
Rayna melihat dengan seksama saat penjual rujak itu mulai memotong buah-buahan.
"Sambalnya dipisah aja, Bang," ucap Rayna.
"Iya, Mbak."
Selesai membeli rujak, Kevano dan Rayna bersiap untuk pulang.
"Bentar, ya," ucap Kevano sambil melihat ponselnya.
"Ada apa?" tanya Rayna.
"Tadi aku ditilang. Aku cari jalan pintas dulu biar sampe ke rumah nggak ketemu Polisi lagi, ribet urusan sama Polisi," ucap Kevano.
"Ya udah," Rayna diam saja menunggu Kevano sampai menemukan jalan pintas tersebut.
"Pulang, yuk!" ajak Kevano.
Rayna naik ke atas motor dan mereka pun pulang ke rumah. Ternyata melewati jalan pintas bisa lebih cepat sampai di rumah.
*****
Sesampainya di rumah.
Rayna membuka rujak yang dia beli tadi. Dia simpan di piring dan dia siramkan sambalnya di atas potongan buah-buahan itu.
"Apa itu, Dek?" tanya Dania saat menghampiri Rayna.
"Rujak, Moms. Temenin ade makan, ya," ucap Rayna.
"Rujak? Ade makan itu?" ucap Dania.
Ya, sebelumnya Rayna tak pernah memakan rujak seperti itu.
"Ade lihat tadi, ada yang makan ini kayaknya enak banget," ucap Rayna.
"Oh gitu. Ya udah, makan deh. Nanti sore, Mommy pulang ke Jakarta, ya. Ade baik-baik, ya. Jaga makanannya, jangan makan fast food, nggak bagus buat Ibu hamil," ucap Dania.
"Buru-buru banget, Moms." Kevano menyahut dan ikut duduk bersama Rayna.
"Kasihan Papa, dia tidur sendirian," ucap Dania terkekeh.
Rayna dan Kevano pun tersenyum.
Rayna mencoba rujak itu. Dia mencoba menikmati setiap gigitan buah yang dicampur dengan sambalnya.
"Oh, rujak tuh rasanya kayak gini, ya?" ucap Rayna.
"Lah, emang kamu baru nyobain?" tanya Kevano. Kevano mengambil rujak tersebut dan ikut memakannya.
"Jangan diambil!" ucap Rayna sambil melotot melihat Rayna.
Kevano terkejut, karena buah itu sudah sampai di mulutnya.
"Minta satu doang," ucap Kevano.
"Issh ... Nggak boleh, ini punya aku," ucap Rayna mencoba mengambil piring rujak itu dan menjauhkannya dari Kevano.
"Ya ampun. Iya ... Iya ... Makan sendiri, deh. Abisin," ucap Kevano.
Tanggung amat satu doang, bikin pedes mulut doang, batin Kevano.
Rayna membawa rujak itu menuju ruang tamu. Dia memakannya sambil duduk santai di depan televisi.
Tak lama Kevano datang mendekatinya.
"Mau minta lagi?" tanya Rayna curiga.
"Apa, sih? Aku mau kasih air minum buat kamu. Kan nggak lucu, kalau kamu keselek rujak karena nggak bagi-bagi aku," ucap Kevano.
Rayna nyengir, dia sudah salah sangka rupanya. Karena kepedasan Rayna pun menghabiskan air minum yang Kevano bawakan. Gelas itu kini kosong, dan dia berikan kembali pada Kevano. Kevano melihat Rayna dengan bingung.
"Tolong ambilin lagi," ucap Rayna tersenyum.
"Hm ..." Kevano pun meletakan gelas itu di atas meja, membuat Rayna merasa heran.
Kevano beranjak dari duduknya dan mengisi air minum ke dalam poci kristal. Dia membawanya ke ruang tamu dan meletakannya di atas meja.
__ADS_1
"Biar nggak bolak-balik," ucap Kevano tersenyum.
Rayna pun tersenyum dan melanjutkan memakan rujaknya.
Waktu berlalu.
Dania sudah siap untuk kembali ke Jakarta. Dia memeluk Rayna dan mengusap perut Rayna.
"Jaga cucu Mommy baik-baik," ucap Dania.
Rayna mengangguk.
"Hati-hati, Moms. Salam sama Papa," ucap Kevano.
"Oke ..." Dania masuk ke mobilnya dan melajukan mobilnya. Rayna dan Kevano menunggu sampai mobil Dania benar-benar tak terlihat lagi.
Kevano merangkul Rayna dan mengajak Rayna masuk ke rumah.
"Aku mau keluar," ucap Rayna.
"Ke mana?" tanya Kevano.
"Ke mana aja. Yang jelas keluar," ucap Rayna.
"Ke mana, ya? Makan di luar?" tanya Kevano.
"Boleh,"
"Ya udah. Malam aja, ya. Sekalian dinner di luar," ucap Kevano.
Rayna mengangguk.
"Aku ke kamar, ah." Rayna pergi menuju kamarnya dan diikuti oleh Kevano.
Sesampainya di kamar, Rayna tersentak saat Kevano menutup pintu kamar dan menguncinya. Rayna melihat Kevano penuh selidik.
He-he-he ... Kevano pun nyengir melihat Rayna.
"Masih sore, ya," ucap Rayna seakan mengerti isi kepala Kevano.
"Peluk aja, dong. Aku kangen, lho," ucap Kevano.
"Kenapa, sih?" Rayna menatap Kevano dengan tatapan tajam. Rayna semakin sensitif.
"Aku mau nepatin janji aku tadi," ucap Kevano.
"Janji apa?" Rayna tampak bingung. Kevano pernah berjanji apa? Pikirnya.
"Janji gantian peluk kamu kalau udah sampe rumah. Sini, sekarang aku peluk!" Kevano merentangkan tangannya berharap Rayna memeluknya.
Rayna tersenyum dan duduk di atas paha Kevano, Rayna pun memeluk Kevano.
Kevano sedikit terkejut, karena posisi Rayna seperti itu.
"Apa kamu ada rencana ke luar kota lagi?" tanya Rayna.
"Hm ... Kenapa emang?" tanya Kevano.
"Nggak apa-apa, nanya aja," ucap Rayna tersenyum.
"Kamu nggak mau aku tinggal, ya?" Kevano menatap Rayna dan mengaitkan rambut Rayna di belakang telinga.
Rayna mengangguk dan memeluk Kevano.
"Sabar, ya. Abis semuanya selesai, aku akan ajak kamu liburan," ucap Kevano.
"Serius?" tanya Rayna antusias.
"Iya. Kamu mau kemana?" tanya Kevano.
"Keliling dunia, ke beberapa negara yang belum pernah aku datangi," ucap Rayna antusias.
"Hm ... Iya," ucap Kevano tersenyum.
'Nabung lagi, deh, buat keliling dunia,' batin Kevano.
Keluar negeri saja bisa menghabiskan puluhan juta, bahkan mungkin ratusan juta. Dan Rayna meminta keliling dunia.
__ADS_1
'Jebakan Batman. Kenapa juga nanya mau kemana? Dia jadi minta keliling dunia, kan,' batin Kevano.
Sesaat kemudian Kevano tersenyum.
"Rayn!"
"Hm ..."
Keduanya saling tetap, dan wajah keduanya begitu dekat.
"Cium, dong!" pinta Kevano.
Cup ...
Cup ...
Rayna mencium pipi kanan dan pipi kiri Kevano.
"Lagi!" pinta Kevano.
Cup ...
Rayna mencium dahi Kevano.
"Lagi!" pinta Kevano lagi.
"Apa? Bibir?" tanya Rayna.
Kevano tersenyum dan mengangguk.
Tanpa menjawab ucapan Kevano, Rayna pun mencium bibir Kevano. Rayna memainkan bibirnya untuk sesaat di bibir Kevano. Dia menghentikan ciumannya saat tak mendapatkan respon apapun dari Kevano.
"Kok diem aja, sih?" ucap Rayna protes. Yang benar saja, dirinya yang main sendirian sedangkan Kevano hanya diam.
"Oh, aku harus apa, dong?" tanya Kevano sok polos.
"Gini!" Rayna kembali mencium bibir Kevano dan memainkannya lagi di sana. Seolah Rayna tengah mengajari Kevano caranya berciuman.
Kevano tersenyum dalam hati. Rayna tampak tak malu-malu. Kevano pun membalas ciuman Rayna.
Setelah itu, Rayna memilih mandi dan Kevano menunggu gilirannya mandi.
Jam makan malam tiba..
Rayna dan Kevano sudah berada di salah satu restoran. Mereka akan memulai acara makan malam.
"Suapin aku!" ucap Rayna memberikan sendok dan garfu miliknya pada Kevano.
Kevano tersenyum dan menyuapi Rayna. Rayna pun senang dalam hati. Entah mengapa, dia menjadi lebih berani meminta sesuatu pada Kevano.
Sambil menyuapi Rayna makan, Kevano pun ikut memakan makanan miliknya. Sehingga keduanya selesai makan malam secar bersamaan. Kevano senang karena Rayna menghabiskan makanannya.
Setelah itu, mereka pulang ke rumah.
Di perjalanan menuju rumah.
"Sayang! Seru kali, ya. Kalau kita honeymoon, di Villa di dataran tinggi gitu. Sejuk pastinya," ucap Kevano sambil mengemudikan mobilnya.
"Hm ..." Rayna tak mengatakan apapun.
"Atau kamu mau ke daerah pantai? Atau ke luar negeri saat musim salju?" tanya Kevano.
"Aku, sih, kemana aja yang penting sama kamu," ucap Kevano tersenyum.
Kevano yang tengah fokus menyetir tiba-tiba saja mendengar deruan napas yang cukup keras dan sontak melihat ke arah Rayna.
"Astaga ... Aku ngomong dari tadi, dia malah tidur," ucap Kevano.
Ternyata Rayna tertidur di mobil dan tak mendengarkan Kevano bicara sejak tadi.
Kevano meminggirkan mobilnya dan mengatur kursi mobil Rayna hingga Rayna terlentang. Tiba-tiba saja Rayna memeluk Kevano, Kevano pun mencoba melepaskan pelukannya tetapi Rayna semakin erat memeluknya.
"Rayn, jangan di sini. Nanti aja di rumah, ya," ucap Kevano. Seakan Rayna mendengar ucapannya, Rayna langsung melepaskan pelukannya dengan mata masih terpejam. Kevano pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah.
Sesampainya di rumah.
Kevano mengangkat tubuh Rayna masuk ke rumah. Rayna tak bergeming sama sekali seakan tidurnya tak merasa terganggu.
__ADS_1
Ini badan atau apaan, sih? Masa ringan banget, inimah sama aja kayak aku pegang gitar sendiri, gumam Kevano.