Istri Kedua Ustadz Tampan

Istri Kedua Ustadz Tampan
Dua Lamaran


__ADS_3

Akhirnya Dimas dan kawan-kawannya telah menyelesaikan program studi di kelas XI. Kini Ia berada di kelas XII dan kurang dari setahun àkan menyelesaikan pendidikannya di pondok pesantren Darussalam.


Sementara Maryam mulai didesak untuk melepas masa lajang, sudah sepantasnya untuk menerima pinangan dari lelaki yang serius padanya.


Seorang Ustadzah yang memiliki anak yang umurnya sepantaran dengan Maryam mengutarakan niatnya mengkhitbah Maryam untuk putranya pada Ustadz Hasan.


Ustadz Hasan belum memberikan jawaban, karena Ia harus menanyakan langsung pada putrinya.


"Bagaimana Nak, apa kamu bersedia"


"Maryam belum kepikiran buat nikah, Bi. Maryam pikir-pikir dulu"


"Ya sudah, tapi jangan kelamaan mikirnya. Sebab Nak Yusuf dan Ibunya menunggu jawabanmu" pinta Hasan.


"Iya Bi, Beri waktu Maryam sebulan untuk memikirkan dan memastikan kesiapan hati Maryam".


Tanpa disengaja dari balik tembok Dimas sempat mendengar pembicaraan antara ayah dan anak itu.


Terkejut, pasti. Ternyata Ustadzah idolanya akan dikhitbah. Dimas yang mendengar semua itu bergegas lari kembali ke kelasnya. Tanpa sadar dompetnya terjatuh dari saku celananya.


Sesampainya di kelas, Dimas merebahkan dirinya di atas meja. Menghela nafas panjang dan mengusap kasar wajahnya.


"Ya Allah, bagaimana ini. Apa yang harus aku perbuat" ucapnya lirih.


"Woy... Kenapa lagi ente" tanya Arya


"Gak kenapa-napa" jawabnya singkat.


▪️▪️▪️


Hasan datang silaturahmi ke rumah mantan mertuanya, untuk bertemu Fahri sahabatnya.


"Hei pak Ustadz, tumben nih datang ke rumah. Angin apa yang membawa Ustadz sukses ini kesini" tanya Fahri penasaran.

__ADS_1


"Silaturahmi lah. Om Tante mana"


"Papa mama lagi keluar kota, lagi peresmian cabang hotel baru"


"Oh... Fais belum selesai kuliah master nya"


"Belum, dia kan sempat cuti 2 tahun baru lanjut pasca sarjananya"


Hmm...


Hasan mengitari pandangannya ke seluruh rumah, mencari sosok yang mengganggu pikiran dan hatinya.


Fahri paham dengan sahabatnya itu, tanpa perlu bertanya Ia tahu kalau Hasan sedang mencari tahu tentang kabar adiknya itu.


"Zahra lagi main ke rumah orang tua Dimas, bentar lagi juga balik" ucap Fahri blak-blakkan.


Hasan hanya melemparkan senyum kepada sahabatnya itu.


"Bagaimana pendapat kamu kalau aku mau nikahin Zahra lagi".


"Menurut kamu apa Zahra bersedia"


"Aku mana tahu pak Ustadz, urusan hati aku mana bisa nebak" jawab Fahri sekenanya.


"Hahaha"


Keduanya tertawa bersama dan kembali mengenang masa muda mereka yang penuh liku.


"Assalamu'alaikum" ucap Zahra yang baru tiba selepas mengunjungi mantan mertuanya.


"Wa Alaikum Salam"


"Nah ini dia yang diomongin udah balik" Fahri dengan sengaja berkata begitu

__ADS_1


"Ngomongin apa" jawab Zahra tak kalah penasaran.


"Tanya langsung aja sama orangnya. Abang mo mandi dulu"


Hasan jadi salah tingkah seperti ABG yang baru mengenal cinta.


"Bagaimana kabarnya, Dek" ucap Hasan membuka keheningan.


"Alhamdulillah baik. Ustadz sama Maryam bagaimana"


"Alhamdulillah baik"


Suasana kembali hening, Hasan menggaruk tengkuknya karena bingung bagaimana mengutarakannya.


"Begini Dek, Anu... Itu"


Zahra keheranan melihat sikap Hasan yang begitu hati-hati, apa yang ingin dikatakannya sampai bersikap seperti itu


"Ada apa Ustadz, silahkan bicara dan bertanya. Insya Allah saya akan jawab"


Dag... Dig... Dug...


"Bismillah... Apa kamu bersedia menerima pinangan saya"


"..."


Zahra terdiam, tidak menyangka pertanyaan itu keluar dari mulut Ustadz Hasan.


▪️▪️▪️


Bersambung...


Note

__ADS_1


Memang, tidak ada yang ingin bersatu dengan orang yang tidak dicintai dan berpisah dari orang yang dicintai. Tapi, bukan berarti ini tak bisa dilalui. Hati bisa belajar. Belajar meninggalkan, ditinggalkan, menerima dan diterima atas nama cinta. Cinta pada Sang pemilik kehidupan.


__ADS_2