Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 63


__ADS_3

Guriko terdiam menatap Rayna. Dia tak mengerti maksud ucapan Rayna. Guriko sontak mengerutkan dahinya. Rayna terkekeh tertahan karena takut terdengar oleh orang lain.


"Tapi, bohong," ucap Rayna. Guriko menajamkan tatapannya. Sementara Rayna semakin ingin tertawa melihat ekspresi Guriko.


"Kamu asyik juga ternyata," ucap Guriko. Rayna tersenyum tipis. "Kenapa?" tanya Guriko. "Apanya?" tanya Rayna balik.


"Kamu udah nggak takut lagi sama aku?" tanya Guriko. "Aku nggak pernah takut sama kamu," ucap Rayna. "Benarkah? Tapi, kamu seakan menghindar saat pertama kali kita kenal," ucap Guriko. "Oh, ya?" Rayna tersenyum. Guriko pun mengangguk. "Aku terbiasa sendiri. Temanku hanya Abangku. Karena itu, aku nggak terbiasa sama oranga sing," ucap Rayna. Lagi-lagi Guriko mengangguk.


"Kalau begitu, mulai sekarang, anggap saja aku temanmu," ucap Guriko. "Kenapa kamu mau berteman sama aku?" tanya Rayna. "Karena aku senang berteman dengan siapa saja," ucap Guriko. Rayna pun mengangguk.


"Oh, ya. Gimana pacarmu?" tanya Rayna. "Pacar yang mana?" tanya Guriko bingung. Rayna mengerutkan dahinya. "Memangnya, kamu punya pacar berapa?" tanya Rayna bingung. "Nggak punya," jawab Guriko. "Byanka?" tanya Rayna.


Guriko terdiam, dia menghela napas berat, membuat Rayna semakin kebingungan.


"Mantan," ucap Guriko. "Benarkah?" tanya Rayna penasaran. "Ya, apa aku terlihat berbohong?" tanya Guriko sambil menatap Rayna dalam. "Entahlah," ucap Rayna sambil menggidigkan bahunya. "Kamu bisa lihat dari mata aku. Apa aku berbohong?" ucap Guriko. "Aku nggak tahu. Bisa nggak, sih, jangan seperti itu," ucap Rayna. "Seperti apa?" tanya Guriko sambil tersenyum mengejek. Dia merasa gemas melihat Rayna yang menjadi salah tingkah.


Guriko menjauh dari Rayna dan akan naik menuju pembatas balkon rumahnya. "Hei1 mau kemana?" tanya Rayna. "Pulang," jawab Guriko. "Tumben, nggak nunggu?" tanya Rayna. "Nunggu diusir?" ucap Guriko. Rayna terkekeh. "Sudah aku bilang, aku selalu tahu apa yang kamu pikirkan. Karena itu, dari pada nunggu diusir, mending aku pulang sendiri," ucap Guriko. Rayna pun tersenyum dan menunggu Guriko melompat menuju balkon rumahnya, setelah itu Rayna masuk ke kamarnya.


Rayna merebahkan tubuhnya, ingatannya kembali pada Kevano. Dia mengambil ponselnya dan melihat kontak terblokir, ada nama Kevano di sana. Pikirannya berkecamuk, entah apa yang ada di pikirannya, ia pun tak mengerti.

__ADS_1


*****


Keesokan harinya.


Jam makan siang, Randy dan Bella sudah berada di salah satu Restauran. Mereka tengah melanjutkan meeting yang sempat tertunda malam kemarin.


"Saya harap, Proyek kali ini berjalan lancar. Meski Saya baru terjun di bidang ini, tetapi Saya akan berusaha bekerja keras layaknya Almarhum Papa Saya," ucap Randy. "Saya harap juga begitu," ucap Bella.


"Oh, ya. Maafkan Saya," ucap Bella. "Untuk?" tanya Randy. "Untuk apa yang Kakak Saya perbuat. Dia hanya salah paham," ucap Bella. "Sudah lah, semuanya sudah berlalu. Dia pun sudah mendapatkan hukumannya," ucap Randy. Randy memang sudah memaafkan Christian, Christian pantas menghukumnya atas apa yang dia lakukan di masalalu. Hanya saja, setiap perbuatan tentunya akan ada konsekuensinya, dan Christian sudah menjalani hukumannya.


"Saya harap, kejadian di masalalu, tidak mengganggu kerjasama kita," ucap Bella. "Saya pebisnis profesional. Tentu, Saya tidak akan mencampur adukkan masalah pribadi ke dalam masalah pekerjaan. Lagi pula, seperti apa yang Saya katakan, semuanya sudah masalalu. Dan, Saya justru yang minta maaf atas apa yang Saya lakukan di masalalu terhadap Anda," ucap Randy.


Sungguh lucu pikirnya, begitu nakalnya dia saat remaja dulu, beruntunglah Bella tak memiliki dendam padanya. Bella memang terlihat wanita yang baik, dia begitu profesional dalam urusan pekerjaan.


"Oh, ya. Apa Anda mau menemani Saya makan siang?" tanya Bella. Randy melihat jam tangannya, dia sudah memiliki janji sebelumnya untuk makan di rumah bersama Dania. Namun, Randy pun tak enak hati jika harus menolak tawaran Bella. Dia menganggap tak ada salahnya makan siang bersama klien, tentu itu hal biasa dan wajar dilakukan.


"Baiklah, Saya permisi ke toilet sebentar," ucap Randy. "Tentu, silahkan," ucap Bella. Randy beranjak dari duduknya dan pergi menuju toilet, dia menghubungi Dania dan membatalkan janji makan siang bersama di karenakan tak enak jika menolak ajakan kliennya. Dania pun memaklumi, dia memang tak pernah melarang Randy makan siang bersama kliennya, baik itu perempuan maupun pria. Tentu saja, Dania kini sudah tak muda lagi, pikirannya pun semakin matang. Dia percaya sepenuhnya pada Randy. Selama 20 tahun pernikahan mereka, Randy pun tak pernah berbuat hal gila di belakangnya. Dia percaya, Randy menyayanginya dan juga keluarganya. Tentu Randy akan berpikir ribuan kali untuk mengkhianati keluarganya.


******

__ADS_1


Di kampus.


Rayna dan temannya baru saja meninggalkan kelas, dia pergi menuju Parkiran tetapi belum ada mobil Stefie yang menjemputnya. Rayna menghubungi Stefie, ternyata Stefie sedang terjebak macet hingga dia akan terlambat datang ke kampus. Rayna duduk di kursi taman sambil menunggu Stefie, sedangkan temannya sudah pulang terlebih dulu.


Rayna terkejut saat tiba-tiba ada yang menyodorkan sebotol minuman dingin padanya, dia melihat orang itu yang ternyata adalah Guriko.


"Aku nggak terima minuman dari orang asing," ucap Rayna dingin. "Apa kamu lupa?" tanya Guriko. Rayna menatap bingung Guriko, seolah mempertanyakan maksud dari pertanyaan Guriko. Guriko menghela napas dan duduk di sebalah Rayna.


"Kita baru saja resmi berteman, bukan?" tanya Guriko. "Apa semalam aku setuju jadi teman kamu?" tanya Rayna balik. Guriko mengangguk.


"Sudah aku bilang, meski kamu nggak bilang, aku tahu isi hati kamu. Mana mungkin kamu akan menolak tawaran pria seganteng aku," ucap Guriko dan tersenyum lebar. "Isshhhh ... Ge-er banget." Rayna memutar bola matanya. Sebetulnya, dia pun hanya bercanda. Rayna mengambil minuman tersebut. Dia membuka botol minuman tersebut dan menenggaknya.


"Hei! Itu minumanku," ucap Guriko.


Rayna terkejut dan sontak meyemburkan minuman di mulutnya ke wajah Guriko. "Astaga! Apa yang kamu lakukan?" tanya Guriko kesal. "Apa? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu nggak bilang?" Rayna begitu terkejut, dia justru meminum minuman bekas Guriko. Rayna mengambil tisu yang ada di dalam tasnya dan me-lap mulutnya.


"Benar-benar nyebelin!" gerutu Rayna. "Salah sendiri main minum aja," ucap Guriko. "Kamu harusnya bilang," kesal Rayna. "Aku bilang," ucap Guriko. "Kamu telat bilangnya," ucap Rayna. "Ya ampun, harusnya kamu sadar, botol itu udah nggak tersegel. Benar-benar ceroboh," ucap Guriko. "Kamu nggak kena penyakit menular, kan?" tanya Rayna. "Maksud kamu?" tanya Guriko bingung. "Ya, kamu nggak kena rabies, kan?" tanya Rayna.


Guriko membulatkan matanya mendengar ucapan Rayna. Bisa-bisanya Rayna menuduhnya terkena penyakit rabies.

__ADS_1


__ADS_2