
POV Sarah
*Sarah berdiri di balkon kamarnya sambil melihat bintang yang bersinar terang.
Bayangan wajah Zahra tiba-tiba hadir diantara bintang, wajah yang cantik rupawan, akhlak yg baik, dan selalu menjaga pandangannya.
Apa dia sosok yang pantas menjadi istri suamiku, yang bisa memberikan keturunan yang shaleh dan shalihah.
Apa Zahra bersedia jika aku mengutarakan niat itu padanya, apa dia akan marah menjadi yang kedua.
Lantas bagaimana pendapat mas Hasan, apa mas Hasan setuju.
Ya Allah berikan petunjuk Mu.
▪️▪️▪️*
Hasan masuk ke kamarnya setelah menyelesaikan beberapa tugas dosennya di ruang kerja.
"Belum tidur sayang?, kenapa masih diluar, dingin lo", tanya Hasan.
Sarah beranjak masuk dan duduk di samping suaminya.
"Mas, boleh aku ngomong sesuatu, tapi jangan marah ya"
"Mau ngomong apa, yang penting bukan dosa mas gak akan marah",jawab Hasan.
"Bagaimana pendapat mas soal Zahra?".
Deg...
Tiba-tiba raut wajah Hasan berubah dan jantungnya mulai berdebar.
"Zahra wanita shalihah, mahasiswi yang cerdas dan pandai menjaga pergaulannya".
Sarah melihat perubahan raut wajah suaminya disaat menjawab pertanyaannya.
"Mas, bagaimana dengan anak, apa mas gak kepingin memilikinya?".
"Siapa yang tidak menginginkan keturunan sayang, tapi kita belum diberi kepercayaan untuk memilikinya".
__ADS_1
"Mas bisa kok, kalo mas mau nikah lagi?".
Hasan menatap dalam manik mata Sarah, ada keseriusan didalamnya.
"Hmm sayang, itu bukan jalan satu-satunya, kita masih bisa memilih cara yang lain", sambil mengusap rambut istrinya.
"Iya sih, tapi aku mau secepatnya bisa gendong dan dengar tangis tawa anak kecil di rumah kita".
"Terus mas harus bagaimana?, siapa yang mau jadi istri kedua, dan apa kamu sanggup, ikhlas?".
"Insya Allah aku ikhlas mas, kalo tidak untuk apa aku suruh mas nikah lagi, kalo untuk calonnya aku udah punya", jawab Sarah antusias.
"siapa?"
"Zahra Khumaira, dia yang paling tepat".
"Apa !!! kamu gak salah ngomong kan, dia kan adik sahabat ku, anak perempuan kesayangan pak Bima.
Terus apa dia sama keluarganya bakalan setuju?".
"Mas sendiri bagaimana, setuju tidak?".
Hasan hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan."entahlah".
▪️
▪️
▪️
Zahra melamun di atas ranjang, entah mengapa hatinya begitu gundah.
Dia begitu grogi jika berhadapan dengan dosen sekaligus ustadz tampan itu.
"Apa ada yang salah dengan jantung ku".
"Ya Allah,, ada apa ini, jangan sampai aku jatuh hati pada pria yang sudah beristri".
Zahra mencoba menyingkirkan pikiran anehnya itu, dengan beristighfar. Sampai akhirnya tertidur.
__ADS_1
▪️▪️▪️
Keesokkan harinya di kampus.
"Zahra Khumaira"
Salsa berlari kearah Zahra,dan memeluknya.
"Ssttt ,, jangan teriak dong. suara wanita itu aurat" jelasnya.
"Iya Bu ustadzah, maaf lupa, kangen soalnya".
"Ke kantin yuk", ajak Zahra.
"yuk"
Di kantin suasana lumayan ramai, hanya tersisa beberapa kursi kosong. Zahra memesan bakso dan es jeruk, Salsa bakso dan jus alpukat.
Mereka duduk ditempat yang tersisa.
" Eh pak Hasan, lagi makan juga?" tanya Salsa ceplas ceplos.
Zahra kaget bukan kepalang ternyata didepan mereka dosen pembimbingnya. Zahra hanya melemparkan senyum sekilas.
Disisi lain, Hasan tak kalah kagetnya, topik pembicaraan semalam dengan istrinya kini duduk dihadapannya.
Takdir macam apa ini Ya Allah.
"Iya tadi tidak sempat sarapan, istri saya kurang enak badan, jadi gak sarapan di rumah".
"Sakit apa ngidam pak?" selidik Salsa.
Zahra mencubit pinggang sahabatnya, dan menggelengkan kepalanya pertanda jangan banyak bertanya.
" Ah gak, istri saya lagi demam, kecapean kayaknya".
***Bersambung...
Terima kasih udah mampir***
__ADS_1