
Kevano terkejut karena Rayna tiba-tiba saja mendorong kepalanya. Dia tak mengerti mengapa Rayna justru menolaknya ketika dirinya sudah mulai kesulitan mengendalikan gairahnya.
"Perutku sakit, apa kamu bisa keluar sebentar?" tanya Rayna beralasan sambil mengambil handuk dan menutupi tubuhnya.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Kevano bingung.
"Please, sebentar aja," ucap Rayna memelas. Dirinya sudah merasa tak nyaman.
"Oke, oke. Aku keluar." Kevano mengambil handuk miliknya dan menutupi tubuh bagian bawahnya. Dia pun keluar dari kamar mandi.
Sementara Rayna dengan cepat mengunci pintu dan melepaskan handuknya.
"Astaga!" Rayna terdiam saat melihat dirinya kedatangan tamu bulanan. Dia baru ingat bahwa tanggal tersebut adalah tanggal di mana biasanya dirinya datang bulan. Rayna pun kebingungan karena tak memiliki stok pembalut. Tanpa menunggu lagi Rayna langsung membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, dia keluar menggunakan bathroobs-nya. Tak terlihat Kevano ada di dalam kamar. Sementara Rayna pun memilih untuk mencari ke luar balkon. Benar saja Kevano berada di sana. Namun, Rayna sedikit terkejut ketika melihat Kevano seperti tengah mengeluarkan asap dari mulutnya.
"Kamu perokok?" tanya Rayna terkejut saat menghampiri Kevano.
Kevano melihat Rayna dan menunjukkan benda mungil yang ke hadapan Rayna.
"Nggak, ini vape, rokok elektrik. Nggak bahaya, kok," ucap Kevano tersenyum.
Sesaat kemudian Kevano menyadari ada sesuatu. Kevano mengendus aroma tubuh Rayna.
"Kamu udah mandi?" tanya Kevano terkejut saar menghirup aroma sabun dari tubuh Rayna. Bukankah harusnya Rayna menunggu Kevano?
"Em ... Itu, aku kedatangan tamu," ucap Rayna.
"Siapa?" tanya Kevano bingung dan bergegas masuk ke kamar.
"Siapa yang datang?" tanya Kevano bingung karena tak menemukan siapapun di dalam kamar.
"Bukan orang," ucap Kevano.
"Jadi, tamu apa maksudnya?" tanya Kevano semakin dibuat bingung.
"Tamu bulanan," ucap Rayna.
"Aku nggak ngerti," ucap Kevano.
"Ituloh, aku datang bulan. Itu yang biasa dialami setiap wanita sebulan sekali," ucap Rayna mencoba menjelaskan pada Kevano.
"Ha? Apa kamu menstruasi?" tanya Kevano terkejut.
Rayna pun mengangguk.
"Bagaimana bisa? Kok, disaat kayak gini? Duh ..." keluh Kevano.
Ada-ada saja pikir Kevano, malam pengantinnya harus gagal karena Rayna justru datang bulan.
"Uh ..." Rayna merasakan sesuatu keluar dari bagian sensitifnya itu. Dia pun segera berlari ke kamar mandi. Kevano yang merasa cemas pun segera menyusul Rayna. Dia jadi teringat saat melihat Ralisya kesakitan ketika datang bulan, bahkan Ralisya tak bisa bangun saat itu.
Tanpa pikir panjang Kevano pun menerobos masuk untuk melihat keadaan Rayna.
"Loh! Kenapa masuk?" tanya Rayna terkejut.
"Kenapa? Aku cemas, lho!" ucap Kevano.
"Ya ampun, aku baik-baik aja. Aku mau minta tolong," ucap Rayna.
__ADS_1
"Apa?" tanya Kevano.
"Carikan aku pembalut. Aku nggak punya stok," ucap Rayna.
"Apa? Yang benar aja. Malam-malam gini, di Pulau kecil kayak gini, di mana aku harus cari pembalut?" ucap Kevano bingung.
"Aku nggak tau, cariin please. Aku benar-benar butuh," ucap Rayna.
"Ya, tapi di mana? Aku nggak tau. Inikan bukan di Jakarta," ucap Kevano.
"Babe ... Please ..." ucap Rayna memelas.
Kevano tercengang mendengar panggilan Babe dari Rayna untuk pertama kalinya. Terdengar aneh karena seakan dibuat-buat seseksi mungkin. Kevano pun jadi menahan tawanya. Kevano menghela napas dan keluar dari kamar mandi. Dia keluar dari kamar dan pergi ke kamar Ralisya.
Ralisya yang akan bersiap tidurpun terkejut melihat sang kakak tiba-tiba masuk.
"Ada apa, Kak?" tanya Ralisya.
"Itu, bagi pembalut, dong," ucap Kevano.
"Buat apa?" tanya Ralisya bingung.
"Ya, buat dipake," ucap Kevano agak ketus.
"Buat Rayna?" ucap Ralisya.
"Hm ..."
Ha-ha-ha ... Ralisya pun tertawa.
"Nggak apa-apa, lucu aja ada yang gagal malam pertama," ucap Ralisya meledek.
"Sial! Udah deh, mana pembalutnya?" tanya Kevano.
Ralisya terdiam, dan teringat dia selalu membawa stok pembalut meski bukan waktunya dia datang bulan. Dia pun memberikannya pada Kevano. Kevano bergegas keluar setelah mengambilnya.
"Sama-sama lho, ya!" teriak Ralisya menyindir sang kakak karena tak mengucapkan terimakasih setelah mendapatkan sesuatu yang dibutuhkan.
"Makasih!" sahut Kevano keras sambil mengangkat pembalut itu.
Kevano terkejut saat berpapasan dengan Randy. Mertuanya itu ternyata masih belum tidur.
"Kenapa?" tanya Randy.
"Nggak apa-apa, Pa. Selamat istirahat," ucap Kevano sambil menyembunyikan barang yang dia pegang.
Curiga dengan apa yang Kevano sembunyikan, Randy pun memutar tubuh Kevano. Randy menahan tawanya saat melihat apa yang Kevano pegang.
"Yang sabar, ya. Wanita memang rumit," ucap Randy sambil terkekeh dan menepuk bahu Kevano.
"Gagal maning!" sahut Kevano dan tersenyum meninggalkan Randy. Randy menggelengkan kepalanya dan melanjutkan niat awalnya keluar kamar.
Di kamar Rayna.
Kevano memasuki kamar, dan memberikan pembalut itu pada Rayna. Tanpa bertanya dari mana Kevano mendapatkan barang tersebut? Rayna memilih langsung ke kamar mandi dan memakainya. Setelah selesai, Rayna pun keluar dari kamar mandi. Dia menghampiri Kevano yang lagi-lagi tengah beridri di depan balkon sambil menghisap vape miliknya.
"Udah selesai?" tanya Kevano. Rayna pun mengangguk.
__ADS_1
"Makasih, ya . By the way, kamu dapat dari mana?" tanya Rayna.
"Dari Ralisya," ucap Kevano cuek.
"Em ... Kamu marah?" tanya Rayna.
"Nggak," ucap Kevano.
"Kok jawabnya jutek banget," ucap Rayna.
"Biasa aja," ucap Kevano.
"Aku nggak bisa berbuat apa-apa. Tanggal segini emang waktunya aku datang bulan. Bukan salah aku, kan? Ini emang udah kebiasaan alam yang dialami para wanita," ucap Rayna mencoba menjelaskan.
Kevano menghisap vapenya dan menghembuskan asapnya ke hadapan Rayna. Tercium aroma mint dari asap tersebut. Sontak Rayna pun mengibaskan asap tersebut agar menjauh dari hadapannya.
"Lucu banget, sih. Aku nggak marah, aku cuman kesel," ucap Kevano sambil mengusap kepala Rayna layaknya anak kecil.
"Ha?" Rayna tampak kebingungan mendengar ucapan Kevano.
"Masa makasih doang, kasih sesuatu dong, aku dipermalukan, lho, sama Ralisya gara-gara minta kayak gituan," ucap Kevano.
"Masa, sih? Ya udah kamu mau apa? Mau minum?" tanya Rayna.
"Minum bisa ambil sendiri," ucap Kevano.
"Jadi, mau apa?" tanya Rayna bingung.
Kevano menundukkan kepalanya dan memonyongkan bibirnya berharap Rayna mencium bibirnya.
Rayna terdiam seakan berpikir.
Cup ...
Rayna mencium pipi Kevano. Sedangkan Kevano mengusap wajahnya. Harapannya tak sesuai ekspektasi.
"Aku, kan, minta bibir. Kok, malah pipi," ucap Kevano tak terima.
"Kamu belum mandi, aku nggak mau," ucap Rayna.
"Yang benar aja. Kenapa waktu di kamar mandi mau aja aku cium?" ucap Kevano bingung.
"Aku dipaksa, jadi nggak bisa nolak," ucap Rayna.
"Oh, merasa dipaksa. Jadi, terpaksa dong, ya. Okelah," ucap Kevano sambil memasang ekspresi kecewanya. Dia pun menyimpan vapenya di atas meja dan melangkah menuju kamar mandi.
"Terpaksa, ya. Jadi, yang tadi, tuh, terpaksa. Bukan karena keinginan sendiri. Okelah, aku cukup tau. Aku nggak mau maksa-maksa lagi!" teriak Kevano dan masuk ke kamar mandi kemudian menutup pintu kamar mandi.
Mendengar ucapan Kevano, Rayna pun menjadi tak enak hati. Niatnya hanya ingin mengerjai Kevano. Nyatanya, Kevano justru menganggap ucapannya serius.
"Aku becanda, kok! Hei!" teriak Rayna.
Rayna bergegas menuju pintu kamar mandi dan ternyata dikunci. Dia pun mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali.
"Aku becanda, mana ada aku terpaksa!" teriak Rayna.
"Jangan marah, dong! Masa gitu aja marah!" teriak Rayna. Namun, tetap tak ada sahutan dari Kevano.
__ADS_1