
Kevano menarik Rayna ke dekat pepohonan besar, di mana di sana terdapat sebuah bangku taman. Kevano mengajak Rayna duduk di sana.
"Kenapa? Jangan bilang kamu nggak siap punya anak," ucap Kevano mendadak cemas.
Dia mengerti Rayna masih muda, tentu saja masa depannya masih panjang. Namun, kehamilan bagi seorang istri adalah wajar. Kevano pun tak mempermasalahkan jika dirinya harus menjadi ayah di usianya yang masih muda.
Rayna masih tetap diam, membuat Kevano tak mengerti apa maksud diamnya Rayna.
Kevano menggenggam tangan Rayna, dia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Dengar, ya. Kita kan udah nikah, kamu seorang Istri dan aku seorang Suami. Anak itu salah satu anugerah yang pastinya diidamkan oleh semua pasangan Suami Istri. Dan bersyukur, kita dikasih secepat ini. Coba bayangin, apa nggak asik. Kita masih muda, dan anak kita jadi kelihatan kayak adek kita kalau udah gede nanti," ucap Kevano terkekeh. Kevano mencoba menghibur Rayna. Dia berpikir Rayna tak mau menerina kehamilannya.
Rayna pun tersenyum tipis.
"Jadi, jangan dibuang, ya, bayi kita. Aku Sayang sama kamu. Pernah dengar nggak, ada Ibu yang juga ikut meninggal pas aborsi anaknya? Asli sih, itu serem banget. Atau kamu tahu, kan. Di film-film horor, yang anaknya dibunuh waktu masih di perut, terus digentayangin ibunya sama anaknya? Itu bukan sekedar fiksi, lho. Sebagian ada kisah nyata, kamu mau dihantuin bayi nggak berdosa itu? Atau kamu mau, kamu dihantui rasa bersalah seumur hidup kamu?" ucap Kevano.
Rayna menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan.
Ngomong apa, sih, dia? batin Rayna.
Rayna tak mengerti apa maksud ucapan Kevano. Kenapa suaminya itu jadi bicara ke sana kemari?
"Kalau kamu nggak mau urus anak kita, aku aja yang urus, aku rela, kok," ucap Kevano memelas.
"Maksudnya, kamu mau gantiin hamilnya? Emang kamu mau ngidam? Aku berasa mual, lho, dari kemarin pagi. Kamu mau emang ngerasain semua itu?" tanya Rayna.
Kevano terdiam, berat juga pertanyaan Rayna.
Maksudnya tak seperti itu, tentu saja maksudnya adalah dia rela merawat bayinya setelah lahir nanti. Lagi pula, bagaimana mungkin pria bisa hamil? Entah apa yang merasuki Rayna hingga bisa bicara seperti itu.
Kevano pun tak ingin berdebat dan mengangguk saja
"Iya, aku rela. Nggak apa-apa, kok. Aku rela, demi kamu. Buat kamu apa, sih, yang nggak?" ucap Kevano tersenyum.
Rayna tersenyum. Kevano benar-benar lucu.
"Ya udah, mulai besok, kamu aja yang hamil. Kamu yang ngidam, kamu yang mual-mual," ucap Rayna bercanda.
"Hm ... Tapi, kalau gitu, gimana aku bisa kerja? Mau makan apa kita? Biaya service apartemen, kan, juga pake uang. Belum lagi bayar listrik, air, bayar bibi. Belum lagi biaya lahiran, kan? Itu semua pake uang, Sayang. Tabunganku mungkin cukup untuk beberapa bulan, abis itu gimana? Masa iya, aku nggak kerja-kerja. Mau dikasih apa anak kita nanti?" ucap Kevano memasang wajah sedih.
Rayna terkekeh. Entah percakapan macam apa yang sedang dia lakukan bersama suaminya itu.
"Eh, bentar. Coba, aku mau pegang bayi kita. Bayi itukan, suka bergerak di perut ibunya," ucap Kevano sambil menyentuh perut Rayna.
Puk ...
Rayna memukul tangan Kevano.
"Ya ampun, dia masih kecil. Belum besar, belum ada nyawanya, belum bisa gerak," ucap Rayna terkekeh geli.
Kevano pun terkekeh dan memeluk Rayna penuh sayang.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu nggak sejahat itu. Pada dasarnya, hati kamu udah baik sejak lahir. Jadi aku yakin, kamu nggak akan setega itu nyingkirin bayi yang nggak berdosa," ucap Kevano.
"Lagian, siapa yang mau buang bayi kita? Aku senang, kok. Aku juga bahagia," ucap Rayna tersenyum.
"Aku tau," ucap Kevano tersenyum dan melepaskan pelukannya.
Rayna mengerutkan dahinya.
"Terus, kenapa tadi bilang gitu? Pemikiran kamu jauh banget, lho. Masa sampai ngira aku bakalan buang bayi aku," ucap Rayna.
"Oh ... Yang tadi itu. Bagus nggak?" tanya Kevano.
"Apanya?" tanya Rayna bingung.
"Aktingnya. Itu, tadi aku ngafalin naskah buat syuting film nanti, biar nggak canggung pas take nanti," ucap Kevano tersenyum.
Bugh ...
Kevano terkejut saat Rayna memukul bahunya.
"Jahat banget, sih. Aku udah baper, malah dijahilin," ucap Rayna.
Ha-ha-ha ...
Kevano tertawa tanpa merasa bersalah melihat Rayna merasa kesal. Rayna pun meninggalkan Kevano.
"Mau kemana, sih?" Kevano menahan tangan Rayna, membuat langkah Rayna terhenti.
"Emang bawa mobil? Aku lihat mobil ada di rumah tadi," ucap Kevano.
"Naik taksi," ucap Rayna masih dengan nada jutek.
"Nggak, nggak boleh. Kamu pulang sama aku," ucap Kevano.
"Aku nggak mau, kamu ngeselin," ucap Rayna.
"Ya ampun. Masa gitu aja marah, sih. Aku, kan, bercanda," ucap Kevano.
"Iya, aku tahu. Kamu udah bilang kan tadi akting, jadi udah tau kamu becanda. Akting mana ada yang serius, sih!" kesal Rayna.
"Astaga. Maksudnya bukan itu, aku bercanda bilang yang tadi itu akting. Aku serius, mana ada aku akting. Kalau aku lagi sama kamu, itu adalah sesuatu yang nyata. Entah itu ucapan ataupun perbuatanku. Lain diluar itu, aku akting hanya sebatas pekerjaanku. Masa iya kamu nggak ngerti," ucap Kevano.
"Gatau, deh. Aku kesel," ucap Rayna mencoba melepaskan tangan Kevano.
"Iya udah, aku minta maaf. Kamu mau aku gimana biar kamu mau maafin aku?" tanya Kevano.
"Gatau!" kesal Rayna.
Entah mengapa, meski Kevano sudah mencoba menjelaskannya tetapi Rayna masih saja kesal.
"Hadeuh ... Ya udah, boleh marah. Asalkan pulangnya tetep sama aku. Nggak boleh naik taksi, aku bawa motor," ucap Kevano sambil menarik tangan Rayna menuju motor yang terparkir.
__ADS_1
Rayna terlihat bingung karena tak melihat helm.
"Kamu nggak pake helm?" tanya Rayna.
"Lupa," ucap Kevano sambil nyengir.
"Terus, kita pulang nggak pake helm, dong?" ucap Rayna.
"Iya, udah nggak apa-apa. Masa iya, ini motor ditinggal di sini. Ya kali, kalau ini motor bisa terbang, udah aku taruh di rumah dari tadi," ucap Kevano.
"Isshhh ..." Rayna semakin kesal dibuatnya.
Kevano naik ke atas motor, dengan masih kesal Rayna pun ikut naik ke atas motor.
"Peluk aku, ya. Kamu inget, waktu itu kamu pernah mau terbang karena sok-sokan nggak mau peluk. Sekarang, kan, udah sah. Jadi, kamu nggak ada alasan buat nggak peluk aku. Nanti, kalau udah sampe rumah, gantian. Aku yang peluk kamu, biar adil," ucap Kevano terkekeh.
Plak ...
Rayna terkekeh sambil memukul punggung Kevano.
Ha-ha-ha ...
Kevano pun tertawa.
Sesaat kemudian dia tersenyum saat Rayna mulai memeluknya. Kevano pun mulai melajukan motornya.
***
Kevano melajukan motornya dengan pelan, dia tak ingin ambil resiko dan sebisa mungkin menahan egonya yang terbiasa membawa motor dengan kecepatan tak sepelan itu.
Rayna pun tak protes, dia begitu menikmati angin siang itu meski sebetulnya cuaca tampak terik. Dia tak takut kulitnya terbakar dan menjadi hitam. Dia justru merasa tenang memeluk Kevano. Jujur saja, dia merindukan Kevano.
*Puk!
Puk*!
Kevano tiba-tiba saja berhenti karena terkejut tiba-tiba Rayna memukul pundaknya cukup keras.
"Kamu kenapa, sih? Kamu ngagetin aku!" kesal Kevano.
"Jangan marah, aku mau itu," ucap Rayna menunjuk ke salah satu penjual rujak jalanan.
"Mau apa?" Kevano mengikuti pentunjuk jari Rayna yang mengarah pada penjual rujak itu.
"Rujak?" tanya Kevano.
"Iya," ucap Rayna mengangguk.
"Ya udah, iya," ucap Kevano dan menyebrang jalanan. Penjual rujak itu berada di sebrang jalan.
Rayna pun langsung memeluk Kevano kegirangan. Tak di sangka Kevano mau membelikan untuknya.
__ADS_1