
Maafkan author yang baru sempat update lagi ceritanya...
Semoga masih tetap setia...
▪️▪️▪️
Sebuah kotak berisi test pack dan secarik kertas dikirim ke alamat rumah Zahra.
Zahra kaget bukan kepalang, surat itu berasal dari Siska.
Teruntuk dr. Dimas, maafkan saya karena telah lancang mengirim surat ini kepadamu. Saya harus menyampaikan kepada dokter kalau saya tengah mengandung anak dokter, akibat kejadian di malam itu.
Saya malu harus menanggung semua ini, saya harap dokter dan Zahra mau bertanggung jawab dengan anak dalam kandungan saya.
Saya rela meskipun jadi yang kedua.
Zahra meremas surat itu ditangannya. Hatinya tetap saja sakit, meskipun telah mengetahui kejadian itu dari suaminya sendiri.
▪️▪️▪️
Pintu kamar terbuka, Dimas baru saja datang setelah penat beraktivitas seharian.
"Assalamu'alaikum sayang" ucap Dimas.
"Wa Alaikum Salam" jawab Zahra singkat.
Air matanya tak bisa lagi terbendung, Zahra menangis terisak sambil terus menunduk dan memberikan kotak dari Siska yang membuatnya galau.
"Apa ini sayang, kok nangis" tanya Dimas khawatir.
Dimas membaca secarik kertas itu dengan perasaan yang sangat campur aduk. Perasaannya mengatakan kalau semua ini adalah siasat licik Siska.
__ADS_1
"Kita harus gimana, Mas"
"Maafkan mas sayang, Mas akan mencari jalan keluar terbaiknya. Kamu sabar ya dan percaya sama mas"
"Iya, Mas"
▪️▪️▪️
Dimas tak tinggal diam, Ia mengerahkan semua upayanya untuk mencari tau kejadian sebenarnya pada saat itu. Tanpa sepengetahuan Zahra, Dimas menghubungi mertuanya Pak Bima Arya untuk membantu menyelesaikan permasalahannya dengan Siska. Dimas menceritakan semuanya secara detail pada mertuanya.
"Bagaimana Pah sudah ada perkembangannya. Siska udah berbuat nekat, Ia berani meminta pertanggung jawaban pada kami karena dia hamil, Pah" tanya Dimas melalui sambungan telpon.
"Sudah, Nak. Kamu tenang saja, Papa akan menyelesaikan semua ini untuk kalian. Besok ajak Siska bertemu di rumah kalian" jelas Bima Arya.
▪️▪️▪️
"Sayang, besok kita akan menyelesaikan permasalahannya dengan Siska. Mas ngundang Siska kemari, gak apa-apa kan sayang" tanya Dimas hati-hati.
"Iya, Mas"
Ya Allah... Berikan hamba kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani semua cobaan ini. Berikanlah jalan keluar yang terbaik.
Jika memang bayi itu anak mas Dimas, aku harus rela menerima mereka.
Aku harus mengesampingkan egoku, demi bayi yang tidak berdosa itu.
▪️▪️▪️*
Minggu sore dikediaman Dimas dan Zahra, Siska dengan percaya dirinya datang memenuhi undangan dr. Dimas.
Siska mengenakan pakaian kurang bahan untuk menarik perhatian Dimas.
__ADS_1
Yang ditanggapi dingin oleh yang bersangkutan.
"Hai dok, mba Zahra. Jadi bagaimana, kapan aku mau dinikahi" tanya Siska tanpa rasa malu.
"Hmmm... Apa kamu yakin beneran hamil" tanya Dimas memancing
"Yakinlah. Kalian pikir aku bohong, ayo kita sama-sama ke dokter" ucap Siska menantang.
"Apa bener itu anak saya, kalo memang bener saya akan bertanggung jawab" jelas Dimas.
"I... iya dong. Kamu sendiri kan tau waktu itu kita menghabiskan malam bersama" jawab Siska sedikit gugup.
Deg...
Hati Zahra ngilu mendengarnya.
"Ok kalau begitu. Sekarang silahkan tanda tangani dokumen pernikahan ini"
Betapa terkejutnya Siska setelah melihat amplop besar berisi foto-foto potongan CCTV kamar hotel tempat insiden itu terjadi.
"Bagaimana bisa kamu mendapatkan semua ini. Tapi ini tidak membuktikan apa yang terjadi di dalam kamarnya"
" Hahaha... Di CCTV dengan jelas memperlihatkan waktu kejadiannya, kapan kamu masuk ke kamar itu. Dan kamu masuk tepat sepuluh menit sebelum aku keluar dari kamar itu. Kamu masuk setelah bersenang-senang dengan pria lain di kamar sebelah".
Zahra yang mendengar perkataan suaminya tampak terkejut, apa benar ini hanya jebakan Siska, batinnya.
"Aku bahkan tidak menyentuhmu, bagaimana bisa aku adalah ayah dari bayi itu" bentak Dimas.
Siska terdiam mematung, Ia tak menyangka rencananya kali ini gagal lagi.
"Cepat keluar dari sini, sebelum aku berubah pikiran dan melaporkan mu ke polisi" hardik Dimas lagi
__ADS_1
Bersambung...