Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 84


__ADS_3

Guriko, Kevano, dan Rayna terkejut mendengar pertanyaan Randy. Bagaikan mimpi di siang bolong, kedua pria itu merasa syok. Bagaimana bisa papanya Rayna justru bertanya seperti itu? Mereka bahkan tak pernah berhubungan lebih dengan Rayna.


"Apa maksud Om?" tanya Guriko dan Kevano bersamaan.


"Rayna hamil, dan hanya kalianlah pria yang dekat dengannya. Kalian yang sering menemui Rayna. Jadi, katakan! Siapa yang sudah lancang menyentuh Rayna?" tegas Randy.


"Aku nggak pernah melakukan hal yang tidak-tidak dengan Rayna, Om. Demi Tuhan, Tuhan sebagai saksiku! Kecuali--" Kevano menghentikan ucapannya. Dia memang tidak pernah melakukan hubungan badan dengan Rayna. Paling buruk, dia hanya mencium Rayna. Tapi, apa mungkin berciuman dapat menyebabkan wanitanya hamil?


Randy akan membuka suara lagi, akan tetapi terdengar suara dering telepon. Dia melihat nama kontak yang ada di layar ponselnya, terdapat nama Reksi di sana.


"Kalian tunggu dulu! Saya ada telepon penting!" tegas Randy.


Randy meninggalkan ruang tamu, dan melihat Rayna sekilas sebelum akhirnya dia pergi menuju dapur dan menerima telepon itu.


"Halo, Reks. Gimana?" tanya Randy tanpa basa basi. Sepertinya, dia dan Reksi tengah memiliki suatu pekerjaan.


"Aku sudah memeriksanya, sudah aku kirim laporannya ke email mu, dan juga ke email wanita itu," ucap Reksi.


"Oke. Aku akan cek sekarang," ucap Randy dan memutuskan telepon itu.


Randy membuka email di ponselnya, dan benar saja ada pesan dari Reksi. Terdapat detail sebuah laporan pekerjaan yang saat ini tengah mereka jalani. Ada sebuah rekaman video juga di sana, Randy membulatkan matanya melihat rekaman video tersebut. Namun, sesaat kemudian dia menyunggingkan senyumnya. Pekerjaan Reksi sesuai ekspektasinya, dan dia merasa puas dengan hasilnya.


Randy menekan panggilan pada kontak seorang wanita, tak lama menunggu panggilan Randy pun terjawab.


"Teman Saya sudah mengirimkan detail laporannya, apa Anda sudah melihat hasilnya?" tanya Randy.


"Sudah Saya cek, Saya akan pelajari ini secepatnya," ucap wanita.


"Dan Saya tidak membuka jalur perdamaian, setiap orang berhak mendapatkan keadilan," ucap Randy.


"Baik, terimakasih sebelumnya,"


Telepon itupun berakhir.


Randy menghela napas dan melihat ke arah Rayna yang masih berdiri di tangga. Randy memijat kepalanya, dia masih belum siap menghadapi Rayna. Dia kembali teringat cerita Dania semalam saat mereka berada di dalam kamar.


Ya, Dania menceritakan segalanya. Setiap rincian ucapan Stefie sebelumnya tentang apa saja yang Rayna lakukan, dia kembali mengatakannya pada Randy. Randy tak mengatakan apapun, dia memilih kembali menghampiri Kevano dan Guriko.


Randy terdiam sejenak. Dia berpikir keras, memikirkan bagaimana mengakhiri semua drama ini tanpa harus membuat malu dirinya sendiri. Tentu dia tak ingin terlihat bodoh di depan pria-pria yang jauh lebih muda darinya.

__ADS_1


Randy menyunggingkan senyumnya. Mungkin dia gila, tetapi apa yang ada dipikirannya tentu demi kebaikan Rayna.


"Lanjutkan!" perintah Randy sambil melihat Kevano.


"Iya, Om. Seperti yang aku bilang tadi, aku nggak pernah melakukan hal yang lebih terhadap Rayna. Aku bahkan berani bersumpah!" tegas Kevano. Kevano menyangkal tuduhan Randy, karena jelas dirinya tak pernah berhubungan badan dengan Rayna, jadi tak mungkin dirinya membuat Rayna hamil.


"Kecuali apa maksudnya kamu bilang tadi?" tanya Randy teringat ucapan Kevano yang sebelumnya tak dilanjutkan.


"Ya, kecuali mencium Rayna," ucap Kevano.


Bugh!


"Auw ..."


Randy yang mendengar jawaban sarkas Kevano pun sontak melemparkan ponselnya ke wajah Kevano dan membuat Kevano mengaduh kesakitan. Sementara Dania, Guriko dan Rayna hanya menggelengkan kepalanya.


"Jaga ucapanmu!" bentak Randy.


"Maaf, Om. Tapi, itu kenyataannya, dan berciuman tentu tidak menyebabkan wanita menjadi hamil. Itu yang aku pelajari selama bertahun-tahun aku duduk di bangku Sekolah! Kecuali, memang Tuhan berkehendak lain, karena manusia hanya dapat menerima takdirnya. Meski sebetulnya, takdirpun masih bisa manusia rubah agar tidak memiliki takdir yang buruk!" tegas Kevano.


Randy menghela napas dan memijat kepalanya. Benar juga apa yang Kevano katakan. Namun, tunggu. Randy membuka mulutnya, seolah akan menguap tetapi bukan menguap, melainkan menahan tawa mendengar jawaban Kevano. Anak kurang ajar itu ternyata bisa bicara bijak juga.


"Sumpah, Om. Aku sama Rayna hanya teman, kami nggak ada hubungan apapun!" tegas Guriko.


"Lalu, kenapa kamu sering pergi ke balkon kamar Rayna, ha?" bentak Randy.


Guriko menelan air liurnya, dia terkejut karena Randy mengetahuinya. Tak hanya Guriko, Rayna pun ikut terkejut.


"Kami hanya bicara santai, Pa. Nggak ada yang terjadi lebih dari itu diantara kami!" sahut Rayna dan bergegas menghampiri Randy.


"Ade diam saja. Papa yakin, salah satu dari pria ini sudah lancang melakukan hal yang tidak-tidak terhadap Ade!" tegas Randy.


Rayna menggelengkan kepalanya. Papanya itu benar-benar keras kepala. Dania menghela napas, dan memijat kepalanya. Pikiran Randy benar-benar sudah terlalu jauh. Dania yakin betul, tak ada kebohongan yang keluar dari mulut Kevano dan Guriko. Entah mengapa, tetapi instingnya begitu kuat meyakinkannya.


"Aku rasa, mereka tidak berbohong!" ucap Dania.


Randy melihat Dania dan mengerutkan dahinya. Dia mengusap wajahnya, jangan sampai ucapan istrinya itu membuatnya merubah pendiriannya untuk menginterogasi lebih jauh Kevano dan Guriko.


"Aku pria, aku lebih mengenal kaum sejenisku dengan hanya melihat raut wajahnya! Aku lebih tahu mana kebohongan, mana kejujuran!" tegas Randy.

__ADS_1


"Astaga! Simpel saja, kita pergi ke Dokter saja untuk membuktikan kehamilan Rayna. Jangan sampai otakmu itu tercemar karena ucapan Dosen itu!" tegas Dania.


Randy menghela napas, Dania benar-benar cerewet dan bisa membuatnya gagal fokus menghadapi Kevano dan Guriko.


"Aku rasa, semua bukti memang sudah menjelaskan segalanya. Rayna memang hamil, dan kenyataannya seperti itu. Tentu kita harus bisa menerima kenyataan, sepahit apapun itu," ucap Randy.


Rayna meneteskan air matanya. Papanya tega sekali tak mempercayainya. Apa dimata sang papa dia sudah begitu buruk, sehingga ucapan sang mommy yang bahkan selalu papanya itu dengarkan, kini papanya justru tak ingin mendengarkan.


"Maaf, sebelumnya. Bukti seperti apa memangnya yang membuat Om yakin, bahwa Rayna memang hamil? Karena, jujur. Aku sendiri sulit untuk percaya kalau Rayna wanita seperti itu," ucap Kevano.


Randy meminta Dania mengambilkan dua buah testpack yang memiliki tanda garis dua yang kemarin. Dengan kesal Dania mengambil testpack tersebut. Entah apa yang ingin Randy buktikan. Sementara, insting keibuannya sendiri meyakini anaknya itu tidak hamil.


Dania memberikan testpack itu pada Randy, dan Randy melemparkannya ke atas meja tepat ke hadapan Kevano dan Guriko. Keduanya membulatkan matanya, keduanya memang pria tetapi mengerti istilah garis dua yang terdapat di testpack tersebut.


"Demi Tuhan, bukan aku yang menghamili Rayna! Aku bahkan nggak punya hubungan apapun dengan Rayna, bahkan kami kenal belum lama, dan itu hanya karena kebetulan, karena kami satu kampus!" tegas Guriko.


Randy terdiam, dia tak mengatakan apapun. Ekspresinya pun datar, tak ada yang tahu apa yang ada dipikiran Randy saat ini.


Kevano bangun dari duduknya dan menghampiri Rayna.


"Jadi, siapa pria itu, yang sudah kurang ajar melakukan ini padamu?" tanya Kevano sambil menatap Rayna tak percaya.


Plak!


Rayna menampar wajah Kevano, membuat Kevano mendesis ngilu.


"Aku pikir, kamu nggak sama kaya Papaku, ternyata kalian sama saja. Oh, ya. Aku lupa, kalian sama-sama pria, tentu pemikiran kalian tidak jauh berbeda!" ucap Rayna.


Semua orang membulatkan matanya. Randy dan Dania bahkan lebih terkejut mendengar ucapan Rayna.


"Kamu lihat? Rayna benar, kalian itu memang sama saja! Bagaimana bisa kalian tidak mempercayai anakku? Anak yang aku rawat sejak kecil, aku besarkan dengan penuh kasih sayang, dan kalian bisa-bisanya menganggap anakku perempuan tidak baik!" bentak Dania sambil menatap nyalang pada Randy bergantian dengan Kevano.


Randy semakin terkejut, isterinya itu benar-benar terlihat marah.


"Aku--" ucapan Randy terhenti saat Dania mengangkat jari telunjuknya tepat di depan mata Randy.


"Aku kecewa padamu!" ucap Dania penuh penekanan dan menarik Rayna menuju kamar.


Dania dan Rayna meninggalkan ketiga pria itu yang hanya terdiam membisu. Benar kata orang, kemarahan wanita lebih menyeramkan, bahkan lebih menyeramkan dari kemarahan seekor singa.

__ADS_1


__ADS_2