
Assalamu'alaikum pembaca setia ku. Terima kasih ya masih setia dengan cerita ini.
Mohon dukungannya ya.
like 👍
comments 💬
rate ⭐⭐⭐⭐⭐
vote 🥇
Selamat membaca...
▪️▪️▪️
Sebelum berangkat ke kota A, Zahra terlebih dahulu melakukan pemeriksaan. Kali ini Zahra ke rumah sakit seorang diri karena lupa daftar terlebih dahulu jadinya dapat nomor antrian 27.
Zahra tiba di rumah sakit pukul 11.30 dan antrian masih nomor 20. Cukup lama menunggu terdengar suara adzan berkumandang, Zahra memutuskan untuk pergi melaksanakan shalat Dzuhur dahulu..
"Sus, saya mo ke musholla dulu. Kalo nama saya dipanggil tolong beritahu dr. Dimas saya shalat dulu"
"Iya Bu, kalo bisa jangan kelamaan" jawab suster itu.
"Iya sus, makasih sebelumnya"
Zahra bergegas ke musholla, segera menunaikan kewajibannya dan kembali secepatnya ke ruang tunggu dr.Dimas.
▪️▪️▪️
"Permisi sus, apa nama saya sudah dipanggil tadi"
"Sudah bu, karena ibu lagi shalat jadi di berikan pada nomor antrian selanjutnya" jawab suster
"Masih lama gak ya"
Tiba-tiba muncul dokter koas baru tampaknya kurang suka sama tindakan Zahra yang pergi seenaknya.
__ADS_1
"Maaf ya Bu, kalo sudah tau nomornya udah dekat mending standby di ruang tunggu, karena kita juga punya urusan yang lain lagi" ucap dokter muda yang namanya dr. Siska
"Maaf dok, tadi saya shalat dulu"
"Ayo silahkan masuk udah ditunggu dr.Dimas, ibu pasien terakhir" ucap dr. Siska ketus.
"Assalamu'alaikum dok"
"Wa Alaikum salam, silahkan duduk Zahra"
"Maaf tadi saya shalat dulu, maaf karena sudah membuat dokter menunggu"
"Kan bisa ditunda dulu sebentar toh waktunya masih panjang" sambung dr.Siska
"Kalo bisa diawal waktu kenapa harus ditunda" jawab Zahra tegas
"Dokter Siska saya harap anda berkomentar hanya masalah penyakit pasien, bukan mengurusi masalah pribadinya" ucap dr. Dimas emosi.
Aduh dr. Dimas kok belain pasien, apa mereka saling kenal ya, batin dr. Siska.
"Maaf dok" ucap dr. Siska
"Maaf Bu Zahra" ucap dr. Siska terpaksa
"Lupakan saja, saya juga tidak marah"
Setelah melakukan pemeriksaan Zahra ke luar ruangan dokter untuk menelpon supirnya. Sementara diruang Dimas, dokter Siska berusaha mencari alasan agar bisa pulang bersama dr. Dimas.
"Dok, apa boleh saya nebeng sama dokter. Mobil saya lagi di bengkel" ucap dr. Siska tak tahu malu
"Maaf saya ada urusan, dr. Siska bisa pesan taksi online kan"
"Oh iya dok, maaf" ucapnya malu
▪️▪️▪️
Di koridor dr. Dimas berusaha mengejar Zahra yang sudah beberapa meter di depannya.
__ADS_1
"Pulangnya dengan siapa"
"Astaghfirullah dok, kaget tau"
"Nunggu supir, masih disuruh papa anterin dokumen penting"
"Mari saya antar, saya juga mau pulang" tawar dr. Dimas
"Gak usah dok, gak baik. Kita cuman berdua" jawab Zahra.
Dari arah belakang nampak seorang pria berseragam lengkap.
"Kak Dimas, tunggu"
Zahra dan Dimas sontak terhenti langkahnya. keduanya bersamaan menoleh ke asal suara.
"Denis, kok disini. Masih pakai seragam lagi" ucap Dimas
"Baru mendarat dari kota S, langsung ketemu mama, kangen" balas Denis
"Kebetulan ada kamu yuk pulang bareng kita. Oh iya ini Zahra pasien kakak"
"Hai Zahra, aku Denis adik Dimas yang paling ganteng" ucap Denis kepedean sambil mengulurkan tangan.
"Zahra Khumaira" sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya.
"Oh maaf" ucap Denis mengerti kalo Zahra tidak melakukan kontak fisik.
"Ayo berangkat, kita kan sudah bertiga jadi gak apa-apa kan Ra" tanya Dimas memastikan
"Iya boleh, tapi saya duduk di kursi belakang ya"
"Assiap deh" jawab Dimas senang.
Denis ternyata penasaran siapa gerangan sesungguhnya Zahra, wanita yang begitu menarik perhatiannya. Apa benar hanya pasien kakaknya.
▪️▪️▪️
__ADS_1
Bersambung...