
"Lancang sekali ..! Beraninya kamu menghina dan memanfaatkan anak saya ..!" ucap Dania dengan geram.
Sebagai seorang ibu, hatinya sungguh terluka mendengar ucapan Kevano.
"Keluar dari rumah saya ..! Jangan pernah kamu ganggu anak saya lagi ..!" ucap Dania dengan tegas.
Rayna menatap Dania dengan tatapan sulit di artikan, untuk pertama kalinya dia melihat sang mommy marah.
"Saya juga akan keluar dari rumah ini. Tapi, sebelum itu ada saran untuk Om dan Tante. Jangan terlalu arogan jadi orang tua, jangan sampai Rayna jadi perawan tua, karena tidak ada yang berani mendekati Rayna," ucap Kevano sambil memegangi pipinya yang masih terasa ngilu akibat tamparan kerasa dari Randy dan Dania.
Kevano pun bergegas keluar dari rumah itu dengan perasaan kesal, sungguh dia kesal dengan dirinya sendiri.
Entah kenapa dia bisa sampai mengatakan semua itu, padahal dia sendiri tak pernah menganggap Rayna seperti apa yang dia katakan sebelumnya.
Sementara dari lantai dua Raydan mengepalkan tangannya dengan kuat, dadanya bergemuruh mendengar apa yang Kevano katakan tentang adiknya.
Ya, dia mendengar segalanya, namun dia tak mungkin turun menghampiri Kevano karena dia tak akan bisa mengontrol emosinya.
*******
Malam harinya di sebuah klub malam.
Kevano menenggak minuman alkohol yang ada di tangannya, saat ini perasaannya benar-benar kacau.
Seharusnya dia senang karena masalahnya dengan Selly akan segera selesai, namun hatinya justru tak tenang mengingat apa yang dia katakan siang tadi saat di rumah Rayna.
Dia pun tak mengerti dengan perasaannya, entah iya dia memang memanfaatkan Rayna atau mungkin dia memang sudah menyukai Rayna.
"Sudah cukup." Nando mengambil gelas yang ada di tangan Kevano.
"Shit ! Jangan ikut campur !" bentak Kevano.
Nando menggelengkan kepala, dia sungguh tak mengerti dengan temannya itu.
Seharusnya temannya itu merayakan untuk kebebasannya dari pemberitaannya dengan Selly, tapi yang terlihat justru seperti orang yang sedang frustrasi.
"Jangan bermain-main jika tak ingin terjebak," ucap Nando.
"Apa maksud kamu, ha?" Kevano mencengkram kuat kerah baju Nando.
"Kamu jatuh cinta pada Rayna, benar kan?" tanya Nando sambil tersenyum remeh.
Hahaha.
Bukannya menjawab, Kevano justru tertawa keras.
"Mana mungkin aku jatuh cinta pada anak orang kaya itu, apa yang aku miliki justru hanya satu persen dari apa yang orangtuanya miliki, jangan bermimpi," ucap Kevano.
"Apa maksudmu?" tanya Nando dengan bingung sekaligus penasaran.
"Kamu tahu siapa orang tuanya Rayna?" tanya Kevano.
Nando menggelengkan kepalanya.
" Papanya pemilik Restauran yang cabangnya di mana-mana, dan Mamanya seorang bintang terkenal, Dania Hamish," ucap Kevano.
"What? Serius?" Nando benar-benar terkejut mendengar ucapan Kevano.
Kevano pun mengangguk dan kembali merebut gelas miliknya dan menenggak minumannya.
"Sungguh, dia sudah menginjak harga diri aku," ucap Kevano sambil terkekeh mengingat apa yang dia alami selama di rumah Rayna.
Entah mengapa niat baiknya untuk datang langsung dan meminta maaf kepada Rayna dan juga orangtuanya justru membuat Kevano merasa tak di hargai.
__ADS_1
Kevano sadar betul dia memang salah karena telah mengambil keputusan tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan Rayna dan sudah mengaku pada media bahwa dia dan Rayna adalah sepasang kekasih.
"Tapi, itu salahmu juga," ucap Nando dengan santai.
Kevano menatap tajam ke arah Nando.
"Wawancara mu bersama media sudah ada di youtube, tentu saja aku melihatnya," ucap Nando.
Kevano pun tersenyum.
"Kalian bahkan bukan sepasang kekasih," ucap Nando.
"Sekarang belum, dan akan segera menjadi sepasang kekasih," ucap Kevano dengan yakin.
Nando tersenyum meremehkan ucapan Kevano, temannya itu benar-benar sudah tidak waras.
"Kamu sudah benar-benar jatuh cinta pada gadis itu," ucap Nando.
"Jatuh cinta atau tidak, aku akan menjadikannya kekasihku," ucap Kevano.
"Bahkan di saat semuanya sudah seperti ini? Orangtuanya pasti sudah sangat membencimu," ucap Nando.
"Memangnya kenapa? Aku dan Rayna yang akan menjalani, bukan orangtuanya," ucap Kevano.
"Astaga, ayolah, jangan membuat masalah," ucap Nando dengan nada mulai kesal.
"Tidak, aku yakin Rayna akan mencari ku," ucap Kevano.
"Dasar gila," ucap Nando.
Kevano terkekeh dan mendekatkan bibirnya ke telinga Nando.
"Kamu tahu? Aku adalah lelaki pertama yang menciumnya, tentu saja ciuman pertama akan sulit untuk dilupakan," bisik Kevano.
Plak.
"Jangan kepedean, lagi pula belum tentu itu adalah ciuman pertamanya," ucap Nando.
Meski musik di klub itu terdengar bising, tetapi Nando masih bisa mendengar bisikan Kevano.
"Apa maksudmu, ha?" Kevano menatap Nando dengan tatapan tajam, rasanya dia tak terima saat Nando bicara seolah bukan dirinyalah pria pertama yang mencium Rayna.
"Ya, jaman sekarang mana ada perempuan yang tidak pernah berciuman," ucap Nando.
"Tidak, aku yakin itu pertama kalinya untuk Rayna, dan aku pria pertamanya. Karena, rasanya pun berbeda," ucap Kevano mencoba meyakinkan Nando dan dirinya sendiri.
"Terserah, susah bicara dengan orang yang sedang jatuh cinta. Salah pun di anggap benar," ucap Nando.
"Nah, itu tahu, makanya cari perempuan, biar ngerti," ucap Kevano sambil terkekeh.
Nando pun menggelengkan kepalanya, dia hanya berharap temannya itu tak melakukan hal gila lagi setelah ini.
********
Di kediaman Randy.
Rayna mondar-mandir tak karuan di kamarnya, dia sudah melihat video wawancaranya bersama Kevano.
Tring tring ...
Rayna mengambil ponselnya saat terdengar suara dering telepon masuk, ternyata Ralisya yang menghubunginya.
"Halo, Rayna," ucap Ralisya.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Apa kita bisa bicara? Sebentar saja, please," ucap Ralisya.
"Bicara saja, sekarang saja sedang bicara," ucap Rayna dengan nada dingin.
"Maafkan Kakak ku," ucap Ralisya.
"Bersihkan namaku dan keluargaku, hilangkan pemberitaan tentang aku dan Kevano, maka aku akan memaafkan mu dan Kakakmu yang brengsek itu," ucap Rayna dan langsung memutuskan telepon itu.
Tanpa terasa air mata Rayna pun menetes, dia benar-benar malu pada dirinya sendiri.
Tak lama terdengar suara pintu terbuka, terlihat Dania yang memasuki kamarnya.
"Ade belum tidur?" tanya Dania.
Rayna menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Belum, Moms," ucap Rayna.
"Apa Mommy boleh tidur bersama Ade?" tanya Dania.
Rayna pun mengangguk.
Dania dan Rayna kini sudah berbaring di atas tempat tidur, Rayna memeluk Dania dengan erat.
"Cerita lah, anggap Mommy sebagai teman Ade," ucap Dania.
Rayna mendongak menatap Dania, dia pun mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala tempat tidur. Dania pun ikut duduk bersama Rayna.
"Bagaimana perasaan Ade saat ini?" tanya Dania.
"Malu, Moms. Ade benar-benar malu, Ade sudah membuat malu keluarga," ucap Rayna, mata Rayna mulai memerah kembali dan berkaca-kaca.
"Lalu, bagaimana perasaan Ade terhadap Kevano?" tanya Dania.
"Ade membencinya," ucap Rayna.
"Kalau begitu, kenapa Ade tak menyangkal saat dia mengatakan kalian sepasang kekasih?" tanya Dania sambil mengusap lembut kepala Rayna.
Rayna menatap Dania dengan tatapan bingung, dia bingung dengan dirinya sendiri.
Benar, dia sangat membenci Kevano, tapi entah mengapa dia tak bisa menyangkal apa yang Kevano katakan di hadapan media.
"Itu karena Ade--"
"Karena Ade menyukainya?" Dania menatap Rayna dengan tatapan penuh selidik.
"Tidak ! Ade tidak menyukainya, Moms. Bagaimana mungkin Ade menyukai laki-laki yang sudah mempermalukan keluarga kita," ucap Rayna mencoba menyangkal.
"Benarkah?"
Rayna pun mengangguk dan merebahkan tubuhnya kembali.
"Ade tidak menyukainya, Moms. Tidak akan pernah," ucap Rayna.
Dania pun tersenyum dan mengecup kening Rayna.
"Baiklah, selamat tidur, Sayang," ucap Dania.
Dania pun ikut berbaring dan memejamkan matanya.
Sementara Rayna terus menatap wajah sang Mommy yang mulai terlelap.
__ADS_1
"Maaf, Moms. Ade sungguh takut," batin Rayna.
Rayna pun memejamkan matanya.