
▪️▪️▪️
Bagas dan Nahla berangkat kerja bersama sekalian pergi ke toko perhiasan langganan keluarga Nahla.
Nahla sedikit gugup berhadapan dengan calon suaminya. Bagas juga bingung harus bersikap seperti apa.
"Bagaimana menurut kamu soal perjodohan ini" ucap Bagas memberanikan diri.
"Bismillah aja, aku ikut kata nenek aku. Tidak ada salahnya" jawab Nahla.
"Kamu udah yakin, kalau kamu keberatan nanti aku sampaikan sama mama" ujar Bagas.
"Sebaliknya aku bertanya, bagaimana dengan dokter sendiri. Apa sudah yakin" tanya Nahla balik.
"Aku dari awal sudah bulat siapapun calonnya akan menerima dengan ikhlas dan senang. Mungkin ini yang terbaik buat kita" jawab Bagas.
Nahla hanya terdiam, mendengar penjelasan Bagas.
Setelah selesai dengan urusan mereka, keduanya menuju rumah sakit bersama.
Sesampainya di parkiran, semua mata tertuju pada mereka.
Banyak yang menyapa secara terang-terangan, banyak juga yang berbicara dibelakang.
"Wah berarti beneran berita soal perjodohan itu, ternyata dr. Bagas dijodohkan dengan dr. Nahla calon pewaris rumah sakit ini" ucap salah satu perawat.
"Iya, tapi mereka cocok kok" sambung yang lainnya.
"Beruntungnya dr. Bagas dapat istri pewaris rumah sakit ini" ucap yang lainnya.
"Aku juga mau kalau calonnya seperti dr. Nahla".
Bagas cukup jengah mendengar celotehan itu dibelakangnya.
"Sudah, tidak usah dihiraukan" ucap Nahla.
Bagas hanya melemparkan senyuman nya pada Nahla.
__ADS_1
▪️▪️▪️
Soni yang juga baru datang sempat mendengar soal desas desus yang lagi memanas di lingkungan rumah sakit.
"Siapa sih pasangan serasi, segitu hebohnya" gumamnya.
Di koridor juga tak kalah hebohnya dengan di parkiran. Semua sibuk membicarakan tentang pasangan itu.
"Aku juga mau lah, kalau jodohnya seperti dr. Nahla" ujar seorang perawat.
"Beruntung sekali dr. Bagas".
Soni yang mendengar semua itu dibuat terkejut, ternyata calon suami pilihan keluarga Nahla adalah bang Bagas.
"Pantas saja kemarin bang Bagas juga cuti, ternyata semua karena ini" batinnya sedih.
"Aku kalah lagi selangkah dibelakang bang Bagas, terlambat sudah untuk meminta pendapat kepada nya. Ternyata dialah calon suami Nahla" batinnya lagi.
Karena terlalu sibuk melamun Soni tak sadar sudah menabrak seseorang yang tengah bersandar di dinding.
"Hei, ngelamunin apa nih" tanya Bagas
"Kenapa, kamu ada masalah"
"Kita bicara di ruangan ku aja ya bang" ajak Soni.
"..."
"Abang kemarin cuti" tanya Soni.
"Ah iya, aku cuti ada pertemuan keluarga. Kenapa emang bro"
"Ehm... Apa benar Abang mau nikah" tanya Soni lagi.
"Iya, kemarin pembahasannya"
"..."
__ADS_1
"Ternyata calonnya dr. Nahla, aku kaget setengah mati" tutur Bagas.
"Oh... Jadi gimana, Apa kalian setuju dengan perjodohannya".
"Setuju, karena kedua keluarga sudah sepakat dari awal" jelas Bagas.
"Abang setuju, gak nolak. Nahla gimana" tanya Soni.
"Kita berdua percaya pilihan orang tua kita, insya Allah jadi pilihan terbaik".
Soni lesu, dirinya kehilangan harapan. Baru saja berniat mengutarakan perasaannya malah mendapati kenyataan pahit.
Bagas melihat rona wajah Soni yang sedikit muram. Ia sadar pasti Soni kecewa.
Ternyata benar candaannya perihal Soni, kekepoan Soni tentang Nahla adalah bukti kalau Ia telah jatuh cinta pada dokter cantik itu yang tak lain adalah calon istrinya.
"Maafkan Abang ya" ucap Bagas tulus.
"Kenapa Abang minta maaf".
"Abang minta maaf kalau punya salah, Abang harap kita selalu berhubungan baik" ujar Bagas.
"..."
"Abang akan menikah sama Nahla bulan depan Insya Allah".
"I... iya bang. Semoga semuanya lancar. Semoga kalian bahagia" ucap Soni.
"Maafkan aku, Son. Bukannya aku gak tahu tentang perasaan kamu sama Nahla. Tapi aku juga gak bisa merelakan orang sebaik Nahla pergi begitu saja" batin Bagas.
▪️▪️▪️
Bersambung...
Note:
Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan ia diam.”
__ADS_1
HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419