
Randy membulatkan matanya, dia syok mendengar ucapan Dania.
"Apa maksud kamu? Apa diam-diam Ade, dan anak kurang ajar itu tengah dekat? Apa mereka memiliki hubungan?" tanya Randy dengan cemas.
"Sepertinya tidak. Tetapi, anak itu sepertinya sedang mencoba mendekati Ade. Maksud aku, anak itu sepertinya suka sama Ade," ucap Dania.
"Enggak bisa, Yank. Aku enggak bisa membiarkan anak itu mendekati Ade," ucap Randy dengan kesal.
"Aku tahu. Karena itu, aku menyarankan agar Ade tinggal di dekat Universitas nya, nanti," ucap Dania.
Randy mengerutkan dahinya, dia tak mengerti apa maksud ucapan Dania.
"Aku mau, anak itu tidak bisa melihat Ade lagi. Jika Ade tidak tinggal di Jakarta, otomatis dia tidak akan bisa menemui Ade," ucap Dania.
"Tapi, Yank. Aku enggak yakin, meski anak itu enggak bisa bertemu Ade lagi, tapi aku takut ada pria yang sama seperti anak kurang ajar itu," ucap Randy.
Randy cemas, dia berpikir semua laki-laki sama brengseknya dengan Kevano. Apalagi jika mengingat kelakuannya di masa lalu, dia benar-benar cemas pada Rayna.
Dania menghela napas agak kasar, itulah yang dia tidak suka dari cara berpikir Randy. Randy selalu berpikir negatif, Dania bahkan menjadi cemas dengan apa yang ada di pikiran Randy. Dia cemas semuanya justru akan menjadi kenyataan.
"Jangan selalu berpikir semua orang sama dengan seseorang yang tidak kita sukai, Yank. Tolong, berpikirlah terbuka. Berpikirlah luas, kalau cara berpikir kamu terus seperti itu, kapan Ade akan mandiri? Aku tahu kamu cemas, aku pun sama cemasnya. Hati Ibu mana yang enggak cemas saat harus tinggal jauh dari anak-anaknya? Aku cemas, Yank. Aku juga cemas harus jauh dari Abang. Tapi, aku berbesar hati menerima semua itu. Kalau kita terus saja menekan kebebasan anak-anak, bukankah anak-anak justru akan menjadi pembangkang? Maksudku, biarkan anak-anak menjadi mandiri agar bisa berdiri sendiri. Aku ingin Ade hidup mandiri, agar Ade juga bisa berdiri di kakinya sendiri. Tidak selalu bergantung pada kita. Bukankah kamu, pun, sama? Kamu bahkan tidak suka kebebasan mu di batasi saat kamu muda dulu." Dania menatap Randy dengan dalam, dia berharap kali ini Randy mau mempertimbangkan ucapannya.
"Itu berbeda, Yank. Aku pria, dan Ade perempuan. Itu sangatlah tidak benar jika kita harus berhenti mengawasi Ade," ucap Randy.
Lagi-lagi Dania menghela napas agak kasar, suaminya itu benar-benar keras kepala.
"Membiarkan Ade mandiri, bukan berarti kita tidak mengawasinya. Kita bisa pekerjakan supir untuk menjaga Ade," ucap Rayna.
"Ayolah, yang benar saja. Apa kamu akan membiarkan anak gadismu itu tinggal berdua dengan supir? Kalau begitu, sama saja kamu membiarkan anakmu tinggal dengan pria," ucap Randy.
"Ya ampun, supir tidak selalu seorang pria. Kita akan cari supir wanita. Selain menjadi supir yang akan mengantar jemput Ade, dia juga bisa menjadi teman Ade selama tidak tinggal dengan kita," ucap Dania.
Randy terdiam, dia berpikir sejenak. Hati dan pikirannya benar-benar bertolak belakang dengan Dania.
__ADS_1
"Pikirkan lagi, apa kamu mau anakmu terus di ganggu oleh anak itu?" tanya Dania.
"Tentu saja tidak, aku akan membunuhnya jika perlu," ucap Randy.
"Jangan konyol," ucap Dania dengan kesal.
"Aku kesal sama anak itu, benar-benar menyebalkan jika ingat kelakuannya," ucap Randy dengan nada kesal.
"Ya, aku mengerti. Dan, mungkin itulah yang Papa rasakan dulu," ucap Dania dengan pelan.
"Kamu bilang apa?" tanya Randy. Randy tak dapat mendengar jelas ucapan Dania.
Dania pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada. Sudahlah, aku mau ke kamar, dulu," ucap Dania dan pergi meninggalkan Randy yang masih terdiam dan terlihat memikirkan sesuatu.
*******
Malam hari.
"Aku sudah memikirkannya," ucap Randy tiba-tiba.
"Apa?" tanya Dania.
"Aku akan mencari rumah yang dekat dengan Universitas Indonesia. Selama Ade kuliah di sana, Ade akan tinggal di rumah itu. Aku juga sudah meminta sekretaris ku untuk mencarikan supir wanita yang akan mengantar jemput Ade," ucap Randy.
Dania tersenyum, dia senang akhirnya Randy mau mendengarkan ucapannya.
"Apa Papa yakin?" tanya Rayna mencoba memastikan.
"Sebetulnya tidak," ucap Randy dengan ragu.
Hatinya memang masih belum sepenuhnya menerima. Namun ucapan Dania memang benar, dia tak bisa terus-terusan berada di belakang anak-anaknya. Dia juga menginginkan anak-anaknya bisa berdiri sendiri dan hidup mandiri. Lagi pula, mungkin cara itulah yang bisa membuat Kevano tak lagi mendekati Rayna. Randy juga masih bisa datang menemui Rayna mengingat jarak dari Jakarta ke Depok tidaklah begitu jauh.
__ADS_1
"Ade enggak keberatan kalau Papa memang enggak setuju. Ade akan pulang pergi ke Kampus," ucap Rayna.
"Tidak, Mommy dan Papa tidak keberatan," ucap Dania.
Randy menghela napas dan tersenyum tipis.
"Tapi, Ade harus tetap tahu batasan. Bergaul lah dengan orang-orang yang tidak menjerumuskan Ade ke dalam keburukan," ucap Randy.
Rayna tersenyum dan mengangguk.
Entah apa yang kini dia rasakan. Namun ada rasa bahagia karena setidaknya dia bisa menjadi dirinya sendiri.
Selesai makan malam, mereka pun pergi ke kamar masing-masing.
********
Di tempat lain.
Kevano tengah duduk di balkon kamarnya. Dia membakar rokok miliknya, dia begitu menikmati setiap sensasi dari hisapan rokok di mulutnya.
Tak ada yang mengetahui kebiasaan merokoknya. Dia memang hanya merokok di saat-saat tertentu. Dia hanya akan menghisapnya di saat pikirannya tengah kacau, bisa di bilang saat dia tengah mengalami masalah maka dia akan melampiaskannya pada minuman keras kalau tidak dengan merokok. Dan saat ini dia sedang tak ingin meminum alkohol, karena itu dia hanya melampiaskannya dengan menghisap sebatang rokok.
"Siapa yang tahu aku akan menyukai gadis itu? Jika aku menyadarinya lebih awal, aku tidak akan menghinanya," batin Kevano.
Kevano menyayangkan tindakannya sendiri saat beberapa hari yang lalu di rumah Rayna. Dia terlambat menyadari perasaannya.
Saat itu dia merasa kesal karena Randy terus saja menghakiminya tanpa mau mendengar penjelasannya. Harga dirinya terasa terinjak karena perlakuan Randy.
Dia bahkan tak bisa tidur malam harinya saat sebelum mendatangi rumah Rayna karena gelisah memikirkan akan mendatangi Rayna langsung ke rumahnya dan meminta maaf pada kedua orangtua Rayna. Meski akhirnya dia pun memberanikan diri untuk datang langsung ke rumah Rayna.
Kevano tersenyum tipis. Dia menghela napas berat.
"Apa aku harus mendatangi rumahnya lagi? Apa aku harus meminta maaf lagi? Tapi, bagaimana jika papanya memukulku lagi? Bagaimana jika aku tidak dapat mengontrol emosiku lagi?" gumam Kevano.
__ADS_1
Kevano sendiri merasa bingung dengan apa yang kini dia rasakan. Perasaannya semakin hari seolah semakin meyakinkannya bahwa dia memang telah jatuh cinta pada Rayna.
Dia selalu merindukan Rayna.