
Keesokan harinya.
kevano akan mengantar Rayna ke Kampus. Jika sedang berada di Depok, itulah kegiatan Kevano.
"Jangan lupa makan siang, vitaminnya dibawa, kan?" ucap Kevano.
"Iya, aku udah simpen di tas," ucap Rayna.
"Ya udah. Jangan makan sembarangan, ya. Jangan makan fast food. Makan aja makanan di kantin," ucap Kevano.
"Iya. Bawel," ucap Rayna.
"Biarin aja. Takutnya kamu jadi sembarangan kalau nggak ada aku," ucap Kevano.
Rayna tersenyum.
"Aku ikut beli mesin cuci nanti, ya," ucap Rayna.
"Nggak usah ke tokonya, kita pesan aja. Biar diantar ke rumah langsung," ucap Kevano.
"Nggak mau, aku mau ke tempatnya langsung. Mau pilih sendiri, abis itu mau jalan-jalan ke Mall," ucap Rayna tersenyum.
"Mau ngapain ke Mall?" tanya Kevano.
"Mau belanja," ucap Rayna tersenyum.
"Ya udah. Kita belanja keperluan kamu aja. Mesin cucinya biar aku pesan duluan aja," ucap Kevano.
"Beneran?" tanya Rayna antusias.
"Iya, bilang aja sih kalau mau belanja, nggak usah pake alasan mau ikut beli mesin cuci," ucap Kevano terkekeh.
"Tau aja," ucap Rayna ikut terkekeh.
"Taulah, wanita nggak jauh dari kata belanja," ucap Kevano.
"Nanti, aku mau beli baju hamil, ya. Baju-bajuku udah pada kecil, lho. Celanaku juga," ucap Rayna.
"Iya boleh," ucap Kevano.
Rayna tersenyum senang. Semenjak menikah, Kevano lah yang menanggung sepenuhnya biaya hidupnya. Rayna tak pernah lagi meminta pada orangtuanya, karena memang bukan menjadi tanggung jawab orangtuanya lagi. Dan selama menikah juga, kebutuhan Rayna selalu Kevano penuhi.
Sebetulnya, Rayna bukanlah tipe orang yang gila belanja. Dia akan membeli sesuatu jika memang membutuhkannya. Jika tidak, maka dia akan diam saja.
Sebelum menikah, Rayna bahkan hanya ke Mall jika sang Mommy mengajaknya. Itupun jika Mommy nya tak bertanya apa ada yang ingin dia beli? Dia takan meminta apapun. Rayna hanya akan meminta keperluan sekolahnya.
Rayna pun termasuk wanita yang sederhana, meski orangtuanya memiliki segalanya dia tak pernah menghamburkan uang untuk urusan yang tak penting. Dia bahkan tak tahu apa itu tempat hiburan malam. Randy memang punya cara berbeda dalam mendidik anak-anaknya. Dia tak membebaskan anak-anaknya untuk bergaul.
Bukan tanpa alasan, Randy hanya tak ingin anak-anaknya terjebak dalam pergaulan bebas di luar sana. Dia tak ingin, apa yang dia lakukan di masa mudanya juga di lakukan oleh anak-anaknya. Pada dasarnya, semua orangtua ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Begitupun dengan Randy dan Dania.
Sesampainya di kampus, Rayna akan keluar dari mobil tapi Kevano menahannya.
"Cium dulu, sini," ucap Kevano.
Rayna tersenyum dan Kevano mencium dahinya. Ciuman juga tak luput mendarat sekilas di bibir Rayna.
"Itu satu lagi," ucap Kevano mengarahkan pandangannya ke perut Rayna.
Rayna diam saja, membiarkan Kevano mencium perut buncitnya.
__ADS_1
Cup ...
"Baik-baik, ya. Jangan nakal," ucap Kevano tersenyum.
Rayna pun tersenyum. Dia keluar dari mobil, dan Kevano meninggalkan kampus.
Rayna pergi ke kelasnya. Sudah ada Alika di sana. Alika tersenyum melihat Rayna.
"Eh, bumil," sapa Alika.
Rayna tersenyum dan duduk dikursinya.
"Gemes banget liat perut kamu," ucap Alika.
"Lucu, ya. Aku juga gemes kalau lagi ngaca," ucap Rayna.
"Iya lucu. Masih muda udah hamil, ha-ha-ha ..." Alika pun tertawa.
Tak lama dosen masuk, mata kuliah pun di mulai.
Waktu berlalu.
Semua mata kuliah sudah selesai, Rayna masih diam di kelasnya. Tak lama seorang Dosen menghampirinya. Memintanya ikut ke ruangannya karena ada yang ingin Dosen itu bicarakan.
"Ada apa Ibu memanggil Saya?" tanya Rayna bingung. Terakhir kali dia dipanggil saat ada masalah pencemaran nama baiknya. Apa tanpa sadar dia membuat kesalahan? Pikirnya.
"Rayn, ada sebuah perusahaan yang ingin mendesign ulang ruangan kantornya. Orang itu meminta kamu untuk mendesign Kantornya. Apa kamu mau mengambil kesempatan ini?" tanya Dosen.
"Apa? Kenapa Saya? Saya bahkan masih harus banyak belajar. Saya belum mahir, Bu," ucap Rayna.
"Tapi kamu sudah memegang semua dasar-dasar tentang design selama kamu kuliah di sini. Meski baru beberapa bulan berjalan, tetapi orang itu mempercayaimu," ucap Dosen.
"Dia bilang, dia tahu dirimu. Karena itu, dia percaya dengan kemampuanmu," ucap Dosen.
"Siapa?" Rayna tampak bingung.
Siapa orang yang memintanya mendesign ulang ruangan Kantornya? Pikir Rayna.
"Yang meminta adalah seorang direktur di perusahaan ternama," ucap Dosen.
"Saran Saya, ambilah kesempatan ini. Kamu bisa menunjukan bakatmu. Ini juga bagus untuk bekal kamu di kemudian hari. Perusahaan besar, lho, Rayn. Kamu beruntung mendapatkan kesempatan ini," ucap Dosen.
Rayna terdiam sejenak. Entah dia harus menerima tawaran atau tidak. Pasalnya, dia belum percaya diri melakukannya. Dia juga merasa tak memiliki teman seorang direktur perusahaan di Indonesia.
"Bagaimana?" tanya Dosen.
"Apa Saya boleh meminta waktu?" tanya Rayna.
"Dua hari. Berikan keputusan setelah dua hari. Saya ingin, suatu hari nanti, saat kamu sudah selesai mengambil seluruh ilmu dari kampus ini, kelak kamu menjadi seseorang yang sukses di bidangmu. Jadi, Saya harap kamu mau memanfaatkan kesempatan ini," ucap Dosen.
Universitas itu memang sudah tak asing di kalangan perusahaan-perusahaan besar. Bahkan mereka banyak mencari mahasiswa-mahasiswa berbakat di bidangnya di Universitas itu untuk ikut bergabung di perusahaan-perusahaan mereka.
Rayna mengangguk dan pergi dari ruang Dosen.
Rayna pergi menuju parkiran, begitu Kevano mengatakan tengah menunggunya. Begitu masuk ke mobil, Rayna menceritakan apa yang Dosen katakan tadi.
"Wah, bagus banget itu," ucap Kevano.
"Jadi, ambil?" tanya Rayna.
__ADS_1
"Aku nggak maksa. Kamu juga nggak boleh kecapean. Pekerjaan itu pasti melelahkan. Tapi apapun keputusan kamu, aku dukung. Selama kamu bisa menjaga diri kamu, dan bayi di perut kamu, aku akan dukung apapun itu. Lagi pula, itu memang impian kamu bukan?" ucap Kevano.
"Iya. Tapi, gimana ya? Aku nggak percaya diri rasanya," ucap Rayna.
"Percaya diri, dong. Anggap aja mengasah bakat kamu," ucap Kevano.
"Iya ... Iya .."
Sesampainya di Mall.
Rayna dan Kevano pergi ke salah satu restoran terlebih dahulu. Mereka makan siang lebih dulu sebelum nantinya dilanjutkan belanja keperluan Rayna.
Sambil menunggu pesanan datang, Rayna membuka gadgetnya. Dia membuka sebuah aplikasi design. Di sana dia bisa berimajinasi sekaligus belajar mendesign.
Beberapa saat kemudian, pesanan pun datang. Kevano meminta Rayna menyimpan gadget-nya dan meminta Rayna memakan makan siangnya dulu.
"Suapin, dong!" pinta Rayna.
"Kamu lagi ngapain, sih, emang? Simpen dulu gadgetnya," ucap Kevano.
"Ini tanggung, aku nggak bisa berenti kalau udah mulai," ucap Rayna.
Kevano menghela napas. Dia mengambil sendok dan menyendok makanan Rayna. Dia menyuapi Rayna. Sambil menyuapi, Kevano pun ikut memakan makanannya.
Ada beberapa pengunjung restoran yang melihat ke arah Rayna dan Kevano, tetapi Kevano dan Rayna tak peduli hal itu. Masing-masing saja selama tak ada yang terganggu, pikirnya.
Selesai makan siang, Rayna dan Kevano pergi menuju departemen store. Kevano dengan sabar mengikuti Rayna menyusuri departemen store tersebut.
Rayna mengambil beberapa dress hamil. Setelah di rasa cukup, dia mengambil dua buah sepatu plat untuk dia pakai ke kampus. Rayna mencobanya sambil duduk di kursi. Dia memasukannya ke dalam tas belanja setelah dirasa cukup dia pakai. Dia akan membelinya.
"Kamu nggak belanja juga?" tanya Rayna.
"Mau, beli sepatu kali, ya," ucap Kevano.
"Ya udah, sana. Ke bagian cowok," ucap Rayna.
"Kamu nggak ikut?" tanya Kevano.
"Kakiku pegal, aku tunggu di sini aja, ya. Nanti kamu ke sini lagi, jemput aku," ucap Rayna.
"Ya udah, tunggu di sini. Jangan pergi kemana-mana, oke," ucap Kevano.
Rayna mengangguk. Dia beristirahat sejenak. Sedangkan Kevano pergi menuju tempat sepatu pria.
Ketika duduk, Rayna merasakan sesuatu di perutnya.
"Sshh ..." Rayna mendesis merasakan perutnya. Tak seperti biasanya.
'Kenapa ini?' batin Rayna.
Rayna merasa lega ketika perutnya kembali biasa saja. Namun, sesaat kemudian, dia merasakan adanya kembali sesuatu yang dia rasakan dari perutnya. Sesuatu yang tak terlalu membuatnya terganggu, tetapi dia sedikit terkejut karena sebelumya tak pernah merasakan hal itu. Setelah itu, kembali perutnya biasa saja.
Rayna mengambil ponselnya, dia meminta Kevano untuk kembali menemuinya. Dia khawatir terjadi sesuatu pada bayinya.
"Kenapa?" tanya Kevano saat sampai di hadapan Rayna. Kevano bahkan belum sempat memilih sepatu dan Rayna sudah lebih dulu memintanya kembali.
"Ini, perutku," ucap Rayna cemas.
Kevano pun menjadi ikut cemas melihat ekspresi Rayna.
__ADS_1