Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 140 (Bijaklah memilih bacaan)


__ADS_3

"Kita belum makan. Kok, pulang?" ucap Rayna.


Dia sudah menyiapkan dirinya untuk makan malam bersama Kevano malam ini. Akan sangat menyebalkan jika tak sempat makan malam dan justru pulang ke apartemen.


Kevano terkekeh. Dia menunduk menatap Rayna.


"Laper, ya?" tanya Kevano.


Rayna mengangguk sambil mengerucutkan bibirnya.


Kevano kembali duduk, dia memanggil pelayan.


"Aku bercanda, kok," ucap Kevano tersenyum.


"Nggak lucu," ucap Rayna masih sambil cemberut.


Rayna dan Kevano memesan makanan. Kemudian melanjutkan makan malam bersama.


Selesai makan malam, Kevano dan Rayna memilih kembali ke apartemen. Musik menemani kesunyian di mobil itu selama perjalanan.


'Dan kau hadir merubah segalanya


Menjadi lebih indah, kau bawa cintaku


Setinggi angkasa, membuatku merasa sempurna.


Dan membuatku utuh, tuk menjalani hidup berdua denganmu selama-lamanya, kaulah yang terbaik untukku ...


Itu suara Kevano, yang juga ikut menyanyikan lagu yang diputar di tape mobil tersebut.


"Enak, ya, lagunya," ucap Kevano.


"Rayn!" Kevano melihat ke arah Rayna.


"Astaga! Tidur lagi, tidur terus, tinggal tidur aja terus ..." ucap Kevano saat melihat Rayna tertidur.


Dia tak habis pikir, Rayna selalu tertidur di mobil.


Kevano melanjutkan perjalanan, hingga sampai di apartemen dia membangunkan Rayna.


"Aku ngantuk ..." ucap Rayna sambil masih memejamkan matanya.


"Terus? Mau gendong?" tanya Kevano.


Rayna mengangguk dan tersenyum.


Kevano mencoba menggendong Rayna.


"Wah, apaan, nih isinya? Berat amat," ucap Kevano ketika Rayna sudah berada digendongannya.


Rayna membuka matanya, dia mencubit lengan Kevano.


"Anak kamu, memangnya apa lagi?" ucap Rayna.


Kevano terkekeh. Rayna menjadi ikut terkekeh dan justru kehilangan rasa kantuknya.


Begitu akan memasuki lift, Kevano kesulitan masuk karena ada beberapa pengguna lift yang berada lebih di dulu di dalam lift. Dia menurunkan Rayna, dan menuntun Rayna untuk masuk ke lift.

__ADS_1


"Yah ..." Semua orang tampak kaget ketika tak lama lift itu mulai naik, tetapi berhenti dan seketika lampu padam.


Terdengar pemberitahuan, bahwa ada masalah pada liftnya. Pengguna lift diharapan untuk tenang, dan tengah dilakukan perbaikan.


Kevano mengambil ponselnya, kemudian menyalakan senter hingga ruangan lift tampak terang. Adanya orang lain di sana selain Kevano dan Rayna, membuat lift itu semakin sesak. Rayna yang tengah hamil pun menjadi kepanasan setelah lima menit kemudian tetapi perbaikan belum juga selesai.


"Tenang, oke. Tarik napas," ucap Kevano mencoba menenangkan Rayna.


"Aku nggak tahan, aku nggak kuat kepanasan," ucap Rayna gelisah.


"Iya, iya ... Aku tahu," Kevano menekan tombol darurat, tetapi pemberitahuan lagi-lagi meminta semuanya untuk tenang dan masih dilakukan perbaikan.


"Wah, sial ini. Lama amat," kesal Kevano.


"Aku kepanasan, tolongin," ucap Rayna merengek, membuat Kevano kebingungan.


Kevano meniup bagian leher Rayna, berharap Rayna tak merasa kegerahan lagi. Rasanya, yang paling heboh di dalam lift itu hanya Rayna dan Kevano.


"Nggak berasa, masih panas," ucap Rayna.


Kevano semakin bingung. Dia melihat pengguna lift yang lainnya yang ada di sana.


"Maaf, Istri Saya nggak kuat panas," ucap Kevano.


Mereka hanya tersenyum. Tak lama Kevano membuka satu persatu kancing kemejanya, dan melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Kevano tak memakai kaos dalam, sehingga perutnya yang benar-benar menggoda mata wanita itu langsung terlihat. Dia tak peduli pada orang selain dirinya dan Rayna. Yang jelas, dia tak ingin Rayna terus merengek.


Kevano mengibaskan kemajanya ke arah Rayna. Berharap Rayna tak terlalu kepanasan. Rayna hanya diam menikmati angin dari kemeja yang dikibaskan oleh Kevano.


Tak lama, lampu kembali menyala dan lift kembali berfungsi. Rayna melihat perut kotak+kotak Kevano dan segera memeluk Kevano. Karena tubuh Rayna kecil, wajah Rayna hanya sebatas dibawah dada Kevano. Kevano memang memiliki tubuh yang begitu tinggi. Tingginya bahkan memlebihi 180 centimeter.


"Kamu kenapa?" tanya Kevano bingung.


Kevano tersenyum dan tak lama lift sampai di lantai di mana unit apartemennya berada.


Rayna melepaskan pelukannya dan keluar dari lift bersama Kevano.


Kevano masih ingat ucapan Rayna saat di lift tadi.


"Rayn!"


"Hm ..." Rayna melihat Kevano sekilas.


Sesampainya di pintu unit apartemennya, Kevano menahan tangan Rayna ketika Rayna akan membuka kode pintu tersebut.


"Kenapa, sih?" tanya Rayna bingung.


Kevano tersenyum penuh arti, membuat Rayna memutar bola matanya.


Rayna menekan kode pintu dan masuk ke dalam apartemen.


"Nggak mau, aku capek," ucap Rayna memberikan jawaban atas senyuman Kevano tadi seolah Rayna mengerti apa yang ada di pikiran Kevano.


Kevano mengikuti Rayna, dia memegang gaun belakang Rayna layaknya anak kecil tengah memohon pada Ibunya.


"Aku kangen tau, Rayn," ucap Kevano masih terus mengikuti Rayna.


Rayna terkekeh, Kevano tersenyum dan menggendong Rayna menuju kamar.

__ADS_1


"Ya ampun, awas ya kalau mulainya buru-buru!" tegas Rayna.


Kevano mengerutkan dahinya, dia menatap Rayna.


"Oh, mau pemanasan dulu?" tanya Kevano tersenyum jahil.


"Bukan itu maksudnya," ucap Rayna mengelak.


"Iya, aku udah tau. Lagian, sejak kapan aku buru-buru? Kalau boleh, jangan selesai-selesai," ucap Kevano terkekeh.


Rayna tersenyum. Kevano membawanya ke atas tempat tidur. Di baringkannya tubuh Rayna.


"Ke kamar mandi dulu," ucap Kevano dan bergegas ke kamar mandi.


Kevano buang air, dan mencuci tangannya. Setelah itu, dia kembali ke kamar. Dia melihat Rayna memainkan ponselnya.


"Nggak ada ponsel, oke!" Kevano merebut ponsel Rayna dan meletakannya diatas lemari nakas.


Rayna terkekeh, dia melihat Kevano yang sudah sejak tadi tak memakai kemejanya. Kevano membuka gesper dan kancing celana jeans-nya kemudian melepaskan celana itu. Kini Kevano hanya memakai celana pendek saja.


Kevano mendekati Rayna, dan tersenyum menatap Rayna.


"Rayn!"


"Ya?"


"Aku mulai sekarang, ya," ucap Kevano.


Rayna mengangguk mengizinkan Kevano untuk memulai percintaan mereka.


"Sini!" Kevano meminta Rayna duduk dipangkuannya, dan Rayna pun menurut.


"Nggak berat?" tanya Rayna.


"Nggak. Yang berat, tuh, kalau nggak dituntasin," ucap Kevano tersenyum.


"*H*a-ha-ha ... Apaan, sih?" Rayna tertawa geli mendengar ucapan Kevano.


"Sok, polos. Padahal ngerti," ledek Kevano.


"Ishh ..." Rayna memukul dada Kevano, dan Kevano memegang tangan Rayna.


"Rayn!"


"Hm ... Kenapa, sih, manggil terus?" tanya Rayna sedikit kesal.


"Mau ini," Kevano meremas dada Rayna, membuat Rayna sedikit syok.


"Bisa pelan-pelan, nggak? Aku bilang apa, tadi? Jangan buru-buru!" kesal Rayna.


Kevano terkekeh. Rasanya remasannya tak terlalu kencang, tapi Rayna justru merasa kesakitan.


"Maaf, aku nggak sengaja," ucap Kevano.


Kevano mencium leher Rayna. Ciuman yang perlahan terus naik menyusuri kulit lehernya hingga ke telinga. Kevano tahu, Rayna begitu sensitif ketika telinganya bersentuhan dengan hidungnya. Apalagi ketika Kevano sengaja mengembuskan napas di telinga Rayna, Rayna akan mengalami kejang ringan. Merasa kegelian, tetapi Rayna tak pernah mencoba menghentikannya.


Rayna turun dari pangkuan Kevano. Dia merasa terganggu dengan gaun yang dipakainya. Rayna berdiri membelakangi Kevano dan meminta Kevano membuka resleting gaunnya. Begitu resleting-nya terbuka, Kevano menurunkan bagian lengan dari gaun itu. Perlahan Kevano mengembuskan napasnya di kulit punggung Rayna, membuat Rayna tak bisa diam. Melihat itu, Kevano pun menciumi punggung Rayna berkali-kali. Melepaskan kaitan penopang dada Rayna dan tangannya mulai bermain di dada Rayna.

__ADS_1


Rayna mendongakan sedikit kepalanya, dia sandarkan kepalanya di tubuh Kevano. Posisi Kevano dan Rayna kini tengah sama-sama berdiri dengan posisi Rayna membelakangi Kevano.


Kevano membalikan tubuh Rayna agar berhadapan dengannya. Setelah itu, direbahkan tubuh Rayna dan Kevano memulai percintaan mereka.


__ADS_2