Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 143


__ADS_3

Kevano terkejut melihat Rayna berteriak kesakitan. Rasa kantuknya hilang seketika. Dia bahkan langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya.


"Apa kamu mau melahirkan?" tanya Kevano.


Kehamilan Rayna kini sudah memasuki trimester akhir. Dan memang diperkirakan oleh Dokter akan melahirkan dalam bulan ini dan dalam waktu dekat ini. Kevano dan Rayna bahkan sudah menyiapkan baju-baju bayi di dalam tas yang jika sewaktu-waktu Rayna melahirkan, Kevano tak lagi harus mempersiapkannya.


Rayna mengangguk.


"Kayaknya begitu. Aku nggak kuat sakit," keluh Rayna.


"Ya Tuhan! Akhirnya si kembar mau lahir," ucap Kevano antusias.


"Ayok cepetan ke Rumah Sakit! Aku nggak tahan!" ucap Rayna.


Kevano bergegas mengambil tas yang berisikan pakaian bayi, dia memakai tas itu dengan tali yang dibuat selempang dan dia topang tas itu dengan punggungnya. Kevano menggendong Rayna menuju keluar kamar. Dia kesulitan karena kehamilan Rayna benar-benar besar. Berat badan Rayna pun kini sudah naik lebih banyak.


"Rayn berat banget, sih. Ya ampun!" keluh Kevano.


"Jangan mengeluh. Aku lebih sakit tau," ucap Rayna.


Kevano terdiam, dia tak mengatakan apapun lagi. Dia bergegas memakai sandalnya dan keluar dari apartemen. Dia pergi menuju basemant, mendudukan Rayna di kursi depan dan dia menyusul masuk ke mobil.


Kevano melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit terdekat.


Sesampainya di Rumah Sakit.


Kevano membawa Rayna ke ruang UGD. Di sana Rayna di periksa oleh Dokter. Dokter memegang perut Rayna. Posisi bayi memang sudah berada di bawah perutnya dan Rayna memang sudah waktunya melahirkan. Dokter kemudian memeriksa detak jantung bayi di dalam perut dengan menggunakan alat pendengar detak jantung. Ketiga detak jantung dalam posisi yang berbeda itu tampak normal.


Dokter meminta Suster menyiapkan segala keperluan untuk operasi caesar. Sebelumnya, Kevano dan Rayna sudah mengetahui keadaan bayi mereka. Karena itu, mereka memilih persalinan secara caesar demi kebaikan Rayna dan bayinya. Rayna pun takan sanggup melahirkan ketiga bayinya melalui persalinan normal.


Ya, sebelumnya Rayna dan Kevano sudah mengetahui bahwa Rayna tengah mengandung bayi kembari tiga.


"Kita akan segera melakukan operasi caesar. Mohon menunggu sebentar lagi," ucap Dokter.


Kevano mengangguk, dan Dokter meninggalkan ruangan UGD.


Kevano menghubungi seluruh anggota keluarga dan mengabarkan bahwa Rayna akan segera melahirkan.


Di kediaman Randy.


Mendapatakan kabar Rayna akan melahirkan, membuat Randy dan Dania menjadi panik. Nyawa mereka belum sepenuhnya terkumpul karena waktu dini hari seperti itu sudah waktunya semua orang berisitirahat menikmati mimpinya.


"Ayok cepat! Cucu kita udah mau lahir!" ucap Randy tak sabar.


"Sebentar, dong. Masa aku pakai piyama ke Rumah Sakit. Di sana juga ada menantu kita. Dia pasti menjaga Rayna!" kesal Dania.


Dania tak bisa diburu-buru seperti itu, apalagi Dania masih merasa sedikit pusing karena belum lama memejamkan matanya.


Randy menghela napas. Dia tersadar bahwa dia masih memakai piyamanya.


Randy bergegas mengganti pakaiannya dengan pakaian santai selain piyama. Selesai Dania dan Randy bersiap, mereka bergegas menuju Rumah Sakit.


Di kediaman Orangtua Kevano.


Ralisya pertama kali mendapatkan kabar dari Kevano bahwa Rayna akan melahirkan. Kevano meminta tolong pada Ralisya agar memberitahukan kabar itu pada kedua Orangtuanya.


Sontak Ralisya mengetuk pintu kamar Orangtuanya. Membuat mereka terkejut karena waktu masih menujukan dini hari.


"Cucu Mama sama Papa udah mau lahir. Kak Kevano barusan ngabarin aku," ucap Ralisya tersenyum.


"Benarkah? Ayok ke Rumah Sakit!" ucap mama cemas.


Mereka tampak sibuk bersiap. Tak sabar rasanya ingin segera melihat cucu pertama mereka.


Selesai bersiap, mereka pergi menuju Rumah Sakit. Ralisya pun ikut ke Rumah Sakit. Dia juga tak sabar ingin segera melihat keponakan pertamanya.


Di Rumah Sakit.


Semua anggota keluarga Rayna dan Kevano sudah sampai di Rumah Sakit. Mereka kini tengah menunggu Rayna yang sebentar lagi akan memasuki ruang operasi.


Kevano tengah duduk dengan tangannya yang tak melepaskan tangan Rayna meski hanya sedetik saja. Dia cemas, sekaligus bahagia akan segera melihat buah cintanya dengan Rayna.


"Berdoa, Kev. Doakan yang terbaik untuk Istri dan anakmu," ucap sang mama.


Kevano mengangguk. Tak tega rasanya melihat Rayna yang terus mengeluh kesakitan. Jika melahirkan normal, pembukaan Rayna belumlah cukup, dan air ketuban Rayna pun belum pecah. Rayna hanya masih merasakan mulas tetapi sudah memasuki waktu lima menit sekali merasakan mulas.


Kesakitan itu luar biasa menyerang tubuh Rayna. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya dia merasakan sakit seperti itu.


"Sakit sekali, ya ampun!" Rayna mengeluh. Benar-benar luar biasa rasa sakitnya. Tubuhnya berkeringat banyak meski ruangan itu dingin karena ber-ac.


'Inikah yang dirasakan Mommy saat melahirkanku?' batin Rayna.


Rayna memanggil Dania, sontak Dania mendekat dan menggenggam tangan Rayna.


"Berdoa, Sayang," ucap Dania mengusap lembut kepala Rayna.


Dania meneteskan air matanya. Dia tahu betul rasanya berada di posisi Rayna saat ini. Dia pun pernah merasakannya. Bahkan tubuh seakan disiksa karena sakitnya. Luar biasa perjuangan seorang ibu demi melahirkan nyawa sang bayi yang menjadi penantian selama pernikahan.


"Ini yang Mommy rasakan waktu melahirkan ade dan Abang, ya?" tanya Rayna.


Dania tersenyum mengangguk.


Rayna teringat saat dia tanpa sadar melukai perasaan Dania. Di mana ketika itu dia menentang larangan Dania untuk dekat dengan Kevano. Hati Dania pasti sakit saat itu, pikir Rayna.


"Maafin ade pernah buat Mommy kecewa. Mommy berjuang melahirkan ade dan Abang. Tapi ade pernah kecewain Mommy," ucap Rayna sedih.


Dania kembali meneteskan air matanya. Terharu rasanya mendengar ucapan anak perempuannya itu. Seorang ibu, meski pernah merasa kecewa karena perbuatan anaknya tetap tak akan bisa membenci anaknya. Dania pun sudah melupakan kejadian di masa lalu hanya demi kebahagiaan Rayna. Anak perempuan satu-satunya yang dia lahirkan dengan penuh perjuangan, dan dia besarkan dengan penuh cinta dan kasih sayang. Jika hati Rayna terluka, maka hati Dania akan lebih terluka. Begitulah orangtua.


Itu sebabnya, seorang anak sampai kapan pun takan mampu membalas jasa kedua orangtuanya. Meski lelah, orangtua takan memikirkan rasa lelahnya. Mereka menikmati lelah mereka dalam menjaga buah hati mereka. Orangtua bahkan akan lebih menyayangi dan mementingkan anak-anak mereka dibandingkan diri mereka sendiri.


"It's okay, Sayang. Ade kuat, sebentar lagi semua kesakitan ini akan berakhir," ucap Dania mencoba menyemangati Rayna.


Tak lama, Dokter masuk dan memberitahukan bahwa operasi caesar akan segera dilakukan. Rayna tampak cemas, dia takut memasuki ruangan operasi tetapi Kevano terus menggenggam tangannya. Mencoba memberi kekuatan pada Rayna.


Kevano ikut masuk ke ruang operasi, sementara anggota keluarga lainnya menunggu di luar.

__ADS_1


Rayna diminta duduk di atas brankar, dan Dokter memberikan suntikan anastesi pada panggul Rayna. Rayna meremas kuat tangan Kevano. Sakit sekali rasanya ketika jarum suntik itu menembus panggulnya.


"Apa sakit?" tanya Kevano.


Rayna mengangguk. Dia tak kuasa mengatakan apapun dan hanya dapat mengangguk kecil.


***


Waktu berlalu, Rayna sudah terbaring di atas brankar dan Dokter memulai operasi. Ada beberapa Dokter yang membantu operasi persalinan Rayna.


Kevano merasa lemas ketika mencium aroma darah. Ya, perut Rayna sudah mulai di operasi.


Sebisa mungkin Kevano menahan agar tak pingsan di dalam ruangan itu. Bisa repot pikirnya. Apalagi dia harus berada di sisi Rayna, menemani Rayna hingga dia dapat melihat untuk pertama kalinya sang buah hati.


Tak lama, mulai terdengar suara sang bayi. Kevano dan Rayna saling tatap dan seketika air mata mengalir tanpa disadari dari mata keduanya. Kevano mencium dahi Rayna. Membisikan sesuatu di telinga Rayna.


"Bayi pertama kita, itu bayi pertama kita, Sayang," bisik Kevano.


Setelah itu, terdengar tangisan bayi kedua. Rayna dan Kevano semakin menangis. Benar-benar bahagia perasaan mereka.


Terkahir, terdengar tangisan bayi ketiga. Rayna dan Kevano semakin menjadi menangis. Kevano tak hentinya mencium dahi Rayna. Bahkan mencium seluruh wajah Rayna.


Kevano tak tahan menunggu, dia berniat melihat ke arah bayi, tetapi dia tak sengaja melihat perut Rayna yang tengah dioperasi.


Betapa terkejutnya dia melihat perut Rayna dalam keadaan terluka seperti itu. Dia baru tahu, ternyata seperti itu operasi caesar. Di mana perut Rayna terlihat banyak sekali darah dan terbuka seperti itu.


Kevano kembali mendekati Rayna, dia urungkan niatnya untuk melihat sang bayi. Seketika dia bersimpuh di dekat brangkar. Tubuhnya melemas membayangkan luka di perut Rayna.


"Setelah ini, apapun yang kamu inginkan aku akan berusaha memberikannya. Apapun itu, bahkan jika menyakitiku sekalipun, aku akan melakukannya. Terimakasih untuk pengorbananmu melahirkan ketiga bayi kita," ucap Kevano terisak. Kevano tak tahan lagi, dia kuatkan tubuhnya untuk berdiri dan dia memeluk Rayna.


"Aku mencintaimu, Rayn. Hanya kamu, bahkan jika seluruh Dunia menawarkan wanita yang lebih cantik, lebih baik darimu, aku berjanji akan selalu menjaga hatiku untukmu. Aku akan mendampingimu selama napasku masih berembus. Selama jantungku masih berdetak, dan selama Tuhan belum mengambil nyawaku, aku akan terus mempertahankanmu. Aku mencintaimu, Sayang. Terimakasih," ucap Kevano.


Rayna hanya bisa menangis mendengar ucapan Kevano.


Hingga waktu berlalu. Dan salah satu Dokter meletakan bayi yang pertama keluar dari rahim Rayna di pelukan Rayna. Rayna terisak memeluk bayinya. Tak lama, Dokter kembali membawa bayi kedua. Dan Kevano langsung menggendongnya. Meski ada perasaan takut ketika menggendong sang bayi, tetapi dia mencoba memberanikan dirinya. Bagaimana pun, dia harus terbiasa nantinya.


Tak lama, datang lagi bayi ketiga. Dokter menggendong bayi itu.


Ya, Rayna melahirkan bayi kembar tiga berjenis kelamin laki-laki. Bayi itu mirip sekali dengan Rayna. Anak laki-laki, memang akan lebih kuat mengikuti gen sang ibu.


"Ya Tuhan, aku langsung dapat tiga orang anak. Sayang, kamu nggak perlu lagi melahirkan. Udah cukup, kita akan mengurus dan membesarkan ketiga jagoan kita. Aku juga nggak mau kamu kesakitan lagi," ucap Kevano.


Dokter dan Rayna hanya tersenyum. Bahkan Dokter yang lainnya yang ada di sana pun ikut tersenyum mendengar ucapan Kevano.


Kevano mengadzani ketiga bayinya secara bergantian.


****


Operasi sudah selesai di lakukan. Ketiga bayi itu kini sudah berada di ruangan bayi dan di tidurkan di dalam box bayi secara bersamaan.


(Ilustrasi bayi Rayna dan Kevano ketika berada di dalam box bayi)



Rayna kini sudah berada di ruangan rawat. Semua keluarga berkumpul di sana.


Ralisya memeluk Rayna, dia ikut bahagia.


"Aku janji, akan menjadi Tante yang baik. Aku akan membantu kalian merawat ketiga jagoan kalian," ucap Ralisya tersenyum.


"Thank you, Sya," ucap Rayna tersenyum.


Setelah itu, mereka semua meninggalkan Rayna agar bisa beristirahat. Hanya tinggal Kevano di sana yang terus menemani Rayna.


Dua hari berlalu.


Tok-tok-tok ...


Seseorang membuka pintu ruang rawat Rayna. Di dalam ruangan itu kembali semua keluarga menemani Rayna, hanya saja tak ada Ralisya di sana. Ralisya harus pergi ke Kampusnya dan akan datang di malam hari menemani Rayna juga Kevano di Rumah Sakit.


Alangkah terkejutnya Rayna saat melihat sosok di balik pintu itu.


"Abang!" ucap Rayna.


Ya, itu Raydan. Dia datang langsung dari Jerman demi menemui ketiga kepoanakan kecilnya.


"Kapan Abang pulang?" tanya Rayna.


Raydan mendekati Rayna dan mencium dahi Rayna. Tak sangka, adik kecilnya itu kini sudah menjadi seorang ibu. Meski Raydan dan Rayna lahir di hari dan tanggal yang sama, bahkan di waktu yang sama hanya saja berbeda menitnya, tetapi bagi Raydan, Rayna tetaplah adik kecilnya.


"Abang baru sampai, langsung ke sini. Kemarin dikabarin sama Mommy, kalau keponakan Abang udah lahir. Jadi, Abang putusin untuk pulang," ucap Raydan tersenyum.


Rayna mengangguk tersenyum. Dia bahagia semua keluarganya ikut berkumpul.


Tak lama, datanglah seorang Suster sambil mendorong box bayi. Saatnya sang bayi disusui oleh ibunya. Rayna sudah memberikan Asinya karena sejak awal memang sudah mengisi dadanya.


Suster memberikan bayi pertama untuk di susui. Para bayi itu memang harus bergantian mendapatkan Asi.


Randy dan papa Kevano keluar dari ruangan itu. Tak enak pikirnya, apalagi bagi mertua Rayna jika harus melihat menantunya tengah menyusui. Begitupun dengan Randy, meski Rayna selalu dia anggap gadis kecilnya, tetapi kini Rayna sudah benar-benar dewasa.


Raydan pun ikut keluar, tetapi tidak dengan Kevano. Kevano Suami Rayna, dia berhak berada di sana.


Ketika tengah menyusui, kedua bayi lainnya menangis. Kevano menggendong satu bayinya, dan bayi lainnya digendong oleh Dania.


"Sabar, Sayang. Mamimu sedang menyusui Kakakmu," ucap Dania.


Kevano pun mencoba menenangkan sang bayi digendongannya.


"Lain kali, kalian butuh susu formula untuk tambahan. Ketiga bayi ini kuat sekali menyusunya. Rayna akan kewalahan," ucap mama Kevano.


"Iya, Ma. Nanti aku siapin," ucap Kevano.


Rayna meminta ketiga bayi itu untuk tinggal bersamanya, dan Dokter mengizinkan. Ketiga bayi itu sehat, jadi boleh bersama ibunya di ruangan yang sama.


Keesokan harinya.

__ADS_1


Rayna sudah diperbolehkan pulang. Kini dia sudah berada di kediaman Randy dan Dania.


Kevano menyarankan agar Rayna tinggal bersama orangtuanya agar ada sosok orangtua yang mengawasi Rayna. Meski begitu, Kevano tetap menyiapkan tiga orang Suster untuk membantu Rayna merawat bayinya.


Rayna bmembuka sebuah kado yang Guriko berikan sebelum pergi ke Jepang saat itu. Kado itu ternyata berisikan baju bayi. Di mana di sana ada sebuah kartu ucapan. Kado itu sebelumnya diambil oleh Kevano, karena penasaran juga dengan isinya. Beruntunglah, Kevano mengerti dan tak marah karena Guriko memberikan kado itu.


Rayna membaca kartu ucapan dari Guriko.


*Dengan siapapun kamu menikah, dan siapapun Ayah dari bayi itu, aku hanya berharap kamu akan selalu bahagia, Rayn. Maaf, jika aku tak dapat membantumu. Semoga kelak, kita bisa bertemu lagi.


_Guriko*_


Rayna menghela napas. Dia tersenyum. Dia ingat, Guriko memberikan kado itu ketika dirinya dalam masalah yang disebabkan oleh Byanka.


****


Kini, mereka semua tengah berkumpul di ruang keluarga. Di mana di sana juga ada ketiga bayi Rayna dan Kevano.


Bayi pertama, diberi nama Alvino Mahendra Hamish. Bayi itu kini tengah berada digendongan Dania.


Bayi kedua yang diberi nama Devano Mahendra Hamish, dan kini tengah berada digendongan mama Kevano. Para Oma muda itu tampak bahagia bermain dengan cucu mereka.


Sedangkan bayi ketiga yang diberi nama Gevano Mahendra Hamish, tengah berada digendongan Kevano. Kevano pun bahagia, baru beberapa hari tetapi Kevano sudah terbiasa menggendong bayi sekecil itu.


Nama Mahendra dan Hamish sengaja Kevano dan Rayna masukan ke dalam nama belakang anak-anak mereka demi menghindari adanya rasa cemburu dari salah satu pihak keluarga. Dengan begitu, mereka adil membawa nama belakang kedua keluarga.


Kevano mendekati sang mama.


"Ma!"


"Ya, kenapa, Kev?" tanya mama.


"Mama pasti kesulitan, ya, melahirkan aku waktu itu?" tanya Kevano.


"Kenapa nanya gitu?" tanya mama bingung.


"Karena aku melihat itu saat Rayna melahirkan sikembar," ucap Kevano.


Sang mama tersenyum.


"Ya, semua itu akan dirasakan oleh semua wanita. Bagaimana harus berjuang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan nyawa baru," ucap mama.


"Maafin, aku ya, Ma. Kalau selama ini aku udah sering buat mama susah. Buat mama malu karena ulahku," ucap Kevano sedih. Dia tak bisa membayangkan bagaimana sang mama berjuang bertaruh nyawa ketika melahirkannya lalu merawatnya hingga sebesar itu. Namun, dia justru pernah membuat sang mama malu karena kelakuannya.


"Mama sudah memaafkanmu. Kelak, hargailah selalu Istrimu. Dia bukan hanya Istrimu yang wajib melayanimu. Tapi, dia juga pendamping hidupmu. Yang akan menemanimu di masa sulit dan senangmu, hargai pendapatannya, dengarkan keluhannya, dan lakukan yang terbaik," ucap mama.


Kevano mengangguk.


"Aku janji, Ma. Akan berusaha jadi Suami dan Ayah yang baik untuk keluargaku," ucap Kevano.


Sang mama mengangguk. Merasa bangga pada Kevano. Ada bagusnya Kevano menemani Rayna bersalin. Dengan begitu, Kevano dapat melihat sendiri bagaimana Rayna berjuang, bahkan merelakan perutnya dibedah agar ketiga buah hatinya keluar dari rahimnya. Kevano pun semakin dapat berpikir dewasa. Menikah membuatnya benar-benar belajar arti hidup dan mengesampingkan egonya.


Bagi Kevano, menikah bukan hanya menyatukan dua perasaan cinta dalam hati masing-masing. Melainkan juga menyatukan segala ketidaksamaan dalam diri masing-masing agar dapat tercapai keputusan atas kesepakatan bersama. Kevano memang sebisa mungkin mengesampingkan egonya jika itu masih dalam keadaan batas sewajarnya. Jika menyimpang, dia pun takan menyetujui hal itu. Dan selama ini, Rayna menjadi Istri yang baik meski kerap kali membuatnya kesulitan. Kevano tahu, Rayna seperti itu ketika dalam keadaan hamil.


Rayna memang terlahir dari keluarga kaya raya dan terbiasa mendapatakan apapun dengan mudah, tetapi Kevano yakin, dengan menjadi seorang Ibu, pikiran Rayna akan semakin dewasa. Dan Kevano akan terus berusaha membimbing Rayna.


Mungkin di masa lalu banyak sekali keburukan yang Kevano lakukan, tetapi dia tak ingin di masa depannya dirinya tak melakukan perbaikan apapun dalam dirinya. Semakin terbuka pikiran dirinya, maka dia semakin berpikir hanya ingin melakukan sesuatu yang baik bagi dirinya dan orang-orang sekitarnya. Karena pada dasarnya, kedewasaan tak hanya di dapat ketika usia memasuki dewasa. Pikiran dewasa, akan tumbuh ketika seseorang sudah dapat melihat segala sesuatunya dari cara pandang lainnya dan melihat segala sesuatu secara positif.


Layaknya ujian yang datang dalam hidup, akan selalu ada pembelajaran di dalamnya. Dan segala sesuatu yang terjadi pada Kevano dan Rayna adalah rencana Tuhan. Tuhan menghadirkan masalah di masa lalu untuk Kevano dan Rayna, karena seperti itulah jalannya untuk mereka bersama. Manusia tak pernah tahu, akan datang dengan cara apa jodoh mereka kelak. Ada yang jalannya manis semanis madu, ada yang jalannya layaknya jalanan berkerikil, penuh tantangan. Semua sudah tertulis dalam jalan hidup masing-masing orang.


Rayna terus melihat ketiga bayinya, dia merasa bahagia. Dia beruntung dikelilingi banyak orang yang menyayanginya. Dia melihat Kevano, pria yang pernah mengecewakannya di pertemuan kedua mereka. Meski Rayna menyadarinya belum lama. Kevano pernah mempermalukan dirinya di masa lalu, tetapi kemudian Tuhan memiliki jalan lain untuknya. Kini, di hatinya justru hadir rasa cinta dan bangga pada Kevano.


Kevano yang dulu pernah mempermalukannya, kini justru menjadi pria kedua setelah sang papa yang menjaganya dengan baik. Hingga masalah di masa lalu yang dulu dia anggap kesialan dalam hidupnya, kini membuatnya bersyukur dan belajar bahwa dalam setiap masalah akan selalu ada pembelajaran meski pembelajaran itu tak selalu datang bersamaan dengan masalah tersebut. Terkadang, butuh waktu untuk seseorang mengerti dan memahami setiap masalah yang datang dalam hidup.


Kevano mendekati Rayna dengan masih menggendong bayi Gevano.


"Bahagia, ya. Melihat mereka semua berkumpul di sini. Semua karena Alvino, Devano, dan Gevano," ucap Kevano tersenyum.


"Iya, aku benar-benar bahagia," ucap Rayna.


"Dan aku lebih bahagia karena memiliki buah hati yang terlahir dari rahim wanita yang sangat aku cintai. Kamu tahu, ternyata rasa tertarik itu sudah ada sejak aku remaja dulu. Di mana ketika itu aku melihatmu untuk pertama kalinya. Lalu, Tuhan menghadirkan cinta untukmu ketika di pertemuan kedua, ketiga, dan seterusnya cinta itu selalu tumbuh. Maafkan aku untuk semua yang terjadi di masa lalu, aku harap kita hanya akan hidup dengan melihat masa depan, tanpa melihat masa lalu," ucap Kevano.


"Ya, dan aku sudah memaafkan kamu, ketika aku untuk pertama kalinya jatuh cinta sama kamu," ucap Rayna tersenyum.


Kevano tersenyum, dia mengecup dahi Rayna.


"I love you," ucap Kevano.


"I love you too," balas Rayna.


Kevano merangkul Rayna dengan satu tangannya yang masih menggendong bayi Gevano. Dia benar-benar bahagia memiliki keluarga yang lengkap. Lengkap sudah kebahagiaannya. Dia takan menuntut apapun lagi pada Rayna. Dia akan menghargai apapun keputusan Rayna di masa depan. Bagi Kevano, ada Rayna dan ketiga bayinya di hidupnya. Sudahlah cukup, dia takan meminta apapun lagi.


Di sisi lain.


Tampak sepasang anak manusia tengah berdiri bersampingan. Dialah Raydan dan Ralisya.


Raydan masih berada di Indonesia.


"Sya!" panggil Raydan.


"Hm ..." Ralisya melihat Raydan yang kini tengah menatapnya.


"Maaf, untuk kejadian saat itu. Mungkin, saat itu aku pernah megecewakanmu," ucap Raydan merasa bersalah.


Ralisya tersenyum.


"Aku sudah memaafkanmu," ucap Ralisya.


"Terimakasih, Sya. Aku menyesal," ucap Raydan menggenggam tangan Ralisya.


"Dan aku sudah ikhlas. Kamu tahu, aku mengambil sebuah pelajaran dari kekecewaan yang kudapat sebelumnya," ucap Ralisya.


"Apa?" tanya Raydan penasaran.


"Aku belajar, bahwa mencintai tak seharusnya mengharapkan balasan dicintai. Kamu tahu, cinta yang tulus, takan pernah mengharapkan balasan. Aku mungkin kecewa saat itu, tetapi tidak untuk saat ini. Karena aku mencintaimu, ketika di mana untuk pertama kalinya aku merasakannya rasa itu. Dan cintaku cukup mengerti, dan tak menginginkan balasan apapun. Kedepannya, aku mungkin hanya harus lebih hati-hati dalam mencintai seseorang, karena tak semua orang bisa menghargai cinta orang lain," ucap Ralisya tersenyum dan pergi meninggalkan Raydan yang terdiam dalam kebisuan.

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2