
Pertama kali Raydan melihat ada sebuah buku catatan. Di mana setelah Raydan membukanya, di sana tertulis sebuah tanggal yang Raydan ingat tepat hari pertama dirinya masuk ke sekolah yang baru di Jakarta.
Aku mengenalnya tanpa aku tahu siapa dirinya saat itu. Aku bahkan memukulnya ketika dia mengajakku berkenalan. Sungguh, aku tak bermaksud seperti itu. Sebelumnya, tak ada pria yang berani mendekatiku, lalu tiba-tiba saja dia datang mendekatkan tangannya, kemudian menyebut namanya "Raydan."
Bagiku, wanita yang tak pernah dekat dengan pria manapun sebelumnya, suasana seperti itu terasa canggung bagiku. Bayangkan saja, jantungku benar-benar tak terkontrol. Dia tampan, sungguh. Namun, aku berpikir pria-pria tampan sudah biasa menggoda wanita. Itu yang kulihat di lingkungan sekolahku. Karena itu, aku mencoba tak menganggapnya serius.
Semakin hari, dia semakin sering mendekatiku, membuatku benar-benar merasa tak nyaman dan aku akan menghindarinya. Selalu seperti itu. Bukan karena apa, melainkan aku tak dapat mengontrol detak jantungku yang selalu berdegup tak beraturan ketika dekat dengannya.
Haripun berlalu, ada penyesalan karena sikap angkuhku ketika itu. Kini, bahkan aku tak bisa lagi melihatnya. Dia tak akan pernah lagi menggangguku. Perasaan apa ini? Mungkinkah aku menyukainya? Tidak, mana mungkin.
Berulang kali aku menyangkalnya, aku tidak menyukai Raydan. Tapi, kemudian waktu seolah mengerti dan membuat aku kembali berkomunikasi dengannya. Seakan tak ingin menyiakan waktu, akupun menanggapinya. Meladeni setiap pesan darinya, hingga aku menyadari satu hal. Perasaan itu tetap ada, bahkan ketika aku kembali mendengar suaranya jantungku kembali berdegup tak beraturan. Aku seakan tak percaya, ketika dia mengatakan menyukaiku sejak pertama kali melihatku. Hingga sebuah hubungan terjalin, aku dan Raydan menjadi sepasang kekasih. Meski hubungan jarak jauh, tapi aku percaya padanya. Kata orang, cinta pada pandangan pertama akan sulit untuk dihilangkan, karena itu aku yakin Raydan akan menjaga hatinya untukku.
Selesai membacanya, Raydan membuka halaman berikutnya. Nyatanya, di sana tertulis tanggal di mana ketika dirinya pertama kali pulang dari Jerman. Belum lama pastinya.
Raydan menghela napas, entah mengapa seperti ada ribuan jarum menusuk dadanya. Sakit sekali rasanya. Di sana tertulis betapa bahagianya Ralisya ketika bertemu dengan dirinya. Meski Ralisya bingung untuk mengungkapkannya, karena untuk pertama kalinya Ralisya memiliki kekasih setelah 17 tahun perjalanan hidupnya. Ralisya bukanlah wanita yang gampang jatuh cinta pada pria, tetapi berbeda dengan Raydan. Ralisya akui memiliki perasaan lebih pada Raydan.
Raydan membuka halaman ketiga, di sana tertulis tanggal tepat saat dirinya ketahuan menjalin hubungan dengan Clarie. Jantung Raydan berdegup kencang, dia memejamkan matanya, ada perasaan tak siap untuk membacanya, tetapi dirinya dibuat penasaran. Raydan pun akhirnya memberanikan diri membuka matanya dan mulai melihat kata yang tertulis. Tertulis huruf besar semua disetiap katanya.
'AKU KECEWA, BUKAN PADA DIRINYA, TETAPI AKU KECEWA KARENA HATIKU MENCINTAI SESEORANG UNTUK PERTAMA KALINYA, TETAPI ORANG ITU TIDAK TEPAT'
__ADS_1
Napas Raydan memburu, entah mengapa dia merasakan sakit yang Ralisya rasakan. Dia adalah pria yang tak peduli dengan perasaan gadis yang sudah dia tinggalkan. Baginya, dia meninggalkan gadis-gadis itu karena bosan dan tak memiliki rasa apapun lagi. Namun, berbeda dengan Ralisya. Ralisya lah yang meninggalkannya, Ralisya yang memutuskan hubungan keduanya.
Raydan membuka halaman berikutnya, mencari tahu apakah ada kata yang tertulis lagi. Namun, dia melihat selembar amplop dan membukanya. Ada selembar kertas di sana.
Aku memberikan ini, bukan agar kamu mengasihaniku, tapi ketahuilah hati wanita bukan untuk dipermainkan. Bagimu mungkin lucu, menyenangkan ketika berhasil menghancurkan perasaan seorang wanita. Aku menulis ini, karena aku tak memiliki waktu bicara denganmu, dan aku tahu kamupun tak ingin bicara denganku.
Terimakasih telah membuatku mengerti, bahwa mempercayai sepenuhnya orang lain, adalah sama saja dengan menabung luka. Dan aku melukai hatiku sendiri karena mempercayai dirimu melebih apapun. Kelak, aku harap kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri, bersama wanita yang benar-benar kamu cintai. Aku tak menyalahkanmu, setelah ini aku akan benar-benar menghapus segalanya tentangmu. Aku bahkan akan mengganti kontakku agar kamu tak lagi melihat keberadaanku yang mungkin membuatmu risi.
Tangan Raydan gemetar, bahkan hingga tak mampu menopang kertas seringan itu ditangannya.
'Apa aku sejahat itu?'
Raydan bergumam. Tersirat sebuah sesal karena tak menemui Ralisya sebelum dia pergi ke Jerman. Setidaknya, Raydan ingin meminta maaf pada Ralisya. Bukan berniat menghancurkan hati Ralisya, tetapi entah mengapa dia tak bisa menahan Ralisya ketika Ralisya memutuskan hubungan mereka. Mungkin, hatinya tak cukup mampu bertahan dalam hubungan jarak jauh.
Nyatanya, ada sebuah pepatah yang memang benar.
'Yang mencintai, takan lebih berarti dari dia yang selalu ada.'
Dan Raydan akui, bahwa dirinya pun tak bisa melepas Clarie. Gadis cantik yang dia temui di Jerman. Clarie gadis yang selalu ceria dan membuatnya tertawa, di mata Raydan, Clarie wanita yang menyenangkan. Tak hanya cantik, Clarie pun mengerti dirinya, membuat Raydan sulit melepaskannya.
__ADS_1
Raydan menyimpan kembali catatan-catatan itu, dia akan menyimpannya, dan kelak jika takdir mempertemukannya kembali dengan Ralisya, maka dia akan meminta maaf pada Ralisya. Meski dia sendiri tak tahu kapan akan bertemu Ralisya lagi, dia mungkin takkan pulang ke Indonesia untuk waktu yang cukup lama.
Raydan memejamkan matanya, mencoba melupakan apa yang dia baca tadi. Dia tak ingin mengingatnya, dan mencoba tak mempedulikannya. Namun, tiba-tiba saja terlintas wajah teduh Ralisya, membuat Raydan membuka matanya dan mengusap wajahnya.
Ya ampun. Udah cukup, menyebalkan sekali. Aku cuman merasa kasihan, bukan menyesal melepaskannya, batin Raydan.
Raydan melemparkan paper bag itu ke kursi di sebelahnya. Kebetulan tak ada siapapun yang duduk di kuris itu. Raydan melihat keluar, di mana di sana tampak pesawat-pesawat berjejer. Pandangannya sulit diartikan, entah apa yang tengah dia pikirkan.
Sementara di kediaman Ralisya.
Sepulangnya dari apartemen Kevano, Ralisya mengunci dirinya di kamar. Dia menyalakan musik kencang sekali. Tak ada satu orangpun yang tahu, dia tengah terisak di dalam kamar.
Sakit, hancur, kecewa, marah, tengah Ralisya rasakan saat ini. Dia ingin memaki Raydan, Raydan benar-benar menghancurkan perasaannya. Bahkan ketika untuk pertama kalinya dia mencintai seorang pria, dia pun merasa hancur.
Aku di sakiti, aku yang mau semua berakhir, tetapi aku yang nggak terima dia pergi, gumam Ralisya di tengah isakannya.
Jika kamu pernah merasakan, di mana hatimu sakit, perasaanmu benar-benar hancur karena seseorang, tetapi tak habis pikirnya, di hatimu ada ruang terdalam yang di dalamnya tersimpan sebuah perasaan yang sulit sekali untuk membenci, bahkan tak rela dia pergi, maka itulah yang Ralisya rasakan.
Wanita akan sulit jatuh cinta pada pria. Namun ketika mencintai, maka dia akan berubah menjadi wanita yang memiliki sejuta maaf meski telah disakiti berulang kali.
__ADS_1
Seandainya, Raydan memintan maaf padanya, mau memperbaiki segalanya, besar kemungkinan Ralisya akan memaafkan dan mempertahankan hubungannya dengan Raydan. Sayangnya, Raydan tak mau memperbaiki segalanya. Bahkan ketika Ralisya memutuskan hubungannya dengan Raydan, Raydan tak mencoba menahannya. Raydan justru menyetujuinya.