
keesokan harinya.
...Kevano sudah siap untuk melakukan pemotretan di hari keduanya sekaligus hari terakhir. Seperti kemarin, Rayna pun ikut menemani Kevano....
"Tunggu aku selesaikan pekerjaanku, setelah itu kita jalan-jalan," ucap Kevano tersenyum.
Rayna tersenyum dan mengangguk.
Sambil pergi menuju tempat yang sudah disiapkan, Rayna duduk memperhatikan Kevano. Sampai akhirnya Kevano berbalik dan melihat Rayna.
"Semangat, Sayang!" teriak Rayna.
Kevano tersenyum dan mengecup jauh Rayna.
Rayna terkekeh melihatnya.
Sesi pemotretan pun dimulai. Rayna hanya tersenyum melihatnya, sekalipun ketika Kevano memeluk perut polos Selly dari belakang, dia tak lagi merasa panas seperti kemarin.
Selesai sesi pertama, pemotretan break sebentar. Rayna mengusap kepala Kevano yang mengeluarkan keringat. Meski berkeringat, tetapi aroma tubuh Kevano justru menjadi lebih segar. Berbeda saat Dania hamil dulu, yang justru mencium aroma tak enak ketika dekat dengan Randy, Dania bahkan tak ingin berdekatan dengan Randy.
Pemotretan kembali dilanjutkan hingga akhirnya selesai sore hari. Hari itu cukup panjang, banyak sekali pose yang diambil.
Kevano duduk di kursi bersama photografer. Mereka tengah melihat hasil pemotretan kemarin dan hari ini. Hasilnya cukup memuaskan. Ada juga beberapa foto yang akan dibuang karena kurang bagus hasilnya.
"Aku mau lihat dong," Selly mendekati Kevano dan photografer itu. Dia sedikit menunduk dan Kevano pun berbalik.
"Woh ..." Kevano terkejut karena tak sengaja wajahnya tepat berada di depan dada Selly yang berukuran cukup besar dan hanya terbungkus bikini.
Selly pun terkekeh melihat ekspresi Kevano. Kevano repleks melemparkan kain di sampingnya ke wajah Selly.
"Pakai itu!" kesal Kevano.
"Kenapa, sih? Biasa aja kali," ucap Selly.
Kevano mendelik dan tak sengaja melihat Rayna yang tengah melihatnya. Mata Rayna memerah. Oh tidak, Rayna terlihat sedih. Pikirnya.
Kevano bergegas menghampiri Rayna.
"Aku nggak sengaja," ucap Kevano mencoba membela dirinya.
"Bohong!" kesal Rayna.
"Seriusan. Ngapain bohong? Orang dia tiba-tiba aja ada di belakangku. Mana aku tahu kalau dia posisinya kayak gitu," ucap Kevano.
"Aku nggak suka lihatnya, aku kesel," ucap Rayna mulai marah.
"Iya ... Iya ... Aku juga nggak suka. Aku lebih suka punya kamu, imut gitu. Punya dia aku nggak suka, kegedean," ucap Kevano tersenyum.
Rayna menatap Kevano dengan tajam.
"Kamu bohong, kan? Kamu diem-diem merhatiin dada dia," ucap Rayna tambah kesal.
"Nggak, mana mungkin," ucap Kevano berkilah.
"Barusan kamu bilang, punya dia gede," ucap Rayna.
Hm ...
__ADS_1
Kevano merasa bingung bagaimana harus menjelasakannya pada Rayna? Tak memperhatikan pun memang jelas terlihat dada Selly lebih besar dari miliknya. Itu karena Selly hanya memakai bikini.
"Gimana ya jelasinnya? Aku bingung," ucap Kevano menggaruk tengkuknya.
"Nggak usah dijelasin! Aku mau pulang ke Jakarta aja!" kesal Rayna dan pergi dari lokasi pemotretan.
Kevano mengusap wajahnya, Rayna benar-benar marah padanya.
"Cewek kalau marah, biasanya bakalan baik kalau dikasih yang bling-bling," ucap Selly yang tiba-tiba saja mendekatinya.
"Maksudnya?" Kevano tak mengerti maksud Selly.
"Ya, kasih aja perhiasan. Pasti dia baik lagi," ucap Selly tersenyum.
"Dia bukan kamu!" tegas Kevano dan kembali menemui photografer. Selesai melihat hasil pemotretannya, dia meninggalkan lokasi pemotretan.
****
Kevano kembali ke hotel, tetapi tak ada Rayna di sana. Membuatnya menjadi cemas karena Rayna tak memberitahunya akan pergi kemana.
Kevano menghubungi nomor Rayna, tetapi Rayna tak menjawab teleponnya. Kevano semakin cemas. Dia keluar dari kamar hotelnya, dan menghampiri resepsionis. Dia menunjukan foto Rayna, dan memberitahukan Rayna tinggal di kamar yang tempati bersama dirinya. Namun, resepsionis belum melihat Rayna kembali.
Kevano teringat saat Rayna mengatakan ingin pulang ke Jakarta.
Mungkinkah Rayna kembali ke Jakarta? Pikirnya.
Kevano kembali ke kamarnya dan membuka lemari, koper Rayna dan baju-bajunya masih ada. Dia pun merasa lega. Setidaknya, ada kemungkinan Rayna masih berada di Bali.
Hanya saja, di mana Rayna sekarang? Hari sudah semakin sore, dan Rayna tengah hamil. Bagaimana jika terjadi sesuatu?
Kevano pergi menuju pantai, dia mencari Rayna di sekitar sana. Namun, lagi-lagi tak menemukan Rayna.
"Ke mana, sih? Kalau pergi bilang-bilang, dong," kesal Kevano.
Sunset sudah mulai terlihat, Kevano mencari sekali lagi ke seluruh pinggir pantai. Tak lama ponselnya berdering. Dia langsung menjawab panggilan itu begitu tahu itu Rayna.
'Halo, di mana, sih? Pergi nggak bilang-bilang, kalau mau ngerjain orang jangan gini, dong, caranya. Aku cariin kemana-mana, malah ga ketemu,' kesal Kevano.
'Jemput aku,' ucap Rayna.
'Kamu di mana emang? Aku jemput sekarang,' ucap Kevano.
Rayna memberitahu keberadaannya, dan ternyata Rayna berada tak jauh dari tepi pantai. Rayna berada di lesehan yang kemarin mereka datangi.
"Bisa-bisanya nggak kepikiran tempat itu," gumam Kevano.
Kevano melihat sekeliling restoran, dan terlihat Rayna tengah duduk santai menyesap minumannya. Kevano sampai tak habis pikir dibuatnya, bisa-bisanya Rayna sesantai itu sementara dirinya khawatir bukan main.
"Jangan pergi-pergi sampe nggak bilang aku! Aku nyariin dari tadi, taunya di sini duduk manis," ucap Kevano kesal.
"Suruh siapa nyariin, orang aku ke sini sengaja mau nikmatin sunset lagi," ucap Rayna santai.
Kevano menghela napas dan duduk menatap Rayna.
"Terus, ngapain minta jemput? Kenapa nggak sekalian pulang sendiri? Pergi sendiri nggak bilang-bilang, pulang minta jemput," ucap Kevano.
Rayna menunjuk kakinya.
__ADS_1
"Kaki aku pegal, nggak bisa jalan," ucap Rayna.
Kevano mengerutkan dahinya, menatap Rayna penuh curiga.
Rayna pun nyengir. Dia mengangguk.
Rayna seakan mengerti apa yang ada di pikiran Kevano.
"Ya udah iya. Tapi aku capek, istirahat dulu. Makan sekalian, deh," ucap Kevano.
Kevano memanggil pelayan, dan memesan makanannya.
"Kamu udah makan?" tanya Kevano saat tengah memilih menu makanan.
Rayna mengangguk.
"Yang bener? Makan apaan? Kok, nggak ada piring bekas makanan di sini," ucap Kevano heran. Di sana hanya ada gelas minum milik Rayna saja.
"Tanya aja sama Mbak ini," ucap Rayna sambil melihat pelayan tersebut.
"Beneran?" tanya Kevano.
"Sudah, piringnya sudah diangkat tadi," ucap pelayan tersenyum.
Kevano pun tersenyum, syukurlah Rayna tak berbohong dan benar-benar sudah makan.
Selesai memesan, sambil menunggu Kevano terus memperhatikan Rayna. Ekspresi Rayna terlihat biasa saja, bahkan terlihat santai. Sepertinya Rayna tidak sedang memendam kemarahan.
Beberapa saat menunggu, pesanan pun datang. Kevano menyantapnya, dan bsgitu selesai, dia meminta bill pada pelayan.
Kevano terkejut melihat tagihan cukup mahal, dan tertulis empat menu makanan di sana. Dia hanya memakan satu makanan, lalu sisanya?
Kevano melihat Rayna yang masih duduk dengan santainya.
"Astaga!" Kevano terkekeh sambil mengusap wajahnya saat menyadari Rayna lah yang makan ketiga menu makanan itu.
Kevano mengambil debit card dan membayarnya.
Selesai membayar, sesuai janjinya tadi. Kevano menggendong Rayna di punggungnya. Ya, meski Rayna tak mengatakannya, Kevano mengerti maksudnya saat Rayna mengatakan kakinya pegal dan tak bisa jalan tadi, itu artinya Rayna meminta Kevano menggendongnya.
Beberapa bulan berlalu ...
"Sayang ...! Help me, please!" teriak Rayna dari dapur, di rumahnya di Depok.
Tak ada sahutan dari Kevano.
"Sayang ...!" teriak Rayna sekali lagi. Lagi-lagi tak ada sahutan dari Kevano.
"Kevano ... Help me ...!" teriak Rayna begitu kencang.
Kevano yang tengah mandi di kamar mandi yang ada di kamarnya, sontak berlari mendengar Rayna berteriak kencang seperti itu. Kevano turun menuju dapur dengan hanya memakai handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Busa sabun masih menempel di tubuhnya.
"Kenapa, sih?" tanya Kevano kesal. Mengganggu dia mandi saja, pikirnya.
"Help me ..." Rayna menunjuk ke lantai, dan Kevano mengikuti arah tangan Rayna.
"Oh my God... What the fuckk?" Kevano terkejut bukan main saat melihat ke lantai.
__ADS_1