
▪️▪️▪️
Keluarga besar almarhum dr. Dimas sangat terkejut ternyata Soni adalah anak dari seseorang yang mencoba menyakiti keluarganya.
Dokter Budi Santoso menyarankan pada cucunya agar Soni segera di keluarkan dari rumah sakit mereka. Ia takut kejadian serupa kembali terjadi.
"Nak, bagaimana kalau dr. Soni kita keluarkan saja"
"Kek... Meskipun tindakan mamanya sudah kelewatan dan tanpa penyesalan. Tapi, Soni tidak bersalah, apa pantas kita mengambil keputusan seperti itu" jawab Nahla bijak.
"Seorang anak akan mendengarkan kata orang tuanya. Kakek takut nantinya Soni akan membalaskan dendam untuk ibunya".
"Maafkan Nahla, Kek. Tapi Nahla takut jika Soni dikeluarkan malah membuat dia membenci keluarga kita. Dan menjadi seperti ibunya".
"..."
"Kinerjanya di rumah sakit bagus kok. Alasan apa yang kita gunakan untuk mengeluarkannya" tanya Nahla.
"Memang benar Nak. Terlepas dari ibunya yang begitu, Soni memang orang yang rajin dan gigih. Tapi Kakek tetap mengkhawatirkan kalian".
▪️▪️▪️
Soni bekerja dengan perasaan yang tidak menentu. Ya tentu saja dia memikirkan ibunya yang sedang berada di jeruji besi.
"Apa yang harus aku lakukan" ucapnya dalam hati.
Soni memberanikan diri untuk berbicara pada dr. Nahla. Mau tidak mau Ia harus menyelesaikan permasalahan ini.
"Assalamu'alaikum" ucap Soni dari balik pintu ruangan Nahla.
__ADS_1
"Wa Alaikum salam. Masuk" ucap Nahla
"Permisi dok, bisa meminta waktu ada sebentar"
"Ya silahkan. Ada yang bisa saya bantu" ucap Nahla biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
"Sekali lagi saya minta maaf dok, Saya mewakili mama ingin meminta maaf dengan tulus".
"Oh itu. Sebenarnya saya sudah memaafkan. Konflik ini terjadi antara orang tua kita. Saya tidak menganggap kamu bersalah".
"Tapi dok, karena masalah orang tua kita dahulu menyebabkan Anda juga ikut terkena dampaknya".
"Ah itu lagi apes aja kali. Alhamdulillah berkat dr. Soni saya bisa selamat".
"Tapi tetap saja saya meminta maaf yang sedalam-dalamnya pada seluruh keluarga dr. Nahla. Saya akan menerima apapun keputusan yang kalian ambil untuk mama saya"
"Maafkan saya juga, karena saya tidak bisa mencabut laporan itu. Karena keluarga besar kami tidak setuju. Saya harap anda dapat memakluminya".
"Meskipun ibu Siska dendam pada keluarga kami dan melakukan perbuatan melanggar hukum. Tapi beliau memiliki sisi yang baik. Karena berhasil melahirkan dan mendidik putra yang hebat seperti dr. Soni. Saya harap hubungan kalian tetap harmonis meskipun dr. Soni membela kami".
"Terima kasih, Dok. Semoga mama cepat dibukakan pintu hatinya"
"Aamiin... Semoga saja".
▪️▪️▪️
Di rumah yang tidak begitu mewah namun tetap nyaman duduk sepasang suami istri yang sedang menikmati secangkir teh ditemani dengan camilan manis.
"Mas, Apa tindakan yang kita ambil benar"
__ADS_1
"Tindakan apa" tanya Hasan belum paham
"Itu loh soal Siska"
"Insya Allah... Jika tidak mas takut akan terjadi hal-hal buruk pada kalian".
"Tapi kasihan Soni. Dia anak yang baik, dan pasti ingin menghabiskan waktu dengan ibunya. Tapi sekarang Siska sedang menjalani proses hukum".
"Mau gimana lagi. Itu jalan terbaik demi keselamatan kalian".
"Iya Mas".
"Oh iya sayang. Insya Allah jika kita berkumpul di surga. Siapa yang akan kamu pilih antara mas Hasan dan Dimas"
"..."
Pertanyaan yang hampir membuat Zahra tersedak. Ia tak menyangka Hasan akan memikirkan hal itu.
Hmmm...
"Pertanyaan yang sama akan Zahra tanyakan pada Mas Dimas. Antara aku dan mba Sarah siapa yang akan mendampingi Mas kelak di surga"
Bagai senjata makan tuan, Hasan terdiam mendengar pertanyaan yang sama.
"Kita serahkan saja pada Sang pemilik kehidupan, Allah SWT tahu apa yang terbaik buat hambaNya".
▪️▪️▪️
***Bersambung...
__ADS_1
Jangan Lupa mampir juga ke novel "My Husband is not 'Oppa' but 'Dongsaeng' " karya terbaru author.
Terima kasih*** .