Iya, boleh," ucap Rayna yang seakan mengerti keinginan Kevano.


Kevano pun tersenyum dan dengan cepat mengganti lampu kamar dengan lampu tidur. Dan yang terjadi selanjutnya, tak perlu lagi dikatakan. Sama halnya seperti saat malam pertama, hari-hari berikutnya pun mereka tak cukup bercinta hanya sekali. Malam pun selalu terasa lebih panjang jika keduanya sudah bertemu dan saling melepaskan kerinduan.


*****


Sudah satu minggu sejak honeymoon sederhana yang Kevano berikan untuk Rayna. Kevano memang belum bisa mengajak Rayna bulan madu ke luar negeri, karena dirinya masih disibukkan dengan jadwal kerjanya. Begitupun dengan Rayna. Untuk saat ini dia lebih mementingkan kuliahnya.


Kini Rayna tengah berada di Depok, karena Kevano lagi-lagi harus meninggalkannya ke luar kota. Begitulah resiko menikah dengan pekerja seni, terkadang tak banyak waktu yang bisa dilewati bersama.


Rayna ada tugas kuliah, dia pun merasa suntuk dan memilih mengerjakannya di luar. Dia pergi ke salah satu kafe kecil tetapi terasa nyaman dan biasa dijadikan tempat nongkrong anak-anak muda. Dia memilih kursi paling pojok, di mana di sana terdapat sesuatu yang dia butuhkan. Yaitu colokan listrik.


Rayna menyiapkan laptopnya, dia akan mulai mengerjakan tugasnya. Suasananya terasa sejuk malam itu. Dia begitu menikmati suasana di kafe tersebut.


Di tengah kegiatannya, Rayna mendengar suara tawa cukup keras seorang wanita yang dia kenal. Sontak Rayna melihat ke arah wanita itu dan benar saja dia mengenal wanita itu.


"Byanka?" gumam Rayna.


'Sejak kapan Byanka keluar dari penjara?' batinnya.

__ADS_1


Ya, orang itu adalah Byanka. Rayna merasa heran, kenapa Byanka bisa ada di luar? Bahkan bisa berkeliaran di luar. Bukankah Byanka di dalam penjara? Bahkan waktu hukuman Byanka masihlah panjang, dan ini belum ada tiga bulan tetapi Byanka sudah bebas dari penjara.


Rayna terus memperhatikan gerak-gerik Byanka, di mana meja Byanka hanya terpaut beberapa meja saja. Byanka tampak tertawa lepas. Seketika Byanka melihat ke arah Rayna dan mengerutkan dahinya. Rayna menghela napas panjang ketika Byanka melangkah menghampirinya.


"Mau apa dia?' batin Rayna.


"Rayna? Kamu Rayna bukan?" tanya Byanka sok akrab sambil memperhatikan Rayna dengan seksama.


Rayna mengalihkan pandangannya tak suka.


"Aku Byanka, kamu masih ingat aku dong pastinya?" ucap Byanka.


Rayna menghela napas dan tersenyum palsu.


"Tentu saja aku ingat, kamu adalah orang yang fitnah aku. Oh ya, gimana kabarmu? Kenapa ada di sini? Bukankah kamu di rumah baru mu? Ah, ya. Maksudku, di karantina. Oh maaf, salah ya, maksudnya bukankah kamu di dalam sel?" ucap Rayna menyindir. Entah mengapa malam itu dia menjadi banyak bicara dan tak bisa menahan rasa kesalnya pada Byanka. Melihat wajah Byanka tentu saja mengingatkannya pada kejadian memalukan saat itu.


Byanka tersenyum dan duduk berhadapan dengan Rayna.


Rayna mengerutkan dahinya. 'Gimana bisa?' batin Rayna.


"Untuk kejadian waktu itu, itu adalah masalalu. Anggap aja nggak pernah terjadi apapun. Aku pun melupakan, bahwa aku pernah berada di bui untuk beberapa bulan. Aku menganggapnya sebagai liburan," ucap Byanka santai.


Rayna mengepalkan tangannya. Byanka berucap begitu santai. Dan apa katanya? Lupakan saja dan anggap tak pernah terjadi? Apa Byanka sudah gila? Bisa-bisanya berucap sesantai itu tanpa rasa bersalah ataupun rasa malu.


"Oh, ya. Aku ucapakan selamat atas pernikahanmu. Akhirnya kamu menikah dengan Pria yang pernah melecehkanmu. Setidaknya, kamu nggak terlalu merasa malu," ucap Byanka.


Rayna mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ingin rasanya menampar mulut Byanka yang lancang sekali.

__ADS_1


"Kevano mungkin pernah membuatku merasa malu. Tapi, ketika aku mengenalnya, ternyata ada sisi lain yang orang lain nggak pernah tahu. Dan itu hanya aku yang tahu. Dan aku beruntung, karena kejadian itu aku dipertemukan dengan Kevano. Oh ya, untuk kejadian fitnah saat itu juga. Di situ aku belajar satu hal tentang betapa luar biasanya hati Kevano. Kamu tahu kenapa? Fitnah kehamilanku saat itu, mendorongnya untuk menikahiku. Dia memperlakukanku dengan sangat baik setelah kami menikah. Dia benar-benar memanjakanku," ucap Rayna bangga. Meski dalam hati Rayna tersimpan rasa kesal yang luar biasa.


"Luar biasa apanya? Tentu saja dia mau sama kamu. Dengar ini Rayna, seorang pria lebih pintar memanfaatkan peluang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Jadi, kenapa juga dia harus menyia-nyiakan peluang itu?" ucap Byanka merasa heran.


Dia heran, lelaki seperti Kevano saja harus dibanggakan. Karena Byanka sempat mencari tahu seperti apa suami Rayna ketika dirinya mendengar kabar tentang pernikahan Rayna. Byanka pun mencari tahu tentang kehidupan Kevano.


"Kamu nggak akan ngerti Byanka. Pria yang nggak punya perasaan apapun, nggak akan mau menikahi wanita hamil. Saat itu yang Kevano tahu aku hamil, bahkan nggak jelas siapa ayah dari bayiku saat itu. Dan pada kenyataannya, dia datang melamarku, dia nggak maubuat aku dan keluargaku malu. Dia samping itu, itu karena dia juga mencintaiku. Sekarang aku tanya, apa kamu pernah bertemu pria seperti itu?" Rayna menatap Byanka dengan serius.


Seketika Rayna tersenyum saat Byanka diam membisu.


"Nggak pernah bukan? Bahkan kamu bertemu dengan pria yang benar-benar memanfaatkanmu, lalu meninggalkanmu di saat dia udah dapetin apa yang dia mau," ucap Rayna tersenyum menyindir.


"Apa maksudmu?" tanya Byanka merasa tersinggung. Mendengar ucapan Rayna, membuat Byanka berpikir Rayna tahu sesuatu tentang kehidupannya.


"Bukan apa-apa, lupakan," ucap Rayna berkilah.


Srek ...


Byanka menggeser kursi yang didudukinya dengan cukup keras. Sehingga menimbulkan suara yang cukup keras juga dan memancing perhatian beberapa pengunjung lainnya. Dengan kesal dia meninggalkan Rayna.


Rayna pun tersenyum penuh kemenangan. Mungkin ucapannya jahat, tetapi dia hanya ingin Byanka tahu bahwa dia bukanlah wanita yang lemah yang akan diam saja ketika harga dirinya diinjak. Sudah cukup Byanka mempermalukannya saat itu.


Beruntungnya, saat pertama kali Rayna melihat Byanka dan Guriko di sebuah restoran, di mana ketika itu Guriko menampar Byanka dengan cukup keras dan terdengar ungkapan kemarahan Guriko tentang Byanka yang sudah mengkhianatinya dengan tidur bersama pria lain.


Sungguh menggelikan, dia bersikap sok suci. Menganggap orang lain buruk, tanpa dia sadar bagaimana kelakuannya, batin Rayna.


Rayna pun memilih menyelesaikan tugasnya dan kembali ke rumah.

__ADS_1


Keesokan paginya.


Rayna membuka matanya perlahan, dia bangun perlahan dan merasakan kepalanya berat. Dia turun perlahan dari tempat tidur sambil memegang kepalanya. Entah mengapa pagi itu tak seperti biasanya. Dia biasa tidur cepat dan bangun dengan perasaan bugar di pagi hari, tak pernah merasakan sepusing itu.


__ADS_2