
▪️▪️▪️
Nahla bertolak ke rumah sakit bersama sang nenek, dr. Anita. Nenek Anita begitu penasaran siapa yang berniat mencelakakan cucu dan mantan menantunya.
"Kalau semuanya ketahuan sayang, nenek akan bawa kasus ini ke pihak berwajib" ucap nenek Anita.
"Iya, Nek. Semoga masalah ini bisa terselesaikan".
Keduanya sampai di rumah sakit pukul 08.00 pagi, dan bergegas keruang kontrol CCTV. Meskipun pada awalnya tidak menampakkan wajah terduga pelaku, tetapi di rekaman CCTV selanjutnya di tempat berbeda menunjukkan dengan jelas identitas wanita tersebut dengan pakaian yang sama.
Nenek Anita begitu terkejut melihat sosok itu.
"Ya Allah... Ternyata dia, kenapa dia masih berani mengusik hidup Zahra dan anak-anak".
"Dia siapa Nek. Nenek kenal?"
"Dia itu dulu dokter koas yang kerja di ruangan Abi kamu, Siska namanya"
"Terus apa alasan dia berbuat seperti itu. Emang kita punya salah apa, Nek".
"Siska cinta mati sama Abi kamu, tapi Abi tidak pernah membalas perasaannya"
"Astaghfirullah... Segitu cintanya dia, sampai rela berbuat hal yang melanggar hukum"
"Itu hanya sebagian kecil, dulu Siska juga pernah berbuat demikian pada Ummi dan Abi kamu"
Nahla dan sang nenek pergi ke ruangan kerja Nahla, Nenek Anita menceritakan secara detail tentang Siska.
Nahla mengabarkan pada Umminya perihal kabar itu dengan berhati-hati. Takut membuat Ummi teringat masa lalu.
▪️▪️▪️
Zahra dan Hasan memutuskan untuk membawa kasus ini ke jalur hukum, agar Siska mendapat ganjaran yang setimpal atas perbuatannya.
Nahla dan keluarga dr. Dimas juga setuju demi keamanan sang cucu dan mantan menantunya.
"Mas, Siska itu dari dulu kenapa gak pernah berubah. Selalu berusaha mengacaukan kehidupan ku. Dulu karena Mas Dimas, sekarang karena alasan apa lagi coba" ucap Zahra frustasi.
__ADS_1
"Seseorang tidak butuh alasan untuk berbuat demikian, jika hatinya sudah dipenuhi dengan iri dan dengki sayang" jawab Hasan berusaha menenangkan istri tercinta.
"Subhanallah... Semua ga kita semua selalu dihindarkan dari sifat iri dan dengki".
"Aamiin... Sekarang kita istirahat saja, besok kan kamu mau temani Nahla ke kantor polisi"
"Iya, Mas".
▪️▪️▪️
Soni yang kemarin izin masuk,hari ini akhirnya bekerja kembali. Dan berniat menemui Nahla.
Tok... tok...
"Permisi, Dok"
"Ya... Ada perlu apa" jawab asisten Nahla.
"Dokter Nahla nya ada" tanya Soni
"Dokter Nahla Ada keperluan sedikit, mungkin sebentar lagi datang" jelasnya.
▪️▪️▪️
Pada jam makan siang Soni kembali mencari dr. Nahla.
"Permisi... Assalamu'alaikum, Dok" ucap Soni sedikit gugup.
"Wa Alaikum Salam. Eh dr. Soni, ada yang bisa saya bantu".
""Emmm... Begini Dok".
"Kenapa kamu gugup. Ah iya terima kasih soal yang kemarin. Berkat bantuan kamu saya bisa selamat" ucap Nahla tulus.
"Sebenarnya Dok, saya kesini mau minta maaf"
"Minta maaf..." tanya Nahla kebingungan.
__ADS_1
"Iya... Saya mewakili Mama meminta maaf kepada dokter" ujar Soni gugup.
"Mama kamu... Ada apa dengan mama kamu" Nahla masih tetap bingung kemana arah pembicaraan ini.
"Mama saya yang sudah merusak rem mobil dr. Nahla"
"..."
Suasana tiba-tiba hening, Nahla seakan tidak percaya dengan ucapan yang baru saja keluar dari mulut Soni.
"Dok, tolong maafkan mama saya".
"Kamu tidak perlu meminta maaf, saya sudah memaafkannya. Tetapi kasus ini sudah kami laporkan ke polisi"
"Po... Polisi...".
"Iya dr. Soni. Saya beserta keluarga baru saja melaporkannya"
"Maaf saya lancang. Apa tidak bisa diselesaikan dengan jalur kekeluargaan" pinta Soni memelas.
"..."
Nahla berpikir sejenak tentang permintaan Soni itu. Bingung harus bersikap seperti apa.
▪️▪️▪️
Bersambung....
Penasaran gak...???
Penasaran dong... harus... 😁😁😁
Terima kasih masih setia....
Jangan lupa dukungannya
Like, comment, vote anda rate ya....
__ADS_1
Note:
"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." QS: An-nisa ayat 32.