Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 49


__ADS_3

Selesai makan malam, Randy dan Dania pun kembali ke rumah.


Randy masih tetap diam, membuat Dania sampai kebingungan. Pasalnya, Randy seperti itu setelah bertemu dengan Riko dan Bella.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Dania.


"Ya, kenapa?" tanya Randy.


"Kamu menjadi pendiam setelah bertemu Riko, jangan bilang kamu cemburu pada Riko," ucap Dania.


Dania berpikir, diamnya Randy karena bertemu dengan Riko. Karena perubahan sikap Randy begitu terlihat setelah bertemu dengan Riko di Restauran tadi.


"Ya, aku cemburu," ucap Randy beralasan.


"Ya ampun, kamu benar-benar seperti Randy jaman SMA dulu," ucap Dania sambil terkekeh.


Konyol pikirnya, suaminya itu masih saja cemburu pada Riko meski semuanya sudah berlalu lama.


"Sudahlah, jangan bahas dia. Sebaiknya, kita bahas tentang kita saja," ucap Randy sambil tersenyum penuh arti.


"Apa? Mau jatah?" tanya Dania sambil mengerutkan dahinya.


"Siapa yang tidak mau? Tentu saja aku mau," ucap Randy sambil tersenyum lebar.


"Ouh, ya ampun. Pelan-pelan, Yank," Dania terkejut saat Randy mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di tempat tidur.


"Kamu selalu terlihat menggoda," ucap Randy sambil menatap Dania dengan tatapan penuh cinta. Tatapan hangat yang tak pernah berubah, dan masih sama dengan dulu.


"Kamu juga terlihat kuat," ucap Dania sambil tersenyum tipis.


"Kuat? Apa kamu baru menyadarinya?" tanya Randy.


"Ya, aku baru menyadarinya, di usiamu yang sekarang, kamu masih terlihat kuat. Buktinya, kamu bisa menggendongku," ucap Dania sambil terkekeh.


"Aku tidak hanya kuat menggendong mu, aku juga masih sanggup membuatmu kehilangan kesadaran," ucap Randy sambil tersenyum mesum.


"Astaga, kata-katamu kenapa harus seperti, itu? Benar-benar membuatku merinding," ucap Dania.


Randy terkekeh dan mendekatkan wajahnya ke wajah Dania.


"I love you," ucap Randy.


"I love you too," balas Dania.


Randy mendaratkan bibirnya di bibir Dania, memberikan sentuhan lembut dan lumattan di sana. Menjelajah setiap isi dari mulut manis Dania yang masih saja membuatnya tergila-gila dan tak pernah merasa bosan.


Keduanya mulai merasakan perubahan suhu tubuh mereka, keduanya mulai merasakan sensasi panas karena sentuhan-sentuhan lembut dari tangan masing-masing yang mendarat di tubuh keduanya.


Dania memejamkan matanya merasakan sensasi yang Randy berikan, Randy selalu tahu cara membuatnya melayang hingga tanpa sadar di tubuhnya tak tertempel satu helai benang pun.

__ADS_1


Randy menyentuh bagian-bagian sensitif di tubuh Dania, dia suka melihat Dania tak berdaya di bawah kendalinya.


Desahan-desahan kecil Dania pun begitu menggelitik telinga Randy hingga dia tak sanggup lagi menahan hasratnya. Rasanya dia ingin segera menuntaskan hasratnya. Namun dia tak ingin membuat Dania kecewa, dia lebih senang melihat Dania mendapatkan kepuasannya terlebih dulu baru lah dia akan memuaskan dirinya sendiri.


Saat Dania terlihat sudah tak berdaya di bawahnya, dia pun segera melakukan penyatuan. Penyatuan yang dimulai dengan kelembutan, membuat Dania tak dapat menahan erangannya. Perlahan penyatuan itupun semakin membuat Randy tak tahan dan mempercepat gerakannya.


Hingga beberapa menit kemudian erangan cukup keras keluar dari bibir Randy, tanda dia telah menuntaskan hasratnya.


Dia pun menghempaskan tubuhnya di samping Dania dan mengecup pelipis Dania.


"I love you," ucap Randy.


"I love you too," balas Dania.


Setelah istirahat sejenak akibat lelahnya pergulatan panas mereka, Dania pun beranjak dari tempat tidur dan memasuki kamar mandi. Dia membersihkan tubuhnya yang cukup berkeringat.


Tak lama, Randy pun menyusul ke kamar mandi dan memeluk Dania yang tengah berdiri di bawah guyuran shower dari belakang.


"Ya ampun, mengagetkan saja," ucap Dania.


"Sekali lagi," bisik Randy.


"Apa? Bukankah kamu sudah lelah?" tanya Dania.


"Tidak, aku masih kuat, bahkan sampai sepuluh ronde lagi," bisik Randy.


"Aku yang tidak akan kuat, kalau begitu," ucap Dania.


********


Keesokan harinya di kediaman Rayna.


Pagi ini, Rayna tengah sibuk dengan selang di tangannya.


Ya, dia tengah menyiram tanaman di halaman depan kediamannya.


Kebetulan hari ini dia tak pergi ke Kampus.


Di tengah kegiatannya, pandangannya tak sengaja melihat ke arah motor yang terparkir di depan pintu pagar rumahnya.


Rayna terkejut saat melihat pemilik motor tersebut. Dia menelan air liurnya begitu orang itu membuka helmnya.


"Kevano?" gumam Rayna.


Dia tak habis pikir, Kevano ternyata orang yang begitu nekat dan menepati janjinya. Dia tak menyangka Kevano dapat menemukan dirinya.


"Pagi, Sayang," sapa Kevano sambil menyunggingkan senyum lebarnya. Terlihat sekali pancaran kebahagiaan di wajah Kevano.


Kevano bahagia karena bisa kembali melihat wajah cantik Rayna setelah beberapa hari ini dia kesulitan bertemu dengan Rayna.

__ADS_1


Rayna mematikan keran dan menghampiri Kevano.


Dia pun membuka pintu pagar rumahnya.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Rayna.


"Aku sudah bilang, aku akan mencari mu. Bukan hal yang sulit untukku menemukan mu," ucap Kevano.


"Ya ampun," Rayna terlihat gelisah. Dia khawatir ada wartawan yang mengikuti Kevano. Sungguh, dia akan terkena masalah besar lagi jika sampai itu terjadi.


"Masuklah," ucap Rayna dengan gelisah.


"Tenanglah, aku tahu kamu cemas, kan? Takut ada wartawan?" ucap Kavano.


"Mau masuk atau tidak?" tanya Rayna dengan mulai kesal. Paginya menjadi tidak menyenangkan karena kedatangan Kevano.


"Sabar, Sayang. Aku akan masuk, tapi, tolong bukakan lebih lebar dulu pintu pagarnya," ucap Kevano.


"Menjijikan, jangan memanggilku sayang," ucap Rayna sambil membuka lebih lebar pintu pagar rumahnya.


Entah mengapa kata itu terdengar menggelikan di telinganya. Di tambah dia dan Kevano tidak memiliki hubungan apapun.


Kevano pun memasukkan motornya ke dalam garasi rumah Rayna.


"Sepi sekali, apa kamu sendirian?" tanya Kevano.


"Hhmmm ..." jawab Rayna dengan malas.


"Baguslah," ucap Kevano.


Rayna menatap Kevano dengan tatapan tajam.


"Lebih baik, kamu pulang ..!" tegas Rayna.


"Apa? Kenapa? Aku bahkan baru sampai. Jauh, loh, Jakarta ke sini," ucap Kevano dengan bingung.


"Kamu boleh masuk, kalau pikiran kotor mu sudah pergi," ucap Rayna dengan kesal.


"Ayolah, aku hanya bercanda. Aku tidak akan memaksamu lagi, jika kamu tidak menginginkannya," ucap Kevano sambil menunjukkan rasa bersalahnya.


"Banyak omong," ucap Rayna dengan malas dan masuk ke rumah.


Kevano pun mengikutinya ke dalam rumah.


Sementara dari atas balkon rumahnya Guriko, Guriko yang tengah berolah raga dengan memegang sebuah barbel di tangan kanannya tampak mengerutkan dahinya melihat Kevano dan Rayna.


"Gadis itu terlihat polos, tapi, ternyata memiliki kekasih," ucap Guriko sambil menggelengkan kepalanya.


Dia berpikir, Rayna gadis yang lugu, dan terlihat begitu polos. Namun nyatanya, Rayna memiliki seorang kekasih.

__ADS_1


Tak ingin ambil pusing, dia pun melanjutkan kegiatannya.


__ADS_2