
Rayna keluar dari kamar mandi, dia bergegas memakai pakaiannya dan merias wajahnya dengan riasan tipis. Selesai bersiap, dia mengambil ponselnya berniat akan menghubungi Guriko untuk memberitahukan bahwa dia sudah selesai bersiap. Belum sempat Rayna menghubungi Guriko, Guriko bahkan sudah menghubunginya lebih dulu dan memberitahukan bahwa dia sudah menunggunya di ruang tamu.
Rayna mengambil tasnya dan bergegas menghampiri Guriko. Guriko pun pamit pada bibi dan Stefie sebelum mengajak Rayna keluar.
"Kita pergi naik apa?" tanya Rayna bingung. Tak ada motor Guriko di depan rumahnya.
"Tunggu sebentar," ucap Guriko dan bergegas menuju rumahnya. Rayna menunggunya di depan rumah.
Rayna mengerutkan dahinya saat melihat sebuah mobil keluar dari garasi rumah Guriko. Terdengar bunyi klakson mobil tersebut. Rayna melihat bingung saat Guriko menurunkan kaca pintu mobilnya.
"Naik!" pinta Guriko. "Kita naik mobil?" tanya Rayna. "Iya, aku pikir kamu nggak biasa naik motor, biar kamu nyaman aja, sih," ucap Guriko. Rayna mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
"Ini mobil siapa?" tanya Rayna bingung. Selama ini yang dia tahu hanya ada satu motor di rumah Guriko, dia tak pernah melihat ada mobil terparkir di halaman rumahnya.
"Mami," jawab Guriko. "Apa dia nggak marah?" tanya Rayna. Jujur saja, Rayna masih teringat sikap mami Guriko kemarin malam.
"Nggak, dia baik, kok. Cuman kalau baru kenal, ya, gitu," ucap Guriko. Rayna terdiam. Guriko melajukan mobilnya, entah dia akan mengajak Rayna kemana.
"Rayna!" panggil Guriko. "Hmm ..." jawab Rayna. "Soal ucapan Mami kemarin, jangan diambil hati. Dia nggak bermaksud kayak gitu, kok," ucap Guriko. "Lupain aja," ucap Rayna tersenyum. "Kamu nggak marah?" tanya Guriko penasaran. Rayna menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah, aku lega," ucap Guriko tersenyum dan dibalas senyuman oleh Rayna.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" tanya Rayna. "Maunya kemana?" tanya Guriko balik. "Loh, kamu ngajak aku pergi tanpa rencanain tempat?" ucap Rayna terkejut. "Kita akan kemana pun kamu suka," ucap Guriko tersenyum. "Apaan, sih? Nggak jelas, deh, kamu," ucap Rayna tersenyum tipis. "Oh iya, dong. Pria yang baik, akan mengikuti kemana wanitanya ingin pergi," ucap Guriko. "Memangnya, siapa yang mau jadi wanita kamu?" ucap Rayna sinis. "Nggak mau, ya?" tanya Guriko. "Hmm ... Nggak mau," ucap Rayna. "Kenapa?" tanya Guriko penasaran. Dia memang bercanda, tetapi dia tak menyangka Rayna akan menolak pria tampan seperti dirinya.
"Aku bukan perebut kekasih orang," ucap Rayna. "Maksudnya, Byanka?" tanya Guriko. Rayna pun mengangguk.
"Kami udah selesai. Hubungan kami hanya sebatas teman," ucap Guriko. "Benarkah? Apa ada teman yang semesra itu?" tanya Rayna. "Mesra gimana?" tanya Guriko bingung. "Tadi siang, kalian makan bersama bukan?" ucap Rayna. Guriko mengangguk. "Makan doang, nggak lebih," ucap Guriko. "Apapun itu, aku nggak mau," ucap Rayna. "Apa akubukan tipe kamu?" tanya Guriko. Rayna menggelengkan kepalanya. "Lalu?" tanya Guriko bingung. "Karena, aku hanya anggap kamu sebagai teman," ucap Rayna. "Benarkah? Bukannya kamu nggak mau jadi temen aku?" tanya Guriko. "Kalau aku nggak mau, ngapain aku mau jalan sama kamu?" ucap Rayna.
Guriko menghela napas dan tersnyum. "Baiklah, setidaknya hubungan kita meningkat, dari asing menjadi teman," ucap Guriko. Rayna pun tersenyum tipis.
Guriko akan membelokkan mobilnya menuju arah kanan, tetapi pandangannya tak sengaja melihat sebuah mobil yang berada tepat di belakang mobilnya. Dia tahu betul mobil itu milik siapa.
"Apa kamu suruh supir kamu buat ikutin kita?" tanya Guriko. "Maksudnya?" tanya Rayna bingung. "Itu, di belakang ada mobil kamu," ucap Guriko sambil masih fokus mengemudi. Rayna melihat ke belakang, dia mengerutkan dahinya saat melihat mobil miliknya yang memang berada di belakang mobil Guriko. Sepertinya, Stefie memang mengikutinya dan Guriko.
"Dia hanya menjalankan tugasnya," ucap Rayna. "Apa perlu seperti itu? Dia bahkan nggak percaya sama kamu," ucap Guriko. "Dia bukan nggak percaya sama aku, tapi nggak percaya sama kamu," ucap Rayna terkekeh. Guriko mengusap wajahnya. Dia tak habis pikir, apa tampangnya terlihat jahat, sehingga Stefie tak percaya padanya? Guriko pun pasrah.
"Kita mau apa ke sini?" tanya Rayna bingung, "Menurut kamu?" tanya Guriko. Rayna menggelengkan kepalanya.
"Turunlah, nanti kamu tahu sendiri," ucap Guriko. Rayna membuka seatbelt-nya dan turun dari mobil. Dia menunggu Guriko.
"Ayo!" ajak Guriko sambil berlalu masuk ke dalam cafe tersebut. Rayna pun mengikuti Guriko.
"Mit!" panggil Guriko pada seorang wanita yang berada di salah satu meja. Rayna mengerutkan dahinya dan menahan lengan Guriko.
__ADS_1
"Dia siapa?" tanya Rayna bingung. "Teman aku," ucap Guriko. "Kok, nggak bilang kalau mau ketemu temen kamu?" ucap Rayna kesal. Guriko pun tersenyum.
"Dia teman sekolahku saat SMP, dia baik, kok," ucap Guriko.
"Aku nggak kenal dia," ucap Rayna.
"Nanti, aku kenalin," ucap Guriko. Rayna menatap Guriko dengan malas. Dia tak habis pikir kenapa Guriko mengajaknya untuk bertemu dengan seorang wanita? Apa mungkin Guriko ingin pamer padanya bahwa dia memiliki banyak kekasih?
Guriko menuntun Rayna menuju meja temannya, mereka saling menyapa satu sama lain.
"Siapa, nih?" tanya teman Guriko. "Maunya siapa?" tanya balik Guriko. "Pacarmu?" tanya teman Guriko. "Kenalan aja," ucap Guriko.
Teman Guriko tersenyum dan menyodorkan tangannya pada Rayna.
"Mita," ucap teman Guriko memperkenalkan namanya. "Rayna, teman Guriko," ucap Rayna. Rayna sengaja menyebut dirinya sebagai teman Guriko karena tak ingin Mita berpikir yang aneh-aneh tentang dirinya.
"Oh, oke. Duduklah. Kita masih nunggu satu orang lagi," ucap Mita. "Masih di mana dia?" tanya Guriko.
"Tadi, sih, sebentar lagi katanya sampai," ucap Mita. "Oke," ucap Guriko.
"Memangnya akan ada siapa lagi?" tanya Rayna penasaran. "Pacarnya mau datang," ucap Guriko. Rayna mengangguk.
__ADS_1
Tak lama datang seorang menghampiri meja Guriko, Guriko mengerutkan dahinya saat melihat oprang itu. Dia sontak melihat Rayna. Terlihat ekspresi Rayna yang sulit di artikan saat melihat orang itu.