
Raydan melajukan mobilnya dengan perasaan kesal. Dia teringat rumah Gerry, temannya saat sekolah dulu.
Beberapa saat berlalu, Raydan sampai di salah satu rumah yang cukup mewah. Rumah Gerry tepatnya. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Gerry yang masih dia simpan di ponselnya. Raydan memberitahukan tentang kedatangannya dan tak lama Gerry pun keluar menghampiri Raydan. Dia membukakan pintu pagar rumahnya dan Raydan pun memarkirkan mobilnya di garasi rumah Gerry. Sebelum masuk ke rumah Gerry, Raydan mematikan ponselnya. Dia tak ingin siapapun menganggu waktunya saat ini.
"Mimpi apa aku, kedatangan tamu spesial?" ucap Gerry.
Raydan hanya tersenyum dan bersalaman layaknya seorang pria dewasa. Mereka saling memeluk sejenak.
"Masuk, Bro," ucap Gerry.
Raydan pun mengikuti Gerry masuk ke rumah.
"Mau minum apa?" tanya Gerry.
"Alkohol," ucap Raydan.
"Ah, yang benar aja. Masih sore ini," ucap Gerry.
Raydan terkekeh.
"Apa aja," ucap Raydan. Gerry mengangguk dan meminta tolong pada bibi untuk membuatkan minuman untuk Raydan. Sementara Gerry menemani Raydan di ruang tamu.
"Kapan balik?" tanya Gerry.
"Tadi," ucap Raydan.
"Tadi? Kamu langsung ke sini?" tanya Gerry.
"Aku menyesal balik ke Indonesia," ucap Raydan.
"Ada apa?" tanya Gerry.
Raydan pun mengatakan dia habis bertengkar dengan keluarganya. Parahnya, tak ada yang mau mendengarkan ucapannya.
"Aku sudah tahu kabar itu, aku pikir kamu pun tahu," ucap Gerry.
Raydan menggelengkan kepalanya dan tak lama minuman pun datang.
"Minum dulu, Bro. Biar adem kepalamu," ucap Gerry. Raydan tersenyum dan meminum minumannya.
"Lalu, bagaimana hubunganmu dengan Ralisya?" tanya Gerry.
"Entahlah," ucap Raydan.
Gerry mengerutkan dahinya, dia mengetahui hubungan Raydan dan Ralisya karena Raydan sempat memberitahunya.
"Apa dia wanita satu-satunya?" tanya Gerry.
Raydan tersenyum.
"Menurutmu?" tanya Raydan balik.
__ADS_1
"Aku nggak tahu," ucap Gerry.
Raydan pun terkekeh.
"Ya, di Indonesia," ucap Raydan kembali meminum minumannya.
Gerry menggelengkan kepalanya.
"Enaknya jadi orang ganteng," ucap Gerry. Gerry merasa iri pada Raydan karena disukai banyak wanita. Sedangkan dirinya, mencari satu wanita saja susah untuk didapatkan. Wanita jaman sekarang terlalu pemilih. Jika tak kaya dan tampan, tentu saja tidak membuat wanita tertarik. Gerry pun merasa heran, mengapa wanita justru memilih pria yang playboy ketimbang pria yang setia?
"Apa kamu menyayangi Rayna?" tanya Gerry.
"Pertanyaan bodoh!" ucap Raydan.
Ha-ha-ha ... Gerry pun tertawa keras.
"Jika begitu, kenapa tidak biarkan saja mereka menikah? Aku rasa, pria itu cukup gentle mau menikahi adikmu. Sedangkan dari awal dia tahu keluargamu tak menyukainya. Bukankah itu artinya, ada usaha yang dia lakukan, sehingga keluargamu akhirnya menyetujui mereka berdua?" ucap Gerry.
"Atau, jangan-jangan kamu tak rela dilangkahi oleh adikmu?" tanya Gerry.
"Yang benar aja. Aku bukan pria yang berpikiran sempit. Aku tak ikut aturan orang-orang dulu. Di mana Kakak harus menikah lebih dulu dari adiknya. Hanya saja, kenapa harus pria itu? Pria itu bahkan Kakaknya Ralisya, dan kamu tahu sendiri Ralisya adalah pacarku!" ucap Raydan.
"Astaga! Seperti yang kamu bilang tadi, pikiranmu terbuka bukan? Lalu, kenapa tidak melihat dari sisi lain? Kamu dan Ralisya sah-sah saja menjalani hubungan, bahkan kalian tetap bisa menikah jika memang berjodoh. Kalian bahkan hanya menjadi keluarga besan, bukannya keluarga sedarah," ucap Gerry.
Raydan terdiam sejenak, benar juga apa yang Gerry katakan. Namun, masalah terbesar bukanlah karena Ralisya adik dari Kevano, melainkan rasanya tak percaya Rayna akan menikah dengan Kevano. Itu artinya setelah menikah nanti, Rayna akan menjadi milik Kevano sepenuhnya, dan dia sebagai kakaknya tentu merasa takut akan kesulitan berhubungan dengan Rayna.
"Pikirkan kebahagiaan Rayna. Terkadang, ada perasaan yang harus kita kesampingkan demi kebahagiaan orang yang kita sayangi. Itu adalah hal biasa, dan wajar saja. Apalagi kamu adalah Kakaknya," ucap Gerry.
Gerry menghela napas. Raydan benar-benar kerasa kepala.
"Terserah dirimu sajalah. Saranku, pikirkan lagi baik-baik, tak baik menahan kebahagiaan seseorang. Karena, karma berlaku, jangan sampai suatu saat nanti, kebahagiaanmu pun tertahan," ucap Gerry.
Raydan pun menjadi terkekeh mendengar ucapan Gerry. Entah mengapa, setelah cukup lama tak bertemu, Gerry justru menjadi orang yang bijak.
"Apanya yang lucu?" tanya Gerry bingung.
"Sejak kapan kamu menjadi orang bijak?" tanya Raydan.
"Hmmm ... Sejak dipatahkan berulang kali," ucap Gerry.
"Ah, shit! Dia terbawa perasaan," ledek Raydan.
"Sialan!" umpat Gerry.
Ha-ha-ha ...
Raydan dan Gerry pun saling tertawa. Mereka merasa bernostalgia karena bisa tertawa bersama kembali.
Cukup lama Raydan berada di rumah Gerry. Waktupun sudah larut malam. Raydan pamit pulang dari rumah Gerry.
"Jangan lupa mampir lagi!" ucap Gerry.
__ADS_1
"Pastinya," ucap Raydan dan masuk ke mobil.
Raydan melajukan mobilnya menuju kediaman Rayna. Dia sampai lewat tengah malam di karenakan perjalanan yang cukup jauh.
Raydan membuka pintu pagar yang ternyata tak terkunci, setelah keluar dari mobil dia pun masuk ke rumah dan rumah pun tak terkunci. Raydan melihat sekeliling, lampu ruangan terlihat mati dan ruangan terlihat gelap.
"Dari mana saja?" tanya Randy yang entah sejak kapan berada di ruang tamu, dan seketika lampu menyala. Raydan pun terkejut bukan main.
"Papa ngagetin aja," ucap Raydan mengatur napasnya.
"Dari mana, ha?" tanya Randy.
"Dari rumah Gerry," ucap Raydan.
"Istirahatlah!" ucap Randy.
Raydan mengerutkan dahinya, dia pikir sang papa akan memarahinya tetapi yang terjadi justru menyuruhnya beristirahat.
"Aku mau ngomong," ucap Raydan.
"Besok saja, jangan lupa kunci pintu!" ucap Randy dan pergi menuju kamar tamu di lantai atas.
Raydan menghela napas, terlihat Randy seperti masih marah padanya. Raydan menyadari kesalahannya tadi siang, sebetulnya dia tak bermaksud untuk kurang ajar, hanya saja amarahnya membuatnya tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Raydan mengunci pintu rumah dan pergi menuju kamar Rayna. Dia menghela napas melihat Rayna tertidur membelakanginya. Raydan mendekati Rayna dan tak sengaja melihat banyak tisu di atas tempat tidur. Dengan perlahan dia merangkak naik ke atas tempat tidur dan lebih terkejut lagi saat melihat mata Rayna sembab. Jelas terlihat, meski Rayna dalam keadaan tertidur.
Tanpa rasa jijik, Raydan mengambil satu persatu tisu bekas Rayna dan membuangnya ke tong sampah kecil yang ada di kamar Rayna. Dia menyelimuti tubuh Rayna dan mengecup kepala Rayna.
Maaf, gumam Raydan.
Raydan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket karena seharian berada di luar. Begitu selesai, dia membuka kopernya dan memakai pakaiannya di dalam kamar mandi. Setelah itu, dia merebahkan tubuhnya di atas sofa. Dia mengambil ponsel dan menghidupkannya. Dia melihat ada laporan beberapa panggilan tak terjawab dari Ralisya. Terdapat panggilan video juga dari salah satu aplikasi yang bisa menghubungkan setiap negara. Raydan menghela napas, ada nama Clarie di sana. Terlihat foto profil Clarie yang mana terpasang foto Raydan saat memeluk gemas tubuh Clarie dari belakang.
Raydan pun mematikan ponselnya dan terlelap.
Keesokan harinya.
Semua orang sudah berada di meja makan, mereka tengah sarapan. Sedangkan Raydan baru saja menuruni anak tangga dan menghampiri anggoat keluarga. Dia ikut sarapan bersama.
"Aku ingin bicara," ucap Raydan sambil melihat satu persatu orang yang ada di meja makan. Semua orang terdiam.
"Tidak ada bicara selama sarapan berlangsung!" tegas Dania.
Raydan menghela napas dan dengan cepat menghabiskan sarapannya. Setelah semua selesai sarapan, Raydan pun kembali mengatakan niatnya untuk bicara.
"Bicaralah!" ucap Randy.
Raydan menghela napas dan menutup wajahnya sejenak.
"Aku setuju Rayna menikah dengan Kevano!" ucap Raydan.
"APA?"
__ADS_1
Raydan mengerutkan dahinya saat mendengar semua orang yang ada di meja makan, serentak mengucapkan kata "Apa?" dengan ekspresi yang sama -sama terkejut.