
Suara ayam berkokok menandakan masuknya waktu subuh. Jam dikamar menunjukkan pukul 5.00 Zahra dan Salsa bergegas bangun untuk melaksanakan kewajiban dua raka'at mereka.
Selesai shalat mereka bergegas jalan pagi sambil ngobrol dari A sampai Z tak lupa mampir sarapan di tempat langganan.
"Assalamu'alaikum pak" sapa keduanya
"Wa Alaikum salam non, baru keliatan lagi" sapa pak Arif tukang bubur langganan mereka.
"Iya pak, kemarin habis tour keliling dunia" canda Salsa
"Ah non bisa aja. Seperti biasa kan" tanya pak Arif
"Iya dong pak" jawab Zahra
Tak berapa lama pesanan mereka akhirnya datang. Mereka sarapan dengan lahapnya hingga tak menyadari ada seseorang yang memperhatikan mereka dari dalam mobil.
"Lagi sarapan disini rupanya, ternyata kalo bareng sahabatnya dia bisa tertawa lepas juga ya. Sayang dia udah nikah" batin Dimas.
Dimas lah yang sedang memperhatikan mereka sedari tadi. Setelah dirasa cukup, mobil Dimas akhirnya melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
Zahra dan Salsa juga kembali ke rumah dengan perut kenyang.
Mobil terparkir di halaman rumah Zahra, Salsa tau kalo itu adalah mobil ustadz Hasan sementara Zahra tidak tau sama sekali alias tidak ingat.
"Siapa ya Sa, kok masih jam 7 sudah bertamu"
"Orang yang mo ngelamar kamu kali" ucap Salsa tersenyum.
"Astaghfirullah, Ada-ada aja kamu"
"Assalamu'alaikum" ucap keduanya.
"Wa Alaikum salam" ucap mas Fahri dan Hasan.
"Sini dek duduk dulu" ajak Fahri
"Iya mas"
"Aku keatas duluan ya Ra, mas" pamit Salsa terburu-buru
__ADS_1
"Ok" jawab mereka
Hasan sedari tadi terus menatap Zahra, hingga membuat Zahra salah tingkah. Fahri menyadari hal itu berusaha mencari alasan agar keduanya bisa bicara empat mata.
"Habis jalan pagi kemana sih kok baru pulang dek" tanya Fahri
"Ditempat biasa mas, cuman tadi singgah ditempat pak Arif mangkal"
"Oh pantesan lama, sarapan bubur rupanya. Oh iya udah jam 7 lewat mas mo mandi siap-siap ke kantor. Kamu temani Hasan dulu ya mas mo berangkat bareng dia soalnya" jelas Fahri
"Iya mas"
Suasana tiba-tiba hening keduanya seperti sepasang muda-mudi yang lagi dijodohkan. Malu-malu grogi.
"Gimana kabarnya dek" ucap Hasan mencairkan suasana.
"Alhamdulillah baik Ustadz"
"Panggil mas Hasan aja biar akrab"
"I.. Iya mas"
"Terkadang masih terasa sakitnya, apa lagi kalo Zahra mencoba mengingat-ingat memori Zahra yang hilang itu"
"Jangan dipaksakan dek, Insya Allah mas sabar menunggu"
Sontak Zahra heran dengan maksud perkataan Ustadz Hasan.
"Jadi sekarang kamu sibuk apa" tanya Hasan
"Di rumah aja masih. Nunggu Butik selesai di renovasi baru ada kesibukan"
"Kalo bosan di rumah, bisa main ke rumah mas. Ada Sarah sama Maryam mereka pasti seneng kalo kamu kesana"
"Iya mas" ucap Zahra tertunduk malu karena sedari tadi Hasan terus memperhatikannya.
Akhirnya Fahri selesai bersiap mereka bergegas pergi kerja bersama. Zahra naik ke kamarnya dan langsung mandi karena sedari tadi ia sudah merasa gerah.
▪️▪️▪️
__ADS_1
"Segarnya, Alhamdulillah" ucap Zahra
Zahra menghampiri Salsa yang tengah duduk di balkon kamar.
"Bukannya mandi dari tadi malah bengong di sini" ucap Zahra
"Biarin.. weeee" balas Sarah sambil menjulurkan lidahnya.
"Dasar Salsa bocah"
"Iya aku bocah, kamu ibu-ibu"
"Enak aja, cantik gini dikatain ibu-ibu"
Emang bener udah ibu-ibu kamu aja yang gak ingat Zahra. Salsa membatin dan memandangi sahabatnya dengan tersenyum.
" Eh ngapain Ustadz Hasan tadi" tanya Salsa kepo
"Mo tau aja mo tau banget"
"Ih gitu ya" ucap Salsa pura-pura ngambek
"Hahaha.. Seperti yang kamu bilang tadi orang yang datang ngelamar" ledek Zahra.
"Alhamdulillah kalo gitu" balas Salsa meledek.
"Mas Hasan mampir soalnya mo berangkat kerja bareng mas Fahri"
"Udah manggil mas nih. cieeeee" goda Salsa
" Apaan sih. Mas Hasan kan udah nikah. kok cie cie segala".
"Terus kenapa, kan bisa poligami" jawab salsa.
"Kamu ya kalo bicara ngaco terus"
▪️▪️▪️
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa ya like n vote nya...