Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 109


__ADS_3

Raydan memegang dagunya yang terasa ngilu akibat terbentur dengan kepala Ralisya. Ralisya pun menahan sakit di kepalanya dan menyentuh kepalanya.


"Ceroboh banget, sih!" kesal Raydan.


"Lho ... Aku nggak sengaja, ya. Lagian, kamu ngapain, kok, kepala kamu bisa ada di atas kepala aku?" ucap Ralisya.


"Yang benar aja. Kamu sendiri ngapain nunduk-nunduk gitu?" ucap Raydan kesal.


"Aku ngambil ini," ucap Ralisya sambil menunjukan barangnya yang sempat terjatuh tadi.


"Ya, aku mau bantu ambilin. Mana enak, sih, posisi kamu kayak tadi tuh!" kesal Raydan.


"Ngapain juga mau bantu? Jangan sok care," ucap Ralisya.


"Astaga!" geram Raydan. Raydan memilih membungkam telinganya dengan headset dan tak mengatakan apapun lagi.


Benar-benar kasar, dia tetap tak berubah, batin Raydan. Raydan tak habis pikir, dia pernah menyukai wanita yang tak ada lembut-lembutnya. Sudah sejak sekolah dulu Ralisya memang wanita yang memiliki sikap dingin. Bahkan dirinya sempat menghajar Raydan ketika saat itu Raydan mencoba memperkenalkan dirinya.


Ralisya pun memilih duduk dengan tenang dan tak mengatakan apapun lagi. Dia pun memakai headset sambil menunggu pesawat take off.


*****


Sesampainya di Bandara Internasional Soekarno Hatta.


Rayna, Kevano, Ralisya dan Raydan sudah keluar dari pesawat. Mereka berempat pun tengah menyeret koper masing-masing dan pergi menuju taksi.


"Kamu mau bareng Raydan, Sya?" tanya Kevano.


"Ha?" Ralisya tampak terkejut mendengar pertanyaan Kevano. Ralisya pun melupakan satu hal, bahwa Kevano belum mengetahui perihal retaknya hubungan keduanya.


Raydan pun hanya diam seolah tak mendengar apa yang Kevano katakan. Dia benar-benar tampak acuh.

__ADS_1


"Kalian pulang kemana emang?" tanya Raydan pada Kevano dan Rayna.


Rayna dan Kevano tampak saling melihat. Keduanya bingung mau menjawab apa. Pasalnya, keduanya belum membicarakan akan tinggal di mana setelah resmi menjadi sepasang suami istri.


"Aku terserah Kevano aja," ucap Rayna.


Kevano tampak berpikir sejenak.


"Besok belum masuk kuliah kan, ya?" tanya Kevano.


Rayna pun mengangguk.


"Ke apartemenku, apartemen kita," ucap Kevano tersenyum. Rayna membalas tersenyum dan mengangguk. Dirinya setuju untuk ikut bersama Kevano ke apartemennya. Rayna pun ingin tahu lebih jauh apartemen Kevano. Meski pernah datang ke apartemen Kevano, tetapi saat itu Rayna tak begitu memperhatikan setiap inci ruangan apartemennya. Semua terjadi begitu cepat sampai akhirnya Randy dan Raydan datang menjemput dirinya.


"Oke, Abang pulang ke rumah Papa aja. Lusa Abang pulang ke Jerman, Mommy sama Papa paling sampai nanti malam di rumah," ucap Raydan.


Dania dan Randy memang memilih penerbangan yang berbeda dengan anak-anaknya, Randy sendiri ingin memiliki waktu lebih lama sebetulnya bersama Dania. Namun, mengingat Raydan akan kembali ke Jerman dia pun hanya memiliki waktu sebentar untuk hanya berdua saja dengan Dania. Meskipun setiap hari mereka bertemu, tetap saja hanya di pagi hari ketika Randy belum berangkat ke kantor, dan saat Randy pulang dari kantor di malam hari. Randy dan Dania tetap membutuhkan quality time berdua saja layaknya pengantin baru. Itulah rahasia kedunya untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga. Begitupun bisa selalu menumbuhkan rasa cinta dan semua terasa menyenangkan, tak akan membosankan.


"Kalau Ralisya mau, ayo aja," ucap Raydan tersenyum.


Ralisya terdiam. Meski Ralisya sendiri menyadari senyuman itu hanya sebatas formalitas saja, bukan atas dasar tulus. Ralisya sendiri memang tak ingin terlalu menunjukan adanya masalah diantara dirinya dan Raydan. Sebisa mungkin dirinya menyembunyikan masalahnya bersama Raydan.


"Ya udah, bareng aja," ucap Ralisya.


Ralisya terkejut saat tiba-tiba Raydan menyentuh tangannya yang memegang koper.


"Aku yang bawa," ucap Raydan. Ralisya melepaskan tangannya dan membiarkan Raydan menyeret koper miliknya. Meski hanya sebentar karena jarak menuju taksi tak terlalu jauh, tetap saja Ralisya merasa senang. Sayangnya, sesaat kemudian Ralisya tersenyum miris meikirkan semua itu hanyalah kepura-puraan agar semua terlihat baik-baik saja di hadapan Kevano dan Rayna.


Raydan dan Ralisya masuk terlebih dahulu menuju taksi, mereka pun pergi lebih dulu dari Bandara.


Begitupun Rayna dan Kevano, mereka akan masuk ke dalam taksi. Namun, langkah keduanya terhenti ketika tiba-tiba saja ada beberapa orang menghampiri mereka. Orang-orang itu ternyata wartawan. Entah sejak kapan wartawan-wartawan itu ada di sana.

__ADS_1


Rayna mengambil kacamata hitam dan bergegas memakainya. Dirinya merasa tak nyaman disorot oleh beberapa kamera seperti itu.


"Mas Kevano dan istri selamat atas pernikahannya," ucap salah satu wartawan.


"Terimakasih banyak, ya, teman-teman semua," ucap Kevano. Kevano menuntun Rayna menuju taksi.


"Mas Kevano, bisa jelaskan bagaimana kalian akhirnya bisa menikah? Sementara pernah terjadi sebuah scandal beberapa bulan lalu antara Mas Kevano dan Istri, apakah ini bagian dari settingan?" tanya wartawan lainnya.


Kevano dan Rayna membulatkan matanya. Mereka terkejut mendengar ucapan wartawan yang tak bertanggung jawab itu.


"Tolong, ya. Kami sangat bahagia, dan kebahagiaan kami nyata, bukan settingan. Saya hidup di dunia nyata, bukan di dunia ghaib," jawab Kevano kemudian meninggalkan para wartawan itu, dia tak mempedulikan beberapa wartawan itu yang mencoba mengejarnya. Kevano membukakan pintu taksi untuk Rayna, sementara supir taksi membantu memasukan koper keduanya ke dalam bagasi. Taksi pun mulai meninggalkan Bandara setelah Kevano menyusul masuk.


Pasangan pengantin baru itu saling menggenggam satu sama lain. Seolah ditangan keduanya terdapat lem power glue yang membuat tangan keduanya sulit dilepaskan karena saking eratnya. Bahkan sesekali Kevano mengecup punggung tangan Rayna.


"Jangan dipikirin ucapan wartawan-wartawan tadi. Aku harap, kamu akan terbiasa dengan pertanyaan yang diluar nalar seperti itu. Pekerjaan mereka memang seperti itu, membuat heboh. Kita tetap saja hidup apa adanya," ucap Kevano tersenyum mencoba menenangkan Rayna.


Rayna terdiam untuk sesaat. Dia menyenderkan kepalanya di pundak Kevano. Dia sebetulnya merasa tak nyaman saat diperhatikan oleh publik, tetapi dirinya harus siap menerima resiko apapun karena menjadi istri dari seorang yang wajahnya terbiasa terpampang di publik.


"Mas Kevano, selamat atas pernikahannya, ya," ucap supir taksi yang sontak mengalihkan perhatian Kevano dan Rayna.


"Terimakasih, Pak," ucap Kevano tersenyum.


Supir itu tampak tersenyum terlihat dari kaca spion depan.


"Dia fans aku," bisik Kevano sambil terkekeh. Rayna terdiam. Ah, ya. Suaminya itu adalah penyanyi sekaligus aktor, tentu saja memiliki fans.


Kevano merasa geli sendiri karena mengatakan supir itu adalah fans-nya. Dirinya bahkan tak tahu siapa supir taksi itu. Dia hanya ingin menjahili Rayna. Benar saja Rayna tampak terdiam. Kevano memaklumi itu. Rayna mungkin belum terbiasa.


Sesampainya di apartemen.


Kevano dan Rayna memasuki apartemen. Sebelum sampai di kamar, mereka harus melewati ruangan yang di mana adalah sebuah ruang tamu yang menyatu dengan dapur dan hanya terhalangi oleh furniture saja. Perhatian Rayna teralihkan saat melihat seorang wanita tengah berdiri di dapur seperti tengah mengerjakan sesuatu.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Rayna melihat ke arah wanita itu.


__ADS_2