Istri Jelekku Season 2

Istri Jelekku Season 2
Bab 70


__ADS_3

Rayna terdiam saat melihat seseorang yang baru saja menghampiri meja yang dia dan Guriko tempati. Orang itu pun terdiam sejenak melihat Rayna sebelum akhirnya mencium pipi Mita. Mita pun tersenyum dan memeluk orang itu yang tak lain adalah Kevano.


Jantung Rayna berdegup kencang saat melihat Kevano menatapnya seklai lagi.


"Maaf, aku ke toilet sebentar," ucap Rayna dan beranjak dari duduknya. Dia bergegas menuju toilet.


Guriko yang mengerti keadaan pun segera bangun dari duduknya dan menyusul Rayna menuju toilet.


"Kamu kenal mereka?" tanya Kevano. "Iya, Guriko teman sekolah ku dulu. Kalau wanita itu, aku baru kenal tadi," ucap Mita. Kevano mengangguk. Sebetulnya Kevano tak mengerti mengapa Rayna memasang ekspresi seperti itu. Bukankah seharusnya Rayna merasa senang, karena akhirnya Kevano tak akan mengganggunya lagi? Kevano pun mencoba bersikap sesantai mungkin saat melihat Rayna. Dia tak ingin membuat suasanya menjadi canggung.


Di Toilet.


Rayna terdiam menatap pantulan dirinya di cermin. Jantungnya masih saja berdegup tak karuan. Dia mengusap wajahnya berkali-kali mencoba menyadarkan dirinya sendiri, bahwa dia tak merasa sakit hati saat melihat Kevano bersama wanita lain. Dia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa tak ada perasaan apapun untuk Kevano. Dia teringat saat pertama kali mendengar Kevano menyatakan cinta padanya, tetapi seketika dia teringat saat Kevano mencium pipi mita. Matanya memerah dan mulai berkaca-kaca. Ada perasaan sakit yang tak bisa dia jelaskan, tetapi dia pun tak ingin mengakui bahwa dia sakit hati saat melihat Kevano bersama wanita lain.


Rayna tersentak saat mendengar suara ketukan pintu. Terdengar suara Guriko dari luar toilet.


"Are you okay?" tanya Guriko.

__ADS_1


Rayna menghela napas dan memperbaiki riasannya. Dia tak ingin siapapun melihat keadaannya tak baik-baik saja. Rayna membuka pintu toilet dan terlihat Guriko tengah menatapnnya penuh selidik.


"Kamu nangis?" tanya Guriko.


"Nggak," jawab Rayna. "Matamu merah," ucap Guriko.


"Aku baik-baik aja, aku cuman sakit perut," kilah Rayna. "Benarkah? Mau minum obat?" tanya Guriko cemas. Rayna pun menggeleng.


"Aku udah baik-baik aja. nggak perlu obat," ucap Rayna. "Ya udah, Mau balik ke sana lagi?" tanya Guriko. Rayna terdiam sejenak. "Apa kita bisa pulang? Aku ingin istirahat di rumah," ucap Rayna. "Oke, kita akan pulang. Tapi, seenggaknya kita pamit dulu ke mereka. Jangan sampai dia menganggap mu bersedih, karena melihatnya bersama wanita lain," ucap Guriko. Rayna mengerutkan dahinya. "Mkasudnya apa, sih? Siapa juga yang sedih lihat dia sama perempuan lain? Aku biasa aja, tuh," ucap Rayna mencoba membantah ucapan Guriko. Sepertinya, Guriko ini bisa melihat suasana hati seseorang, atau mungkin memang Rayna lah yang tak bisa menyembunyikannya.


"Sorry lama," ucap Rayna sambil tersenyum dan duduk kembali di kursinya.


"It's okay. Kalian mau pesan apa? Kita udah pesan lebih dulu," ucap Mita sambil bersender manja pada Kevano.


"Ehem ... Kamu, aku yang pesankan," ucap Guriko sambil mengambil buku menu yang ada di meja. Rayna tadinya akan menolak, tetapi Guriko justru tersenyum padanya. Senyuman itu seolah mengisyaratkan agar Rayna diam saja dan percaya padanya. Rayna pun membiarkan Guriko memesankan makanan untuknya.


Kepala Mita terus bersandar di bahu Kevano, tetapi tatapan Kevano tak hentinya mengarah pada Rayna. Rayna menyadari Kevano menatapnya, membuatnya menjadi tak nyaman.

__ADS_1


"Kamu pesenin aku apa?" tanya Rayna sambil menggeserkan duduknya dan berdekatan dengan Guriko. Guriko mengerutkan dahinya untuk sesaat, tetapi dia mengerti bahwa Rayna sedang merasa tak nyaman. Guriko mengangkat buku menu itu dan menunjukkannya pada Rayna. "Ini, kamu suka banget, kan, makanan ini?" ucap Guriko. Rayna mengerutkan dahinya, sebetulnya makanan yang di pesan oleh Guriko bukanlah makanan kesukaannya. Namun dia mengiyakan saja dan tersenyum.


Kevano menghela napas pelan, dadanya bergemuruh. Tangannya terkepal. Rasanya dia ingin memisahkan sepasang manusia yang ada di hadapannya itu.


"Apa mereka pacaran?" tanya Kevano pelan. "Em ... Tanya mereka, dong," ucap Mita. Kevano kembali menghela napas. "Aku, kan, nggak kenal," ucap Kevano.


"Kan, udah kenalan, barusan," ucap Mita. "Nggak, ah," ucap Kevano.


Kevano merasa tak enak hati jika harus bertanya, dia sendiri bahkan sudah janji tak akan mengganggu Rayna lagi.


Waktu pun berlalu, pesanan sudah datang dan mereka melanjutkan dengan makan malam bersama, tetapi tidak dengan Rayna. Dia hanya melihat makanan di mejanya, dia merasa ragu untuk memakan makanan itu. Dia bahkan tak menyukainya. Kevano berpikir sejenak saat melihat ekspresi Rayna.


"Mau bertukar makanan?" tanya Kevano. Rayna mengerutkan dahinya. Dia tak mengerti maksud Kevano.


"Kamu kayaknya ragu mau makan makanan itu. Punyaku belum aku makan. Kalau mau, kamu bisa memakannya, dan aku akan memakan makanan mu," ucap Kevano. Guriko dan Mita saling melihat satu sama lain. "Kamu gimana, sih, Ko. Masa nggak tahu makanan kesukaan Rayna,": ucap Mita. "Kenapa nggak bilang kalau nggak suka?" tanya Guriko. "Nggak, kok, aku suka," ucap Rayna beralasan. "Jangan memaksa, yang ada nanti perut kamu menolak makanan itu," ucap Kevano. Jantung Rayna kembali berdegup tak beraturan, apa itu artinya Kevano masih memiliki parasaan padanya? Kevano bahkan perhatian padanya.


"Begitulah pacarku, dia peduli pada siapa pun," ucap Mita tersenyum bangga. Seketika Rayna menjadi lemas. Seolah dia tengah berada di udara dan terhempas ke dasar tanah. Rupanya dia sudah salah paham terhadap sikap Kevano.

__ADS_1


__ADS_2