Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 32


__ADS_3

Rayna berlari dengan senyum lebar tersungging di bibirnya, entah apa yang ada di pikirannya, namun ia begitu senang melihat Kevano kesakitan akibat hantaman wedges yang dia lemparkan ke kepalanya.


"Rayna ..!" panggil seseorang.


Rayna melihat ke arah orang tersebut dan mengerutkan dahi saat melihat Raka ada di sana. Tak hanya itu, Raka pun datang bersama seorang pria dewasa.


"Kamu kenapa?" Raka membuka jasnya dan menyelimuti bahu Rayna dengan jas miliknya.


"Aku kepeleset di kolam," ucap Rayna.


"Oh ya? Jadi, sekarang kamu mau kemana?" tanya Raka.


"Aku mau chek in kamar," ucap Rayna.


Rayna melihat ke arah pria dewasa yang berada di samping Raka, pria itu terus saja memperhatikannya. Matanya bahkan begitu intens menyusuri setiap inci wajah Rayna.


"Maaf, apa Om Papanya Raka?" tanya Rayna canggung.


"Iya betul, kamu teman sekelas Raka?" tanya pria itu.


"Iya, Om," ucap Rayna.


"Ya sudah, kamu chek in hotel dulu saja. Lihatlah, kamu basah kuyup seperti itu," ucap Raka.


"Sebentar, Raka. Apa aku boleh minta tolong?" tanya Rayna.


"Iya, tentu saja," ucap Raka.


"Apa aku boleh pinjam ponselmu? Aku mau menghubungi mommy ku," ucap Rayna.


Raka mengangguk dan memberikan ponselnya pada Rayna.


Rayna pun menghubungi nomor sang mommy dan memberitahukan bahwa dia menunggu mommy nya di ruang tunggu resepsionis.


"Thanks, Ka," ucap Rayna.


"Sama-sama," ucap Raka.


Rayna pun pergi menuju resepsionis.


"Siapa nama gadis itu?" tanya papa Raka.


"Rayna, Pa," ucap Raka.


"Rayna? Apa nama kepanjangannya?" tanyanya lagi.


Dia seperti pernah mendengar nama itu.


"Rayna Hamish," ucap Raka.


"Apa? Hamish?" pria itu terkejut mendengar nama belakang Rayna.


"Apa dia punya kakak kembar?" tanyanya.


"Iya, Raydan nama kakaknya," ucap Raka.


"Oh, ya Tuhan," papa Raka tersenyum lebar, dia sungguh tak menyangka akan melihat gadis itu disaat sudah  tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik seperti mommy nya.


"Papa kenapa? Papa kenal orangtuanya Rayna?" tanya Raka penasaran.


"Ya, Papa yakin dia anak dari teman Papa," ucap papa Raka.


"Benarkah? Dunia ini begitu sempit bukan, Pa?" ucap Raka sambil menyunggingkan senyum manisnya.


"Ya, begitulah. Apa kamu tahu? di mana orangtuanya Rayna?" tanya papa.


"Sepertinya masih di dalam ballroom, Pa. Tadi kan Rayna menghubungi mommy nya juga," ucap Raka.


"Oh iya, kalau begitu, kita hampiri saja mereka. Sudah lama juga Papa tidak bertemu mereka," ucapnya.


Raka mengangguk dan pergi mengajak papanya menuju ballroom.


Sesampainya di ballroom, Raka dan papanya tak dapat menemukan Dania dan Randy.


Sepertinya Randy dan Dania sudah tak berada di ballroom lagi.


Di resepsionis.


"Sorry, saya mau chek in kamar. Tapi, identitas saya tertinggal. Sebentar lagi orang tua saya akan datang ke sini, apa saya bisa meminta kunci kamar terlebih dahulu?" ucap Rayna.


Resepsionis itu menatap Rayna dengan tatapan penuh selidik.


Dia merasa tak percaya pada Rayna, terlihat sekali Rayna begitu lusuh dan lepek.


"Sorry, bagaimana?" tanya Rayna.


"Mohon maaf, kami tidak bisa memberikan kamar untuk anda," ucap resepsionis.


Rayna menghela napas dan melihat nama hotel yang terpampang di dinding belakang sang resepsionis WH Hotels.

__ADS_1


"Baiklah, saya akan menunggu orangtua saya," ucap Rayna.


Rayna berjalan menuju kursi tunggu dan duduk di sana.


Sementara resepsionis itu memanggil managernya dan mengatakan sesuatu.


Manager hotel itu pun bergegas menghampiri Rayna.


"Mohon maaf, sebaiknya anda menunggu di tempat lain saja, atau jika tidak, lebih baik mencari hotel lain saja. Keberadaan anda bisa mengganggu tamu hotel yang lain," ucap manager.


Rayna mengerutkan dahinya, dia menarik napas dalam dan mengembuskan nya perlahan.


"Apa anda manager di hotel ini?" tanya Rayna.


"Betul, kami tidak ingin tamu lainnya merasa terganggu karena melihat penampilan anda," ucap manager.


Manager itu memang bicara dengan sopan, namun tetap saja Rayna merasa tak nyaman. Karena tetap saja manager itu berniat mengusirnya dari hotel tersebut.


"Ada apa ini?" Dania tiba di lobi dan langsung menghampiri Rayna, dia memberikan tas tangan Rayna.


"Ini, Bu. Ada tamu yang tak memiliki identitas dan uang, namun dia meminta kamar di hotel ini," ucap manager.


"Apa?" Randy membulatkan matanya, dia menatap tajam ke arah manager itu.


Randy mengepalkan tangannya, Dania pun mencoba menenangkan Randy dengan menggenggam tangan Randy.


Dania melihat ke arah dada kiri manager itu, terlihat tulisan Bryan di nametag manager itu.


"Begini, Pak Bryan. Tolong siapkan satu kamar untuk gadis ini, kamar president suite," ucap Dania.


"Maaf, tapi dia tak memiliki uang untuk membayarnya. Dan, kami tidak bisa memberikan kamar," ucap Bryan.


"Lepas, Yank. Biar aku kasih pelajaran anak ini," bisik Randy dengan geram.


Dania menggelengkan kepalanya.


"Kenapa diam saja? Ayo, berikan kartumu," ucap Dania sambil menatap Rayna.


Rayna tersenyum dan mengangguk.


Dia membuka tasnya dan mengambil sebuah kartu berwarna gold dengan bertuliskan nama hotel tersebut.


Bryan membulatkan matanya dan menatap Dania, Randy, juga Rayna bergantian.


"Mohon maaf, ini--"


Bryan menelan air liurnya.


Dania tersenyum melihat wajah bingung Bryan.


"Dia adalah cucu dari pemilik hotel ini, cucu dari tuan Wijaya Hamish," ucap Dania.


Lagi-lagi Bryan membulatkan matanya, dia pun menunduk hormat dan meminta maaf pada Rayna.


"Tolong, maafkan saya," ucap Bryan.


Rayna tersenyum dan mengangguk.


"Tidak apa-apa, anda hanya menjalankan prosedur hotel saja," ucap Rayna dengan santai.


"Baiklah, saya akan mengantar ke kamar anda," ucap Bryan.


Rayna pun mengangguk.


"Ade ganti baju dulu ya, Moms, Pa," ucap Rayna.


Bryan menatap Dania dan Randy dengan tatapan bingung.


"Saya Dania Hamish, putri dari Wijaya Hamish," ucap Dania sambil tersenyum.


Bryan sungguh dibuat terkejut.


Selama ini dia tak pernah melihat anggota keluarga Wijaya Hamish selain Rania, istri Wijaya Hamish. Tentu saja karena selama bertahun-tahun Dania tinggal di Australia, Bryan pun baru 2 tahun bekerja di hotel milik Wijaya Hamish.


"Maafkan saya, Bu," ucap Bryan.


"Sudahlah, sebaiknya antar kan anak saya ke kamarnya. Dan ya, tolong siapkan baju untuknya," ucap Dania.


"Baik, Bu," Bryan akan mengantarkan Rayna ke kamarnya, namun Randy langsung memanggilnya.


"Lain kali, jangan menilai seseorang dari penampilannya," ucap Randy.


Bryan pun mengangguk.


"Maafkan saya, Pak," ucap Bryan.


Randy mengangguk dan Bryan langsung mengantar Rayna menuju kamarnya.


Sementara Dania terkekeh melihat ekspresi wajah Randy yang masih terlihat kesal.

__ADS_1


"Jangan marah, dia hanya menjalankan tugasnya," ucap Dania.


Randy tersenyum tipis dan mengangguk.


Pandangannya tak sengaja melihat ke arah resepsionis, terlihat seorang pria dengan penampilan basah kuyup dengan rambut acak-acakan tengah memesan sebuah kamar.


"Kenapa, Yank?" tanya Dania.


"Kayaknya aku pernah lihat orang itu," ucap Randy sambil mengarahkan pandangannya ke arah pria yang basah kuyup itu.


"Memangnya siapa dia?" tanya Dania yang juga sepertinya pernah melihat pria itu, namun dimana dia melihatnya, dia pun tak mengingatnya.


"Sudahlah, mungkin pernah bertemu sekilas saja," ucap Randy.


Dania mengangguk dan kembali ke ballroom, kebetulan Raydan masih berada di sana.


Sementara pria yang berada di resepsionis itu, yang tak lain adalah Kevano. Kevano sudah mendapatkan kunci kamarnya dan bergegas pergi menuju kamarnya.


******


Di ballroom.


Dania dan Randy kembali memasuki ballroom dan melihat sekeliling mencari keberadaan Raydan.


"Dania, Randy ..!" panggil seseorang yang sontak membuat Dania dan Randy melihat ke arah orang tersebut.


"Riko?" ucap Dania dan Randy bersamaan. Dania tersenyum lebar begitu melihat Riko ada di hadapannya.


"Ya, kalian apa kabar?" tanya Riko.


"Kabar baik, kamu di sini juga? Ngapain?" tanya Dania.


"Ah iya, anakku sedang ada acara perpisahan di sini," ucap Riko.


"Oh ya? Raka ada di sini juga? Tapi, aku baru melihat kamu," ucap Dania.


"Iya, aku baru pulang dari perjalanan bisnis. Aku dari Bandara langsung ke sini. Ternyata aku terlambat," ucap Riko.


Dania mengangguk dan tak sengaja melihat ke arah Randy yang terus diam tanpa ekspresi.


"Kamu apa kabar, Rand?" tanya Riko.


"Seperti yang kamu lihat, kabarku baik," ucap Randy santai.


Riko tersenyum dan mengangguk.


"Pa ..!" Dania, Randy dan Riko melihat ke arah orang itu. Terlihat seorang pria berwajah Asia datang menghampiri Riko.


"Apa dia Raka?" tanya Dania.


Riko tersenyum dan mengangguk.


"Iya, dia Raka, anakku," ucap Riko.


Dania menatap tak percaya pada Raka, Raka begitu tampan dan tentunya sudah remaja. Raka mirip sekali dengan Almarhumah Rani, istri Riko.


Dania masih teringat saat terakhir kali melihat Raka, saat itu Raka masihlah seorang bayi mungil.


"Kamu pasti tidak ingat, Tante Dania ini pernah menggantikan popok mu," ucap Riko.


Raka tersenyum dan mengangguk.


Randy menyenggol tangan Dania.


"Kapan kamu gantikan popok anaknya si Riko?" bisik Randy.


"Waktu di rumahnya itu loh," ucap Dania.


Dania berbohong, waktu itu dia menggantikan popok Raka saat berada di hotel di daerah Bandung. Dania hanya tak ingin membuat Randy salah paham.


"Maafkan Raka, Tan. Raka enggak tahu kalau tante temannya papa," ucap Raka.


"Tidak masalah, tante senang bisa melihat Raka lagi," ucap Dania.


"Oh ya, apa Raka sekelas dengan Raydan dan Rayna?" tanya Dania.


"Raka hanya sekelas dengan Rayna, Tan," ucap Raka.


Dania pun tersenyum dan mengangguk.


"Oh ya, apa Rayna sudah mendapatkan kamar? Tadi, dia basah kuyup sekali," ucap Raka.


"Sudah, dia sedang ganti baju," ucap Dania.


"Oh ya, apa kamu tahu kenapa Rayna bisa sampai basah kuyup begitu?" tanya Randy sambil menatap Raka.


"Katanya dia terpeleset di kolam, Om," ucap Raka.


Randy mengangguk tanpa curiga.

__ADS_1


Mereka pun lanjut berbincang, sementara Raydan terus memperhatikan dari kejauhan saat sang mommy dan papanya masih saja berbincang bersama Riko dan Raka.


__ADS_2